Memasuki akhir tahun, hujan deras yang turun rutin membuat media tanam di pot mudah jenuh air. Bagi pencinta tanaman hias indoor maupun outdoor, kondisi ini meningkatkan risiko akar membusuk, terutama jika campuran tanah tidak porous. KapanLagi.com merangkum enam tips memilih dan meracik media tanam agar air tidak menggenang dan akar tanaman tetap sehat saat musim hujan.
Mengapa akar mudah membusuk?
Air hujan yang terus-menerus membuat tanah di dalam pot menjadi berat, padat, dan basah kuyup. Rongga udara di media tanam tertutup sehingga akar sulit bernapas dan kekurangan oksigen. Dalam kondisi minim oksigen atau anaerob, bakteri pembusuk dan spora jamur patogen lebih mudah menyerang jaringan akar yang melemah. Tanaman pun berisiko layu, menguning, dan mati mendadak.
Enam tips meracik media tanam
- Hindari sekam mentah, pilih sekam bakar. Sekam mentah mudah membusuk dan mengundang hama seperti kutu tanah atau cacing pita ketika basah. Sekam bakar lebih steril dan aman. Bentuknya berongga, tidak mudah hancur, dan menciptakan aerasi lega di sela akar. Karena melalui pembakaran bersuhu tinggi, sekam bakar juga disebut mampu menekan pertumbuhan jamur patogen dan bakteri penyebab busuk akar yang subur di cuaca lembap dan dingin.
- Gunakan perbandingan 1:2:1. Campuran satu bagian tanah, dua bagian sekam bakar, dan satu bagian pasir malang membuat drainase pot lebih poros sehingga air cepat mengalir.
- Kurangi cocopeat. Serbuk sabut kelapa memang baik pada musim kemarau karena menahan air seperti spons. Namun, sifat itu menjadi bumerang saat hujan karena media bisa tetap basah berhari-hari tanpa penguapan sinar matahari. Porsi cocopeat sebaiknya dikurangi drastis atau disingkirkan sementara hingga musim panas kembali.
- Batasi tanah pekarangan maksimal 30 persen. Tanah liat atau tanah merah mengikat air dan mudah menggumpal keras saat terus diguyur hujan. Tanah tetap dibutuhkan sebagai pegangan akar dan sumber hara dasar, tetapi porsinya tidak boleh mendominasi agar sisa air tidak terjebak lama di dasar pot.
- Tambahkan pasir malang atau perlite. Untuk tanaman yang tidak menyukai kelembapan tinggi seperti Aglaonema, kaktus, dan Monstera, pasir malang perlu ditambahkan. Butiran pasir vulkanik ini kasar, tajam, dan tidak menyerap air. Perlite atau batu kaca vulkanik putih bisa menjadi alternatif yang lebih ringan dan estetik. Keduanya berfungsi sebagai saluran drainase kilat yang membuang limpasan air hujan keluar dari lubang pot.
- Pastikan pot memiliki drainase memadai. Media yang porous tidak berguna jika wadah tidak punya saluran pembuangan. Jangan gunakan pot buntu untuk tanaman di teras atau pekarangan terbuka. Jika lubang di bagian bawah pot terlalu sedikit, lubang dapat ditambah dengan paku atau solder panas. Alas pot juga sebaiknya tidak menempel rata dengan lantai; gunakan rak besi atau tatakan paving agar air bisa menetes lancar.
Arang di dasar pot dan tanda akar busuk
Sebelum memasukkan campuran tanah, bongkahan arang kayu dapat disusun di sepertiga bagian paling bawah pot. Arang membantu menjaga lubang pembuangan tidak tersumbat lumpur. Selain melancarkan drainase, arang kayu memiliki karbon aktif yang berfungsi sebagai filter penyerap racun, menetralkan zat asam berlebih dari air hujan, menjaga pH tanah, dan mengurangi stres pada akar.
Tanaman yang akarnya mulai membusuk biasanya menunjukkan gejala daun bagian bawah menguning pucat. Batang bawah terasa lunak saat dipencet, tanaman layu meski tanah basah, dan kadang muncul aroma tanah tidak sedap.
Tunda pupuk nitrogen tinggi
Saat hujan sering turun, penggunaan pupuk NPK dengan kadar nitrogen tinggi sebaiknya ditunda. Pupuk jenis ini memicu tunas baru sehingga tanaman lebih rentan infeksi. Air hujan alami yang mengandung nitrogen disebut dapat menjalankan perannya memenuhi kebutuhan tanaman sementara.
