Film musikal menjadikan lagu, musik, dan kadang tarian sebagai bagian langsung dari penceritaan, bukan sekadar pengiring adegan. Karakter bernyanyi untuk mengungkapkan perasaan, menjelaskan konflik, atau menggerakkan alur cerita. KapanLagi.com menyusun daftar sepuluh film musikal dari berbagai era yang dinilai memadukan cerita kuat dengan lagu yang membekas di ingatan penonton.
Daftar itu mencakup kisah romantis, drama keluarga, fantasi, hingga cerita tentang perjuangan meraih impian. Perbedaannya dengan film yang hanya memiliki soundtrack terletak pada fungsi lagu: dalam musikal, nyanyian menjadi bagian dari narasi, sedangkan pada film biasa musik hanya mengiringi adegan.
Klasik yang bertahan lintas generasi
The Sound of Music (1965) dibintangi Julie Andrews sebagai Maria, calon biarawati yang ditugasi mengasuh tujuh anak Kapten Georg von Trapp di Austria. Anak-anak itu terbiasa hidup di bawah aturan ketat sang ayah sehingga Maria sempat sulit mendapatkan kepercayaan mereka. Pendekatan hangatnya perlahan mengubah suasana rumah, terutama setelah ia memperkenalkan musik dan nyanyian. Kedekatan Maria dan Kapten von Trapp tumbuh, tetapi situasi politik menjelang Perang Dunia II memaksa keluarga itu menentukan masa depan. Lagu “Do-Re-Mi”, “My Favorite Things”, dan “Edelweiss” disebut sebagai bagian yang memperkuat karakter sekaligus suasana film.
The Wizard of Oz (1939) mengisahkan Dorothy yang terbawa tornado dari Kansas ke negeri ajaib Oz dan harus menemui sang penyihir agar bisa pulang. Dalam perjalanan, ia berjumpa Scarecrow yang mendambakan otak, Tin Man yang ingin memiliki hati, serta Cowardly Lion yang mencari keberanian. Film ini disebut menyampaikan pesan tentang persahabatan, keberanian, dan arti rumah, dengan “Somewhere Over the Rainbow” sebagai lagu paling ikonik.
Konflik tajam dan kritik sosial
Film musikal tidak selalu mengandalkan cerita ringan dan penuh keceriaan. Sejumlah judul justru menghadirkan konflik rumit, kritik sosial, dan pergulatan emosional.
Chicago (2002) diadaptasi dari pertunjukan panggung tahun 1975 dan memadukan jazz, koreografi vaudeville, humor gelap, serta sindiran atas budaya selebritas. Roxie Hart, perempuan yang ingin menjadi penyanyi terkenal, dipenjara setelah terlibat kasus pembunuhan dan bertemu Velma Kelly, penampil panggung yang juga menghadapi tuduhan pembunuhan. Keduanya bersaing merebut perhatian publik; dengan bantuan pengacara Billy Flynn, Roxie memanfaatkan pemberitaan media untuk membangun citra sebagai sosok terkenal. Nomor musikal seperti “All That Jazz” dan “Cell Block Tango” dipakai menggambarkan imajinasi, ambisi, dan sudut pandang para tokoh. Film ini meraih enam Academy Awards, termasuk kategori Best Picture.
La La Land (2016) garapan Damien Chazelle mengisahkan Mia, calon aktris, dan Sebastian, pianis jazz yang ingin memiliki tempat pertunjukan sendiri. Keduanya bertemu di Los Angeles saat sama-sama berjuang mengejar impian, lalu saling mendukung ketika menghadapi kegagalan dan ketidakpastian karier. Namun, kesempatan profesional yang semakin terbuka justru menguji hubungan mereka. “City of Stars” menjadi bagian paling ikonik, sedangkan “Audition (The Fools Who Dream)” memperkuat pesan tentang keberanian mempertahankan mimpi. La La Land memperoleh enam Academy Awards, termasuk penghargaan untuk Original Score.
West Side Story (2021) disutradarai Steven Spielberg dan diadaptasi dari pertunjukan musikal yang terinspirasi tragedi Romeo and Juliet karya William Shakespeare. Berlatar New York pada era 1950-an, kisahnya mengikuti Tony dan María yang saling jatuh cinta, meski Tony terhubung dengan kelompok Jets dan María bagian dari komunitas Puerto Riko yang berkonflik dengan kelompok itu, Sharks. Perselisihan antarkelompok berkembang menjadi kekerasan sehingga hubungan keduanya semakin sulit dipertahankan. Musik Leonard Bernstein dan lirik Stephen Sondheim menjadi elemen penting, dengan “Tonight” dan “America” memperlihatkan bagaimana musik dapat menggambarkan romansa sekaligus ketegangan sosial. Karena konflik dan tragedinya, film ini disebut lebih sesuai untuk penonton remaja dan dewasa.
Dunia fantasi dan animasi
Encanto (2021) produksi Disney mengikuti keluarga Madrigal yang tinggal di rumah ajaib di pegunungan Kolombia. Setiap anggota keluarga memperoleh kemampuan istimewa, kecuali Mirabel. Ketika keajaiban yang melindungi rumah mereka melemah, Mirabel mencari penyebabnya dan menemukan berbagai persoalan yang tersembunyi di balik kehidupan keluarga yang tampak sempurna. “We Don’t Talk About Bruno” populer karena memperkenalkan sudut pandang anggota keluarga terhadap sosok Bruno, sedangkan “Surface Pressure” menggambarkan beban tanggung jawab Luisa. Film ini dinilai menarik karena mengangkat persoalan ekspektasi keluarga, tekanan emosional, dan penerimaan diri.
Coco (2017) mengangkat budaya Meksiko lewat kisah Miguel, anak laki-laki yang bercita-cita menjadi musisi meski keluarganya melarang segala aktivitas bermusik karena luka masa lalu. Pada perayaan Día de los Muertos, ia tanpa sengaja masuk ke Dunia Orang Mati dan harus menemukan jalan untuk kembali. Dalam petualangan itu, ia mengungkap rahasia keluarganya dan memahami bahwa kenangan berperan penting dalam menjaga ikatan antargenerasi. Lagu “Remember Me” menjadi pusat emosional film, sementara visual, musik, dan tradisi yang ditampilkan memperkenalkan kekayaan budaya Meksiko.
Wicked (2024) menawarkan sudut pandang lain atas dunia The Wizard of Oz dengan menceritakan masa lalu dua penyihir yang kelak dikenal sebagai Wicked Witch of the West dan Glinda the Good. Elphaba, perempuan muda berkulit hijau yang kerap diperlakukan berbeda karena penampilannya, bertemu Glinda saat keduanya menempuh pendidikan di Shiz University. Meski kepribadian dan latar belakang mereka bertolak belakang, keduanya perlahan membangun persahabatan yang kemudian diuji oleh perbedaan pandangan soal kekuasaan, keadilan, dan cara memperlakukan orang lain. Cynthia Erivo dan Ariana Grande menghidupkan kedua karakter itu, dengan “Defying Gravity” sebagai nomor paling menonjol.
KPop Demon Hunters (2025) memadukan animasi, aksi fantasi, komedi, dan musik K-pop. Rumi, Mira, dan Zoey adalah anggota grup HUNTR/X yang menjalani kehidupan ganda sebagai idola sekaligus pemburu iblis; mereka bertugas menjaga Honmoon, penghalang yang membuat dunia manusia tetap aman. Konflik memanas ketika Saja Boys, grup idola pesaing yang ternyata terdiri dari para iblis, mengubah persaingan popularitas menjadi pertarungan yang menentukan keselamatan banyak orang. “How It’s Done” memperkenalkan kemampuan HUNTR/X, sementara perpaduan pop elektronik, R&B, dan unsur musik tradisional Korea memberi identitas tersendiri pada soundtrack-nya.
Wonka (2023) dibintangi Timothée Chalamet sebagai Willy Wonka muda, sebelum dikenal sebagai pemilik pabrik cokelat misterius. Setibanya di sebuah kota, ia berusaha memperkenalkan berbagai kreasi cokelatnya, tetapi langkah itu tidak mudah karena industri cokelat dikuasai kelompok pengusaha yang tidak ingin memiliki pesaing baru. Orang-orang yang ia temui kemudian membantunya menghadapi kesulitan, dan ia belajar bahwa mewujudkan impian tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga keberanian, persahabatan, dan ketekunan. Lagu “A World of Your Own” menggambarkan imajinasi Wonka.
Bagi penonton yang baru mengenal genre ini, La La Land, The Sound of Music, dan Wonka disebut sebagai pilihan awal karena ceritanya relatif mudah diikuti. Sementara itu, lagu dalam film musikal dinilai mudah diingat karena berkaitan langsung dengan cerita dan emosi tokoh, didukung melodi kuat, pengulangan lirik, serta adegan visual yang berkesan.
