Aktor Ferry Maryadi mengungkap bahwa dirinya pernah mengidap claustrophobia, yakni fobia terhadap ruang sempit dan kondisi gelap total. Kondisi itu masih menyisakan ketidaknyamanan hingga sekarang, meski sudah jauh membaik setelah ia menjalani terapi. Ferry menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (4/11/2026).
Menurut Ferry, rasa tidak nyaman itu muncul ketika ia berada di ruangan sempit atau gelap total. Ia menyebut kondisinya kini tidak lagi separah sebelumnya setelah sekitar dua tahun menjalani terapi bersama terapisnya, Ferdian.
Selalu Bawa Senter
Ferry mengaku tetap membawa senter ke mana pun sebagai bentuk antisipasi jika rasa takutnya muncul kembali. “Tapi kalau untuk selalu bawa senter ke mana-mana, selalu bawa. Takut pas lagi gak imbang emosinya, ya itu salah satu antisipasilah,” ujarnya.
Anggota klub motor The Prediksi itu menjelaskan, terapisnya memberikan sugesti berupa semacam kunci atau kode untuk memanggil memori yang bisa membuatnya nyaman saat rasa tidak nyaman mulai datang. Ia mengaku hanya perlu menjalani satu hingga dua sesi terapi untuk mendapatkan cara mengendalikan perasaan tersebut.
Sudah Nyaman Pakai Helm Full Face
Perkembangan yang dirasakan Ferry antara lain kemampuannya mengenakan helm full face dan masker tanpa merasa sesak atau tertekan. Selama puluhan tahun sebelumnya, ia selalu memilih helm half face karena bagian wajah yang tertutup membuat ruang napas dan jarak pandangnya terasa terbatas.
“Ada, ada, ada. Udah dua tahun ini saya udah bisa pakai helm full face, udah bisa nyaman pakai masker,” tuturnya.
Berawal dari Dikurung di Kamar Mandi
Ferry menduga fobia yang dialaminya berakar pada pengalaman masa kecil. Ia bercerita pernah dikurung di kamar mandi dengan lampu dimatikan karena kenakalannya. “Didikan VOC sih ya, mantap gitu,” katanya, seraya menegaskan bahwa saat itu bukan karena kesalahan ayahnya, melainkan karena kelakuannya sendiri.
Menurut Ferry, terapisnya menelusuri penyebab tersebut, hingga akhirnya ditemukan, lalu ia menjalani terapi dan kondisi kesehatannya kini membaik.
Tidak Ganggu Pekerjaan, tapi Mobilitas
Ferry menyatakan fobia itu tidak sampai mengganggu pekerjaannya secara spesifik. Namun, kondisi tersebut cukup memengaruhi mobilitasnya, terutama ketika harus bepergian menggunakan pesawat dan masuk ke toilet pesawat yang sempit. Ia juga menyebut dulu belum bisa menjalani pekerjaan yang mengharuskannya menutup mata dengan kain, sedangkan sekarang sudah bisa.
