Jakarta, Trenz Music | Mesti terkesan seram, tapi harus diakui bahwa kematian merupakan hal yang pasti. Itu yang kemudia disadari sepenuhnya oleh Tono Supartono, kala ditawari oleh Debby Nasution (alm) untuk menyanyikan lagu ciptaannya bertajuk ‘Menanti Ajal” guna berpartisipasi di konser “Musik, Zikir dan Puisi” yang diinisiasi Ratih Sanggarwati dan dihelat di Balai Sarbini, Jakarta, pada tahun 2007 lalu.
Menurut Tono Supartono, kedekatannya dengan Debby Nasution terjalin sejak tahun 2001.
“Saya kenal Debby Nasution di tahun 2001, lalu sama sama duduk menyatukan visi dalam bermusik. Dari situlah kita mulai membuat karya-karya bersamanya” ujar Tono saat bincang santai di Yesterday Cafe, Jl. P. Antasari, Jakarta, Minggu (9/12).

“Yang menarik, selalu ada kisah kisah spiritual inspiratif dari Debby Nasution yang menghiasi diskusi musik antara saya dengannya mulai dari teknis instrumen, sound system, harmonisasi suara hingga harmoni kehidupan”, jelas Tono.
“Kesan yang paling mendalam dari Debby Nasution, ya saat saya diminta untuk menyanyikan sebuah lagu ciptaannya yang berjudul Menanti Ajal. Pertama saya dengar, waduh Deb, gak ada lagu lain? Terus terang aza seram” tambah Tono.
“Tapi Debby mencoba memberikan suatu motivasi. Mati itu sudah pasti mas, tinggal menunggu panggilan Nya. Mati itu tidak kenal tua atau muda dan tidak kenal sakit dan sehat. Dan sebelum mati, manusia sebaiknya harus membekali dirinya dengan agama.Sehingga setelah dipikir, saya ambil deh tawarannya. Saya mengingat bahwa kita harus mencari dunia untuk mendapat suatu bekal akherat. Jadi kalo kita tidak mempersiapkan kematian, kapan lagi? Itu saja yang saya ambil sehingga saya berani mengambil lagu dia, untuk saya nyanyikan”, papar Tono lebih lanjut.
“Sayangnya, saat merilis lagu tersebut di acara konser Musik, Zikir dan Puisi, waktunya berbarengan dengan momen saat Chrisye meninggal. Jadi gaung dan pemberitaannya, kalah oleh momen wafatnya Chrisye.” Jelas Tono.
Sejatinya, ada suatu proyek musik besar yang telah direncanakan dan akan digarap serius antara keduanya. Yakni menggelar satu konser yang akan menyajikan karya karya Debby Nasution yang belum sempat terpublish serta karya karya Tono Supartono. Sayangnya, sebelum rencana tersebut terealisasi, tanpa diduga siapapun, Debby Nasution meninggal dunia saat belum menyelesaikan seksi dakwahnya di sebuah acara Majelis Taklim, di kawasan Cipete, Jakarta, pada Sabtu, 15 September 2018.
Namun Tono Supartono menegaskan untuk tetap akan merealisasikan proyek tersebut pada suatu saat nanti, dengan melibatkan anak anak Debby Nasution yang juga aktif bermusik yakni Muhammad Hasan Nasution, Muhammad Husain Nasution dan Zaynab (Nou) Karbila Nasution.
“Ada lagu lagu Debby Nasution yang belum di publish dan kami sebenarnya sudah merencanakan untuk buat konser dengan lagu lagu tersebut. Karenanya saya tetap berencana untuk mewujudkan konser ini dengan melibatkan keluarga Debby Nasution”, tegas Tono.
“Ada dua lagu Debby Nasution yang belum terpublish yang saya nyanyikan yakni ‘Preman’ dan ‘Bilakah’.” , imbuh Tono.
“Harapannya, tentunya semua bisa mengenal Debby Nasution berikut karya-karyanya”, harap Tono.
Debby Nasution yang lengkapnya bernama Debby Murti Nasution , merupakan musisi prestisius yang kemudian juga aktif berdakwah. Menjadi bagian dari pendiri komunitas gang pegangsaan, yakni sebuah rumah Saidi Hasjim Nasution (ayah Nasution bersaudara) di era 70 an. Aktifitas bermusik di gang Pegangsaan ini juga sukses melahirkan beberapa band legendaris seperti Sabda Nada, Badai band dan Guruh Gipsy. Aktifitas dan kreativitas yang terbangun di komunitas ini membawa Debby Nasution bersama saudaranya Keenan Nasution dan Odink Nasution ikut terlibat dengan beberapa aktifitas musisi besar lainnya diantaranya Guruh Soekarno Putra, Chrisye, Eros Djarot, Abadi Soesman, Fariz RM,Ronny Harahap hingga Eet Sjahranie.
Talenta Debby Nasution semakin diperhitungkan saat ditahun 1977 ikut terlibat dalam perilisan album fenomenal “Badai Pasti Berlalu”. Di album tersebut Debby Nasution bekerjasama dengan Eros Djarot, Keenan Nasution, Chrisye, Berlian Hutauruk, Yockie Soerjo Prayogo dan Fariz RM. Debby Nasution juga terlibat sebagai penata musik di album kompilasi Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1979
Debby Nasution juga sempat bergabung dengan grup band rock legendaris God Bless. Di tahun 1989, Debby sempat kembali mengumpulkan saudara dan teman musisinya yakni Keenan Nasution, Harry Sabar, Fariz RM, Molly Gagola, Eet Sjahranie, Sitoresmi Prabuningrat, dan Harry Minggoes guna membangkitkan kembali Gank Pegangsaan yang akhirnya sukses melahirkan hits single ‘Dirimu’ serta merilis album “Palestina” (1990) dan “Palestina II” (1994) serta “Kerusuhan” (1998). Debby juga ikut bergabung bersama Benny Soebardja dalam formasi baru band Giant Step.
Sedangkan Tono Supartono, meski lebih lekat dengan dunia bisnis, namun kiprahnya di dunia musik sudah berlangsung sejak tahun 1971 bersama band Bigman Robinson. Sayang aktifiotas bersama bandnya cuma berjalan sekitar setahun, karena di tahun 1972, Tono Supartono memilih melanjutkan study ke Munich, Jerman dan Ke Inggris hingga kembali ke Indonesia di tahu 1978.
Selanjutnya, meski aktif di dunia bisnis, tak membuat Tono Supartono juga meninggalkan dunia musik, yang menurutnya, “Sudah mendarah daging dalam diri saya” ujar Tono. Bahkan belum lama ini, Tono Supartono bersama Dimas Supartono baru saja mempersembahkan sebuah mini album bertajuk ‘Kumpulan Melodi TerbaikTono Supartono” yang khusus diberikan kepada nasabah Prioritas sebuah Bank.
“Kumpulan Melodi Terbaik Tono Supartono”, berisi 8 buah lagu yang dinyanyikan oleh Nania (Jujur Saja); BE3 (Seandainya); Sammy Simorangkir (Kau Dan Aku Satu); Dendy Mikes (Perjalanan & Pergilah). Wisha Sofia (Keagungan Tuhan) dan Tono Supartono (Berharap).
Dan sebagai penghormatan sekaligus kenangan bagi alm. Debby Nasution, Tono Supartono berusaha menunaikan keinginan alm. Debby yakni dengan merilis kembali lagu “Menanti Ajal” dengan format orchestra yang dikemas dalam bentuk CD single lewat sentuhan Magenta Orchestra, mastering oleh Don Bartley di Sidney, disain cover oleh Gauri Nasution, sementara suara latar diisi oleh Yandi Brosu dan Gloria. CD single ‘Menanti Ajal’ ini hanya khusus dibagikan kepada penonton konser Tribute To Debby Nasution “Dua Sisi” yang dihelat di Usmar Ismail Hall, Kuningan, Jakarta pada Rabu (12/12).
Konser “Dua Sisi Debby Nasution ” sendiri digagas, disiapkan dan diselenggarakan oleh keluarga, kerabat, sahabat dan murid taklim Debby Nasution yang dimeriahkan oleh sumbangsih dari Slamet Rahardjo, Erros Djarot, Keenan Nasution, Tono Supartono, Berlian Hutauruk, Andy Ayunir, Diddi Agephe, Yuni Shara, Rian D’Masiv, Opick ‘Tombo Ati’, Nania Yusuf, Gilang Samsoe, Kadri Mohammad, Arry Syaff, Bangkit Sanjaya, Sharah Fauzia, Doddy Soekasah, Rip Clappy, Rock Squad 2, Eghay Synth, Hasan Nasution N’ Friends serta melibatkan Adhyaksa Dault (Executive Producer) dan Ella Su’ud (Producer).
Support Tono Supartono dalam mendukung terlaksananya konser “Dua Sisi Debby Nasution” ditunjukan dengan menyediakan studio Overlock miliknya sebagai tempat latihan sekaligus sebagai kantor sekretariat kepanitiaan.
Sedangkan di konser “Dua Sisi Debby Nasution”, partisipasi Tono Supartono hanya memberikan testimoni seputar keakraban dan kreatifitas yang terjalin antara dirinya dengan alm Debby Nasution yang ditayangkan dalam bentuk video dimana narasinya disampaikan oleh putri alm Debby yakni Nou Karbila Nasution.
“Ada narasi di awal lagu yang disampaikan oleh Karbila, narasinya tentang doa seorang anak agar orangtuanya diberi tempat yang terbaik”, ujar Tono.
“Semoga singel album ini bisa dinikmati oleh penggemar dan tokoh musik Indonesia yang mengenal Debby Nasution serta bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda” harap Tono.
“Kedepannya, saya akan bekerjasama dengan anak anak Debby Nasution baik dalam menciptakan musik dan berkarya, saya hanya mencoba mengerjakan yang terbaik”, pungkas Tono Supartono. (Fajar/TrenzIndonesia) | Foto: Fajar & Google.co.id
