Penyanyi dan musisi senior Imaniar mengingatkan para musisi muda di Tanah Air agar tidak terlalu bergantung pada teknologi dalam berkarya. Menurutnya, kemampuan bermusik dan kualitas vokal tetap harus diasah secara langsung, bukan sekadar mengandalkan bantuan komputer maupun kecerdasan buatan (AI). Pesan itu ia sampaikan kepada detikcom di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, pada Kamis (5/11/2026).
Belajar musik secara manual
Imaniar menjelaskan, pada zamannya musisi harus mempelajari kemampuan bermusik dari dasar hingga mahir. Proses itu mencakup teknik memainkan alat musik sampai kemampuan vokal, yang semuanya menuntut latihan.
“Gini ya, dulu, dulu, ya gapapa omongin dulu ya, karena kalau nggak ada dulu ya nggak ada sekarang gitu kan. Zaman kita itu kita belajar benar-benar manual. Kalau kita main gitar, benar-benar kita belajar dari gitar sampai mahir. Nggak bisa cuma ada 3, 4 chord terus jadi pemain band, gitu enggak,” kata Imaniar.
Selain alat musik, penyanyi pada masanya dituntut memahami berbagai teknik vokal. Ia menyebut penguasaan nada, pernapasan, power, hingga cara membawakan lagu sebagai hal yang harus dikuasai. Menurutnya, kemampuan itu terbentuk dari banyak mendengarkan lagu dan bertanya kepada musisi yang lebih dulu berkarya.
“Bagaimana cara eh apa eh fingering segala macam gitu. Nyanyi juga gitu, harus tahu do re mi fa so la si do terus dramatisika itu apa, bridging itu apa, power gimana, nafas gimana. Terus apa namanya, kita belajar dari banyak lagu dan banyak dengar, terus kita banyak nanya zaman dulu. Makanya sampai sekarang musisinya dan penyanyinya kuat untuk terus bisa eksis ya, terus vokalnya masih tetap,” tuturnya.
Kemudahan teknologi dan risikonya
Imaniar menilai perkembangan teknologi memang memudahkan musisi masa kini. Meski begitu, ia mengingatkan agar kemudahan tersebut tidak membuat penyanyi dan pemain musik berhenti melatih kemampuan dasarnya. Ia menyoroti penggunaan perangkat yang serba terkomputerisasi, termasuk AI dan auto-tune, yang membuat proses bermusik terasa instan.
“Tapi kalau sekarang ini banyak lebih ter-computerized, AI-lah disebut gitu kan, jadi bel, teng pencet satu, teng teng teng teng teng. Satu jari gitu kan, jeng jeng jeng jeng, terus kapan mau pintar, gitu. Terus kalau nyanyi, pakai auto-tune. Rekaman nih, dia suaranya serak kek, nafasnya pendek kek, fals, pakai komputer, selesai, AI lagi,” ujarnya.
Menurut Imaniar, ketergantungan pada teknologi menjadi masalah ketika seorang penyanyi harus tampil langsung. Kemampuan yang terdengar baik di rekaman, katanya, belum tentu bisa ditampilkan dengan kualitas sama di atas panggung.
“Terus kita kapan mau majunya? Begitu live show, gelar, kebawa angin tuh suara, fals. Makanya sering di media sosial, ‘begitu sih penyanyi aslinya nyanyi lho, kok suaranya ini ini ini ini’. Kalau kita, ‘Ah kacau bingung jadinya’, sama kayak persis yang di kaset. Ya kan? Karena dulu nggak pakai komputer-komputer, mau nyanyi lagu apa pun sama persis,” ujarnya.
Teknologi hanya alat bantu
Imaniar menegaskan, teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan dan kualitas seorang musisi. Ia berharap generasi muda tetap serius belajar agar kemampuannya teruji, baik saat rekaman maupun tampil langsung.
“Tapi kalau sekarang, wah suaranya keren mendesah, kalau begitu nyanyi, hah hah nggak nyampe. Nggak nyampe. Itu makanya jangan mau dibodohi oleh kemajuan teknologi. Kalau udah urusan musik, itu nggak bisa dibohongin. Anda jago di musik, berarti Anda beneran jago, baik live maupun rekaman. Gitu,” pungkasnya.
