Trenz Indonesia
News & Entertainment

Kenali Definisi Cantik dari Hati

Kutipan Zozibini Tunzi Ini Patut Dijadikan Inspirasi!

459

Miss South Africa Zozibini Tunzi sukses meraih gelar Miss Universe 2019 saat dihelat di Tyler Perry Studios Atlanta, Amerika Serikat, Minggu (8/12/2019). Sukses Zozibini Tunzi menegaskan akan definisi cantik,  bahwa kecantikan itu merupakan soal penerimaan diri seutuhnya dan patut dilihat dari spektrum yang luas.

Bogor, Trenz Lifestyle | Bagi sebagian perempuan, tekanan yang membebani punggung mereka terasa begitu berat. Kaum perempuan seolah dituntut tampil sesuai standar kecantikan masyarakat. Seiring zaman, tekanan tersebut bukannya melemah, namun justru semakin menguat dan beragam.

Pada era moderen sekarang, sebenarnya kaum perempuan telah bebas untuk mengekspresikan diri, namun masih banyak yang belum bisa melakukannya akibat ketakutan menghadapi tuntutan masyarakat yang seringkali tidak realistis. Apalagi dalam banyak wacana, standar kecantikan kerap diidentikan dengan kulit putih atau tubuh langsing. Ini adalah hal yang tidak memanusiakan kaum perempuan dan memusnahkan rasa percaya diri mereka.

Tidak punya rasa percaya diri kerap menimbulkan keraguan terhadap diri sendiri. Jika berlarut-larut, ketidakpercayaan diri membuat seseorang tenggelam dalam tekanan sosial sehingga pada akhirnya mencoba berbagai cara agar muncul perasaan diterima oleh masyarakat. Kondisi ini justru melupakan potensi diri mereka sendiri. Padahal bentuk wajah, warna kulit atau tekstur rambut yang unik, bukanlah tolok ukur kecantikan. Kecantikan tidak seharusnya menyiksa dan membebani. Beauty, as they say, is in the eye of the beholder.

Zozibini Tunzi

Mengutip pidato Zozibini Tunzi, pada penobatannya sebagai pemenang ajang Miss Universe 2019 :

I grew up in a world where a woman who looks like me; with my kind of skin, and kind of hair isn’t considered beautiful. I think it is time that that stops today. I want children to look at me and see my face and I want them to see their faces reflected in mine.”

Zozibini Tunzi adalah perempuan Afrika Selatan berkulit hitam pertama yang memenangkan mahkota Miss Universe. Banyak sekali orang yang menyatakan kemenangannya sebagai kemenangan bagi gadis-gadis di Afrika Selatan dan Afrika secara lebih luas.

Model sekaligus sosok yang kerap terlibat dalam kegiatan aktivisme ini dengan tegas menunjukkan dirinya melawan kekerasan terhadap perempuan. Selain menjadi inspirasi bagi banyak gadis dan wanita yang merasa tidak terlihat, Tunzi memenangkan hati dengan pernyataannya yang kuat tentang kepemimpinan. Tunzi menentang patriarki yang membuat kaumnya, kaum perempuan, hanya diam di tempat.

It’s something that has been lacking in young girls and women for a very long time, not because we don’t want to but because of what society has labelled women to be.”

Zozibini Tunzi

Momen kemenangan Zozibini Tunzi seharusnya dapat menjadi momen kebanggaan bagi banyak orang, khususnya kaum perempuan di seluruh dunia. Semangat serta sifat tak patah arangnya merupakan definisi kecantikan yang sesungguhnya karena wanita tidak seharusnya dinilai berdasarkan apa yang terlihat dari luar. Kecantikan merupakan soal penerimaan diri seutuhnya dan patut dilihat dari spektrum yang luas. Kata ‘kecantikan’ tidak berdiri secara tunggal, melainkan secara keseluruhan dari paduan berbagai faktor, baik mental dan spiritual.

Tentu, standar kecantikan akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang. Namun, satu-satunya tugas yang dapat kita lakukan adalah melihat serta memilah apa yang sebenarnya penting dalam hidup kita. Kita, kaum perempuan, merupakan makhluk yang kuat dan pantas mendapatkan setiap kesempatan untuk mengambil tempat di tengah masyarakat. Semakin cepat kita mulai melihat perempuan mampu meraih posisi kepemimpinan, semakin sedikit anggapan bahwa itu sesuatu yang tabu dan kita bisa mulai bergerak maju sebagai perempuan.

Go, women, we are so much more than the standards of beauty set by today’s society! (Alifa Dhea Ardianti Putri) | Foto : Dok Google.co.id

 

Alifa Dhea Ardianti Putri

Alifa Dhea Ardianti Putri

Penulis adalah mahasiswa semester I jurusan Hubungan Masyarakat Program Vokasi Universitas Indonesia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.