Trenz Lifestyle | Kini pecinta dry gin di Indonesia dapat menikmati langsung minuman dry gin pertama yang berasal dari Black Forest, yakni Monkey 47 Schwarzwald Dry Gin.
Kabar gembira ini dipastikan dengan diluncurkannya minuman super premium tersebut secara serentak di seluruh wilayah Indonesia, mulai Rabu, 7 Februari 201, yang diumumkan secara langsung di Mr. FOX, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan.
Acara peluncuran ‘Monkey 47 Schwarzwald Dry Gin’ ini, dihadiri oleh Julien Nicolay, General Manager Asia Pacific Monkey 47 (APAC), Edhi Sumadi, Managing Director PT Pernod Ricard Indonesia, dan Zachary Connor de Git, Brand Ambassador Monkey 47 (APAC) dari Singapore.
Monkey 47 Schwarzwald Dry Gin diklaim sebagai sebuah minuman super premium gin yang memadukan rasa antara tradisi British, eksotisme dataran India, dan kemurnian serta keaslian dari Black Forest yang terletak di Jerman. Gin ini juga sukses memenangkan berbagai penghargaan di dunia yakni World Spirit Awards, San Fransisco World Spirit Competition, dan International Wine and Spirit Award.
Asal usul Schwarzawald Dry Gin ini berkat Wing Commander dari Royal Air Force bernama Montgomery “Monty” Collins. Setelah meninggalkan Royal Air Force di tahun 1951, ia memilih menetap di kawasan Black Forest. Collins yang tertarik dengan gin mencoba kemampuannya di area Black Forest dalam menyuling saripati buah-buahan. Gin yang dilahirkan Collins beberapa dekade lalu inilah, tepatnya di tahun 2006, kembali dikembangkan oleh Alexander Stein hingga tercipta Monkey 47.
Sesuai angka 47 yang tertera pada brand-nya, merupakan resep istimewa dari 47 kandungan saripati diantaranya adalah akar angelica, bunga akasia, daun bramble, Iingonberries dan kayu spruce yang kesemuanya diperoleh langsung dari Black Forest. Monkey 47 merupakan bahan dasar yang tepat dan ideal untuk campuran koktail yang klasik dan juga eksentrik.
Termasuk dalam kategori super premium gin, Monkey 47 tampak cukup menarik, baik dari sisi kemasan maupun namanya. Botolnya yang menyerupai botol jamu ini, ternyata berawal saat pertama kali mengemas minuman gin yang ada saat itu hanya ada botol dari sebuah laboratorium. Botol berukuran 500ml yang terlihat sangat klasik ini kemudian dipertahankan, ditambah lagi tutup botolnya menggunakan gabus dan ring berbentuk cincin yang terbuat dari metal dan ada yang berlapis emas, selain untuk penyanggah agar gabus tidak masuk kedalam botol saat ditumpuk, juga bisa berfungi sebagai aksesoris tanda mata.
Yang juga menjadi menarik, merek Monkey 47 yang menempel di botolnya terbuat dari kertas dengan desain menyerupai perangko. Menurut Julien Nicolay, General Manager Asia Pacific Monkey 47 (APAC), merek berikut gambar yang melekat pada botol ini memang sengaja dibuat agar terlihat vintage. Misal, angka 47 diambil dari bahan dasar formula dry gin, gambar monkey yang sekaligus menjadi nama brand, karena saat membuat formula tersebut berada ditengah hutan yang kebetulan banyak monkey-nya. Sedangkan adanya gambar Taj Mahal, karena si pembuatnya suka sekali akan eksotisme bangunan di India tersebut.
Berkat keistimewaan tersebut, yang menyebabkan Monkey 47 menjadi salah satu gin dengan harga termahal, dimana selisih harga bisa mencapai antara 15% hingga 20% lebih tinggi, atau di kisaran harga 1,8 – 2,3 juta rupiah bila disandingkan dengan merek gin lainnya yang terdapat di kategori Super Premium Gin.
Kehadiran Monkey 47 di Indonesia berada dibawah pengendalian PT Pernod Ricard Indonesia, dan memang diharapkan bisa memuaskan keinginan para pecinta gin di Tanah Air.
Edhi Sumadi seiaku Managing Director dari PT Pernod Ricard Indonesia, sangat percaya dengan antusiasime positif yang akan diberikan kepada pecinta gin di Indonesia terhadap Monkey 47.
“Monkey 47 memiliki pasar yang segmented, dia hadir ditempat-tempat khusus seperti resto-bar. Karena produk Monkey 47 ini sangat superior dan bagus, maka sasaran kita adalah para penikmat minuman gin dan juga sosialita ibukota. Saya sangat confident bahwa produk Monkey 47, dapat memberikan warna baru di dunia liqueur dan dapat diterima di pasar Tanah Air. Apalagi, ditambah antusias dari para konsumen yang sudah mencicipi produk ini pasti akan cukup loyal terhadap produk baru ini,” jelas Edhi Sumadi. (Fajar/TrenzIndonesia) | Foto: Google.co.id
