Trenz Lifestyle | N Worskhop Fashion Gallery & Management milik desainer busana senior Jogja yang akrab dipanggil mba Ninik, Sabtu 24 Februari 2018 lalu menggelar suatu acara gelaran busana berkolaborasi dengan beberapa elemen kreatifitas dan komunitas seni. Konsep nya adalah memadukan beberapa aspek kreatifitas seni kedalam suatu inteprestasi rancangan karya busana.
Rancangan melibatkan beberapa perupa dan seniman terwakili dari 25 rancangan busana, diperagakan oleh 25 model dan dipandu oleh koreografer atau sutradara busana kenamaan Ananta Kanapi. Yang sedikit membedakan dari gelaran fashion show lainnya adalah, adanya upaya memadukan musik sebagai pembawa pesan audiktif mengawal gerak dinamis performer sebagai akses masuk kedalam wacana wearable art secara gelaran busana.
Pemilihan venue di Benteng Vredeburg seakan ingin memberi pesan kuat, bahwa peristiwa seni budaya ini berbicara tentang kreatifitas Jogja dengan segala potensi lokalnya. Didukung oleh PT Bank Rakyat Indonesia, TBk (BRI), maka gelaran ini menjadi semacam jawaban kegelisahan dari dunia fashion untuk menggali lebih jauh sumber daya dan potensi kekayaan lokal. Mulai dari seni rupa, tatah sunggi, fotografi hingga seni menikmati kopi lokal masuk didalam peristiwa tersebut.
Runway di digelar diatas karpet sepanjang tiga puluh meter, dari gerbang plengkung timur benteng sebagai entry point dengan ornamen hamparan daun-daun kering di koridor sisi kiri dan kanan menuju arah barat (pintu masuk benteng). Disisi selatan panggung rigging, formasi musik combo band plus quartet strings dari team CRSO (Classical Rock Symphony Orchestra) dipercaya untuk membangun nuansa musikal dengan arahan Heri Machan selaku music director. Setelah melalui persiapan teknis yang sedikit menegangkan, karena awan gelap sudah menaungi langit kota Jogja sedari siang, sementara itu penyelenggara bersikukuh untuk menggelar acara di ruang terbuka agar dapat mengexpose nilai-nilai artistik dan kultural dari venue secara utuh. Walhasil acara pun siap untuk di sajikan kepada para pengunjung yang sudah berdatangan tanpa suatu kendala yang berarti.
Setelah opening speech oleh MC dan sepatah dua patah kata pembuka dari mba Ninik selaku penyelenggara. Piano memainkan intro lagu “Never Enough” OST The Greatest Showman yang dipopulerkan oleh Loren Allred. Bait demi bait syair lagu dilantunkan oleh Ninis, talent muda yang pernah mendapat gelar pada ajang bintang radio dengan kapasitas yang terkontrol dan mampu menghanyutkan para hadirin. Ditengah-tengah lagu munculah pasangan perfomer, Wendy HS, aktor teater jebolan kampus ISI Jogja didampingi oleh Puri seorang model senior yang aktif di jagad seni budaya Jogja. Paduan antara gerak teatrikal dan tari itu merespon dari lagu “Never Enough”. menterjemahkan pesan dari lagu tersebut, bahwa pencapaian suatu karya seni itu tidak akan pernah cukup, selalu ingin lebih untuk mencapai titik kesempurnaan.
Musik melanjutkan bentuk ilustrasi bunyi (sound scape), dan para model pun mulai muncul untuk memperagakan busana demi busana yang memunculkan sejumlah karya dari para seniman yang terlibat. Pada karya lukisan Edy Sunaryo (yang diintepretasikan kedalam busana), dimainkanlah lagu ‘Rindu Lukisan’ ciptaan Ismail Marzuki versi Tio Pakusadewo dari OST filem Tebus, dinyanyikan oleh Andika dengan khusu dan khidmat. Yang menarik disini, para performer baik itu teater ataupun penyanyi dan perform gitar pun ikut berbagi ruang di arena runway, tentunya dengan arahan sang koreografer. Lalu di sesi akhir rancangan yang memunculkan citra maskulin dari karya fotografi dan seniman logam. Komposisi musik berubah semakin nge rock. Riff gitar distorsi Heri Machan membuka awal lagu secara medium beat dalam eksplorasi tangga nada phrygian minor dengan citarasa sedikit etnik. Setelah mendapat kode dari koreografer maka masuklah sesi penutup musik mengantar menuju lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’. Penyanyi pun kembali hadir ketengah runway bersama seluruh model yang kemudian terus berjalan ke ruang pamer di lantai dua. Maka Berakhirlah acara pagelaran busana Wearable Art Show selama kurang lebih 50 menit itu.
Musik dan peragaan busana memang bukan hal baru, namun menjadikan musik sebagai elemen pendukung untuk memperkuat keseluruhan tema itu yang masih perlu proses pendekatan yang panjang dan intens antara beberapa disiplin seni serta pelibatan hal hal teknis pendukungnya.
Namun gagasan dan upaya N Workshop Fashion & Gallery layak di apresiasi dan disikapi sebagai bentuk kesadaran terhadap pemberdayaan potensi lokal agar muncul bersama dalam suatu tawaran kreatif yang segar di khasanah seni dan budaya era global ini.
Bagi para musisi, ini diharapkan menjadi pemicu semangat dalam mengidentifikasi dirinya sebagai praktisi musik yang membuka orientasi lebih luas. Dan mampu menyikapi suatu bentuk proses berkesenian dalam multi intepretasi dan multi disiplin, sehingga mampu bersinergi kedalam suatu gagasan besar yang ter integrasi. Berdedikasi dan membaktikan dirinya kepada dunia seni menuju puncak kesempurnaan sebuah karya. Walaupun memang, kita tidak akan pernah merasa cukup untuk mencapai itu.
Akhir kata mengutip penggalan bait dari lagu “Never Enough”; Towers of gold is still too little, These hand could hold ther world, but it will never be enough, never be enough, for me .. jreeng
Tabik Salam Rock’n real
(Heri Machan/TrenzIndonesia) | Foto: Dok. Heri Machan & IG nworkshopyogya
