Trenz Indonesia
News & Entertainment

Wedang Ronde, Budaya Kuliner Tionghoa di Nusantara

Sumbangan Budaya Tionghoa untuk Pengembangan Peradaban Nusantara

133

Jakarta, Trenz Corner | Ronde adalah makanan tradisional China dengan nama asli tangyuan/tangtuan. Terbuat dari tepung beras ketan yang dicampur sedikit air dan dibentuk seperti bola, kemudian direbus dan disajikan.

Ukuran ronde bisa kecil atau besar dan bisa diberi isian di dalamnya, yang diantaranya gula, wijen, bunga osmanthus, pasta kacang manis, manisan kulit jeruk, daging giling, dan sayuran. Masyarakat tionghoa biasa mengkonsumsi ronde saat festival lampion (yuanxiao) atau festival dongzhi, perkumpulan keluarga, dan pesta pernikahan.

Sembahyang Kue Onde jatuh pada bulan ke-10 atau ke-11 Cina, tergantung pada perhitungan empat tahun sekali. Sedangkan untuk perhitungan di tahun masehi, jatuh pada tanggal 22 Desember yang bertepatan dengan Hari Ibu atau tiga hari jelang perayaan Natal bagi umat kristiani.

Pemerhati Budaya Tionghoa nusantara, Ocdy Susanto mengemukakan, bentuk ronde yang bulat yang disajikan dalam mangkuk yang bundar, bagi masyarakat Tionghoa daratan maupun perantauan adalah melambangkan kebersamaan keluarga.

“Untuk sejarah dimulainya sembahyang kue onde, baru dimulai di tiongkok pada saat pemerintahan Kaisar Song Kho Cong (1127-1152 M). Sembahyang onde ini ditujukan kepada Dewa Toapekong, arwah leluhur, dan kepada lima unsur alam (air, api, tanah, logam, dan kayu),” terangnya.

Ocdy Susanto, saat berada di Universitas Tionghoa / Universitas Ma Chung, Malang Jawa Timur

Lanjutnya, selesai bersembahyang orang saling mengantar kue onde ke rumah tetangga atau famili, terutama bagi yang tidak membuatnya. Ada lagi tradisi orang Tionghoa, anak-anak yang diberi kue onde jumlahnya disesuaikan dengan usianya. Contoh, anak usia 3 tahun maka ia akan dapatkan 3 kue onde, sedangkan yang usianya 10 tahun maka ia akan dapat 10 buah.

Satu lagi tradisi yang unik di kalangan Tionghoa saat merayakan sembahyang onde, jika di rumah mereka ada salah satu keluarga yang sedang hamil, setelah mengentas kue onde yang dijemur kemudian onde ditusuk dengan lidi dan dibakar untuk mengetahui jenis kelamin bayi yang sedang dikandung.

“Jika kue onde mentah itu merekah maka dipercaya bayi itu perempuan, sebaliknya jika onde itu menonjol keluar maka bayi laki-laki,” sambungnya.

Perkembangan Ronde di Indonesia.

Bagi masyarakat pribumi Indonesia, ronde umumnya dikonsumsi sebagai wedang ronde. Untuk satu porsi wedang ronde sendiri isinya meliputi beberapa bulatan ronde yang berisi kacang manis tumbuk, taburan kacang tanah goreng, potongan roti, kolang-kaling, ubi, wijen hitam, dan tentunya disajikan dengan air jahe panas, kuah dari gula aren, bahkan ada juga yang dicampur dengan sirup.

“Jadi seiring perkembangan zaman, saat ini ronde sudah menjadi jajanan yang dikonsumsi kapanpun sepanjang tahun. Warnanya tak hanya putih saja, namun saat ini bervariasi untuk menarik pembeli,” tandasnya.

Wedang Ronde

Ada beberapa tempat yang menjual wedang ronde dengan gerobak dorong atau gerobak motor di pinggir jalan, seperti di Pasar Besar Malang, Pasar Lama Tangerang, Yogyakarta,  Semarang Wotgandul, di sekitar klenteng, dan lain-lain.

Sebagian warga Tionghoa di Indonesia, cara membedakan tangyuan dan yuanxiao yaitu, tangyuan adalah ronde tanpa isi (disajikan dengan air jahe manis) yang dikonsumsi pada tanggal 22 Desember, sementara yuanxiao adalah ronde dengan isi manis (disajikan dengan kuah tawar) yang dikonsumsi pada purnama pertama pada tahun baru Imlek.

Tangyuan

“Wedang ronde adalah perpaduan budaya Tionghoa dengan nusantara. Selain nikmat, wedang ronde dapat menghangatkan tubuh untuk mencegah masuk angin, juga dipercaya bisa menambah stamina tubuh,” pungkas Ocdy. (Aan) | Foto: Google.co.id

Leave A Reply

Your email address will not be published.