Trenz Indonesia
News & Entertainment

Indra Utama Tamsir Tetap Mengedarkan CD Demi Jejak Musik Keroncong

388

Jakarta, Trenz Music I Ditengah era teknologi digital, para produser rekaman suara, jarang memproduksi album musik dalam bentuk fisik Compact Disc (CD), namun Indra Utami Tamsir, salah satu buaya keroncong Indonesia dalam mengeluarkan album keroncong selalu dalam bentuk CD, hal itu dimaksudkan agar pecinta musik keroncong dan langgam memiliki koleksi dan jejak musik keroncong.

Alhamdulillah setiap mengeluarkan album dan kelima limanya dalam bentuk CD. Ini dimaksudkan agar saya dan pecinta musik keroncong ada jejak pisiknya,” ujar Indra Utami Tamsir sebagai narasumber Program Cakap-Capak Bens Leo, secara live Instagram, Senin (27/6).

Seperti diketahui, sebelumnya, IUT begitu panggilan akrab Indra Utami Tamsir menekuni ragam musik, namun secara tidak sengaja IUT berkeinginan untuk merekam lagu-lagu langgam dan keroncong karya Manthous, sekedar klangenan dan mendokumuntasikan saja.

“Saat usia 38 tahun saya sebenarnya ingin meninggalkan dunia nyanyi. Tapi entah kenapa tiba-tiba terbersit ingin mendokumentasikan lagu-lagu karya mas Manthous, karena saya sangat menyukai lagu karya almarhum. Eh, sejak saat itu saya merasa, kalau musik keroncong passion saya,” kata wanita yang dikaruniai 3 putri ini.

Sepenganatan penulis, musisi yang nguri-nguri musik Keroncong ditengah gempuran hiburan era digital bukan perkara gampang. Anak-anak milenial banyak yang kurang berminat untuk mendengarkan musik yang dikenal melow dan membuat pendengarnya ngantuk, wajar saja jarang ada penyanyi dan musisi yang mengambil musik keroncong sebagai pilihan kariernya. Penyanyinya pun sangat jarang dibandingkan dengan penyanyi dari genre lain. Sebut saja Waljinah, Mus Mulyadi, Sundari Sukoco, Koko Thole ini dan Indra Utami Tamsir ( IUT ), ia salah satu pejuang sejati di genre musik keroncong dengan pilihannya pada langgam Jawa, genre keroncong yang dipopulerkan Eyang Waldjinah lewat ‘Walang Kekek‘.

“Sudah lima belas tahun saya memilih musik keroncong sebagai pilihan karier, memang pilihan ini tidak populer seperti genre musik pop. Tapi saya kok merasa cocok menekuni musik keroncong,”  tegas IUT

Wanita cantik ini berupaya keras agar musik keroncong bisa diminati dan dicintai generasi milenial dengan banyak cara, selain menggelar lomba vokal penyanyi keroncong khusus wanita, IUT juga memilih tim kerja event organizer miliknya yang tengah menggarap konser musik keroncong di 9 kota di Indonesia semuanya generai masa kini.

“Tadinya pekerja saya yang sebagian besar anak muda masa kini tidak menggubris musik keroncong. Tapi  setelah berkali-kali mendengar dan melihat konser saya yang mendapat sambutan hangat, mereka akhirnya menyukai dan kemudian gandrung dengan musik keroncong,” ujar IUT bangga.

Sejak terjun sebagai penyanyi keroncong, wanita berusia 47 tahun ini terus konsisten menekuni musik asli Indonesia dan langgam ini. Hal itu menjadikan banyak orang yang meyakini kalau IUT adalah penerus penyanyi keroncong legendaris Waldjinah. Wanita yang dikaruniai 3 orang putri ini disebut sebagai The Next Waldjinah. Konsekuensinya – IUT harus berjuang ekstra – karena musik keroncong yang dianggap non-profit oleh Label Rekaman suara, dianggap tidak menguntungkan, apalagi syairnya berbahasa Jawa.

Sejak merilis album ‘Pengantin Agung‘ (2012) hingga album ke 5 dengsn 9 single ysng dirilis Mei-Juni 2021 ini, IUT bergerak independen, tidak ada label mayor dan penyandang dana.  Lewat album kedua ‘Nggayuh Katresnan‘ – IUT merebut trophy AMI Awards 2013 kategori ‘Penyanyi Keroncong Terbaik‘. Tahun 2016, setelah merilis album ‘Wanita‘, IUT dan Orkes Keroncong Dewanggo Nuswantoro menggelar tour 9 kota di Jawa dan Bali. IUT ingin sekali menggelar tour keroncong keliling Indonesia.

Di album kelima, IUT ikut menulis 7 lirik lagu dari 9 lagu yang notasi dan aransemennya ditulis Budi L Tandang, antara lain keroncong ‘Kayungyun‘, ‘Embun Khayangan‘, ‘Lintang Sore‘, ‘Tembang Tresno‘, ‘Ngeronce Asmoro‘, ‘Pingin Nyanding‘ dan ‘Ngelayun Esemu‘. Ini juga prestasi istimewa sebagai lirikus di musik keroncong indie. Dan IUT ingin merebut penonton keroncong di Suriname, Belanda dan Jepang, negara yang mengenal keroncong sebagai budaya Indonesia.

“Saya berharap pandemi Covid-19 cepat berlalu, biar kami bisa kembali melanjutkan konser di berbagai kota di Indonesia,” harap Indra Utami Tamsir.

Leave A Reply

Your email address will not be published.