Trenz Indonesia
News & Entertainment

Kemendag Ajak Kolaborasi Pemangku Kepentingan Genjot Konsumen Berdaya

167

JAKARTA,TRENZINDONESIA,– Kementerian Perdagangan menguatkan kembali komitmen terhadap perlindungan konsumen di tengah perubahan perilaku konsumen, pelaku usaha, serta pola aktivitas perdagangan berbasis digital.

“Kata kuncinya kolaborasi semua pemangku kepentingan yaitu pelaku usaha, konsumen, pemerintah, akademisi, juga adaptif dengan dinamika perubahan era pandemi & digitalisasi,” ujar Srie Agustina, Widyaiswara Ahli Utama Kemendag, usai memandu webinar forum edukasi konsumen bertajuk Redefining Commitment for Consumer Protection untuk menyongsong puncak Hari Konsumen Nasional ke-9, Kamis (28/10).

Harapannya, perlindungan konsumen kelak dapat menjadi arus utama pembangunan seluruh nusantara, dan secara bersama terus membangun kepercayaan pasar dalam bertransaki, yang menjadi tujuan seluruh stakeholders perlindungan konsumen.

Hal senada diungkap Fika Darana. Direktur Marketing PT Mayora Indah itu mengatakan produksinya selalu menjadikan konsumen sebagai subjek & bukan objek perdagangan.

“Kami harus selalu dekat konsumen, mendengarkan mereka dan menempatkan konsumen selalu di hati, consumer in our heart, targetnya adalah bagaimana produk Mayora selalu terpercaya oleh konsumen Indonesia maupun di mancanegara jelasnya.
Pembicara Dhini Aminarti, Duta Wardah Indonesia, mengaku produk kecantikannya disesuaikan keinginan konsumen.

“Mulai inovasi, riset, bahan baku serta kehalalan produk secara MUI, yang aman & nyaman digunakan remaja & ibu-ibu.”

Sementara Dadan Rudiansyah, Direktur PT Kereta Api Indonesia, menyebut terus bertransformasi di tengah kebijakan pandemi Covid19.

“KAI berkomitmen terus melayani konsumen dengan menjaga keselamatan, kesehatan dan keamanannya, membuka akses yang luas dengan menyiapkan saluran pengaduan konsumen, didukung jajaran yang disiplin dan konsisten dalam menjaga komitmen itu.”

E-Commerce

Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kemendag, Veri Anggrijono, mengisyaratkan perlunya mendefinisikan ulang perlindungan konsumen di tengah kebijakan pandemi covid19 & era digitalisasi.

“E-commerce mengubah pola perilaku konsumen & pelaku usaha, pola aktivitas perdagangan berbasis digital, sehingga membutuhkan upaya edukasi kepada masyarakat konsumen dengan mendefinisikan ulang komitmen para stakeholder terkait perlindungan konsumen,” ujar Dirjen Veri kepada media, Jumat (22/10).

Namun begitu, diakuinya, pemanfaatan e-commerce memiliki dampak positif terhadap peningkatan ekonomi disamping adanya resiko yang menimbulkan kerugian konsumen.

“Kemendag butuh komitmen bersama melindungi konsumen guna meningkatkan kepercayaan konsumen dalam bertransaksi,” ujar Veri Anggrijono dalam webinar sama, Kamis (21/10)

Dirjen Veri menyebut Indonesia urutan ke-15 dengan penetrasi internet nasional sebesar 76,8% dari total populasi dimana 88,1% memanfaatkan layanan e-commerce pada akhir Maret 2021.

Tahun sebelumnya menyebut kenaikan nominal transaksi e-commerce 29,6% dari Rp 205,5 trilyun pada 2019 menjadi Rp 266,3 trilyun.

Kemendag mencatat 7.368 pengaduan konsumen terkait e-commerce sepanjang 2021 berupa ketidaksesuaian cara menjual meliputi barang datang tidak sesuai pesanan; gangguan sistem; proses pengembalian pembayaran lama; barang pesanan tidak sampai; waktu pengiriman lama; dan tidak terlacak proses pengiriman.

Sementara pegiat Indah Suksmaningsih, mengingatkan konsumen seharusnya ditempatkan sesuai fungsi sebagai diviner dimana minat/pilihan konsumen menjadi penentu produk & perdagangan barang/jasa; informan bagi pasar; evaluator sebagai feedback pemakai.

“Jadi, konsumen tidak cukup dengan kritis tanpa kesadaran bertindak. Caring the other people, menjadi ciri konsumen masa depan, konsumen yang peduli. Apalagi era pandemi Covid-19 saat ini,” ujar pegiat Perlindungan Konsumen itu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.