HomeNewsEdutainmentBre Redana Kekuasaan Ditentukan oleh Mandat Langit Dan Bukan oleh Survey

Bre Redana Kekuasaan Ditentukan oleh Mandat Langit Dan Bukan oleh Survey

Published on

Jakarta, Trenzindonesia | Dalam Diskusi Kebudayaan yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada Rabu malam (10/01), budayawan Bre Redana memberikan tanggapan menohok terkait maraknya survey Pilpres belakangan ini.

Ia menegaskan bahwa kekuasaan akan muncul atau jatuh ditentukan oleh mandat langit, bukan oleh survey.

“Mandat langit itu ada tanda-tandanya. Kalau mandat langit sudah hengkang, ia akan serba salah. Mau ke luar negeri salah, mau tetap di dalam, ya salah juga. Itu tanda mandat langit sudah hilang,” tegas Bre Redana, tanpa menjelaskan secara eksplisit penguasa yang dimaksud.

Bre Redana Kekuasaan Ditentukan oleh Mandat Langit Dan  Bukan oleh SurveyDiskusi yang dipandu oleh dramawan Amien Kamil dan mengangkat tema “Peran Budayawan dalam Situasi Politik Masa Kini dan Masa Depan” ini juga melibatkan panelis Arahmaiani, Taufik Rahzen, dan Bre Redana. Puluhan seniman, sastrawan, perupa, dan kaum intelektual turut hadir dalam acara ini, termasuk Romo Mudji Sutrisno, Mohammad Nasir, Butet Kartaradjasa, Jose Rizal Manua, Isti Nugroho, Miing Deddy Gumelar, dan jurnalis senior Nugroho F. Yudho, Haris Jauhari, Dimas Supriyanto, serta Herman Wijaya.

Bre Redana, Taufik Rahzen, dan Arahmaiani menyampaikan gugatan terhadap kondisi sosial politik saat ini. Bre Redana menyoroti kurangnya calon presiden yang memiliki program penguatan literasi, sedangkan Taufik Rahzen mengkritisi hilangnya keseimbangan kekuasaan negara yang berdampak pada pembangunan peradaban. Arahmaiani, yang pernah dipenjara di masa Orde Baru, menyimpulkan bahwa penguasa tidak peduli membangun peradaban.

Dalam tanggapannya, Muhammad Nasir, jurnalis senior dan budayawan, menyatakan kekecewaannya terhadap arah peradaban yang menjauh dari cita-cita awal bangsa. Sementara itu, Deddy Gumelar atau Miing Bagito, yang kini menjadi politikus, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kurangnya pembahasan mengenai peran budayawan dalam menghadapi situasi politik masa kini.

“Pembahasan tentang peran budayawan dalam situasi politik masa kini sangat kurang. Kebanyakan ngomong peran masa lalu. Padahal, saya hadir untuk dengar itu, mau apa budayawan dan seniman menghadapi kondisi politik sekarang, mau gimana, itu yang nggak ada,” sungutnya. (Fjr)

Latest articles

Lebih dari Pameran Otomotif, IIMS 2026 Jadi Wadah Generasi Muda Tunjukkan Bakat 

Jakarta, 12 Februari 2026 – Peran generasi muda sebagai penerus bangsa amatlah penting sebagai inovator...

Eddie Karsito Tekankan Disiplin Waktu dan Kerja Sama di Sekolah, Lawan Budaya “Jam Karet” Sejak Dini

Bekasi, Trenzindonesia.com | Disiplin waktu bukan sekadar soal datang tepat waktu, tetapi tentang...

Spirit 86 Reborn Comeback! Band Legendaris Era 80-an Bangkit dengan Wajah Baru dan Energi Musisi Muda

Jakarta, Februari 2026 — Nostalgia bertemu energi generasi baru. Spirit Band, grup fusion jazz–pop...

Dayu AG Laporkan Maheswara Musik ke Polisi: Diduga Gunakan Lagu “Tabah” Tanpa Dibayar Sejak 1994

Jakarta — Pencipta lagu sekaligus produser dan penyanyi Dayu AG resmi melaporkan bos Maheswara...

More like this

Program Korpri Peduli Hadirkan Akses Air Bersih Untuk Warga Bantul

Yogyakarta ,Trenzindonesia.com | Humas BKN, Dewan Pengurus Korpri Nasional melalui Program Korpri Peduli menyalurkan...

Group CEO BRI Puji PNM: Dana Rp1 Miliar per Desa Jadi Motor Dampak Sosial Berkelanjutan

Jakarta, Trenzindonesia.com | Komitmen PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam mendorong pemberdayaan masyarakat prasejahtera...

Lewat Seminar IPPRISIA, Menciptakan Kepribadian Profesional di Berbagai Profesi

Jakarta-Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Persona Pengembangan Kepribadian Indonesia (IPPRISIA) sukses menggelar seminar pengembangan kepribadian...