Lampung, Trenzindonesia.com | Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, media pesantren kini tidak lagi hanya menjadi sarana dokumentasi kegiatan internal. Lebih dari itu, media pesantren telah menjelma menjadi garda terdepan dalam menyebarkan nilai-nilai dakwah yang moderat, edukatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Semangat itulah yang terasa kuat dalam penyelenggaraan MPL Summit 2026 yang digelar Media Pondok Lampung (MPL) pada 10–11 Juni 2026 di Pondok Pesantren Nurul Qodiri Pusat, Lempuyang Bandar, Kecamatan Way Pengubuan, Kabupaten Lampung Tengah.
Mengusung tema “Connected in Ukhuwah, Powerful in Dakwah”, kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Harlah ke-IV Media Pondok Lampung tersebut berhasil mempertemukan pengelola media pondok pesantren dari berbagai wilayah di Provinsi Lampung dalam satu forum kolaboratif yang sarat inspirasi.
Selama dua hari pelaksanaan, para peserta mengikuti berbagai agenda mulai dari pelatihan jurnalistik, pengembangan media digital, diskusi strategis, penguatan jaringan media pesantren, hingga berbagi pengalaman dalam mengelola dakwah di era digital.
Media pesantren dituntut adaptif menghadapi perubahan zaman

Perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pesantren. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Melalui berbagai sesi pelatihan yang menghadirkan narasumber berpengalaman, peserta memperoleh wawasan baru mengenai strategi pengelolaan media yang efektif, kreatif, dan mampu menjangkau audiens yang lebih luas.
MPL Summit 2026 pun menjadi ruang belajar bersama yang memperkuat kemampuan para pegiat media pesantren agar semakin siap menghadapi dinamika dunia digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi utama pesantren.
Pesan KH Imam Suhadi: Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu

Salah satu momen yang paling berkesan dalam kegiatan ini datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qodiri Pusat, KH Imam Suhadi.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan reflektif mengenai pentingnya menjaga semangat belajar sepanjang hayat. Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak ilmu yang telah dimiliki, melainkan oleh kesediaannya untuk terus belajar.
KH Imam Suhadi mengaku turut memperoleh banyak pelajaran dari para narasumber dan peserta yang hadir dalam forum tersebut.
“Pelatihan-pelatihan yang diisi oleh para narasumber luar biasa ini memberikan banyak ilmu. Saya sendiri ikut mendengarkan dan mendapatkan tambahan wawasan dari semangat para pemateri maupun peserta yang hadir,” ujarnya.
Beliau menegaskan bahwa salah satu penyebab seseorang mengalami kemunduran adalah ketika merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimiliki.
Menurutnya, sikap merasa paling tahu dan enggan membuka diri terhadap pengetahuan baru justru menjadi penghambat perkembangan diri.
“Siapa pun bisa gagal ketika merasa sudah cukup dengan apa yang dimilikinya, merasa sudah pintar, merasa ilmunya sudah lengkap. Sikap seperti itu justru menjadi tanda kegagalan,” tuturnya.
Belajar hingga akhir hayat menjadi kunci kemajuan
Lebih lanjut, KH Imam Suhadi mengingatkan bahwa tradisi menuntut ilmu merupakan bagian penting dalam ajaran Islam yang harus terus dijaga oleh setiap muslim, termasuk para ulama, kiai, maupun tokoh masyarakat.
Baginya, proses belajar tidak mengenal batas usia maupun jabatan.
“Mencari ilmu itu berlangsung sejak dalam buaian hingga masuk ke liang lahad. Karena itu, kita harus terus belajar dan terus membuka diri terhadap ilmu-ilmu baru,” pesannya.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian peserta karena relevan dengan tantangan dunia saat ini yang terus berubah dan menuntut kemampuan beradaptasi yang tinggi.
Membangun masa depan dakwah melalui kolaborasi media pesantren

MPL Summit 2026 menjadi bukti nyata bahwa media pesantren terus berkembang menjadi kekuatan baru dalam ekosistem informasi dan dakwah di Indonesia.
Tidak hanya membangun kemampuan teknis para pengelolanya, kegiatan ini juga memperkuat jaringan antar-media pesantren sehingga mampu menghadirkan konten yang berkualitas, edukatif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Melalui semangat ukhuwah Islamiyah, kolaborasi, serta budaya belajar yang berkelanjutan, Media Pondok Lampung berharap lahir semakin banyak media pesantren yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Pada akhirnya, semangat yang terbangun selama MPL Summit 2026 menjadi pengingat bahwa keberhasilan dakwah di era digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan kekuatan media. Lebih dari itu, keberhasilan dakwah lahir dari kerendahan hati untuk terus belajar, berkembang, dan saling menginspirasi demi kemaslahatan bersama.
