HomeNewsEdutainmentMenjadi Manusia dengan Sastra Dalam Catatan Budi Darma Bag 2

Menjadi Manusia dengan Sastra Dalam Catatan Budi Darma Bag 2

Published on

Trenz Indonesia | Dalam pertunjukan bertajuk “Menjadi Manusia dengan Sastra”  yang dihelat di Galeri Indonesia Kaya persembahan Bakti Budaya Djarum Foundation, Minggu (11/2) tersaji acara diskusi sastra bersama sastrawan Budi Darma dan Seno Gumira Ajidarma.

Dalam acara diskusi, penikmat sastra juga dicerahkan dengan beberapa karya satrawan-satrawan Indonesia seperti Iwan Simatupang (Ziarah), Budi Darma (Orang-Orang Bloomington, Rafilus), Kuntowijoyo (Dilarang Mencintai Bunga-Bunga), Bondan Winarno (Petang Panjang di Central Park), dan Seno Gumira Ajidarma (Dunia Sukab).

Berikut Catatan Dari Sastrawan Budi Darma mengenai Novel dan Cerpen Yang Tersampaikan di acara Diskusi bertajuk “Menjadi Manusia dengan Sastra”  di Auditorium Galeri Indonesia Kaya.

 

Novel dan Cerpen: Perbincangan Ringkas

Sekarang marilah kita bicarakan serba ringkas novel Iwan Simutupang, ‘Ziarah, karya saya kumpulan cerita Orang-Orang Bloomington dan novel Rafilus, kumpulan cerita karya Kuntowijoyo, ‘Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, kumpulan cerita karya Seno Gumira AjidarmaDunia Sukab’, dan kumpulan cerita ‘Petang Panjang di Central Park’. Kalau perlu, ringkasan ini dapat kita diskusikan lebih lanjut dalam acara selanjutnya. Sementara itu, karena ada acara khusus “A Tribute to Bondan Winarno” disertai dengan trailer mengenai beberapa kegiatan ketika Bondan Winarno masih bersama kita, kumpulan cerita Bondan Winanro tidak kita bicarakan secara ringkas di sini.

 

Novel Iwan Simatupang Ziarah

Latar belakang pendidikan Iwan Simatupang banyak, antara lain kedokteran, antropologi, drama, dan filsafat. Pengalamannya juga banyak, antara lain menjadi anggota TRIP (pasukan pelajar dalam Perang Kemerdekaan melawan Belanda, tahun 1945-1949), guru, redaktur majalah Siasat, dan wartawan Warta Harian, serta penulis untuk berbagai media. Dari pendidikannya, tampaknya yang paling menarik bagi Iwan Simatupang dan kemudian memengaruhi corak berbagai essai, cerpen, dan novel Iwan Simatupang tidak lain adalah sastra dan filsafat. Pengalamannya sebagai anggota TRIP, guru, dan wartawan dengan sendirinya juga memengaruhi karya-karyanya.

Ada pengalaman yang sangat penting dalam kehidupan Iwan Simatupang, yaitu pengalaman intelektualnya ketika dia menjadi redaksi majalah Siasat yang antara lain dikendalikan oleh intelektual muda terkemuka saat itu, yaitu Soedjatmoko, dan kritikus terkemuka HB Jassin. Para intelektual muda dan sastrawan ini mempunyai kebiasaan berkumpul-kumpul untuk berdiskusi mengenai berbagai masalah, khususnya filsafat dan sastra dengan orientasi, pada  umumnya, ke Barat. Mereka tahu nama para filsuf dan sastrawan besar di Eropa, dan dalam diskusi-diskusi itu mereka selalu berusaha mendalami karya para filsuf dan pengarang tersebut.

Akhirnya, Iwan Simatupang menetap di Hotel Salak, Bogor, dan sebagaimana yang bisa kita saksikan dalam surat-suratnya kepada B. Soelarto, pengarang drama Domba-Domba Revolusi, Iwan Simatupang selalu gelisah menghadapi kondisi dan situasi politik saat itu. Melalui radio dan sumber-sumber berita lain dia tahu, bahwa Indonesia banyak digoncang oleh berbagai demonstrasi, usaha untuk menjatuhkan pemerintah, serta kemerosotan nilain mata uang rupiah secara drastis. Masa depan tidak bisa diprediksi, karena berbagai perubahan cepat terjadi yang pada umumnya cenderung menghancurkan bangsa Indonesia.

Andaikata Iwan Simatupang itu pengarang realis, maka dalam karya-karyanya dia akan menulis berbagai realita pada waktu itu secara “harfiah,” tapi karena Iwan Simatupang bukan tipe itu, maka realita yang dia hadapi sehari-hari dia angkat ke dunia abstrak, ke dunia absurd, dan ke dunia surealis. Karena itu, kalau membaca Ziarah dengan pandangan realis, novel ini menyajikan banyak kejanggalan yang menabrak logika, tapi, tentu saja, bukan dengan cara ini kita menghadapi novel Ziarah. Esensi dalam novel ini bukan kejanggalan-kejanggalan itu sendiri, tetapi berbagai ketidak-menentuan dalam realita yang tersembunyi di balik kejanggalan-kejanggalan ini, yaitu, sekali lagi, kekacauan politik dan ekonomi pada masa itu

 

Kumpulan Cerita Orang-Orang Bloomington dan novel Rafilus karya Budi Darma

Karena kumpulan cerita dan novel ini adalah karya saya, sebaiknya saya tidak memberi komentar mengenai dua karya ini, kecuali kalau dalam diskusi nanti ada pertanyaan.

 

Kumpulan cerita Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Koentowijoyo.

Kuntowijoyo adalah seorang spiritualis, seperti yang tampak dalam kumpulan puisinya Sajak Awang Uwung dan novelnya Khotbah Di Atas Bukit, seorang sejarawan, sebagaimana yang tampak antara lain dalam bukunya mengenai Pakubowono X, dan seorang humanis, sebagaimana yang tampak dalam berbagai karyanya, termasuk Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.

Hampir semua cerita dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga adalah cerita keluarga, yaitu mengenai hubungan antara anak dan orang tuanya, suami dengan isterinya, anak-anak dengan tetangganya, dan hampir semuanya bernuansa domestik. Sebagai sejarawan Kuntowijoyo harus teliti, dan ketelitian itu tampak dalam semua cerita dalam kumpulan ini. Semua detail diciptakan untuk meyakinkan pembaca, bahwa yang terjadi dalam cerita bisa benar-benar terjadi dalam realita. Karena hubungan antar-keluarga tidak selamanya harmonis, maka konflik antar-anggota keluarga pun membuat iba para pembaca terhadap toko-tokohnya. Inilah salah satu kemampuan Kuntowijoyo, yaitu menciptakan empati pada pembacanya, seolah—olah pembaca ikut serta dalam berbagai peristiwa di dalam cerita. Dalam “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” yang kemudian dijadikan judul buku kumpulan ini tampak, misalnya, konflik batin antara anak yang idealis dan ayah yang pikirannya serba praktis. Kalau semua orang seperi ayahnya, maka pembangunan gedung, jembatan, kereta api, dan sebagainya dengan mudah dapat terwujud. Sebaliknya, kalau semua orang seperti anaknya, mengidolakan kedamaian tanpa semangat membangun jembatan, lalu apa yang akan terjadi? Sang anak mau tidak mau harus menggabungkan keduanya, yaitu menjadi manusia idealis dan sekaligus mampu bertindak konkrit untuk membuat jembatan dan lain-lain.

Sebagai seorang humanis, Kuntowijoyo tidak bisa melepaskan diri dari masalah kematian. Dalam cerita “Serikat Laki-Laki Tua” tampak, bahwa manusia tidak mungkin mengelakkan diri dari ketuaan, penyakit, dan konflik dengan anak atau menantu karena generasi muda menganggap bahwa mereka tidak punya manfaat lagi, dan keberadaan mereka justru mengganngu. Semua tindakan mereka pada dasarnya adalah tindakan untuk mengisi waktu luang sambil menunggu kematian. Cerita “Gerobak Itu Berhenti di Muka Rumah” juga mengenai orang tua yang  miskin, kesepian, diabaikan oleh hampir semua orang, dan melaksanakan tugasnya sebagai pengangkut barang untuk menunggu ajal datang menjemputnya.

 

Kumpulan Cerita Dunia Sukab karya Seno Gumira Ajidarma

Seno-Gumira-Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma terkenal sebagai pengarang yang sangat produktif: begitu melihat atau mendengar sesuatu, maka Seno Gumira Ajidarma mampu menciptakan objek yang dilihat atau didengarnya menjadi sebuah cerita. Sebagai seorang wartwan dan sekaligus juga pengarang, Seno tahu apa perbedaan antara reportase dan fiksi: keduanya sama-sama mengemukakan kebenaran, dengan cara berbeda. Pangkal kebenaran adalah realita, dan reportase mengungkapkan realita sebagaimana adanya, sedangkan fiksi mengungkapkan kebenaran yang tidak mungkin diungkapkan sebagai realita. Faktor imajinasi dan keberpihakan, dengan demikian, menjadi salah satu ciri khas fiksi.

Semua cerita dalam kumpulan ini dihadiri oleh seorang tokoh bernama Sukab, baik sebagai tokoh “sambil lalu” dan sekonyong-konyong muncul tanpa sebab jelas, sebagaimana yang tampak dalam cerita “Penari Dari Kutai,” maupun sebagai tokoh sentral sebagaimana yang tampak dalam cerita “Khuldi.” Sukab bisa muncul sebagai cameo, bisa juga mendominasi sebuah cerita dari awal hingga akhir.

Nama Sukab, tampaknya, awalnya muncul begitu saja, dan inilah berkah berwujud inspirasi bagi pegarang Seno Gumira Ajidarma. Semua pengarang, memang, pada suatu saat mendapat inspirasi untuk menciptakan nama tertentu, latar tempat tertentu, tokoh-tokoh dengan watak-watak tertentu, yang asal usulnya sukar atau bahkan tidak mungkin dilacak. Inspirasi berfungsi sebagai pemantik pengarang untuk terus menulis, dan itulah sebabnya maka nama “Sukab” menjadi semacam “trademark.” Kendati ceritanya berbeda, temanya tidak sama, tokoh dan penokohannya juga lain, dengan mudah Seno Gumira Ajidarma  “melanjutkan” kehidupan Sukab.

Sebagai wartawan, pasti Seno Gumira Ajidarma sudah banyak berpetualang, karena itulah baginya menulis dengan latar tempat yang berbeda-beda tidaklah terlalu sukar. Meskipun demikian, karena Seno Gumira Ajidarma tinggal di Jakarta, maka mau tidak mau sebagian besar cerita Seno tidak lain adalah masyarakat urban. Sebagai wartawan yang ingin menangkap gambaran human interest masyarakat urban, maka dengan kiat yang sangat mengena Seno sengaja mengangkat kisah kaum bawah, bukan kaum elit. Kaum bawah memandang Jakarta sebagai dunia impian, dan mereka ingin menjadi warga dunia impian tersebut. Tapi karena dunia impian hanyalah impian, maka orang-orang klas bawah ini justru bisa terperangkap kesengsaraan. (PR/Trenz Indonesia) | Foto: Dok.Galeri Indonesia Kaya & Google.co.id

 

Latest articles

Hadirkan Ustadz Subki Al-Bughury, Ikatan Alumni SMP 45 Jakarta Gelar Gebyar Muharram 1448 H dengan Santunan Yatim

Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Taklim Ikatan Alumni SMP...

Program Jumat Berkah Wartawan Pekan – 76 , Gandeng Chandra Wahyu dan Sylvia Nabila Gelar Aksi Sosial untuk Warga Cibubur

Jakarta , Trenzindonesia.com - Program Jumat Berkah Wartawan (PJBW) kembali menunjukkan kepedulian sosial melalui...

Andrigo Kembali Bangkitkan Luka Lewat “Pacar Selingan 2”, Gandeng Label Besar Malaysia Luncai Emas

Nama Andrigo seolah tidak bisa dipisahkan dari lagu fenomenal “Pacar Selingan”. Lagu yang pernah...

Indra Adhari Musisi Independen Rilis Cinta Sejati, Single Ke-5 di Konsep One Month One Song

Indra Adhari penyanyi sekaligus pencipta lagu kembali menegaskan komitmennya di industri musik tanah air...

More like this

Pushan Geopolitik Al Azhar: Peradilan Militer yang “Keras” Jadi Pilar Disiplin Prajurit

Jakarta,Trenzindonesia.com - Peneliti Pusat Kajian Pertahanan dan Geopolitik Universitas Al Azhar Indonesia, Heri Herdiawanto,...

Dari Villa Bersejarah ke Kampus Impian: Cara Villa Merah Cetak Talenta Seni Muda

Jakarta,Trenzindomesia.com - Di sebuah bangunan bersejarah peninggalan tahun 1922 karya arsitek Belanda RLA Schoemaker,...

Lewat Seminar IPPRISIA, Menciptakan Kepribadian Profesional di Berbagai Profesi

Jakarta-Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Persona Pengembangan Kepribadian Indonesia (IPPRISIA) sukses menggelar seminar pengembangan kepribadian...