Jadi Ruang Pencarian Makna di Tengah Hidup yang Serba Cepat
Jakarta, Trenzindonesia | Di tengah kehidupan modern yang kian kompleks dan penuh tekanan, ilmu tarekat sebagai bagian dari tradisi tasawuf Islam mengalami kebangkitan yang signifikan.
Tak lagi terbatas pada kalangan tradisional atau pedesaan, kini tarekat mulai diminati oleh masyarakat urban, akademisi, anggota TNI-Polri, hingga para profesional muda.
Fenomena ini menunjukkan adanya kebutuhan mendalam masyarakat akan ketenangan batin, kedekatan spiritual dengan Allah SWT, serta pencarian makna hidup yang lebih hakiki.
Tarekat sendiri merupakan disiplin spiritual dalam Islam yang berfokus pada penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) melalui amalan dzikir, latihan spiritual (riyadah), serta bimbingan langsung dari seorang mursyid. Di era digital, berbagai tarekat di Indonesia menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa, seperti memanfaatkan media sosial, platform edukasi daring, hingga forum diskusi virtual untuk menjangkau masyarakat luas.
“Transformasi tarekat di era modern menunjukkan bahwa spiritualitas dan ketenangan hati tetap menjadi kebutuhan dasar manusia, bahkan dalam ekosistem digital,” ujar Saiful, S.H., CLDSI, penggiat media sosial di Jakarta.
Lebih lanjut, menurut Saiful, perkembangan ini memperkuat posisi tarekat sebagai pondasi penting dalam membangun persatuan, kesatuan, serta moderasi beragama di Indonesia.
Beberapa tarekat besar di Indonesia seperti Qadiriyah-Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Syattariyah, dan Tijaniyah, turut aktif dalam program pemberdayaan masyarakat, mulai dari pendidikan, penguatan ekonomi komunitas, hingga kegiatan sosial dan kemanusiaan. Hal ini menegaskan bahwa tarekat bukan sekadar institusi spiritual, melainkan agen perubahan sosial yang konstruktif.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Munculnya stigma negatif, berdirinya kelompok tarekat yang kurang mengedepankan kebersamaan dan persatuan, serta adanya pemahaman keliru terhadap sebagian praktik tasawuf, menjadi isu yang perlu diatasi. Selain itu, kekhawatiran akan komersialisasi ajaran spiritual juga menjadi perhatian.
Menanggapi hal itu, lembaga-lembaga tarekat diharapkan semakin aktif melakukan pendekatan edukatif, literasi publik, dan dialog terbuka guna meluruskan persepsi yang kurang tepat di masyarakat.
Di era yang serba instan dan materialistik ini, tarekat hadir sebagai ruang refleksi, pendalaman spiritual, dan pembentukan karakter yang esensial. Ke depan, dibutuhkan sinergi antara lembaga tarekat, akademisi, dan pemerintah agar ajaran tasawuf tetap relevan, inklusif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan moral dan spiritual bangsa Indonesia. (Fjr)
