HomeNewsEdutainmentToleransi Jengkol Darah Rouge

Toleransi Jengkol Darah Rouge

Published on

 Jakarta, Trenz Edutainment | Ada banyak suara di sekitar kita. Ada yang lirih, nyaris tak terdengar. Ada yang keras, hingga memekakkan telinga. Sebagian dari suara itu, ada yang sampai ke nurani kita. Ada yang menyejukkan jiwa. Ada pula yang meresahkan batin. Semua campur aduk dalam diri.

Kondisi itulah yang menumbuhkan saling pengertian, sekaligus melahirkan prasangka. Secara psikis, situasi yang demikian, tentulah sensitif. Dan, bagian dari kondisi yang sensitif itulah, yang dijahit Kerensa Dewantoro, dari Teater Darah Rouge, saat mementaskan pertunjukan teater Darah Rouge berjudul “Jengkol, Jangan Jengkel”, di Le Seminyak Cafe, Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jum’at (20/12/2019)..

Jengkol dipilih Kerensa Dewantoro sebagai simbol situasi sensitif tersebut. Kita tahu, jengkol adalah salah satu makanan orang banyak. Dikenal orang banyak. Dipahami orang banyak. Kekhasan jengkol: aromanya sangit. Aromanya sensitif. Baik disemur, digulai, atau direndang. Aromanya bahkan menjalar hingga ke toilet.

Menurut saya, jengkol adalah simbol yang tepat, untuk menggambarkan situasi kondisi sensitif di tengah masyarakat. Seorang yang bukan penggemar jengkol, bisa bicara tentang jengkol. Padahal, ia tak sepenuhnya paham tentang jengkol.

Demikian pula dengan situasi kondisi sensitif di tengah masyarakat. Misalnya, tentang interaksi orang Islam dengan orang non-muslim. Sejumlah hal sensitif terkait hal itu, dibongkar secara bernas oleh Kerensa Dewantoro.

Secara keseluruhan, bingkai besar pementasan ini adalah toleransi. Mulai dari toleransi antar sesama, toleransi antar bangsa, juga toleransi antar penganut agama. Ketiga level toleransi tersebut diaduk-aduk Kerensa Dewantoro dalam dialog, perdebatan, juga pertengkaran.

Sebagai penulis naskah sekaligus sutradara pementasan teater ini, Kerensa Dewantoro membuka ruang dialog batin dengan penonton. Ruang untuk melakukan instrospeksi. Ruang untuk meredam prasangka. Dalam beberapa bagian, memang terasa sebagai petuah. Pemain tampil seolah sebagai pengkhutbah.

Ini catatan masukan untuk Kerensa Dewantoro, agar pementasan teater ini menjadi lebih nikmat, untuk dinikmati. Secara substansial, topik toleransi ini menurut saya masih tetap hit, untuk terus-menerus diangkat ke publik. Kenapa? Karena, toleransi adalah PR besar manusia, agar bumi ini menjadi lebih damai untuk dihuni. (Isson Khairul) | Foto: Google.co.id

Latest articles

Sambut Momen HUT ke-499 DKI, Ketum FBJ Budi Siswanto Ajak Masyarakat Berperan Aktif Dorong Jakarta Menuju Kota Global

JAKARTA - Guna menyambut momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 DKI, Ketua Umum...

Indra Adhari di Konsep One Month One Song Rilis Ibuku Pahlawanku yang Viral di TikTok Malaysia

Penyanyi dan pencipta lagu Indra Adhari yang tengah menjalani konsep One Month One Song...

Golden Memories 50 Tahun Kelulusan SMPN 45 Jakarta Angkatan 79

Suasana haru, hangat, dan penuh kenangan mewarnai perhelatan “Golden Memories – 50 Tahun Kelulusan...

Rayhan Cornelis Lepas Rindu Indonesia di Belanda, Temani Sang Ibu dalam Malam Amal untuk Korban Banjir Sumatra

Belanda, Trenzindonesia.com | Suasana hangat khas Indonesia terasa begitu kental dalam gelaran malam amal...

More like this

Pushan Geopolitik Al Azhar: Peradilan Militer yang “Keras” Jadi Pilar Disiplin Prajurit

Jakarta,Trenzindonesia.com - Peneliti Pusat Kajian Pertahanan dan Geopolitik Universitas Al Azhar Indonesia, Heri Herdiawanto,...

Dari Villa Bersejarah ke Kampus Impian: Cara Villa Merah Cetak Talenta Seni Muda

Jakarta,Trenzindomesia.com - Di sebuah bangunan bersejarah peninggalan tahun 1922 karya arsitek Belanda RLA Schoemaker,...

Lewat Seminar IPPRISIA, Menciptakan Kepribadian Profesional di Berbagai Profesi

Jakarta-Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Persona Pengembangan Kepribadian Indonesia (IPPRISIA) sukses menggelar seminar pengembangan kepribadian...