Trenz News |Pengembangan industri daur ulang plastik dinilai menjadi salah satu jalan untuk mendukung pasokan bahan baku industri sebagai substitusi produk impor yang selama ini menjadi beban pengusaha karena sensitif terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Beberapa sektor industri, seperti tekstil, menuntut pemerintah untuk mengembangkan industri hulu di dalam negeri agar tidak terus bergantung pada bahan baku impor.
Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), menjelaskan industri tekstil sedang berada di persimpangan jalan karena harga bahan baku impor yang terus meningkat. Industri daur ulang plastik bisa menjadi solusi jangka pendek karena dapat memasok bahan baku tekstil secara bertahap untuk bergerak mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku. Sebagai contoh, daur ulang plastik berbasis polietilena dapat menghasilkan poliester yang merupakan bahan baku tekstil sekaligus menyelesaikan permasalahan lingkungan.
Ariana Susanti, Business Development Director Indonesian Packaging Federation (IPF), menjelaskan jumlah sampah plastik yang besar di Indonesia dapat dimanfaatkan apabila ada sistem pengolahan sampah yang baik.
Menurutnya, saat ini regulasi pengolahan sampah sudah ada, tetapi pelaksanaannya masih jauh dari sempurna. Dengan adanya industri daur ulang plastik dan regulasi yang mendukung, persoalan sampah plastik dapat diselesaikan dengan baik.
Ekonom Maybank Myrdal Gunarto menilai permintaan bahan baku industri cenderung stabil sehingga potensial bagi industri daur ulang untuk memasok bahan baku tersebut. Permintaan tersebut akan berubah jika muncul kebijakan baru terkait dengan penggunaan plastik, seperti cukai plastik.
Dia menjelaskan pengembangan industri berbasis substitusi impor memang harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang masih berpotensi melemah seiring dengan prospek kenaikan bunga the Fed.
Rekomendasi Singkat
Wacana ini menarik untuk diikuti perkembangannya. Dukungan Kemenperin untuk tetap mendukung solusi terkait bahan baku impor, penting untuk disampaikan juga ke public, baik melalui distribusi rilis hingga penguatan opini melalui media social.
Selain itu beberapa topik industry yang penting untuk diikuti perkembangannya adalah;
- 13 Kawasan Menanti Investasi (Bisnis Indonesia)
- Industri Kurang Minat Panen Garam Rakyat (Kontan Harian)
Analisis Singkat Berita
- 13 Kawasan Menanti Investasi (Bisnis Indonesia)
Meski sukses mengembangkan sejumlah kawasan industri baru, Bisnis Indonesia menilai pemerintah masih perlu bekerja keras untuk mendatangkan investasi di kawasan-kawasan industri tersebut, sembari memperkuat infrastruktur pendukung. Menjelang akhir 2018, target realisasi investasi sektor manufaktur sebesar Rp250,7 triliun di 13 kawasan industri (KI) dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 112 ribu orang belum tercapai.
Berdasarkan catatan Bisnis, investasi yang sudah terealisasi, diantaranya baru Kawasan Industri
Morowali US$950 juta dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei (US$500 juta). Selebihnya nilainya relatif kecil dan belum ada kelanjutan soal realisasi investasinya.
Adapun, dari tiga kawasan industri yang beroperasi pada tahun ini, KI/KEK Bitung cukup ekspansif karena sudah memiliki sekitar 18 tenant. Sementara itu, di KI/KEK Lhok seumawe baru ada empat tenant, sedangkan di KI Tanjung Buton, tercatat hanya ada satu tenant.
Dari sejumlah kawasan industri yang telah beroperasi sepanjang 2015-2017, ada sejumlah kawasan industri yang belum mampu menarik banyak investasi. Sebagai contoh, KI Wilmar, Banten kini hanya memiliki 3 tenant serta KI Ketapang, Kalimantan Barat hanya 1 tenant.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira menjelaskan infrastruktur dasar di sekitar kawasan industri yang belum memadai dapat menahan investasi masuk ke kawasan tersebut, khususnya investasi langsung luar negeri.
Ketua Umum HKI, Sanny Iskandar menambahkan kendala yang masih sering dijumpai adalah kemampuan pengembang untuk bekerja sama atau mendapatkan mitra strategis, khususnya pihak dari luar. Kondisi ini, lanjutnya, terjadi di kawasan-kawasan industri di luar Pulau Jawa yang memanfaatkan sumber daya alam.
- Industri Kurang Minat Panen Garam Rakyat (Harian Kontan)
Harian Kontan menyatakan produksi garam nasional tahun ini mencapai 2,21 juta ton. Jumlah ini telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah sebelumnya sebesar 1,5 juta ton. Namun garam petani rakyat ini belum diserap industri. Adapun industri yang menyerap garam tersebut hanya industri produsen garam meja atau konsumsi.
Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI), Jakfar Sodikin menyatakan, garam rakyat ini mayoritas memiliki kadar Natrium Klorida (NaCL) 97%. Dengan kualitas tersebut, seharusnya mencapai kebutuhan industri kimia atau Chlor Alkali Plant (CAP). Walhasil, “Ada industri atau perusahaan yang tidak jujur di sini,” katanya kepada KONTAN, Minggu (11/11).
Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Tony Tanduk bilang, hingga saat ini, baru 10 industri yang menyerap garam rakyat hingga 600.000 ton per awal bulan ini. Adapun masih banyak industri menggunakan garam impor dengan alasan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Rekomendasi Singkat
Semua wacana penting untuk terus diikuti perkembangannya. Upaya publikasi untuk merespon keluhan asosiasi garam penting dipertimbangkan untuk dilakukan. Iklim industri yang kondusif penting juga untuk terus diakomodir wacana tersebut agar bisa dijadikan materi publikasi selanjutnya. Untuk isu terkait pengembangan kawasan industry ke luar Jawa juga bisa dipertimbangkan untuk menjadi materi publikasi selanjutnya. Baik melalui distribusi rilis maupun infografis.
Kemenperin dalam angka
Pagi ini aktivitas media Kemenperin cukup dinamis, setidaknya ada 11 pemberitaan yang bersumberkan dari kemenperin dan bermuatan positif. (PR/TrenzIndonesia) | Foto: Google.co.id
