Trenz Indonesia
News & Entertainment

Diary (2) Solo Ride West to East: Berlomba-Lomba Mengejar Suhu 9° Sampai Menyapa Lumba-Lumba

514

Jakarta, Trenz Otomotif I Perjalanan yang bertitelkan “Solo Ride West to East: Jakarta – Larantuka 6000 Km Opung Sidabutar hingga hari kelima masih berada di tanah Jawa, tepatnya Pacitan, Jawa Timur, yang memiliki julukan “Kota 1001 Gua”.

Lewat pesan singkat WhatsApp, Trenzindonesia.com menerima isi japrian dari Opung Sidabutar, “Iya Om, niatnya turing karena ingin menikmati keindahan alam Indonesia. Kalau harus gaspol pasti banyak yang terlewatkan. Ini saja beberapa obyek wisata masih ada yang lewat.”

Seperti apa keseruan Opung Sidabutar? Berikut di bawah ini, catatan hariannya.

Untung saja Hot Spring, tak kebayang kalau suhunya 9° seperti di Bromo.

Hari ke 5 – Jumat, 2 April 2021
Di pagi nan cerah, mengawali explore pantai Klayar, usai explore tentang indah dan exotis pantai Klayar, pukul 11.00 WIB saya pun kembali melanjutkan perjalanan menuju pantai Soge. Hanya saja, saya tak lagi melintas jalanan yang sebelumnya, tapi memilih jalur yang biasa dilalui bus. Kondisi jalannya begitu sangat bagus, lebar, dan mulus. Juga jalanan yang menuju Pacitan, untuk sampai pantai Soge tidak terlalu curam.

Menikmati keindahan pantai Soge, istirahat sejenak cukup menyantap seadanya, mie instan yang terkemas dalam cup. Kemudian melanjutkan ke arah Trenggalek – Tulung Agung dan berakhir di Blitar, pada pukul 18.00 WIB, dengan jarak tempuh ±200Km.

Selama riding kebetulan tak turun hujan dari pantai Klayar sampai kota Blitar, kondisi jalan sangat bagus, mulus, lebar, marka jalan jelas, di tambah udara sejuk karena melintasi perbukitan. Hal yang seperti inilah yang membuat saya semakin bersemangat untuk solo ride.

Pantai Klayar dan Pantai Soge, begitulah dulu ceritanya ya….

Sampai jumpa pada perjalananku berikutnya..

Salam sehat 3 M...

Makam Bung Karno

Hari ke 6 – Sabtu, 3 Appril 2021
Setelah menginap satu malam di Blitar, pagi harinya saya menyempatkan untuk jiarah ke makam sang Proklamator Bung Karno, dan keliling-keliling seputar pemakaman untuk melihat diorama jejak perjalanan bersejarah dari Bung Karno.

Selepas jam 12.00 WIB, saya pun melanjutkan perjalanan dari Blitar menuju Malang yang berjarak ±130Km. Karena jalan tak banyak berkelok dan beraspal mulus, sehingga waktu tempuh relatif singkat. Namun demikian, kondisi cuaca yang sedikit panas serta harus beberapa kali menghadapi kemacetan, sedikit membuat stamina tubuh lemas.

Toko Oen. Ice Cream sangat juaraaa…

Memasuki kota Malang, saya pun teringat dengan ice cream yang konon sudah ada sejak tahun 1930, di masa Hindia Belanda, artinya Indonesia belum ada tokh? Yap..! namanya Toko Oen. Setelah icip-icip es krim tersebut? Beneran deh, seger buanget dan membuat semakin bersemangat untuk riding lagi. Toko Oen, Juaraaa……!

Karena jam di pergelangan tangan kiriku masih menunjukkan jarum jam 16.00-an WIB, diputuskan untuk ngegas menuju Bromo, demi berburu Sunrise. Pilihannya melewati jalur ekstrim Desa Wonokitri, jalurnya sempit, menanjak curam, tikungan tajam, dan sisi jalan dilengkapi jurang yang sangat curam, serasa kita mau naik ke atas awan, sementara hari semakin menjelang malam.

Dalam perjalanan, beruntung ada pemotor yang mau pulang ke Desa Wonokitri, dan mengajak riding bersama, juga menawarkan penginapan.

Setiba di Desa Wonokitri, Bromo sekitar jam 20.00 WIB, saya langsung disambut suhu udara yang mengarah angka 9°. OMG! Untuk “Solo Ride West to East: Jakarta – Larantuka 6000 Km” saya memang telah mempersiapkan segalanya, salah satunya Long John dan Winter Jacket, sehingga sudah menjadi modal tersendiri untuk menahan tubuh dari dinginnya Bromo ini.

Pilihan bermalam di desa Wonokitri, agar lebih dekat dengan bukit Penanjakan yang biasa dijadikan wisatawan untuk spot berburu Sunrise-nya Bromo.

Karena niat yang kuat dan tak ingin terlewatkan, saya pun harus berusaha bangun pada pukul 03.00 WIB dini hari. Asalkan cuaca bersahabat, maka sunrise yang menjadi harapan saya dan juga wisatawan akan menampakkan dirinya sekitar pukul 05.15 WIB.

Salam sehat 3M…

Sudah mirip Charles Bronson ngak ya?

Hari ke 7 – Minggu, 4 April 2021
Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB dini hari, dan menjadi kebiasaan para pemandu yang selalu menghampiri para tamunya di penginapan untuk membangunkan. Mungkin karena suhu udara begitu dingin, sehingga saya mudah terjaga dari tidur. Saya dan juga beberappa wisatawan lainnya mulai menuju Bukit Cinta, di Penanjakan untuk berburu sunrise.

Waoo… hari ini, saya melihat dengan mata kepala sendiri, landscape gunung Semeru, gunung Batok, dan gunung Bromo lengkap dengan hamparan lautan pasirnya, seperti yang saya lihat di kalender-kalender.

Usai menikmati sunrise, saya pun melanjutkan menuju lautan pasir, Pura Luhur dan puncak kawah Bromo.

Oh iya, tatkala start dari penginapan, jalan yang cukup gelap, sempit, terjal dan berliku-liku untuk tiba di Bukit Cinta Penanjakan. Setiba di pintu masuk kawasan Bromo, antrian panjang sudah terlihat dari pengunjung yang meggunakan Jeep Hardtop, dan tak ketinggalan para pengguna sepeda motor. Beruntung saya mempunyai pemandu yang cekatan, sehingga antrian tanpa butuh waktu lama.

Suhu 9° masih saja tembus, padahal sudah mengenakan Long John n Winter Jacket.

Setiba di pintu masuk kawasan Bromo, arloji di pergelangan tangan kiri telah menunjukkan pukul 04.30 WIB, terdengar bisingnya suara kendaraan yang saling meraung-raung gasnya untuk menuju puncak bukit tersebut.

Di Butik Cinta Penanjakan, saya seperti juga wisatawan lainnya sibuk mencari spot yang bagus, guna mendapatkan bidikan sunrise. Beruntung apparel penahan dingin yang saya bawa cukup memadai untuk menghambat suhu udara yang mencappai 9°, juga berjejalnya wisatawan sedikit menambah kehangatan.

Pukul 05.15WIB sunrise pun perlahan mulai menampakkan dirinya meski tak maksimal, karena sedikit tertutup kabut.

Sunrise pun usai. Perjalanan kembali berlanjut menuruni puncak Penanjakan, untuk menuju Lautan Pasir Bromo. Dengan kondisi jalan yang sangat curam dan berliku, saya pun memiliki menggunakan gigi satu plus selalu menarik tuas rem. Karena harus ekstra hati-hati, motorku memang melaju pelan sekali.

Usai menuruni jalan nan curam, saya pun kembali menghadapi tantangan terbaru, yakni menyusuri Lautan Pasir Bromo guna tiba di Pura Luhur. Lagi-lagi beruntung saya mendapatkan pemandu yang selalu sigap untuk memilihkan jalan berpasir yang muda untuk dilalui.

Dalam giat “Solo Ride West to East: Jakarta – Larantuka 6000 Km memang saya tak melulu duduk di atas sadel Kawasaki Versys X 250. Kali ini, di Pura Luhur, si kuda besi saya istirahatkan sejenak, dan saya melanjutkan perjalanan menuju anak tangga pertama Kawah Bromo, saya mencoba menunggangi kuda. Berkuda menjadi pengalaman pertamaku. Ternyata untuk menjadi Charles Bronson yang expert di atas pelana kuda tidaklah mudah ya?

Lautan Pasir Bromo

Sebanyak 250 anak tangga ke puncak Sang Brahma (Gn. Bromo) dengan kemiringan 45° ini, buat orang seusiaku memang bukanlah hal yang mudah untuk dijalaninya. Karenanya kalau saya bisa berada di puncak bibir kawahnya, lebih karena melangkah sangat  pelan dan penuh kesabaran.

Setiba di puncak terdengar suara gemuruh dari dalam kawah Bromo, sungguh terasa menciutkan nyaliku, apalagi betapa dasyatnya melihat panas yang sedang mendidih di dasar kawah itu. Ditambah sesekali keluarnya awan berbau belerang dari dasar kawah yang cukup menyengat. Jujur semakin membuat ciut nyali saja. Iniah kebesaran Tuhan!

Puas swafoto di puncak Bromo, saya pun kembali melanjutkan perjalanan bermotor menuju kota Probolinggo – Situbondo – Ketapang. Oh iya, Probolinggo dengan suhu udara 32° sangat berbanding terbalik dengan Bromo yang bersuhu 9°. Namun sedikit beruntung, dalam perjalanan mulai dari Baluran hingga Ketapang, mendapat guyuran hujan, sehingga sedikit meredam udara panas.

Ketapang sebagai kota terakhir di tanah Jawa dan untuk menjejakkan tanah Bali, teppatnya pelabuhan Gilimanuk, perjalanan harus ditempuh dengan menggunakan ferry.

Lumba-lumba Lovina, Bali

Pelayaran Ketapang, Jatim – Gilimanuk, Bali yang tak lebih dari 30 menit, sistim tiket dengan cara online. Namun karena masih merebah pandemi, petugas Satgas Covid-19 terebih dahulu melakukan pemeriksaan dokumen bukti Rapid Test bagi pelintas antar pulau ini. Karena saat di Jakarta, saya sudah melakukan dua kali vaksin Covid-19, saya pun menunjukkan bukti vaksin yang dimiliki, dan petugas akhirnya mengijinkan saya untuk memasuki kapal.

Sore hari, setibanya di Gilimanuk dan perjalanan bermotorku menuju utara pulau bali, yakni Lovina, lagi-lagi hujan deras turut menyertainya.

Desa Wisata Penglipuran, bali

Pulau Dewata yang selalu sarat dengan Wisman (Wisatawan Mancaneggara) maupun Wisnu (Wisatawan Nusantara). Hanya kali ini, setibanya di pantai Lovina pukul 19.00 WITA, saya sama sekali tak menemui kesulitan untuk mendapatkan penginapan, bahkan dengan harga yang sangat terjangkau. Bisa jadi sepinya wisatawan, akibat pandemi Covid-19.

Sebelum beranjak istirahat, saya pun menyempatkan untuk kuliner yang berada disekitar penginapan dengan harga yang sangat bersahabat, namun tak mengurangi rasa nikmatnya.

Salam sehat 3M…

(Berssambung…)

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.