Trenz Indonesia
News & Entertainment

Lorong : Perjuangan Pilu Seorang Ibu Mencari Buah Hatinya

35

Jakarta, Trenz Film | Multivision Plus (MVP), sebagai salah perusahaan film raksasa di Tanah Air terus berusaha mengembalikan kejayaannya seperti era taum 80 hingga awal 2000 an. Film-film berkualitas dengan berbiaya besar serta  menghadirkan sutradara dan artis papan atas yang lagi in pun telah disodorkan. Seperti film “3 Srikandi”, “Sang Pencerah”, “Soekarno” dan lainnya, tapi sayangnya tidak mampu menyedot jutaan penonton film. Namun ketika Raam Punjabi selaku nahkoda rumah produksi MVP, menghadirkan film genre horor seperti Trilogi “Kuntilanak”,  jutaan penonton mulai melirik film produksi Multivision Plus.

Menyusul film “Kuntilanak 1” dan “Kuntilanak 2”, Multivision Plus kembali menghadirkan film setan-setanan. Kali ini Multivision Plus menyodorkan film “Lorong”.  Eksekutif produser film “Lorong”, Amrit Punjabi mengatakan, film “Lorong” berbeda dengan film horor Indonesia yang pernah ada sebelumnya. “Sebagai produser film, tentu kami terus berinovasi mencari cara supaya film ini bisa menarik perhatian penonton. Karenanya ketika memproduksi film Lorong kami mesti menyugukam sesuatu yang berbeda, untuk itu, bagaimana caranya kita gabungkan thriller dengan horror,” ujar Amrit Punjabi usai nobar film Lorong di XXI Epiwalk, Jakarta Selatan, Senin (9/9) malam.

Tak hanya jalan cerita yang berbeda, film “Lorong” juga dipercayakan kepada Hestu Saputra, sutradara yang belum pernah menggarap film horor.

Hestu mengatakan, ia menerima tawaran film genre horor karena ia suka tantangan dan ingin berinovasi dalam berkarya. Ia ingin menyampaikan pesan dengan cara berbeda. Kebetulan, Amrit Punjabi menawarkan sekenario film “Lorong“. Maka selaku sutradara, Hestu mencoba meramu film “Lorong” agar juga bisa mengaduk emosi dan sisi psikologis penonton.

“Saya mau membuat film horor tapi berbeda. Makanya ketika menggarap film ini saya pendekatannya psikologis,” kata Hestu.

Meski begitu Hestu berusaha meramu film “Lorong” yang ia sutradarai agar masuk akal. Caranya, mengurangi jalan cerita yang tidak logis.

“Saya meminimilasir cerita yang tidak masuk akal. Setelah skenario selesai saya paparkan ke semua pemain. Bagaimana perspektif mereka kita kupas scene by scene, dialog per dialog, apakah makes sense apa nggak. Ini membuat masyarakat jadi tertarik atau tidak,” papar Hestu.

Prisia Nasution yang dipercaya sebagai tokoh Mayang mengatakan, stigma film horor perlu diubah agar penonton tidak hanya fokus pada seramnya hantu tetapi bagusnya jalan cerita.

“Di mata sebagian orang citra memang kurang bagus. Karenanya sebagai pelaku industri film saya berkewajiban meningkatkan citra film horor. Untuk itu saya sebagai pemain ikut memberikan masukan,  agar film ini tidak sama dengan film horor pada umumnya ” kata Prisia Nasution. Selain Prisia Nasution, film yang bakal beredar 12 September ini didukung sederetan aktor yang mumpuni, Wingky Wiryawan. Teuku Rifnu Wikana, Nova Eliza dan lainnya.

“Lorong” memulai kisah tentang seorang perempuan hamil yang sedang terbaring lemah di ruang operasi. Terbangun pascamelahirkan, Mayang (Prisia Nasution) mendapatkan kabar yang tidak ia harapkan. Reza (Winky Wiryawan) sang suami, mengatakan bahwa bayi mereka telah meninggal dunia.

Namun, naluri Mayang sebagai seorang ibu tidak berkata demikian. Ia meyakini bahwa bayi yang diberi nama Reno itu masih hidup. Dalam keadaan lemah, Mayang tetap mencari bayi ke seluruh sudut rumah sakit, hingga ia menemukan satu lorong rahasia yang ditutup rapat.

Sayang, usaha Mayang menemui jalan buntu setelah dr. Vera (Nova Eliza) yang membantunya melahirkan, berhasil memberikan bukti berupa dokumen kematian bayinya, lengkap dengan beberapa foto kejadian. Di tengah rasa putus asa, Mayang yang memilih tidak menyerah akhirnya bahkan mulai dianggap gila oleh sebagian orang di rumah sakit.

Kisah dalam film “Lorong”, diakui Hestu adalah bukti liar memainkan imajinasi. Ada aksi yang membuat dada penonton berdebar, namun ada juga aksi yang menyeramkan atau jump scare bersama sang hantu. Pemeran utama, Prisia Nasution sebagai seorang ibu yang sedang mencari bayi dengan perut berdarah dan tangan penuh luka, juga jauh lebih mendebarkan. Prisia berhasil mengajak penonton merasakan rasa sakit, bahkan ngilu dengan mimik wajah yang sangat ekspresif.

Secara keseluruhan, film ini menampilkan cerita yang membuat pikiran penonton ikut bertanya-tanya jalan cerita selanjutnya. Dikemas dengan suasana mencekam, film konspirasi ini nampaknya menarik untuk diikuti. Terlebih bagi mereka yang menyukai sebuah cerita penuh teka-teki dan Saksikan Film “Lorong” mulai 12 september 2019 di bioskop Indonesia  (Tebe/TrenzIndonesia) | Foto: Buyil

Leave A Reply

Your email address will not be published.