Trenz Indonesia
News & Entertainment

Yusuf Susilo Hartono Gelar Pameran Sketsa “Move On’ Secara Daring

181

 

Jakarta, Trenz Edutainment I Jumat (15/5) siang ini, tepat pukul 11.00WIB, Yusuf Susilo Hartono (YSH) akan menggelar pameran sketsa bertajuk “Move On”. Pameran yang berlangsung dari rumah karya YSH dilakukan secara daring via Zoom, lantaran mengikuti protokol pemerintah yakni PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dengan adanya wabah pandemi Coronavirus (Covid-19). Rencananya pameran sketsa, akan diresmikan oleh Sri Hartini Sesditjenbud, mewakili Direktorat Jenderal Kebudayaan yang mendukung program ini, dengan host meeting wartawan Indah Ariani.

Perupa YSH melalui 70-an sketsa (pilihan 2002-2020) dengan subyek perempuan, ingin menyuarakan kebebasan, kasih sayang, tradisi, kebenaran dan kemanusiaan. Dihasratkan sebagai ekspresi sekaligus doa agar pandemi Coronavirus (Covid 19) segera berakhir, dan manusia di muka bumi bisa hidup dengan kesadaran dan cara baru, yang lebih manusiawi dan berkeilahian.

Korona Merah Hati (2020).

Menurut Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Citra Smara Dewi selaku kurator pameran ini menyatakan, perempuan dalam karya YSH bukan semata memiliki spirit keindahan, kelenterunan dan dinamis, seperti tersirat pada seri karya Ballerina, namun juga memiliki spirit cinta kasih yang tulus melalui karya  ibu dan anak. Dalam dimensi lain perempuan juga hadir dalam mengisi ruang-ruang psikologis melalui karya sketsa potret dengan berbagai eskpresi yang penuh misteri.

Menggenapi karya sketsa YSH, Citra akui, “Tema-tema kemanusiaan yang terbalut dengan dimensi spiritual terlihat pada karya yang merespon fenomena global yaitu wabah Covid 19. YSH memilih pendekatan spiritual dalam menyikapi fenomena tersebut, yaitu melalui sosok perempuan dalam doa yang khusuk mengharap wabah cepat berlalu.”

Balada Masker (2020)

Tema-tema perempuan dalam sejarah perkembangan seni rupa merupakan tema klasik yang tetap relevan dimaknai dan diinterpretasikan kembali pada spirit jamannya. Bagi YSH,  perempuan tidak identik dengan stigma “yang lemah”, justru sebaliknya sebagai mahluk yang lebih kuat, indah dan istimewa. Sebagai seniman multi talenta, yang sekaligus wartawan dan penyair, alam bawah sadarnya mempengaruhi konsep berkaryanya. Saat sketsanya mengkritisi berbagai peristiwa social, budaya, kemanusiaan, kadang terlihat kontemplatif, yaitu suasana sunyi yang jauh dari kebisingan, dengan menghadirkan seorang sosok/figur. Kadang tersirat keramaian melalui berbagai peristiwa yang dirangkai dalam satu bingkai karya bak reportase sebuah berita.

Pandawa Kurawa Tanding (2020)

Selanjutnya, Citra menegaskan, “Sketsa-sketsa YSH menyiratkan kekuatan ‘estetika yang berbicara’ melalui keragaman bentuk ekspresi.  Sementara berbagai material, media dan eskpresi beragam yang menjadi pilihan YSH tentu bukan merupakan akhir dari sebuah pencapaian, karena kreativitas merupakan proses yang terus bergerak secara organik.”

Antara Hidup Mati (2020)

Testimoni Para Sahabat

Beberapa sahabatnya memberi kesaksian atas karya dan perjalanan YSH di bidang seni.  Budayawan Madura KH.D. Zawawi Imron, yang dikenal luas sebagai sastrawan, penyair dan pelukis, yang mengikuti sepak terjang YSH sejak 1980-an menyatakan, “Yang saya hargai pada YSH ialah kesetiaannya berkarya di bidang sketsa selama 40 tahun. Ke mana saja ia pergi selalu membawa peralatan bikin sketsa. Belakangan ia melakukan eksperimen selingkar bentuk sehingga pada karya-karyanya terakhir ia menemukan sejenis deformasi yang unik dan estetik.”

Bersabung Do’a di Taman Korona (2020)

Sementara pengamat seni rupa Agus Dermawan T menambahkan, sebagai seniman multi minat dan multi bisa, YSH antusias merekam masa lalu, dan bersemangat mengangkat peristiwa masa kini yang berkonteks, misalnya kali ini wabah korona.  Karya-karya YSH, tambah koreografer Rusdi Rukmarata dari EKI Dance Company, menunjukkan keterikatan perasaannya yang sangat kuat dengan obyek yang akhirnya menjadi goresan-goresan indah tetapi dramatis.

“Goresan-goresan YSH dipantik oleh rasa,” tutur penari, aktris film dan Dosen IKJ Nungki Kusumastuti, yang mengenalnya sejak 1980-an.  Goresan rasa tadi, juga dirasakan oleh salah satu tokoh balet Indonesia Maya Tamara LRAD-ARAD, dari Namarina Dance Academy. “Simak sketsa ballerinanya. Garisnya tajam dan lentur. Seakan gerakan Ballet Achappe Pas de bourréePose into Arabesque dan attitude bersama ketukan musik Allegro, Andante, Vituoso. Itulah yang ada di kanvasnya,” tuturnya. 

Ballerina (2017)

Bersama Daoed Joesoef

Mantan guru yang pernah kuliah di  FKIP-IKIP ini dikenal sebagai perupa, wartawan budaya senior dan penyair, mulai berkarya sejak 1980 melalui jalur sanggar. Sampai sekarang  mantan Pemred Majalah Seni Rupa Visual Art, yang kini mengelola Majalah Galeri, pernah beberapa kali pameran tunggal antara lain di Balai Budaya (1990), Taman Ismail Marzuki (2010), Pusat Kebudayaan Jepang – Indonesia (2012) , Galeri Nasional Indonesia (2014), dan Pameran Sketsa Keliling 3 Kota: Jakarta, Bojonegoro, Surabaya (2013). Pameran bersamanya yang pernah diikuti antara lain bersama Daoed Joesoef, Ruliati dkk (1993),  “Manifesto” (2010), “Bayang” (2011), “Sketsaforia” (2019). Tahun 2000 menjadi Finalis Philip Morris Indonesia Art Awards, dan tahun 2001 finalis Indofood Art Award.

Perayaan dan Kenangan (2019)

Di antara buku-bukunya tentang seni rupa, sastra dan jurnalistik, berjudul  “Menangkap Momen dan Memaknai Essensi (Moment and Essence)”, merupakan kumpulan 300 sketsa pilihan tahun 1982- 2013, terbit tahun 2013. Seri sketsanya bisa dinikmati  di kanal YouTube – Galeri YSH.

Leave A Reply

Your email address will not be published.