Trenz Indonesia
News & Entertainment

Sikap Jurnalis, Integritas Jurnalis

161

Oleh: Isson Khairul *

Salam hormat untuk Salma Indria Rahman, Abie Mujib, dan Abuzakir Ahmad Zacky. Ini merupakan lanjutan diskusi kita dari postingan AMPLOP OH SUMBER BOROK pada Rabu (08/07/2020) 21.32 WIB, lalu. Makin asyik dan kian mencerahkan. Ini sekaligus menjadi penanda, bahwa di media sosial Facebook ini, kita – para jurnalis dan mantan jurnalis – bisa leluasa saling mencerahkan, berbagi pengalaman.

Salma Indria Rahman, misalnya, hilang respek kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Karena, PWI sejak awal berdiri, mendapat anggaran tetap dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Saya menangkap, bahwa asosiasi wartawan tak akan bisa bersikap independen, jika disusui oleh pemerintah.

Karena itu, sangat tidak mungkin, PWI mampu bersikap kritis kepada pemerintah. Yang terjadi malah sebaliknya, PWI menjadi penyalur release pemerintah. Dalam konteks asosiasi wartawan, ini tentu dilema. Garis kebijakan tiap media ditentukan oleh masing-masing media, meski wartawan dari sejumlah media tersebut sama-sama berhimpun di PWI.

Konflik kepentingan itulah agaknya yang terjadi, ketika Harmoko selaku Ketua PWI merekomendasikan pembredelan Majalah Tempo pada 12 April 1982, kepada Departemen Penerangan, yang saat itu dijabat Ali Moertopo. Kepentingan Harmoko yang dikemas seolah-olah kepentingan PWI, dieksekusi untuk menindas Majalah Tempo. [Selengkapnya, silakan baca WARTAWAN TINDAS WARTAWAN, yang diposting 20 jam lalu.]

Saya menghormati sikap Salma Indria Rahman tersebut. Saya pikir, di era kompetisi media kini, sudah waktunya asosiasi wartawan mengevaluasi diri, mereposisi diri, serta mereformasi diri secara kelembagaan. Saat ini, PWI tak lagi sendiri. Setidaknya, kini ada 7 organisasi pers yang diakui Dewan Pers, sejak 26 Juni 2018: Serikat Perusahaan Pers (SPS), Perusahaan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).

Artinya, medan persaingan kian kompleks. Bukan lagi sebatas persaingan antar media, tapi juga persaingan antar asosiasi. Nah, bagaimana tiap asosiasi jurnalis tersebut menetapkan formula kepada anggotanya? Baik menyangkut hak dan kewajiban. Baik menyangkut regulasi asosiasi. Misalnya, apakah seorang jurnalis dibolehkan menjadi anggota, lebih dari satu asosiasi? Ini tentu kembali terpulang kepada sikap masing-masing asosiasi.

Nah, kembali kepada sikap Salma Indria Rahman. Ada sikap yang hampir serupa tapi dengan skala yang berbeda, yang ditunjukkan oleh Abie Mujib. Ia menolak perintah Pemimpin Redaksi-nya untuk mengirimkan artikel yang sudah ia tulis [sebelum di-publish] kepada narasumber yang bersangkutan. Kenapa? Karena, Abie Mujib menilai, tindakan tersebut merusak integritas jurnalis. Menurut Abie Mujib, tindakan itu sama saja dengan memanfaatkan kekuatan pers untuk menekan narasumber, untuk mendapatkan “sesuatu.”

Abie Mujib pun hilang respek kepada Pemimpin Redaksi-nya, hingga ia memilih keluar dari media tempatnya bekerja. Saya menghormati sikap Abie Mujib tersebut. Saya pikir, ia bukan tidak mau berkompromi, tapi ia tidak ingin melecehkan integritas jurnalis, yang menjadi profesinya. Dan, karena ia menjaga integritasnya, Abie Mujib kemudian diterima bekerja di media yang lebih kondusif dibandingkan media yang ia tinggalkan tersebut.

Saya tercengang sekaligus bangga pada Salma Indria Rahman dan Abie Mujib, yang mampu bersikap sebagai jurnalis serta mampu menegakkan integritas mereka. Di luar sana, tentu masih banyak Salma Indria Rahman dan Abie Mujib yang lain, yang patut kita apresiasi. Kenapa? Karena, kalau bukan jurnalis yang menjaga martabat profesinya, siapa lagi?

Di postingan AMPLOP OH SUMBER BOROK pada Rabu (08/07/2020) 21.32 WIB, lalu, saya menulis, Pemimpin Redaksi adalah pucuk pimpinan di media. Ketua PWI adalah pucuk pimpinan di asosiasi wartawan. Artinya, para pucuk pimpinan wartawan itulah yang telah meruntuhkan kredibilitas profesi ini. Apa yang telah ditunjukkan oleh Salma Indria Rahman dan Abie Mujib, tentulah melegakan napas kita. Mengurangi rasa cemas kita.

Semua itu digarisbawahi oleh Abuzakir Ahmad Zacky: jurnalis akan dihargai, selagi orangnya profesional dan taat kode etik jurnalistik. Wow, ketiga sosok ini patut kita apresiasi. Mereka bertiga telah menumbuhkan harapan kita. Saya percaya, di luar sana, tentu masih banyak jurnalis negeri ini yang mampu bersikap seperti mereka. Tabek!

Terima kasih saya ucapkan kepada Matt Bento, Yuriana Wahda Fitri, Imran Aninggili, Muchlis Muhammad, Bois MrBbm, Penerus Bonar Karo-Karo, Yon Moeis, Mustofa Achmad Soedirdjo, Djoharudin Baking, Nuzulul Arifin, Marpan Siahaan, Bahal Siregar, Diego Armando-maradona, Trie Tere, Upa Labuhari, Ken Ajoe, Zoel Azhar, Edy Saputra, Putra Gara, Herry Budiman, Tony Yusep, Rizal Katili, Jojo Debb, dan kepada rekan-rekan lain yang sudah singgah. Mudah-mudahan ini salah satu jalan bagi kita untuk menunjukkan sikap serta menjaga integritas, demi martabat pers negeri ini.

Salam dari saya Isson Khairul

Persatuan Penulis Indonesia

 

( * ) Sumber: https://rb.gy/ntuevd

Leave A Reply

Your email address will not be published.