Kisah cinta yang terhalang perbedaan agama menjadi tema sejumlah film Indonesia. Dalam rekomendasi KapanLagi.com, ada lima judul yang masuk daftar: Ibadah & Cinta, Patah Hati yang Kupilih, Jangan Panggil Mama Kafir, Komang, dan Lokananta.
Film-film ini menampilkan konflik emosional yang berkisar pada persetujuan orang tua, perbedaan iman, latar budaya, dan masa depan hubungan. Sebagian di antaranya diangkat dari pengalaman nyata, seperti Komang karya Naya Anindita. Rekomendasi itu juga menyebut Komang dan Patah Hati yang Kupilih cocok bagi penonton yang menyukai drama romantis penuh konflik emosional.
Ibadah & Cinta: Rico dan Santun
Ibadah & Cinta dibintangi Achmad Megantara sebagai Rico dan Indah Permatasari sebagai Santun. Mathias Muchus memerankan Kyai Umar, didukung Elma Theana, Adhin Abdul Hakim, Berlliana Lovell, dan Jamie Aditya.
Rico adalah anak muda Australia yang belum punya tujuan hidup di Melbourne. Kehidupannya berubah ketika ia mencintai Santun, anak Kyai Umar, seorang ustadzah muda yang memegang tradisi pesantren. Untuk mendekat kepada Santun, Rico belajar salat dan perlahan menemukan lagi keimanan yang pernah hilang.
Tekanan datang dari keluarga, lingkungan kampung, dan aturan agama. Keduanya lalu harus menjawab satu pertanyaan besar: apakah rasa itu sekadar cobaan atau petunjuk yang mesti diikuti?
Patah Hati yang Kupilih: Ananta dan Loka
Film ini diperankan Fiedra Azalia sebagai Ananta, Brian Andrew sebagai Loka, Joune Ganda sebagai ayah Loka, Syakir Daulay sebagai Syafir, dan Ray Sahetapy sebagai Abi, ayah Ananta. Rating IMDb-nya 6,2/10.
Ananta, seorang Muslimah, tiba di Minahasa Utara dan berjumpa dengan Loka, pria Kristen. Mereka jatuh cinta, tetapi kedua keluarga menolak. Ayah Loka tidak mengizinkan anaknya menjalin hubungan dengan perempuan yang imannya berbeda. Sementara orang tua Ananta juga keras dan mengatur perjodohan dengan Syafir.
Di rumah, ayah Ananta kerap memberinya nasihat keagamaan. Menurut deskripsi di basis data film, Ananta melihat orang tuanya sebagai penghalang besar bagi karier musiknya. Ia pun terjepit antara memenuhi keinginan orang tua menikah dengan Syafir atau kembali kepada Loka.
Deskripsi film menyebut keduanya lantas menyadari bahwa musik, bukan iman atau cinta, yang menjadi penghubung mereka. Lokasi wisata Minahasa Utara di Sulawesi Utara juga ditampilkan dalam film.
Komang: Ode dan Ade
Komang dibintangi Kiesha Alvaro sebagai Raim Laode atau Ode dan Aurora Ribero sebagai Komang Ade Widiandari. Sejumlah nama lain ikut tampil, antara lain Cut Mini, Arie Kriting, Mathias Muchus, Ayu Laksmi, Neneng Risma, Rhesa Putri, Arman Dewarti, Ciaxman, dan Raim Laode. Rating IMDb-nya 7,3/10.
Ode, anak muda asal Buton, Sulawesi Tenggara, mencintai Komang Ade, perempuan berlatar keluarga transmigran Bali di Baubau. Ode berambisi meraih sukses, tetapi hubungan mereka berbenturan dengan budaya dan keyakinan. Hubungan itu makin sulit karena perbedaan kelas sosial serta kehadiran lelaki lain yang memiliki iman sama dengan Ade.
Demi mengejar cita-cita di Jakarta, Ode pergi meninggalkan Ade. Ia diliputi kecemasan tentang arah hubungan mereka. Sementara itu, Ade tetap menunggu di kampung dan mulai ragu apakah hubungan mereka masih layak diteruskan.
Cerita film ini didasarkan pada kisah asmara nyata Raim Laode dan Komang Ade yang berlangsung sekitar tujuh tahun. Kisahnya diilhami pengalaman Raim Laode sebagai musisi dan istrinya.
Jangan Panggil Mama Kafir: Maria dan Fafat
Jangan Panggil Mama Kafir menampilkan Michelle Ziudith sebagai Maria, Giorgino Abraham sebagai Fafat, Humaira Jahra sebagai Laila, dan Elma Theana sebagai Umi Habibah. Gilbert Pattiruhu, Prastiwi Dwiarti, Indra Birowo, dan TJ Ruth juga ikut bermain. Rating IMDb-nya 6,1/10.
Maria dan Fafat dipertemukan secara tak sengaja di gereja pada malam Natal. Pertemuan tersebut membawa mereka ke hubungan lintas agama. Maria yang bukan Muslim kemudian menikah dengan Fafat.
Dari situ, film bergerak menjadi drama keluarga. Fokusnya bukan hanya cinta pasangan, tetapi juga tanggung jawab menepati janji serta mengasuh anak dalam keyakinan yang tidak sama, hingga konflik hukum soal hak asuh. Kisah Maria mengasuh Laila menjadi inti film.
Lokananta: Alya dan Ben
Lokananta dibintangi Prilly Latuconsina sebagai Alya, Bryan Domani sebagai Ben, Humaira Jahra sebagai Freya, Indian Akbar sebagai Fadil, Marissa Anita sebagai Rahma, Rowiena Umboh sebagai Martha, dan Willem Bevers sebagai Gideon. Rating IMDb-nya 7,1/10.
Alya dan Ben pernah terlihat cocok. Seiring waktu, jarak di antara mereka melebar, dari sudut pandang dan cita-cita hingga bayangan masa depan. Persetujuan orang tua menjadi rintangan besar. Orang tua Ben menegaskan bahwa pernikahan dengan Alya tak mungkin terjadi lantaran agama mereka berbeda.
Ulasan menyebut Alya, seorang Muslim, sekarang mengasuh Freya seorang diri. Ibunya, yang berjualan mi dan dikenal taat menjalankan agama, membantunya. Pengaruh ibunya disebut sebagai faktor utama yang membuat hubungan Alya dan Ben, seorang Kristen, berakhir.
Situasi bertambah pelik karena Ben adalah ayah kandung Freya, fakta yang selama ini ditutup Alya. Meski rasa sayang masih ada, keduanya tahu cinta saja tak menyelesaikan masalah. Mereka harus memilih antara melanjutkan hubungan yang menyakitkan atau berpisah agar keduanya bisa baik-baik saja.
