Pacuan kuda tak sekadar soal siapa mencapai finis tercepat. Di belakangnya ada kerja keras joki, pelatih, pemilik, dan perawat kuda. KapanLagi.com merangkum enam film bertema kuda pacu rilisan 2020–2026 yang menampilkan perjuangan itu, mulai dari kuda yang semula tidak diperhitungkan, atlet yang menghadapi keterbatasan fisik, hingga kuda legendaris Australia. Beberapa film di antaranya diangkat dari kisah nyata.
Ride Above, impian Zoé yang terhenti kecelakaan
Ride Above (2022) atau Tempête garapan Christian Duguay berdurasi 109 menit dengan rating IMDb 6,1/10. Film bergenre drama keluarga olahraga ini dibintangi Mélanie Laurent sebagai Marie, Pio Marmaï sebagai Philippe, Carmen Kassovitz sebagai Zoé, Danny Huston sebagai Monsieur Cooper, Carole Bouquet sebagai Madame Cooper, dan Kacey Mottet Klein sebagai Seb. Zoé tumbuh dekat dengan dunia pacuan kuda, termasuk dengan kuda betina Belle Intrigante yang melahirkan Tempest. Ia ingin mengikuti jejak ayahnya sebagai joki profesional dan membawa Tempest menang. Namun, Tempest panik dalam suatu insiden dan membuat Zoé cedera serius. Zoé kehilangan kepercayaan diri dan menjauh dari orang terdekat. Philippe berusaha membantu putrinya, sementara Seb, pekerja kandang yang memahami perilaku kuda, mendukung Zoé membangun kembali hubungan dengan Tempest. Perjalanan itu tidak mudah karena Zoé harus melawan rasa takut dan menerima kondisi tubuhnya yang berubah.
Jockey, satu kejuaraan terakhir bagi Jackson
Jockey (2021) garapan Clint Bentley berdurasi 94 menit dan rating IMDb 6,3/10. Clifton Collins Jr. berperan sebagai Jackson Silva, didukung Molly Parker sebagai Ruth Wilkes, Moises Arias sebagai Gabriel Boullait, Logan Cormier, Vincent Francia, dan Marlon St. Julien. Jackson adalah joki senior yang telah lama menjalani profesinya. Ia harus menjaga kondisi tubuh, mengatur berat badan, berlatih, dan menghadapi risiko cedera. Usia serta cedera membuat kemampuannya menurun, sementara tuntutan pekerjaan tetap berat. Ruth, pelatih lama, mendapatkan kuda yang dinilai berpotensi juara dan memberi Jackson harapan menang di kejuaraan besar. Situasi bertambah rumit ketika Gabriel, joki pemula, menyebut dirinya sebagai anak Jackson. Jackson awalnya sulit menerima kenyataan itu, lalu mulai memberi perhatian dan bimbingan kepada Gabriel sambil berjuang menghadapi masa depan kariernya.
Kill the Jockey, joki berbakat dan konflik identitas
Kill the Jockey (El Jockey) garapan Luis Ortega berdurasi 96 menit dengan rating IMDb 6,3/10. Film Argentina bergenre drama, komedi gelap, kriminal, dan olahraga ini dibintangi Nahuel Pérez Biscayart sebagai Remo Manfredini serta Úrsula Corberó sebagai Abril. Remo dikenal sebagai joki berbakat, tetapi perilaku merusak diri sendiri mengancam kariernya. Abril, joki perempuan yang dekat dengannya, menghadapi persoalan kehamilan sekaligus ambisi berkarier. Keduanya bekerja untuk Sirena, pengusaha berpengaruh; Remo memiliki utang dan kewajiban yang membuatnya sulit lepas dari tekanan. Remo kemudian mendapat kesempatan mengikuti perlombaan terpenting dalam kariernya, yang diharapkan menyelesaikan persoalan utang. Namun, lomba berakhir dengan kecelakaan besar. Remo menghilang dari rumah sakit dan menjalani perjalanan yang membuatnya mempertanyakan identitas diri. Orang-orang yang memiliki kepentingan terhadapnya terus mencarinya. Film ini memadukan dunia pacuan kuda dengan konflik psikologis, identitas, dan kehidupan kriminal.
Pure Grit, atlet balap bareback dari Wyoming
Pure Grit garapan Kim Bartley berdurasi 92 menit, rating IMDb 6,6/10, bergenre dokumenter olahraga dan kehidupan. Film menampilkan Sharmaine Weed dan Savannah Martinez. Sharmaine adalah atlet balap kuda bareback dari kawasan reservasi di Wyoming, Amerika Serikat. Ia harus menjaga keseimbangan dan mengendalikan tubuh saat menunggang kuda tanpa pelana. Balapan menjadi bagian penting dari identitas dan impian hidupnya. Sebuah kecelakaan mengubah perjalanannya. Ia dan pasangannya, Savannah, memutuskan pindah dan membangun kehidupan bersama, lalu menghadapi tantangan baru. Perubahan lingkungan membuat Sharmaine memikirkan kembali masa depan kariernya. Dokumenter mengikuti perjalanan keduanya selama beberapa tahun dan memperlihatkan keterkaitan hubungan, kehidupan sehari-hari, serta ambisi olahraga. Meski menghadapi kesulitan, Sharmaine tetap ingin mempertahankan kecintaannya pada balap kuda.
Dream Horse, warga desa Wales dan Dream Alliance
Dream Horse garapan Euros Lyn berdurasi 113 menit, rating IMDb 7,0/10, bergenre drama olahraga, biografi, dan komedi. Toni Collette berperan sebagai Jan Vokes, bersama Damian Lewis sebagai Howard Davies, Owen Teale sebagai Brian Vokes, Joanna Page sebagai Angela Davies, Karl Johnson, Steffan Rhodri, dan Siân Phillips. Jan menjalani kehidupan sederhana di desa kecil di Wales sebagai petugas kebersihan dan bartender. Ketertarikannya pada pacuan kuda berkembang menjadi gagasan membiakkan kuda pacu yang mampu bersaing di perlombaan besar. Tanpa pengalaman dan modal memadai, ia mengajak tetangga serta warga desa menyisihkan sebagian penghasilan untuk membiayai perawatan, pemeliharaan, dan pelatihan Dream Alliance. Banyak orang meragukan kemampuan mereka bersaing dengan pemilik kuda profesional. Namun, Dream Alliance menunjukkan kemampuan tak terduga dan mulai mengikuti berbagai perlombaan. Perjalanan menuju kompetisi tinggi tidak mulus karena ada tantangan pelatihan, persoalan finansial, dan risiko di arena. Kisah memuncak ketika Dream Alliance mendapat kesempatan tampil di Welsh Grand National. Film ini diangkat dari kisah nyata Dream Alliance.
A Horse Named Winx, 33 kemenangan beruntun
A Horse Named Winx (2024) garapan Janine Hosking berdurasi 117 menit dan rating IMDb 8,7/10. Dokumenter olahraga ini menampilkan Winx, joki Hugh Bowman, pelatih Chris Waller, dan narator Andrew Rule. Winx adalah kuda betina Australia yang menjadi legenda berkat kemampuan dan konsistensinya di kompetisi bergengsi. Dokumenter memperlihatkan perjalanan kariernya sejak tahap awal, proses pelatihan, persiapan lomba, strategi, kondisi fisik, serta hubungan antara kuda dan manusia. Pencapaian utamanya adalah 33 kemenangan beruntun. Prestasi itu membawa tekanan untuk mempertahankan performa dan ekspektasi pendukung. Melalui wawancara dan rekaman perjalanan karier, penonton diajak melihat sisi lain dari kuda yang bertahun-tahun menjadi pusat perhatian.
KapanLagi.com menilai Dream Horse dan Pure Grit cocok bagi penonton yang menyukai kisah perjuangan, sedangkan A Horse Named Winx sesuai untuk pencinta dokumenter olahraga yang ingin melihat perjalanan kuda mencapai puncak kejayaan.
