Ada hari ketika perasaan terlalu penuh untuk diceritakan, tetapi terlalu berat juga untuk dipendam. Di saat seperti itu, banyak orang menitipkan rindu, luka, syukur, atau harapan lewat kalimat pendek di status WhatsApp. KapanLagi.com merangkum 57 kata buat status WA yang menyentuh hati, dikelompokkan menurut suasana hati, mulai dari kutipan tokoh dunia dan sastrawan Indonesia sampai kalimat orisinal bernuansa puitis, jenaka, dan bahasa Jawa halus.
Dari Status berbasis teks ke story 24 jam
Kebiasaan menaruh caption di status bukan hal baru di aplikasi besutan Meta itu. Seperti dilaporkan TechCrunch, WhatsApp Status memungkinkan pengguna mengunggah foto dan video dalam bentuk slideshow yang bisa dilihat kontak, lalu hilang dalam 24 jam. Fitur tersebut menggantikan Status lama yang hanya berupa teks dan berfungsi seperti pesan “away”, meski WhatsApp kemudian mengembalikan fitur lama itu di bagian About. Kini story WhatsApp menjadi ruang bagi banyak orang untuk menuliskan kalimat yang jujur dan penuh rasa.
Kata-kata bijak dari tokoh dunia
Delapan kutipan pertama datang dari penulis, aktivis, dan pemikir lintas negara. Helen Keller menyebut hal-hal terbaik dan terindah di dunia tidak bisa dilihat atau bahkan disentuh, melainkan harus dirasakan dengan hati. Menurut Medium, versi aslinya berbunyi “The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched – they must be felt with the heart.” Oscar Wilde mengingatkan bahwa hidup adalah hal paling langka di dunia dan kebanyakan orang hanya sekadar ada.
Mark Twain menyebut kebaikan sebagai bahasa yang bisa didengar tunarungu dan dilihat tunanetra, sementara Bunda Teresa menilai setiap tindakan cinta, sekecil apa pun, adalah karya perdamaian. Dalai Lama menyatakan cinta sejati dan welas asih merupakan sumber utama kedamaian batin dan kebahagiaan. Wayne Dyer menulis tentang mengisi diri dengan cinta lalu mengirimkannya ke seluruh dunia, sejalan dengan semangat merawat diri.
Dua kutipan lain bicara soal arah hidup. Douglas Adams merasa mungkin tidak sampai ke tempat yang dituju, tetapi berakhir di tempat yang memang dibutuhkan. Margaret Mitchell, penulis Gone with the Wind, menegaskan hidup tidak punya kewajiban memberi apa yang diharapkan.
Petikan sastrawan Indonesia
Pramoedya Ananta Toer muncul paling sering dalam daftar ini. Dari novel Bumi Manusia ada kalimat “Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.” Singkat, tetapi dinilai cukup mewakili rasa syukur kepada orang tua, alam, dan orang-orang baik di sekitar. Dari Child of All Nations (Anak Semua Bangsa) tercatat petikan “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”
Kutipan Pramoedya lainnya menyentuh soal keberanian, persahabatan, dan cinta. Salah satunya berbunyi, “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” Dari Bumi Manusia juga diambil kalimat romantis Minke tentang cinta yang terlalu indah untuk hidup manusia yang pendek.
Untuk hati yang sedang berjuang
Bagian kedua berisi kalimat tentang luka dan proses pulih. Rumi menulis, “Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu,” sementara Thich Nhat Hanh merumuskannya dalam empat kata: “Tanpa lumpur, tak ada teratai.” Robert Frost mengingatkan bahwa jalan keluar terbaik selalu dengan cara melewatinya, dan Bob Marley menyebut semua orang dalam hidup akan menyakitimu, sehingga yang perlu diketahui adalah siapa yang layak untuk rasa sakit itu.
Carl Jung menegaskan diri bukanlah apa yang terjadi, melainkan apa yang dipilih untuk menjadi. Oscar Wilde menulis hati memang diciptakan untuk patah. Merry Riana, motivator Indonesia, disebut dalam artikel ini dengan kalimat tentang sabar ketika dibully yang rasanya pahit, tetapi kadang justru yang pahit itu yang bisa menyembuhkan luka. Ada pula kalimat anonim yang membalik anggapan umum: waktu tidak menyembuhkan hati yang patah, pemahamanlah yang menyembuhkannya.
Untuk harapan, Emily Dickinson menyebutnya “sesuatu yang bersayap, yang hinggap di dalam jiwa”. Mary Oliver meminta menyisakan sedikit ruang di hati untuk hal-hal yang tak terbayangkan, sedangkan Jodi Picoult membandingkan kemampuan manusia menanggung beban dengan bambu yang jauh lebih lentur dari dugaan. Morris Mandel menulis, “Jam tergelap hanya berlangsung enam puluh menit,” dan Elizabeth Edwards bercerita tentang perempuan yang menyesuaikan layar ketika angin tidak bertiup ke arahnya. Rick Riordan menambahkan, jika hidup ingin berarti, hidup itu harus dijalani sendiri.
Cinta dan orang-orang tersayang
Soal cinta, Aristoteles menyebutnya satu jiwa yang mendiami dua raga, Joseph Campbell membandingkannya dengan persahabatan yang diiringi musik, dan Pablo Picasso menyebut cinta sebagai penyegar terbesar dalam hidup. Sam Keen menilai cinta bukan tentang menemukan orang sempurna, melainkan melihat orang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. David Viscott menggambarkannya sebagai hangat matahari dari dua sisi. Satu kalimat anonim mengingatkan bahwa perpisahan paling menyakitkan adalah yang tidak pernah diucapkan dan tidak pernah dijelaskan.
Untuk keluarga dan sahabat, Ratu Elizabeth II menyatakan duka adalah harga yang kita bayar untuk cinta. Pramoedya menulis bahwa sahabat dalam kesulitan adalah sahabat dalam segala-galanya, dan bahwa manusia yang wajar mesti punya sahabat karena tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi. Kalimat yang diatribusikan kepada Cardinal Mermillod menyebut ibu sebagai sosok yang dapat menggantikan semua orang lain, tetapi tempatnya tidak dapat diambil siapa pun.
Kalimat orisinal: puitis, jenaka, hingga Jawa halus
Selain kutipan tokoh, artikel ini memuat kata-kata baru yang ditulis khusus untuk status WA dengan metafora sehari-hari, dari teh hangat sampai pesan centang satu. Nuansa puitis muncul dalam kalimat seperti “Ada hati yang tidak butuh dinasihati, cukup ditemani diam yang hangat sampai ia selesai menangis.” Ada juga perumpamaan pohon yang paling lama hidup justru tahu cara meliuk saat angin datang.
Nada hangat dan personal dipakai untuk menyapa diri sendiri dan orang terdekat, misalnya “Terima kasih untuk diriku yang tetap bangun pagi, meski semalam hatinya berantakan” atau catatan bahwa hari ini berhasil bertahan dan itu layak dirayakan. Sisi jenaka muncul lewat kalimat tentang hati yang sedang mode hemat daya dan rindu yang diibaratkan pesan centang satu. Yang paling singkat berbunyi, “Pelan bukan berarti tertinggal.”
Untuk nuansa lokal dan religi, ada kalimat berbahasa Jawa halus: “Gusti Allah sampun maringi napas dinten punika. Sedaya ingkang ical, mugi dipun gantos ingkang langkung sae.” Ada pula “Urip iku tulung-tinulung” tentang saling menguatkan, dan doa “Bismillah untuk hati yang sedang menata ulang dirinya” yang mengingatkan tidak semua doa dijawab hari ini. Rangkaian ini ditutup dengan cerita tentang hari berat yang kelak dikenang sambil tertawa, ketika puing-puing lama dibangun kembali menjadi rumah yang lebih tenang.
Fakta kecil di balik kutipan
Kutipan Pramoedya sangat banyak beredar. Mengutip Goodreads, laman penulis Bumi Manusia itu memuat 521 kutipan, tetapi situs tersebut menegaskan kutipan ditambahkan komunitas dan tidak diverifikasi, sehingga judul novelnya sebaiknya dicek sebelum dibagikan. Frasa “No mud, no lotus” milik Thich Nhat Hanh juga merupakan judul salah satu bukunya tentang mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, sehingga maknanya lebih dalam dari sekadar caption.
Status WA sendiri bergerak cepat. Berdasarkan laporan Digital Trends, WhatsApp menyebut fitur Status sempat mencapai 250 juta pengguna harian, mengalahkan Snapchat yang saat itu melaporkan 166 juta pengguna harian. Angka tersebut naik dari 175 juta pengguna tiga bulan sebelumnya.
