Kehilangan tak pernah datang dengan persiapan. Kabar duka bisa tiba lewat telepon tengah malam, pesan di grup keluarga, atau unggahan seorang teman. Dalam situasi seperti itu, kata-kata soal kematian kerap menjadi cara paling lembut untuk menamai rasa yang sulit dijelaskan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang yang sedang berduka. KapanLagi.com menghimpun 59 kata-kata kematian yang menyentuh hati, mulai dari kutipan penulis dunia, penyair, tokoh publik, sastrawan Indonesia, hingga kalimat orisinal yang bisa dipakai untuk caption, status, atau renungan pribadi.
Himpunan itu menyebut belakangan makin banyak orang memilih jujur soal duka di media sosial. Unggahan in memoriam, foto lama bersama orang tersayang, sampai kutipan pendek di story menjadi bentuk penghormatan yang hangat. Menurut artikel tersebut, fenomena ini menjadi pengingat bahwa berduka bukan hal yang perlu disembunyikan.
Dari Ratu Elizabeth II sampai C.S. Lewis
Kutipan paling dikenal di bagian ini datang dari Ratu Elizabeth II: “Duka adalah harga yang kita bayar untuk cinta.” Mengutip Marie Claire, artikel itu menyebut kalimat tersebut ditulis sang Ratu dalam surat kepada rakyat Amerika Serikat setelah serangan 11 September 2001, kemudian dibacakan dalam sebuah kebaktian doa di New York. Versi aslinya berbunyi, “Grief is the price we pay for love.”
Laporan WION yang dikutip dalam himpunan itu menyebut pesan tersebut banyak digunakan kembali saat suami sang Ratu, Pangeran Philip, wafat, dan dipakai lagi oleh banyak orang ketika Ratu Elizabeth sendiri berpulang. Pangeran William, menurut artikel itu, menulis bahwa neneknya pernah berkata duka adalah harga yang dibayar untuk cinta.
Kalimat sang Ratu disebut berakar pada tulisan psikiater Inggris Colin Murray Parkes yang lebih panjang soal duka. Parkes menulis, “Rasa sakit karena duka sama besarnya dengan bagian hidup seperti halnya sukacita karena cinta. Mungkin itulah harga yang kita bayar untuk cinta, ongkos dari sebuah komitmen.”
Novelis Brasil Paulo Coelho menawarkan metafora berbeda: “Kita tak pernah kehilangan orang-orang yang kita cintai. Mereka menemani kita, tidak menghilang dari hidup kita. Kita hanya berada di ruangan yang berbeda.” Sementara Presiden ke-26 Amerika Serikat Theodore Roosevelt menyatakan, “Ketiadaan dan kematian itu sama. Hanya saja, dalam kematian tidak ada lagi penderitaan.”
Dari C.S. Lewis, yang menulis setelah kehilangan istrinya, dikutip dua kalimat: “Ketiadaannya seperti langit, membentang di atas segalanya,” dan “Tak ada yang pernah memberitahuku bahwa duka terasa begitu mirip dengan rasa takut.”
Bagian yang sama memuat kalimat penulis Amerika Harriet Beecher Stowe tentang air mata paling pahit yang tertumpah di atas makam, yakni untuk kata-kata yang tak sempat diucapkan dan perbuatan yang tak sempat dilakukan. Ada pula kutipan Mandy Hale soal perlunya membiarkan diri benar-benar merasakan kehilangan sebelum pulih, Amy Trowbridge-Yates yang menyebut tak ada istilah “move on” karena orang hanya melangkah maju, serta aktris Alysia Reiner yang memandang duka bukan sebagai kekosongan melainkan kepenuhan.
Seorang penulis sekaligus pengurus pemakaman asal Amerika, Caleb Wilde, menyatakan, “Kita semua membawa mereka yang telah tiada ke mana pun kita pergi.” Pakar mitologi Joseph Campbell mengingatkan perlunya rela melepaskan hidup yang sudah direncanakan agar bisa menerima hidup yang menunggu, sedangkan novelis Christopher Moore menjelaskan sisi tajam duka yang baru muncul dan baru terasa tumpul seiring waktu berjalan.
Kematian sebagai pengingat untuk hidup
Bagian lain dari himpunan ini berisi kalimat tokoh publik yang merenungkan keterbatasan waktu. Pendiri Apple, Steve Jobs, dalam pidato wisuda Stanford menyatakan, “Mengingat bahwa kamu akan mati adalah cara terbaik yang aku tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa kamu punya sesuatu untuk dipertaruhkan.” Oprah Winfrey menyebut kematian datang untuk mengingatkan agar orang hidup lebih sepenuhnya, sedangkan musisi reggae Bob Marley mengingatkan bahwa awal biasanya menakutkan dan akhir biasanya menyedihkan, tetapi semua yang ada di antaranya yang membuat hidup layak dijalani.
Dari J.R.R. Tolkien, lewat The Return of the King, dikutip kalimat yang diucapkan Gandalf kepada Pippin: “Perjalanan tidak berakhir di sini. Kematian hanyalah jalan lain, jalan yang harus kita semua tempuh.” Penulis spiritual Eckhart Tolle menambahkan bahwa di tengah air mata dan kesedihan ada kesadaran bahwa pada akhirnya tidak ada kematian, dan siapa mereka sesungguhnya tidak ikut hancur.
Chairil Anwar dan pepatah Nusantara
Sastrawan Indonesia ikut menyumbang kalimat yang paling sering dikutip. Baris “Sekali berarti, sudah itu mati” berasal dari sajak “Diponegoro” yang ditulis pada masa pendudukan Jepang dan bertanggal Februari 1943. Mengacu pada penjelasan Badan Bahasa, artikel itu menyebut sajak tersebut sebagai salah satu contoh sajak Chairil Anwar bergaya diafan. Maknanya, hidup hanya sekali sehingga perlu diisi dengan sesuatu yang berarti.
Dari sajak “Nisan”, Chairil menulis, “Bukan kematian benar menusuk kalbu. Keridhaanmu menerima segala tiba.” Menurut artikel itu, lewat sajak tersebut Chairil menyoroti hal paling menyentuh dari kepergian seseorang, yaitu keikhlasan menerima takdir. Pepatah lama Nusantara melengkapinya: “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”
Dari penulis dan novelis dunia
Novelis Jepang Haruki Murakami muncul dua kali. Pertama, “Orang meninggal setiap saat. Hidup jauh lebih rapuh daripada yang kita kira. Jadi, perlakukan orang lain dengan cara yang tidak meninggalkan penyesalan. Dengan adil, dan kalau bisa, dengan tulus.” Kedua, “Tak ada kebenaran yang bisa menyembuhkan kesedihan karena kehilangan orang tercinta. Yang bisa kita lakukan hanyalah melewati kesedihan itu sampai akhir dan belajar sesuatu darinya.”
J.K. Rowling menyumbang tiga kalimat, antara lain “Bagi pikiran yang tertata, kematian hanyalah petualangan besar berikutnya,” yang diucapkan tokoh Dumbledore. Terry Pratchett menulis, “Tak seorang pun benar-benar mati sampai riak yang mereka timbulkan di dunia ini menghilang,” dalam novel Reaper Man yang terbit pada 1991. Kutipan itu, menurut artikel tersebut, banyak dipakai dalam upacara peringatan.
Daftar itu masih berlanjut dengan Stephen King soal belajar cara mati ketika dewasa, John Green yang menyebut duka tidak mengubah melainkan menyingkapkan diri yang sebenarnya, serta Kenzaburo Oe yang menyatakan orang yang telah tiada bisa tetap hidup sebagai bagian dari kehidupan mereka yang masih ada.
Dari kalangan penyair dan filsuf, Rabindranath Tagore menulis, “Kematian bukanlah memadamkan cahaya. Ia hanya mematikan lampu karena fajar telah tiba.” Kahlil Gibran menyebut hidup dan mati adalah satu, sebagaimana sungai dan laut adalah satu, dan mengajak yang berduka menengok kembali hatinya karena tangis adalah bukti pernah ada kebahagiaan besar.
Pablo Neruda menggambarkan ketiadaan sebagai rumah yang begitu luas, sementara William Wordsworth mengajak menemukan kekuatan pada apa yang masih tersisa. Thornton Wilder menyatakan penghormatan terbesar bagi yang telah tiada bukanlah duka melainkan rasa syukur, dan Samuel Johnson menegaskan yang penting bukan bagaimana seseorang mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kata-kata orisinal untuk caption dan status
Selain kutipan tokoh, artikel itu memuat 18 kalimat orisinal yang dibagi ke dalam empat gaya: puitis dan sastrawi, hangat dan personal, singkat untuk status WhatsApp, serta filosofis dan reflektif. Contohnya, “Ada kursi di meja makan yang kini selalu kosong, tapi piring di depannya tak pernah sanggup kami singkirkan. Begitulah rindu bekerja: diam, tapi tak pernah pergi.”
Untuk pesan pribadi, ada kalimat “Bu, pesan suaramu yang terakhir masih kusimpan. Isinya cuma tanya sudah makan atau belum. Ternyata pertanyaan sesederhana itu yang paling kurindukan.” Sementara untuk status singkat, tersedia “Raga boleh berpisah, doa tetap satu alamat” dan “Pulang paling jauh adalah pulang kepada-Nya.”
Bagian reflektif menyertakan pengingat agar tidak menunda maaf, peluk, dan kata sayang, serta pertanyaan tentang kebaikan apa yang akan diwariskan. Dua kalimat berbahasa Jawa menutup daftar. Yang pertama menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih sudah memberi umur dan manusialah yang harus memberinya makna, sedangkan yang kedua berbunyi, “Bandha ora digawa mati. Sing digawa mung laku becik lan tulung-tinulung marang sesami. Mula, ayo kita urip kanthi tresna.” Artinya, harta tidak dibawa mati; yang dibawa hanyalah perbuatan baik dan saling menolong kepada sesama, karena itu semua diajak hidup dengan penuh kasih.
