Spons pembersih rumah dipakai hampir setiap hari untuk mencuci piring, membersihkan meja dapur, hingga mengangkat noda di berbagai permukaan, sehingga sisa makanan, minyak, dan air terus tertahan di pori-porinya. Akibatnya, spons yang tampak masih bagus belum tentu layak dipakai. Berikut delapan tanda spons sudah perlu diganti, seperti dirangkum KapanLagi.com, Minggu (1/11).
Bau tak sedap dan lendir
Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah munculnya bau apek, asam, atau busuk. Bau itu biasanya berkaitan dengan sisa makanan, minyak, dan kelembapan yang tertinggal di dalam pori-pori spons setelah digunakan. Meski sudah dibilas dengan air dan sabun, spons yang tetap mengeluarkan bau tidak sedap sebaiknya segera diganti karena bisa menjadi petunjuk penumpukan bahan organik dan aktivitas mikroorganisme.
Menutupi bau dengan pewangi atau cairan pembersih tambahan tidak menyelesaikan sumber masalah, terutama jika spons sudah terlalu kotor dan sulit dibersihkan. Spons memang menyediakan kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme karena pori-porinya menahan air, sisa makanan, dan bahan organik, terutama bila tidak dibersihkan dan dikeringkan dengan benar.
Tanda berikutnya adalah permukaan spons yang terasa licin atau berlendir meskipun sudah dibilas. Kondisi ini bisa berkaitan dengan penumpukan minyak, sisa sabun, bahan organik, atau terbentuknya biofilm, yakni kumpulan mikroorganisme yang menempel pada permukaan dan membentuk lapisan pelindung. Struktur itu membuat mikroorganisme lebih sulit dihilangkan hanya dengan pembilasan biasa. Jika spons tidak kembali normal setelah dicuci, spons sebaiknya dibuang dan tidak dipakai lagi untuk membersihkan piring, gelas, maupun peralatan makan lain.
Jamur, warna berubah, dan bahan rusak
Spons yang sering dibiarkan basah dan disimpan di tempat lembap berisiko ditumbuhi jamur. Tandanya berupa bercak hitam, hijau, atau putih yang kadang disertai permukaan berbulu. Penyimpanan tertutup dan minim sirkulasi udara memperburuk keadaan. Jika menemukan bercak yang diduga jamur, spons sebaiknya langsung dibuang, bukan dikikis, karena pertumbuhannya bisa sudah menyebar ke bagian dalam bahan.
Perubahan warna juga perlu diperhatikan. Spons baru umumnya berwarna relatif merata sesuai bahan pembuatnya, lalu berubah akibat paparan minyak, sisa makanan, noda minuman, dan kotoran dari berbagai permukaan. Warna yang mengarah ke kuning, kecokelatan, atau kehitaman, apalagi disertai noda yang sulit dihilangkan, bisa menunjukkan kotoran sudah menumpuk di dalam spons. Perubahan warna tidak selalu menandakan pertumbuhan bakteri, tetapi spons yang tetap terlihat kotor setelah dicuci sebaiknya tidak digunakan terlalu lama.
Spons yang sudah lama dipakai juga mengalami penurunan kualitas bahan. Permukaannya bisa terkoyak, mengelupas, atau mengeluarkan serpihan kecil saat digunakan. Daya gosoknya berkurang sehingga noda lebih sulit diangkat, dan serpihan spons berisiko tertinggal pada piring, meja, atau permukaan yang sedang dibersihkan. Jika bagian spons mulai terlepas atau bentuknya berubah, spons perlu diganti.
Kemampuan menyerap air pun bisa berubah. Spons yang masih baik mudah menyerap dan menahan air sehingga sabun dan air menyebar saat mencuci. Pada spons yang rusak atau penuh kotoran, air lebih sulit masuk dan spons terasa berbeda ketika dibasahi dan diperas. Bila daya serapnya jauh berkurang dan penggunaannya tidak lagi efektif, spons sebaiknya diganti.
Berapa lama spons boleh dipakai?
Lama pemakaian perlu menjadi pertimbangan karena spons yang terlihat bersih belum tentu bebas mikroorganisme, sebab sebagian kontaminasi tidak bisa dikenali hanya lewat penglihatan. Sebagai panduan praktis, spons cuci piring yang dipakai setiap hari bisa diganti sekitar satu hingga dua minggu sekali, dengan frekuensi yang disesuaikan dengan intensitas penggunaan dan kondisi spons.
Penggantian lebih cepat diperlukan bila tanda-tanda di atas sudah muncul, terutama jika spons dipakai untuk membersihkan banyak peralatan, sering terkena sisa makanan, atau sulit dikeringkan. Spons tidak perlu ditunggu sampai benar-benar rusak untuk diganti.
Kebiasaan merawat spons
Selain mengganti secara berkala, kebiasaan merawat spons berpengaruh terhadap kebersihan dan masa pakainya. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Bilas spons dengan air mengalir setelah digunakan untuk menghilangkan sisa sabun dan kotoran.
- Peras spons untuk mengurangi air yang tertinggal di dalamnya.
- Simpan spons di tempat terbuka dengan sirkulasi udara baik agar lebih cepat kering, dan hindari meletakkannya di wadah tertutup saat masih basah.
- Pisahkan spons untuk mencuci piring dari spons untuk membersihkan kamar mandi dan toilet.
- Jangan memakai spons yang sama untuk membersihkan peralatan makan dan tumpahan bahan mentah seperti daging atau ikan.
Mengganti spons dengan yang baru lebih baik daripada tetap memakainya untuk membersihkan peralatan makan dalam kondisi yang tidak higienis.
