KapanLagi Book Club menggelar diskusi buku bersama Samuel Ray, penulis Lagi Probation, pada Jumat (30/10/2026) di gedung KapanLagi Youniverse (KLY). Selain membahas buku, peserta berkesempatan menyaksikan trailer film “Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?” yang diadaptasi dari karya tersebut dan dijadwalkan tayang pada 12 November 2026.
Melalui sejumlah sesi interaktif, peserta diajak merefleksikan perjalanan hidup, memahami kembali tujuan bekerja, hingga mengenang pengalaman yang telah dilalui. Buku Lagi Probation sendiri menyajikan berbagai tips seputar dunia kerja, mulai dari mencari pekerjaan, menyusun CV, sampai melakukan negosiasi gaji.
Berawal dari Instagram Story
Dalam diskusi bersama KapanLagi Book Club, Samuel menyebut buku pertamanya telah hadir sejak 2020. Perjalanan itu bermula setahun sebelumnya, ketika ia aktif membuka sesi tanya jawab melalui Instagram Story. Format tersebut sebenarnya juga dipakai banyak kreator konten, tetapi Samuel memilih membahas persoalan pekerjaan dan dunia HRD karena profesinya sebagai praktisi di bidang itu.
Dari pertanyaan yang masuk, ia menemukan banyak pengikut yang berbagi cerita tentang pengalaman bekerja, termasuk menghadapi atasan dan HRD yang dianggap galak. “Kebetulan aku nulis tentang HRD, karena aku memang praktisinya dari kerjaan tuh HRD. Dari tulisan-tulisan itu, seru tuh banyak yang curhat, banyak yang cerita tentang bosnya. Terus merasa HRD di kantornya galak, jadi topik-topiknya banyak,” jelas Samuel.
Berbagai tulisan dan cerita itu kemudian membuka kesempatan bagi Samuel untuk menerbitkan buku. Ia mengaku belum mengetahui cara menulis buku ketika pertama kali mendapat tawaran dari Gramedia, karena saat itu merupakan pengalaman awalnya diajak menulis buku.
Dari Keresahan soal HRD ke Layar Lebar
Samuel menjelaskan bahwa Lagi Probation lahir dari keresahannya terhadap anggapan bahwa HRD adalah sosok yang perlu ditakuti para pencari kerja. Sebagai praktisi HR, ia kerap menemukan cerita di media sosial tentang kandidat yang merasa takut ketika harus berhadapan dengan HRD. “Saya tuh resah banget kalau ada orang bilang saya takut sama HRD,” ujar Samuel saat sesi diskusi KapanLagi Book Club.
Setelah terbit dalam bentuk buku, karya tersebut dikembangkan menjadi film berjudul “Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?”. Samuel mengungkapkan rasa syukur dan bahagia karena karyanya bisa hadir dalam format film. Menurut dia, produser tertarik mengadaptasi buku itu karena nilai dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Samuel menyebut pesan tentang harapan dan optimisme dalam menghadapi kehidupan menjadi salah satu hal yang ingin dipertahankan dalam versi film. “Kita mau film yang ada pesan, membawa pesan harapan, optimis, bahwa kita nggak boleh cengeng. Kehidupan memang susah, tapi di tempat kehidupan susah, pasti bangkit lagi, bangkit lagi. Saya rasa itu pesan yang bagus banget, dan mereka kuat banget dengan itu,” kata Samuel.
Ia juga menceritakan bahwa buku Lagi Probation ditulis berdasarkan pemikirannya ketika berusia sekitar 25 tahun. Kala itu, ia menggambarkan dirinya sebagai sosok idealis dengan ambisi besar untuk meraih kesuksesan dalam dunia kerja, dan karakter tersebut menjadi dasar pengembangan tokoh utama dalam film. “Jadi ini seseorang yang di usia 25 tahun, penuh dengan semangat, dan kayaknya apa pun dia akan hajar, untuk mencapai goal,” ungkap Samuel.
Meski mengambil inspirasi dari buku, versi film menghadirkan pengembangan cerita dengan latar trauma dan konflik yang lebih beragam. Salah satunya melalui kehadiran karakter Lutfi yang digambarkan sebagai sosok pencari perhatian atasan. Menurut Samuel, penambahan karakter dan konflik tersebut membuat cerita film memiliki perbedaan dari versi bukunya.
Sesi Refleksi Peserta
Tak hanya membahas buku dan adaptasi film, KapanLagi Book Club menghadirkan sesi refleksi bertajuk “Gue Kerja Ngejar Apa?”. Sesi ini mengajak peserta melihat kembali tujuan mereka dalam bekerja dan hal-hal yang ingin dicapai dalam perjalanan hidup. Tim KapanLagi Book Club menyediakan kertas bagi peserta untuk menuangkan pemikiran masing-masing berdasarkan pengalaman dan perjalanan yang telah dilalui.
Rangkaian acara berlanjut dengan sesi “One Page One Memory”. Pada sesi ini, peserta diminta menuliskan kenangan yang memiliki makna dalam perjalanan hidup mereka, lalu beberapa peserta mendapat kesempatan membacakan hasil refleksinya di hadapan peserta lain. Salah satu peserta, Nur Rahma, turut membagikan cerita melalui tulisan yang telah dibuatnya. Samuel Ray juga berinteraksi langsung dengan peserta, dan suasana diskusi semakin personal ketika mereka saling mendengarkan cerita yang dituangkan dalam tulisan masing-masing.
Menjelang akhir acara, peserta dan Samuel Ray mengabadikan momen melalui foto bersama. Mereka juga mendapat kesempatan meminta tanda tangan Samuel pada buku Lagi Probation yang dibawa, yang sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan KapanLagi Book Club bersama Samuel Ray.
