Dea Panendra menceritakan pengalamannya tinggal sekitar satu tahun di Portugal bersama suaminya, Rui Gomes, yang merupakan warga setempat. Saat ditemui di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, belum lama ini, ia banyak bercerita soal kebiasaan sehari-hari yang jauh berbeda dari Indonesia.
Jalan kaki sampai jempol kaki berdarah
Perbedaan yang paling mencolok menurut Dea adalah budaya berjalan kaki. Ia menyebut di Portugal aktivitas itu jauh lebih intens, sedangkan di Indonesia ia hanya berjalan sekitar 500 langkah per hari.
“Di Portugal seru, sering jalan ya. Sekarang kan kalau di Indonesia jalan paling 500 langkah, kalau di Portugal bisa 10.000 sampai 20.000 langkah sampai jempol kaki berdarah,” kata Dea kepada KapanLagi.com.
Kebiasaan itu menjadi culture shock tersendiri baginya. Di Indonesia ia terbiasa bergantung pada layanan kendaraan online untuk pergi ke mana pun, sementara di Portugal banyak orang memilih berjalan sehingga ia pun ikut terbiasa.
Tak kuat cuaca dingin
Dea juga mengaku kesulitan beradaptasi dengan cuaca dingin di sana. Ia bahkan kerap mematikan AC saat berada di rumah.
“Sebenarnya lebih ke cuacanya aja sih, karena aku enggak kuat dingin. Di rumah aja kadang-kadang AC dimatiin,” ujarnya.
Sementara itu, Rui disebut lebih betah tinggal di Indonesia. Menurut Dea, suaminya menyukai iklim tropis dan merasa orang-orang di Indonesia menyenangkan.
Tempat lokal dan belanja
Saat ditanya soal tempat tersembunyi atau hidden gem di Portugal, Dea menjelaskan bahwa suaminya lebih sering mengajaknya ke lokasi yang benar-benar lokal dan jauh dari keramaian turis.
“Sebenarnya bukan hidden gem, karena suamiku memang orang Portugal. Jadi dia memang selalu datang ke tempat-tempat yang lokal aja, yang benar-benar enggak ada turis dan segala macam,” pungkasnya.
Untuk urusan belanja, Dea menyebut ia harus membawa sendiri barang belanjaannya, tidak seperti di Indonesia yang bisa mengandalkan aplikasi.
“Terus belanja. Kalau kita di sini belanja bisa pakai online, di sana belanja digotong sendiri dan segala macam,” katanya.
Soal makanan, Dea merasa cocok dengan menu setempat. Menurutnya, orang Portugal juga mengonsumsi nasi, ceker ayam, dan tutut.
“Cuma kalau masalah makanan cocok, karena mereka juga makan nasi, sama makan ceker. Ceker ayam juga, dan tutut mereka makan,” ucapnya.
