Trenz Music |Pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif merasa perlu peduli kepada situasi dunia musik dengan segala problematika nya di tanah air. Didalam struktur Badan Ekonomi Kreatif atau biasa disingkat Bekraf, musik merupakan sub sektor dibawah Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan.
Maka untuk memetakan persoalan yang ada hingga hari ini, dibuatlah program diskusi dan workshop yang berkaitan dengan dunia musik berbasis komunitas bernama WRockShop.
Di Yogyakarta program WRockshop yang mengangkat dua tema tema besar yakni ‘Sistem Manajeman Musik Indonesia’ dan ‘Produksi & Promosi Musik Indonesia di Era Digital’ ini, digelar selama dua hari, 27-28 September 2017. Wrockshop kali ini merupakan program kelima yang dilaksanakan Bekraf ,setelah yang pertama di helat di Jakarta pada bulan November 2016, disusul Palu, Malang dan Bali.
Sayangnya, dengan masih adanya beberapa kendala, utamanya soal waktu, tampaknya dalam hal persiapan teknis dan koordinasi masih sangat minim dan nampak agak tergesa gesa. Banyak hal-hal yang esensial belum bisa di kunci jauh-jauh hari. Sehingga upaya untuk me rekruit calon peserta dengan kuota sejumlah tertentu tidak bisa mewakili seluruh varian dari simpul-simpul komunitas yang diharapkan.
Walhasil dengan waktu yang sempit itu maka pola rekruitmen dilakukan secara tertutup dan berdasarkan data rekomendasi dari jaringan kawan ke kawan dan seterusnya.
Materi WRockshop menguraikan tentang pembentukan IMF (Indonesia Musik Forum), hak karya cipta dan aspek hukum yang melingkupi nya. Tentang kreatifitas di dunia digital generasi milenial, dunia showbiz dan wacana terkait yang masuk dalam modul kelas manajemen. Disamping itu yang masuk dalam modul kelas produksi berisi materi antara lain; Optimalisasi teknik dan sound gitar serta drum dalam proses penciptaan lagu; Recording, mixing dan mastering serta kolaborasi karya cipta.
Setiap sesi materi berdurasi 2 jam di hari pertama dan 3 jam di hari kedua. Dimulai dari jam 9 pagi hingga 9 malam.
Wrockshop di Yogya menghadirkan para narasumber dari artis musisi terkenal seperti Indra Q (eks Slank), Aria Baron (eks Gigi) serta para presidium IMF diantaranya; Budi Ace, Vidia Supit, Massto Pop Out, Ferry HK dan pejabat Bekraf yang diwakili oleh DR.Amin Abdullah selaku kepala sub Sektor bidang Musik. Workshop dipandu oleh moderator dari pelaku & praktisi musik di Jogja ; Harsha Tanjung, Heri Machan dan Kiky Pea.
Acaranya sendiri digelar di hotel De Laxston jalan Urip Sumoharjo, Yogyakarta.
Delapan puluh peserta yang terdiri dari musisi, manajer band, pemilik studio, awak media dan organiser, akan mewakili suatu forum bernama Indonesia Musik Forum (IMF) yang akan terbentuk dimasing masing wilayah terselenggaranya WRockshop. Rencana nya forum ini akan menjadi mediasi kepada pemerintah agar memberi solusi yang kongkret terhadap persoalan-persoalan di dunia musik.
Persoalan yang paling krusial di dunia industri musik dari kacamata pemerintah adalah persoalan hak cipta. Itu berkaitan dengan hak karya lagu yang melekat pada musisi atau penciptanya. Dan sampai hari ini pun belum bisa dikelola dengan benar, walau sebelumnya sudah ada Lembaga Manajemen Kolektif Nasional seperti YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia), WAMI (Wahana Musik Indonesia), RAI (Royalti Anugerah Indonesia), ARDI (Anugerah Royalti Dangdut Indonesia) atau entah apa lagi, yang pernah memperjuangkan hak royalti terhadap karya lagu seorang artis atau musisi.
Selain itu fokus diskusi adalah Bagaimana musisi pada hari ini bisa memanfaatkan aplikasi teknologi digital secara maksimal di era milenial, untuk meningkatkan kualitas produksi dan sebagai media promosi serta sumber income?
Diskusi akan sangat panjang dan letih jika seluruh persoalan jagad musik hendak di kaji dan dicari solusi nya. Karena ini merupakan rangkaian benang kusut yang diwariskan oleh sistem terdahulu yang juga berdampak terhadap mentalitas para pelaku musik didalamnya.
Belum lagi pemetaan dan identifikasi persoalan yang pasti berbeda skala prioritasnya disetiap lokal dengan kultur nya masing-masing.
Faktanya komunitas-komunitas musik sudah tumbuh secara organik dan alamiah di seluruh pelosok Nusantara dengan gaya dan atribut nya sendiri-sendiri. Pelaku musik muda saat inipun sudah sangat paham terhadap teknologi digital dan mampu memanfaatkan itu secara optimal.
Karenanya mutlah dibutuhkan good will dan komitmen yang kuat dari pemerintah dan seluruh elemen terkait untuk membereskan seluruh persoalan dari hulu ke hilir
IMF diharapkan hadir sebagai wadah aspirasi dan solver problem. Juga dapat berperan sebagai kurator dan konsultan dalam hal konten karya ciptanya agar sesuai dengan kaidah estetika musik dan memiliki nilai-nilai moral, sosial dan budaya bangsa kita.
Dan pada akhirnya, biarlah musik itu sendiri yang akan berbicara untuk menjelaskan, sejati nya seperti apakah kita ini? Tabik, Keep rock’n real. (Heri Machan)
