Trenz Music |Sesi kedua pementasan grup rock progressive asal Amerika itu dibuka dengan lagu ‘Pull Me Under’ dari nomor album “Image and Words”. Album yang mengangkat nama Dream Theater menjadi grup Rock Progesive paling populer di dunia.
Saya memang sengaja fokus ke sesi kedua karena lagu-lagu dari album “Image and Words” akan muncul komplit di sesi ini. Disamping itu juga secara subyektif ada sedikit memori yang berkesan disaat populer nya album tersebut di Indonesia.
Ini pementasan Dream Theater hari ke dua dalam event JogjaROCKarta dari rangkaian tour dunia peringatan 25 tahun album ‘Image and Words’.
Penanganan sound dengan kualitas yang nyaris sempurna. Ditambah Penataan frekuensi setiap instrument yang proposional sehingga menempatkan fungsi setiap bunyi secara tepat dalam suatu sajian musik yang juga dimainkan oleh personel dengan skill yang kampiun. Hasilnya adalah daya sihir audio yang mampu menuntun imajinasi kita melayang terbang ke dimensi artistik dan spiritual nyaris psikodelik (nah! subyektif banget.)
Artistik panggung yang kelihatan sederhana itu jika dicermati saat tata cahaya bermain, pada kolom screen backdrop nampak muncul relief-relief seperti pada batu candi. Ini seolah pesan yang di munculkan oleh penyelenggara bahwa kami tetap menghadirkan nuansa candi Prambanan di Kridosono sebagai pengejawantahan tema JogjaROCKarta.
Setelah ‘Pull Me Under’ disajikan dengan mulus, penonton dibuai dengan nomor lagu ballad ‘Another Day’, intro gitar clean dari Petruci yang terasa renyah dan pulen itu di hanyutkan oleh permainan melodi Jordan Rudess dengan kibor nya tanpa mengurangi rasa saxofon sedikitpun didalamnya. Emosi penonton pun langsung terpancing untuk turut bernyanyi dengan khusuk. Usai interaksi James Labrie yang kadang kocak, tensi penonton pun dinaikkan oleh lagu ‘Take The Time’, di lagu ini terjadi dialog musikal diantara mereka yang mendebarkan pada bagian unisono yang kompak, bersih dan sangat patuh pada tempo. Setelah di lanjutkan oleh ‘Surounded’ yang dibawakan dalam nuansa melankolis dan sakral lalu ‘Metropolis’ pun muncul. Lagu yang sering di kutip dan diinspirasi oleh band-band muda pada setiap ajang festival di seluruh pelosok negeri. ‘Metropolis’ menjadi identik dengan Dream Theater, entah apa rahasia lagu ini? Apakah karena makna lirik nya yang kontroversial ? yang katanya bercerita tentang pendirian kota Roma atau apalah itu. Yang pasti usai Mike Mangini solo drum pun, penonton masih menunggu John Myung memperlihatkan teknik bas ‘two hand tapping’ nya yang khas pada lagu ini.
Selanjutnya ‘Under A Glass Moon’ dibawakan oleh mereka dengan stamina yang tetap terjaga tanpa ada penurunan kualitas musikal sedikitpun walau sudah hampir dua jam mereka beraksi. Luar biasa!
Mengawali lagu ‘Wait For Sleep’, Jordan Rudess memainkan intro piano lagu ‘Gundul Pacul’ dengan progresif, kontan seluruh penonton memberi aplaus dengan meriah. Demikianlah cara Dream Theater menyapa kota Jogja rupanya.
Pada lagu ‘Wait For Sleep’ ini, Jordan Rudess seolah mampu menyelami perasaan Kevin Moore, (keybordis Dream Theater sebelumnya) yang menciptakan lagu itu dengan makna spiritual yang dalam.
Lagu ‘Learning to Live’ pun menyusul. Ini salah satu lagu yang saya suka, terutama ketika cabikan bas John Myung mengawali bagian coda, seolah menuntun arah kita in learning to live…
Lalu personel Dream Theater pun seolah menyudahi pementasan dan menghilang di kegelapan panggung.
Susunan repertoar dari album “Image And Words” sudah tuntas dimainkan seluruhnya.
Namun karena penonton masih belum beranjak dan durasi pementasan yang dijanjikan pun belum utuh maka personel Dream Theater kembali ke panggung dan tanpa basa basi petikan garang gitar John Petrucci membuka lagu ‘Change Of Season’ dari album berjudul sama sebagai hidangan penutup event JogjaROCKarta International Rock Festival di Stadion Kridosono.
Bravo! Rajawali Indonesian Communication yang telah sukses menyelenggarakan perhelatan ini.
Terlepas dari banyaknya tekanan dan hambatan dalam prosesnya ternyata semua bisa dilalui dengan lancar.
Ternyata sebuah semangat yang diiringi dengan rasa cinta dan rasa saling memahami mampu mewujudkan sebuah mimpi besar terselenggaranya JogjaROCKArta sebagai Festival Musik Rock berskala Internasional yang terbesar.
Mungkin inilah jawaban dari misteri kenapa Dream Theater bersedia melakukan gelaran dua kali runtut dalam satu kota dan itu belum pernah terjadi di negara lain.
Isyarat itu tertera dalam penggalan refrain dari lagu nya seolah memberi semangat kepada pihak penyelenggara agar tetap move on.
Pull me under, I’m not afraid
All that I feel is honor and spite
All I can do is to set it right…
Teks & Foto : Heri Machan
