Program GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor) menuai kritik dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Andrigo, yang menilai bahwa program tersebut secara tidak langsung dapat melukai perasaan anak-anak yatim, piatu, maupun anak yang orang tuanya tidak hadir secara fisik dalam kehidupan mereka.
“Iya, saya merasa program GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor) ini sangat melukai para anak yatim dan piatu, bahkan juga anak-anak yang orang tuanya berada jauh dan tidak bisa hadir. Hal seperti ini seharusnya lebih dipikirkan dampaknya bagi psikologis anak,” ujar Andrigo.
Lebih lanjut, Andrigo menjelaskan bahwa pada dasarnya program GEMAR memiliki niat yang baik, yaitu mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Namun, menurutnya, program tersebut perlu disertai dengan kebijakan pengecualian agar tidak menimbulkan rasa tersisih bagi sebagian anak.
“Ini program yang bagus, tapi harus ada pengecualian. Kalau tidak, ini bisa sangat melukai perasaan anak-anak tertentu. Jangan sampai ke depannya muncul lagi program-program serupa, seperti ayah mengantar anak ke sekolah, yang kemudian dianggap hal biasa tanpa mempertimbangkan kondisi anak-anak yang tidak memiliki figur ayah,” jelasnya.
Andrigo menegaskan bahwa dunia pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi semua anak, tanpa menimbulkan tekanan emosional atau perasaan berbeda karena kondisi keluarga.
“Ini tidak bisa dianggap sepele. Program seperti ini harus benar-benar dipikirkan dengan matang agar tidak berdampak buruk bagi perkembangan mental dan emosional anak. Kalau tidak, ini justru menjadi tidak baik,” tutup Andrigo. RuL
