Trenz Indonesia
News & Entertainment

Ride for Friendship 2. Turing Berbasiskan Sekolah Alam di Kota Rafflesia

235

Bengkulu, Trenz Life Style I Sedikit berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ketiga, Selasa (22/8) pagi, giat turing “Ride for Friendship 2: Father n Son – Road to Sabang Aceh 7000Km” (RFF2) harus menghadapi cuaca mendung yang turut menyertai hujan gerimis.

“Rencananya hari ini kita akan menuju Bengkulu untuk explore rumah pengasingan Bung Karno, Rumah ibu Fatmawati, Long Beach dan Benteng Marlborough,” ujar Bro Andra dalam perbincangan via WhatsApp Voice kepada Trenzindnnesia.com. Lantas di Selasa (24/8) pagi ini, lanjutnya, “Sebelum ceck out dari Harin Surf Camp, O’Neil menyempatkan untuk ngedrone keindahan pantai di Bintuhan ini.”

Boleh jadi perjalanan bermotor RFF2 Bintuhan – Bengkulu menjadikan turing dengan jarak tempuh terpendek, yakni sekitar ±215km. dan RFF2 akan memacu kuda besi Kawasaki Versys X250 di jalan nasional, akan melintas beberapa kota, sebut saja; Bintuhan, Tanjung Raja, Tanjung Aur, Mana, Pasar Seluma, Puguk, Siabun, dan berakhir di kota Bengkulu.

“Karena perjalanan hanya membutuhkan 4jam. Jadi punya kesempatan untuk langsung explore. Karena kita di Portal oleh Bro Soni dan Bro Yansen rekan VOID (Versys Owner Indonesia) Chapter Tangerang yang tinggal di Bengkulu, jadi selain diajak muter-muter, juga diajak untuk icip-icip durian Bengkulu,” celetuk Bro Andra.

Kehadiran RFF2 di kota Rafflesia begitulah julukan untuk provinsi Bengkulu, sudah mengagendakan untuk mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno yang berada di kawasan Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Bengkulu. “Karena saat ‘Ride for Friendship 1; Jakarta-Timor Lestemelintas kota Ende, kita juga sengaja unuk mampir di rumah Bung Karno. Jadi boleh dibilang ini menu wajib ya?” ungkap Bro Andra serius.

Menyinggung rumah pengasingan Bung Karno yang awalnya merupakan Rumah milik Tjang Tjeng Kwat, Seorang pedagang keturunan Tionghoa di Bengkulu. Sejalan dengan itu, dijadikan rumah tinggal Ir. Soekarno semasa pengasingan era tahun 1928-1942.

Turing Berbasis Sekolah Alam
Lewat pendidikan formal bersekolah untuk mendapatkan pelajaran sejarah atau geografi, sejalan dengan kemajuan teknologi kemudahan untuk menyerap ilmu pun dapat ditempuh lewat jaringan internet sebagai media pembelajarannya. Namun demikian, Bro Andra dalam menanam nilai kebangsaan terhadap putranya langsung mengajak terjun kelapangan.

“Intinya dengan cara seperti ini, praktek lapangan dan bukan teori di dalam kelas saya percaya O’Neil akan lebih mudah untuk menyerap pelajaran sejarah, budaya, dan kuliner apa yang dilihat dan dirasakan dilapangan,” kilah Bro Andra.

Sama halnya dengan sang anak, Bro Andra pun menuturkan, keinginan mendalam untuk menyelami rumah pengasingan Bung Karno yang dijadikan sebagai Museum dan sekaligus salah satu obyek wisata sejarah di kota Bengkulu. Sebab dari rumah yang mempunyai nilai sejarah tinggi, didalamnya bisa melihat berbagai peninggalan seperti ranjang besi bekas tempat tidur, buku-buku dengan bahasa Belanda bahkan surat cinta Bung Karno kepada Fatmawati yang kini tersimpan di bagian ruang tamu.

Bagi bapak beranak empat yang secara sengaja turut melibatkan putranya, Bro Andra menceritakan, bahwa perjalanan turing selain ingin mengenalkan indahnya Nusantara juga sejarah Indonesia. “Karena kebetulan dia suka motoran, trus kenapa ngak gue ramu main motor sambil mengenal budaya dan sejarah Indonesia,” sergahnya.

Karenanya remaja berusia 19 tahun ini, ungkap Bro O’Neil, sungguh sangat beruntung terlahir mempunyai bapak yang mencintai Indonesia lewat cara perjalanan bermotor. “Bagiku inilah turing berbasis sekolah alam, dimana ilmu yang saya peroleh berbeda dengan dari ruang kelas ya?” imbuh Bro O’Neil jebolan SMK Tunas Jakasampurna jurusan Multimedia yang merasakan takjub dari perjalanan bermotor, yang menghabiskan waktu malamnya di Spash Hotel, Bengkulu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.