Trenz Edutainment | Di bulan Maret hingga awal April setiap akhir pekannya, Galeri Indonesia Kaya akan menyajikan beragam pertunjukan bertema Panggung Ruang Kreatif , yang menyajikan karya-karya dari 10 kelompok seni yang terpilih melalui program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia.
Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia yang dipersembahkan Bakti Budaya Djarum Foundation bersama dengan Garin Workshop merupakan program yang ingin mengajak para seniman muda Indonesia untuk konsisten berkarya dan membangun komunitas seni di lingkungannya. Program ini terdiri dari roadshow, pengiriman proposal art project, dan workshop mengenai manajemen produksi.
Pertunjukan bertajuk “RUBAH LOST IN PUPPETS” yang dipersembahkan oleh Kelompok seni Rubah di Selatan asal Yogyakarta mendapat giliran untuk tampil di auditorium Galeri Indonesia Kaya, Sabtu, (3/3).
“Sore hari ini, penikmat seni di Auditorium Galeri Indonesia Kaya dihibur dengan penampilan dari salah satu kelompok seni terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia. Berasal dari Yogyakarta, Rubah di Selatan menghadirkan nuansa baru dalam menikmati seni tradisi budaya Indonesia. Kami harap, pertunjukan konser wayang yang ditampilkan ini dapat menjadi sebuah sajian seni bermanfaat dan inspiratif di akhir pekan,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Selama kurang lebih satu jam, pertunjukan ini merepresentasikan cerita dari karya-karya musik Rubah di Selatan yang kemudian diadaptasi dengan cerita pewayangan Punakawan. Mewakili tradisi dan kearifan lokal yang diwujudkan sebagai sosok rubah perempuan yang hidup tenteram di jaman dulu yang digambarkan sebagai dunia rubah. Sang rubah akhirnya harus masuk ke dalam dunia saat ini, namun ia merasa tersesat, kehilangan arah, merasa teralenia dari dunia jaman sekarang. Derasnya arus globalisasi dan derasnya kepentingan-kepentingan membuat rubah tertimbun dibawahnya dan tak terlihat lagi. Keadaan ini akhirnya membuat rubah terpuruk di dunia saat ini, semakin tak terurus dan kemudian ditinggalkan.
Ditengah kesusahan yang melanda, diutuslah empat orang dari dunia lain untuk menolong. Berempat, mereka berusaha untuk membawa rubah kembali hidup dan percaya bahwa dirinya memiliki harapan di dunia saat ini. Keempat tokoh ini membantu rubah untuk melawan para raksasa dan gejolak yang membuat rubah terpuruk.
“Pertunjukan kali ini merupakan bentuk eksperimen kami untuk membuat konser dalam bentuk wayang ataupun wayang dalam bentuk konser. Kami mempercayai bahwa ada sebuah jarak antara tradisi dan keadaan jaman sekarang. Dari proses pelatihan dan mentoring yang dilakukan selama 3 bulan ini, maka jadilah Rubah Lost in Puppets. Sebuah pertunjukan sebagai harapan dan mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk kembali mengingat sebuah keistimewaan tradisi kearifan lokal yang menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai generasi penerus bangsa,” Mallinda, vokalis Rubah di Selatan.
Beranggotakan 4 orang, band berjenis musik ethnic folk ini terdiri dari Mallinda (vokal), Gilang (gitar), Adnan (keyboard), dan Ronie (perkusi etnik). Kecintaan keempat orang tersebut pada musik dan tradisi mengantarkan mereka pada satu dimensi seni yang sedikit terbilang berbeda, mengingat perlakuan tradisi, kebudayaan, kearifan lokal yang banyak dikenal sebagai suatu hal yang kaku, mereka bawakan dengan paduan musik kini. Cerita-cerita serta kepercayaan masyarakat setempat, mereka kemas dengan lirik dan nada yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Hingga Rubah di Selatan terus berkembang, dengan terus membawa identitas kekayaan peninggalan nenek moyang pada Indonesia.
“Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia bertujuan untuk menumbuhkan bakat-bakat baru di dunia seni pertunjukan yang dapat terus berinovasi dalam berkarya dan juga mampu mengelola komunitas seni agar terus tumbuh dan beregenerasi. Bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, kami ingin program yang rutin dijalankan ini dapat menjadi wadah bagi para seniman muda untuk belajar, berkembang dan terus berkarya agar dapat bersaing dengan seniman yang ada di dalam maupun luar negeri,” ujar Garin Nugroho, seniman dan pimpinan dari Garin Workshop. (PR/TrenzIndonesia) | Foto” Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation
