Generasi Literasi
Jakarta, Trenzindonesia.com | Menulis di era digital adalah pekerjaan paling membosankan dalam kehidupan manusia. Ketika serbuan informasi masuk melalui internet dan media sosial. Perlahan budaya literasi melalui kegiatan menulis semakin pudar dan jarang dilirik orang. Sekarang banyak orang lebih asyik scrolling media sosial, menonton video singkat, dan membuat konten dengan tujuan “yang penting viral” Kepentingan ekonomis dan eksistensi media sosial membuat seni menulis semakin jarang dilirik.
Hasilnya mudah ditebak, masyarakat Indonesia semakin “asing” dari dunia literasi. Kita pun semakin tertidur literasinya, dimana informasi yang masuk cenderung mudah diterima tanpa dipilah dan dipilih. Jadilah berita bohong, ujaran kebencian dan narasi provokasi mudah diterima dengan baik. Manusia semakin terjebak dengan ikatan emosional yang membuat hati mudah panas membaca narasi dan konten tertentu. Sementara logika kehilangan momentumnya karena kemalasan kita dalam membaca sesuatu secara selektif.
Konteks hari ini, semakin lemahnya “nafsu” membaca juga membuat kita kehilangan daya saing secara global. Budaya plagiarisme masuk ke ruang sunyi grup whatsapp hingga jajaran dunia akademis seperti kampus. Kemalasan berfikir sebagaimana muncul dalam dugaan plagiat mahasiswa di salah satu kampus Sulawesi. Kita kehilangan daya kritis, sehingga semakin kaburlah masa depan bangsa akibat hilangnya generasi literasi.
Di tengah kondisi tersebut, penting sekali merefleksikan bagaimana menghidupkan budaya menulis di kalangan masyarakat Indonesia. Ini dapat dimulai dengan membiasakan banyak membaca. Sumber bacaan cukup banyak baik media massa, media sosial, internet, buku dan website berita. Beragam informasi itu dapat menjadi kunci awal mencintai dunia tulis menulis. Dalam kapasitas seorang yang ingin menulis, membaca adalah energi terbesar dalam seseorang membuat tulisan. Tanpa bacaan yang baik, jangan bermimpi mampu menghasilkan tulisan yang berkualitas dan dibaca banyak orang.
Setelah selesai urusan membaca, kita perlu membudayakan ikut dalam komunitas literasi. Terkadang sifat alamiah manusia itu malas. Sehingga agar rajin menulis, kita perlu motivasi diri sendiri. Meski sudah dimotivasi, berbagai kesibukan atau “ujian” waktu luang membuat kita tetap malas. Sehingga ikut dalam komunitas menulis atau seminar menulis dirasakan perlu. Selain motivasi dari penulis sukses, kita juga akan terdorong menulis ketika orang lain menulis. Perasaan berkompetisi juga tumbuh secara aktif sehingga membuat kita produktif dalam berkarya dan menciptakan tulisan.
Jangan lupa, setelah membaca dan aktif dalam komunitas menulis. Mulai menulis dari hal sederhana dan apa yang menyenangkan dalam kehidupan Anda. Ambil saja fenomena sekitar, lalu menuliskannya di handphone atau komputer. Latihan menulis satu halaman per hari sangat membantu meningkatkan daya juang diri Anda untuk menulis. Setelah terbiasakan menulis, jangan lupa ikut kompetisi menulis. Ini akan membantu Anda melihat sejauhmana kelebihan dan kekurangan tulisan Anda. Jangan malu meminta komentar orang lain. Semakin banyak masukan, kritikan dan komentar akan membantu Anda berkembang sebagai penulis hebat.
[Oleh : Inggar Saputra (Praktisi Pendidikan dan Kebangsaan]
