Trenz Indonesia
News & Entertainment

25 Tahun Kompas.com dan Cita-Cita Jakob Oetama

147
Surat dari Editor Kompas.com
25 Tahun Kompas.com dan Cita-Cita Jakob Oetama

Oleh: Wisnu Nugroho *

Dear Agus Blues Asianto,
Ditinggal orang yang kita cintai, hormati, kagumi dan jadikan panutan di hampir separuh hidup memunculkan duka mendalam. Duka karena kehilangan itu membuat banyak hal terasa hambar.

Itu saya alami sejak Rabu (9/9/2020) saat mengetahui kabar meninggalnya Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta.

Saya tidak langsung membaca kabar itu saat peristiwa terjadi dan kabar duka diluaskan pukul 13.05. Lantaran tengah menjadi moderator webinar Indonesia Content Marketing Forum (ICMF) yang digelar Grid.id (Grup Majalah Kompas Gramedia), kabar tertunda saya ketahui.

Ketika acara selesai pukul 14.00, saya mendapati puluhan pesan dan telepon masuk yang tidak terjawab di telepon seluler saya.

Dari informasi yang membuat saya tertegun karena duka ini, banyak hal lantas terasa hambar. Bukan saja hal-hal yang baru saja saya kerjakan, tetapi juga rencana-rencana ke depan terasa hambar.

Dalam suasana seperti ini, Kompas.com yang didirikan pada 14 September 1995 memperingati ulang tahun ke-25. Jumlah tahun yang tidak sedikit untuk sebuah media online yang karena sifatnya mudah tumbuh dan cepat berguguran.

Banyak pengalaman jatuh, bangun, jatuh lagi dan bangun lagi dalam mencari bentuk di tengah derasnya arus perubahan yang menuntut banyak adaptasi atau penyesuaian.

Oleh Jakob Oetama, perubahan ini sudah lama diprediksi dan terjadi seperti menggenapi apa yang beberapa kali dinyatakannya di berbagai kesempatan soal jati diri media massa.

Karena itu, memperingati ulang tahun ke-25 Kompas.com adalah kesempatan untuk memperingati apa yang diwariskan Jakob Oetama untuk diteruskan.

Tentang jati diri media yang harus melakukan banyak penyesuaian atau adaptif terhadap perubahan zaman, Jakob Oetama pernah menegaskannya dalam tulisannya berjudul “Merajut Nusantara, Menghadirkan Indonesia“.

Tulisan itu muncul di halaman 1 harian Kompas 28 Juni 2010 tepat pada ulang tahun ke-45 harian Kompas. Berikut ini kutipannya:

Jati diri lembaga media massa, termasuk surat kabar-sebagai bagian dari ekstensi masyarakat (de Volder)-adalah berubah. Tidak hanya berubah dalam cara, menyampaikan kritik with understanding, teguh dalam perkara lentur dalam cara (fortiter in re suaviter in modo), juga dalam sarana atau alat menyampaikan.

Tulisan reflektif sepuluh tahun lalu itu masih bertenaga untuk dibaca hari ini. Sepuluh tahun berselang, masih belum ditemukan tuntunan dalam cara dan sarana media massa hadir di tengah perubahan yang terus menerus terjadi.

Bukan semata-mata karena sebagian dari kita yang enggan berubah tetapi acuan perubahan itu juga terus berubah. Jati diri lembaga media massa adalah berubah.

Perubahan dalam cara, dalam sarana itu dilakukan terus menerus secara dinamis, secara lentur untuk mewujudkan cita-cita atau perkara yang dipegang teguh: Merajut Nusantara, Menghadirkan Indonesia.

Pelayat membaca Harian Kompas yang menampilkan sosok Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama disela-sela antre untuk memberikan penghormatan terakhir di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Rabu (9/9/2020). Jakob Oetama tutup usia pada Kamis (10/9) pada usia ke 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Selanjutnya, jenazah dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada Kamis (10/9).(KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

Cara dan Sarana Bukan Prinsip
Tidak banyak yang tahu bahwa dalam perjalanannya sejak didirikan 28 Juni 1965, harian Kompas pernah dua kali dilarang terbit oleh penguasa. Pertama bersama semua media massa pada 2-5 Oktober 1995 dan kedua bersama tujuh media massa lain pada 20 Januari 1978.

Sejarah ini tidak jadi ingatan publik karena bukan peristiwa heroik. Namun, karena peristiwa ini, khususnya pembredelan kedua, harian Kompas tumbuh dengan karakter yang dirawat hingga hari ini.

Terhadap pembredelan 1978 yang tanpa batas waktu itu, Jakob berpandangan: “Mayat hanya bisa dikenang, tetapi tidak akan mungkin diajak berjuang. Perjuangan masih panjang dan membutuhkan sarana, di antaranya melalui media massa.

Teguh dalam perkara lentur dalam cara (fortiter in re suaviter in modo) ditegaskan Jakob Oetama dalam pandangan dan tindakannya. Setelah permintaan maaf dan janji dinyatakan di hadapan pemegang kekuasaan, harian Kompas kembali terbit pada 6 Februari 1978.

Tiga hari kemudian, Hari Pers Nasional ke-32 yang jatuh pada 9 Februari 1978 diperingati di Solo. Di acara para wartawan berjabat tangan dengan Presiden, ketika tiba giliran Jakob Oetama, Soeharto menyambut uluran tangannya sambil berkata, “Aja meneh-meneh!” (jangan lagi-lagi).

Singkat, padat, menyentak dan terus menerus diingat. Para senior di harian Kompas mengisahkan ucapan Soeharto yang singkat, padat, menyentak dan terus menerus diingat ini. Salah satunya J Osdar, wartawan senior harian Kompas yang bertugas di Istana Kepresidenan sejak era Soeharto hingga Joko Widodo.

Karena ingatan ini, saya menjadi paham kenapa pada suatu siang Jakob Oetama menelepon saya dari Jakarta. Saat itu, Agustus 2010, saya bertugas sebagai Wakil Kepala Biro Kompas di Yogyakarta setelah 5 tahun sebelumnya menjadi wartawan Istana Kepresidenan (2004-2009).

Saat di Yogyakarta, buku berjudul “Pak Beye dan Istananya” dalam rangkaian seri Tetralogi Sisi Lain SBY diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Buku pertama diluncurkan 4 Agustus 2010, dua bulan setelah ulang tahun harian Kompas ke-45.

Saat panggilan telepon masuk dari Jakarta, saya sedang mengayuh sepeda dari rumah di utara menuju Kantor Kompas di kawasan Kotabaru. Banyak panggilan tak terjawab membuat saya berhenti bersepeda dan mencari tempat aman untuk menerimanya.

Nomor-nomor yang masuk tidak saya kenal karena pakai nomor kantor. Saya tunggu beberapa saat untuk kemudian saya angkat telepon berikutnya yang masuk.

Dari kejauhan, terdengar suara perempuan yang kemudian saya ketahui adalah sekretaris Jakob Oetama, Etty Sri Marianingsih. Etty langsung memberi tahu bahwa Jakob Oetama hendak bicara.

Saya tarik nafas panjang karena perjalanan sepeda yang terhenti sambil menunggu suara Jakob Oetama dari Jakarta. Meskipun singkat jedanya, saya deg-degan juga saat menunggu.

Tidak banyak yang dikatakan. Jakob Oetama yang selalu kami panggil Pak Jakob menanyakan kabar. Ia memberi apresiasi atas buku yang diterbitkan dari tulisan di blog kompasiana. Terakhir ia memastikan kondisi saya setelah buku soal sisi lain Istana dan penguasanya itu ludes di pasaran seminggu setelah diluncurkan.

“Mas, baik-baik saja kan?” ujar Jakob Oetama yang saya panggil Bapak memastikan.

Saya kebingungan menjawab pertanyaan itu karena tidak terlalu paham konteks pertanyaan secara keseluruhan. Ingatan sejarah yang bersinggungan dengan kekuasaan kemudian saya ketahui menjadi landasan pertanyaan itu.

Ini pengalaman saya pertama kali dan satu-satunya ditelepon Jakob Oetama dalam suasana berdebar. Kenangan yang selalu saya ingat sampai sekarang.

Terlebih setelah saya memahami bagaimana situasi yang terjadi antara 20 Januari – 5 Februari 1978 saat harian Kompas dihentikan oleh pemegang kekuasaan.

Persis setelah Tetralogi Sisi Lain SBY terbit, saya ditugaskan kembali ke Jakarta pada Februari 2011. Dalam tugas-tugas sebagai editor di harian Kompas, perjumpaan dengan Jakob Oetama lebih sering terjadi terutama di ruang-ruang rapat redaksi.

Penyelenggaraan Ilahi
Tidak jarang, saat rapat pagi pukul 09.00, Jakob Oetama hadir. Kursi khusus selalu tidak diisi meskipun peserta rapat penuh karena berjaga-jaga jika tiba-tiba Jakob Oetama hadir. Kalau ternyata tidak hadir, kursi itu tetap kosong sebagai representasi kehadiran juga meskipun tidak langsung.

Saat hadir rapat, Jakob Oetama kerap mengajak diskusi. Biasanya diawali dengan pertanyaan kepada Pemimpin Redaksi Kompas dan sejumlah editor yang dikenalnya. Tema besarnya soal “Merajut Nusantara, Menghadirkan Indonesia“.

Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, nilai-nilai yang diyakini, dihidupi dan diperjuangkan Jakob Oetama bersama harian Kompas disampaikan dan diinternalisasikan. Sikap rendah hati dalam ungkapan yang jadi pegangan yaitu providentia dei (penyelenggaraan ilahi) dinyatakan tanpa pelantang.

Karena penyelenggaraan ilahi itulah, Jakob Oetama percaya, semua yang menghampiri hidupnya bukan hasil kerja dan upayanya semata-mata. Begitu juga dengan apa yang kemudian terjadi di grup Kompas Gramedia. Penyelenggaraan ilahi hadir di sana.

Memperingati ulang tahun ke-25 kompas.com yang didirikan 14 September 1995, semangat ini hendak kami hidupi di tengah perjalanan penuh perubahan dan setelah kami petakan setidaknya ada tiga tahapan.

Pertama, saat awal-awal didirikan, kompas.com merupakan repilikasi konten harian Kompas edisi cetak. Newsroom masih sama, pekerja masih sama, dan konten sepenuhnya sama. Dari sisi pembaca, belum ada tuntutan karena pertumbuhan belum signifikan. Periode pertama terjadi sepanjang 1995-1998.

Kedua, pada 1998 kompas.com diputuskan menjadi perusahaan sendiri terpisah dari harian Kompas dan memproduksi sendiri konten yang secara orisinil tidak semata-mata replikasi dari edisi cetak. Newsroom berbeda, pekerja direkrut secara khusus meskipun masih melibatkan pekerja dari edisi cetak. Pembaca mulai tumbuh dan memunculkan harapan akan model bisnis baru. Di periode kedua ini brand-nya adalah KCM, Kompas Cyber Media.

Ketiga, periode reborn pada 2008. Brand-nya tidak lagi KCM, tapi kompas.com. Media online ini lahir kembali dengan brand yang sama persis dengan mothership-nya. Jakob Oetama sendiri yang meminta agar brand Kompas versi online ini tidak perlu dibedakan namanya.

Adalah cita-cita Jakob Oetama untuk mewujudkan Kompas secara multimedia demi mengikuti perkembangan zaman. Ia ingin agar roh Kompas dapat menjumpai pembaca di setiap platform: cetak, digital, juga TV. Ini bagian dari perubahan sarana dan alat penyampaian yang ditegaskannya.

Harapannya, daya jangkau Kompas untuk memberi enlightment kepada masyarakat bisa menjadi lebih luas. Cita-cita ini mewujud secara penuh saat akhirnya Kompas TV mengudara pertamakali pada 9 September 2011. Lengkap sudah kehadiran Kompas secara multimedia.

Di periode ketiga ini Kompas.com secara total mengadopsi seluruh karakter medium digital yang membuat kerja-kerja jurnalistik lebih paripurana.

Newsroom sudah mandiri. Konten dibaut dengan logika yang berbeda dengan surat kabar lantaran pembaca yang berbeda tabiatnya. Model konten ditemukan bersamaan dengan model bisnis yang bisa menghidupi.

Kami yakin, ini bukan akhir dari perubahan. Seperti digariskan Jakob Oetama, perubahan adalah jati diri media, maka kami bersiap dengan perubahan yang dituntut perkembangan jaman.

Melihat Harapan
Apa yang lantas menjadi pegangan? Harapan. Kemampuan melihat harapan dan berpegang pada harapan. Untuk itu, “Melihat Harapan” menjadi tema peringatan ulang tahun ke-25 kompas.com setahun ke depan.

Melihat dan berpegang pada harapan adalah ungkapan syukur hari ini yang membuat kita tidak terlekat di masa lalu, tidak meloncat ke masa depan.

Salam penuh harapan,
Wisnu Nugroho

( * ) Penulis adalah Pemred Kompas.com – Wartawan Kompas, bidang liputan utama politik. Pernah bertugas di Surabaya, Yogyakarta dan Istana Kepresidenan Jakarta dengan kegembiraan tetap sama: bersepeda.
Menulis buku Pak Beye dan Istananya (2010), Pak Beye dan Keluarganya (2010), Pak Beye dan Kerabatnya (2010), Pak Beye dan Keluarganya (2011), Pak Kalla dan Presidennya (2011) dan Istana Bla Bla Bla (2014). Menjadi editor Kisah Tujuh Penjuru (2014), Ahok dan Hal-hal yang Belum Terungkap (2017) dan Defence & Aviation (2017).

Leave A Reply

Your email address will not be published.