Dalam kepercayaan feng shui, penataan ruang dan pemilihan benda di dalam rumah diyakini memengaruhi aliran energi positif atau chi. Benda-benda tertentu disebut dapat memicu energi negatif, menghambat kelancaran rezeki, hingga mendatangkan kesialan bagi penghuninya. Namun kesialan itu dijelaskan bukan semata soal mistis: kondisi fisik lingkungan dinilai memengaruhi psikologi, kenyamanan, dan fokus penghuni, yang kemudian berdampak pada produktivitas dan keberuntungan mereka.
Tanaman mati hingga piring retak
Kehadiran tanaman hidup di dalam ruangan dipercaya membawa elemen alam yang melambangkan pertumbuhan, kesegaran, dan vitalitas. Sebaliknya, konsultan feng shui Joy Tan dalam ulasan yang dikutip Yahoo Life menyebut tanaman yang layu, mengering, atau mati sebagai simbol stagnasi dan minimnya pertumbuhan. Menurutnya, menyimpan tanaman layu di sudut ruangan dapat melemahkan semangat hidup penghuni sekaligus menarik energi negatif sehingga usaha maupun kesehatan ikut menurun.
Hal serupa berlaku bagi peralatan makan yang pecah atau retak tetapi tetap dipakai karena dianggap masih berfungsi. Praktisi kesehatan holistik sekaligus pakar feng shui Dr. Jenelle Kim, seperti dimuat Yahoo Life, menyatakan barang rusak yang tidak diperbaiki dapat menarik energi negatif karena menjadi lambang kemerosotan dan kurangnya perawatan. Memakai atau memajang barang pecah belah dinilai mencerminkan energi yang tidak utuh dalam keseharian, sehingga sebaiknya disingkirkan dan diganti dengan peralatan yang masih utuh.
Kaktus dan lukisan bernuansa suram
Kaktus populer sebagai dekorasi minimalis yang mudah dirawat, tetapi para ahli feng shui sering tidak menyarankannya berada di ruang utama rumah. Duri tajamnya dipercaya memancarkan bentuk energi agresif yang dikenal sebagai sha chi. Bila diletakkan di area dalam ruangan atau dekat pintu masuk, tanaman ini disebut dapat memicu perselisihan, suasana kaku, dan energi defensif di antara anggota keluarga. Bagi yang menyukai tanaman hias, varietas berdaun lembut dan bulat dianjurkan agar tercipta suasana yang menenangkan.
Karya seni yang dipajang di dinding juga dinilai memiliki kekuatan sugesti psikologis dan energi visual yang kuat bagi orang yang melihatnya setiap hari. Pakar feng shui Victor Cheung, seperti dilansir Livingetc, menyarankan agar menghindari karya bertema negatif, misalnya penggambaran kekerasan, kesedihan mendalam, kapal karam, atau bencana. Lukisan bernuansa suram itu dipercaya membawa energi tidak menguntungkan ke dalam rumah dan perlahan memengaruhi suasana hati penghuninya. Karya yang menginspirasi ketenangan, kegembiraan, dan kepositifan disebut lebih baik untuk menjaga keharmonisan ruang.
Jam mati dan cermin retak
Jam melambangkan waktu yang terus berjalan, kemajuan hidup, serta siklus kesuksesan seseorang setiap hari. Victor Cheung dalam Livingetc menjelaskan, jam dinding atau jam tangan yang rusak, mati, dan dibiarkan tanpa perbaikan dipercaya dapat menghentikan aliran rezeki serta membawa energi stagnan ke dalam rumah. Kondisi itu disimbolkan sebagai karier yang macet, peluang emas yang tertunda, dan waktu hidup yang seolah ikut berhenti. Karena itu, jam yang mati sebaiknya segera dibawa ke tempat servis atau dibuang jika sudah tidak bisa diperbaiki.
Cermin memiliki fungsi energetik yang kuat karena bertindak sebagai pemantul yang dapat menggandakan energi di dalam ruangan. Dikutip dari Homes & Gardens, cermin yang retak atau pecah dianggap membawa pertanda buruk berupa energi yang tidak utuh, memicu kecelakaan, hingga menciptakan distorsi aliran chi yang membuat emosi tidak stabil. Selain cermin rusak, permukaan cermin yang diletakkan secara tidak tepat di kamar tidur juga dapat mengganggu kualitas istirahat.
Para ahli menyarankan cermin yang retak segera diganti dengan yang baru dan utuh agar pantulan energi positif di dalam rumah kembali mengalir lancar. Untuk jam yang mati, langkah pertama yang dianjurkan adalah mengganti baterainya atau membawanya ke tempat servis, dan tidak membiarkannya terpajang berhari-hari dalam kondisi tidak berfungsi.
