Home blog Halaman 3

Umaru Takaeda Sukses Hadirkan Wellgasm, Platform Pertunjukan Musisi dan Pekerja Seni

0

Umaru Takaeda salah satu musikus ternama Indonesia sukses menghadirkan platform media pertunjukan musik yang revolusioner untuk para musisi dan pekerja seni. Platform yang ia namai Wellgasm, kini menjadi sorotan di kalangan musisi terkenal dan newcomer.

“Alhamdulillah, Wellgasm kini establish dan menjadi flatform media alternatif masa kini yang hadir untuk para musisi dan pekerja seni. Pastinya dikemas secara menarik dan berkualitas,” papar Umaru Takaed saat ditemui di kantor Wellgasm di bilangan Bintaro.

Menurutnya, nama Wellgasm sendiri memiliki filosofi yang sederhana namun mendalam. Diambil dari nama Hardwell digabungkan dengan eyegasm dan eargasm. Wellgasm berkomitmen menciptakan karya yang tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga memanjakan mata.

Dengan latar belakang pendidikan film dan pengalaman panjang Takaeda sebagai musisi, baik di depan maupun di belakang layar kini Wellgasm bertransformasi menjadi pusat hiburan kreatif yang komprehensif. Wellgasm kini juga merambah ke berbagai lini kreatif, mulai dari konten musik, podcast, video produk, hingga branding activation.

Wellgasm memposisikan sebagai next level of entertainment. Keunggulan terletak pada audio berstandar profesional. Didukung langsung oleh teknologi hardwell professional audio dan visual berkualitas.

Ditambah produksi video yang estetik dan berkarakter dengan layanan terintegrasi yang enawarkan paket lengkap. Mulai dari Event Organizer (EO), label rekaman, hingga production house.
.
Termasuk promosi 360 Derajat, kolaborator musik mendapatkan dukungan tambahan melalui konten podcast untuk memperluas jangkauan promosi.

Wellgasm bercita-cita menjadi rumah bagi para pekerja seni di tanah air. Takaeda percaya bahwa kepercayaan klien adalah fondasi utama yang dibangun melalui konsistensi kualitas.

Hingga saat ini, Wellgasm telah dipercaya oleh berbagai pihak untuk menjadi mitra strategis dalam menghadirkan konten berkualitas tinggi.

“Pastinya konten berbasis musik itu dikemas secara menarik dan berkualitas, hingga menjadi tayangan favorit masyarakat medsos,” ungkap musisi kelahiran Padang 14 Agustus 1984 yang pernah memperkuat band Drive sebagai vokalis.

Di era konten kreatif saat ini, kualitas audio dan visual menjadi standar mutlak. Wellgasm hadir menjawab tantangan tersebut dengan mengintegrasikan keahlian teknis audio profesional dengan estetika visual yang berkelas.

“Awalnya Wellgasm saya dirikan sebagai rumah kreatif sekaligus agensi live streaming TikTok serta sistem pendukung Hardwell Professional Audio. Namun seiring dalam perjalanannya, Wellgasm kini bertransformasi menjadi pusat hiburan kreatif yang komprehensi,” terangnya.

Selaku founder dan owner Wellgasm, Takaeda berharap Wellgasm juga menjadi media yang menjawab tantangan jaman. Terutama mengedapankan keunggulan ekosistem kreatif yang lengkap.

“InsyaAllah Wellgasm nantinya menjadi Next Level of Entertainment dari Bintaro untuk Indonesia,” pungkas Umaru Takaeda.

Hal senada juga disampaikan Bois Famous Maker selaku pemerhati dunia musik Indonesia. Menurutnya, Wellgasm akan menjadi “medan magnet” di Indonesia bagi musisi lintas generasi dan lintas genre musik.

Misteri Sosok Yolanda: Dari Lagu Legendaris Kangen Band, Kolaborasi dengan Andrigo, hingga Single Terbaru “Hey Yolanda”

0

Nama Yolanda sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan musik Kangen Band. Lagu “Yolanda” yang diciptakan oleh Dodhy Hardiyanto, gitaris sekaligus pentolan Kangen Band, bukan hanya menjadi salah satu karya paling legendaris mereka, tetapi juga menyimpan kisah yang selama bertahun-tahun membuat publik penasaran.

Saat pertama kali dirilis dalam album Bintang 14 Hari pada 2008, lagu “Yolanda” langsung mencuri perhatian pecinta musik Indonesia. Liriknya yang sederhana namun menyentuh berhasil menggambarkan perasaan cinta, penantian, dan kerinduan mendalam terhadap seseorang yang pernah mengisi hati, namun akhirnya harus pergi.

Dodhy mengungkapkan bahwa sosok Yolanda bukan sekadar nama dalam lagu. Ia adalah sosok nyata dari masa lalu yang meninggalkan kenangan mendalam dalam hidupnya.

“Lagu Yolanda benar-benar kisah nyata. Sosok Yolanda itu memang ada,” ungkap Dodhy.

Bahkan, menurut Dodhy, kehadiran sosok Yolanda pada masa itu sempat menimbulkan kegaduhan dan persoalan di lingkungan internal Kangen Band. Tak heran jika hingga kini banyak penggemar masih penasaran dengan identitas perempuan yang menginspirasi lagu tersebut.

Melanjutkan Kisah Lewat “Cinta Yolanda”

Kisah tentang Yolanda kembali berlanjut pada tahun 2015 melalui proyek musik DOA, kolaborasi antara Dodhy Hardiyanto dan penyanyi Andrigo. Bersama label NAGASWARA, mereka merilis lagu “Cinta Yolanda” yang menjadi kelanjutan dari cerita yang pernah dimulai dalam lagu “Yolanda”.

Berbeda dengan versi sebelumnya, “Cinta Yolanda” hadir dengan sentuhan musik Melayu yang kental, menyesuaikan karakter vokal Andrigo. Sebagai pencipta lagu, Dodhy mengaku baru pertama kali membuat karya dengan nuansa seperti ini.

“Kami berharap musik Melayu seperti ini masih bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dan Malaysia,” ujar Dodhy.

Menariknya, lagu tersebut dibuka dengan narasi suara Dodhy yang mengingatkan pendengar bahwa “Cinta Yolanda” merupakan lanjutan dari kisah yang pernah diceritakan dalam lagu “Yolanda”. Meski memiliki benang merah yang sama, keduanya hadir dengan warna musikalitas yang berbeda.

Dari Lagu Menjadi Film Layar Lebar

Popularitas “Yolanda” ternyata tak hanya berhenti di dunia musik. AdGlow Pictures bersama Radepa Studio melihat fenomena lagu tersebut sebagai sebuah cerita yang layak diangkat ke layar lebar.

Lagu “Yolanda” pun menjadi inspirasi lahirnya film berjudul Mencari Yolanda, sebuah drama komedi yang mengisahkan perjalanan nyata Kangen Band dari sebuah band kampung di Lampung hingga sukses menembus industri musik nasional.

Film ini juga disebut-sebut akan menjawab rasa penasaran publik mengenai siapa sebenarnya sosok Yolanda yang selama ini menjadi misteri. Proses syuting dijadwalkan dimulai pada akhir 2026 dan ditargetkan tayang di bioskop pada tahun 2027.

“Hey Yolanda”, Babak Baru Sebuah Kisah

Pada 4 Juni 2026, Kangen Band kembali menghadirkan karya terbaru berjudul “Hey Yolanda”. Lagu ciptaan Dodhy ini seolah menjadi babak baru dari kisah panjang yang telah melekat di hati para penggemar selama hampir dua dekade.

Dengan nuansa pop Melayu khas Kangen Band, “Hey Yolanda” menghadirkan atmosfer nostalgia yang kuat. Lirik-liriknya mengajak pendengar kembali mengenang perjalanan cinta yang pernah menemani masa-masa mereka.

Kehadiran lagu ini sekaligus membuktikan bahwa nama Yolanda masih menjadi inspirasi yang tak pernah habis bagi Dodhy dan Kangen Band. Pertanyaannya kini, sampai kapan kisah Yolanda akan terus berlanjut?

Para penggemar tentu menantikan kejutan dan karya-karya berikutnya dari Kangen Band yang mungkin akan kembali membuka lembaran baru dari misteri sosok Yolanda. RuL

Zephyer Project Vol. 4 Siap Guncang Bekasi, Denny Caknan, NDX A.K.A, dan Aftershine Jadi Magnet Festival Musik Koplo Modern

0

Bekasi ,Trenzindonesia.com – Gelombang popularitas musik koplo modern di Indonesia masih terus menunjukkan tren positif. Fenomena tersebut kembali dibuktikan melalui hadirnya Zephyer Project Vol. 4, festival musik yang siap mengguncang Kota Bekasi pada 17 Juli 2026 di kawasan Grand Kamala Lagoon.

Memasuki penyelenggaraan volume keempat, Zephyer Project hadir dengan konsep yang semakin matang dan ambisi yang lebih besar. Festival yang selama ini dikenal sebagai salah satu panggung hiburan favorit bagi penikmat musik koplo dan pop Jawa tersebut akan menghadirkan tiga nama besar yang tengah mendominasi industri musik nasional, yakni Denny Caknan, NDX A.K.A, dan Aftershine.

Kehadiran ketiga musisi tersebut diprediksi menjadi daya tarik utama yang mampu mengundang ribuan penonton dari Bekasi, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang hingga berbagai kota lain di Pulau Jawa. Tidak hanya menghadirkan konser musik, Zephyer Project Vol. 4 juga menawarkan pengalaman festival yang lebih lengkap melalui konsep hiburan modern yang memadukan musik, budaya populer, kreativitas anak muda, hingga ruang interaksi antara audiens dan berbagai brand yang terlibat dalam acara.

Perjalanan Festival yang Terus Berkembang

Zephyer Project lahir sebagai wadah kreatif yang fokus menghadirkan pertunjukan musik berkualitas bagi generasi muda. Sejak pertama kali digelar pada 2024, festival ini terus berkembang dan memperlihatkan konsistensinya di tengah ketatnya persaingan industri hiburan tanah air.

Pada dua edisi awal, penyelenggara mengusung tema Bekasi Ambyar, sementara pada Volume 3 menggunakan konsep Dutdutan Fest. Namun seiring perjalanan waktu, pihak promotor menilai penting untuk memperkuat identitas utama acara melalui nama Zephyer Project. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi branding jangka panjang agar festival memiliki karakter yang kuat dan mudah dikenali oleh masyarakat luas.

“Sejak awal Zephyer Project adalah identitas utama festival ini. Bekasi Ambyar maupun Dutdutan Fest hanyalah tema acara pada masing-masing volume. Tahun ini kami ingin memperkuat nama Zephyer Project sebagai brand utama yang nantinya dapat berkembang lebih besar lagi,” ujar Alif selaku promotor.

Menurutnya, perjalanan dari Volume 1 hingga Volume 4 menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga bagi tim penyelenggara untuk terus meningkatkan kualitas acara.

Konsisten Hadirkan Musisi Papan Atas

Salah satu kekuatan utama Zephyer Project adalah konsistensinya menghadirkan deretan musisi nasional yang tengah digandrungi masyarakat.

Dalam tiga tahun terakhir, panggung Zephyer Project telah diramaikan oleh berbagai nama besar seperti Denny Caknan, NDX A.K.A, Guyon Waton, Aftershine, Lavora, Damara De, Feel Koplo, Tri Suaka, Steven & Coconut Treez, Jakarta Koplo, Pesawat Koplo, Pegawai Musik Sipil, Belinda Fueza hingga DJ Aida Saskia. Keberhasilan menghadirkan sederet musisi lintas genre tersebut menjadikan Zephyer Project sebagai salah satu festival yang memiliki reputasi positif di kalangan penikmat musik. Selain menjadi ajang hiburan, festival ini juga dinilai turut berkontribusi dalam memperluas ruang pertunjukan bagi musisi lokal maupun nasional yang tengah berkembang.

Denny Caknan Jadi Sorotan Utama

Pada gelaran tahun ini, perhatian publik dipastikan tertuju kepada Denny Caknan yang didapuk sebagai special highlight performer.

Penyanyi asal Ngawi, Jawa Timur tersebut diketahui sudah sekitar tiga tahun tidak tampil di Bekasi. Kondisi itu membuat penampilannya di Zephyer Project Vol. 4 menjadi salah satu momen yang paling dinanti para penggemar.

Popularitas Denny Caknan dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat berkat deretan lagu hits yang sukses merajai berbagai platform digital musik.

Dengan basis penggemar yang sangat besar, kehadiran Denny diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan animo masyarakat sekaligus mendongkrak penjualan tiket menjelang hari pelaksanaan acara.

Tidak sedikit penggemar yang berharap dapat kembali menyaksikan secara langsung lagu-lagu populer seperti Widodari, Satru, Los Dol, hingga Kartonyono Medot Janji dibawakan di atas panggung.

NDX A.K.A, Simbol Loyalitas Zephyer Project

Selain Denny Caknan, nama NDX A.K.A juga memiliki posisi spesial dalam perjalanan Zephyer Project.

Grup hip hop dangdut asal Yogyakarta tersebut menjadi satu-satunya line up yang selalu hadir sejak Volume 1 hingga Volume 4.

Konsistensi tersebut menjadikan NDX A.K.A sebagai bagian dari identitas festival yang sulit dipisahkan.

Bagi banyak penggemar, penampilan NDX A.K.A selalu menjadi momen yang ditunggu karena mampu menghadirkan suasana meriah melalui lagu-lagu bertema kehidupan, perjuangan, persahabatan, dan percintaan yang dekat dengan keseharian anak muda.

Kehadiran mereka juga menjadi bukti bahwa musik hip hop dangdut masih memiliki basis penggemar yang sangat kuat di Indonesia. Aftershine Siap Mengulang Kesuksesan Sementara itu, Aftershine kembali dipercaya mengisi panggung Zephyer Project setelah sukses tampil pada Volume 2.

Penampilan grup musik asal Yogyakarta tersebut sebelumnya mendapatkan respons luar biasa dari para penonton.

Karakter musik mereka yang memadukan unsur pop Jawa, akustik, dan koplo modern dinilai mampu menciptakan suasana yang hangat sekaligus emosional.

Penyelenggara optimistis Aftershine kembali menjadi salah satu penampil yang mampu menghadirkan momen berkesan bagi para pengunjung.

Hadirkan Pengalaman Festival yang Lebih Imersif

Tidak hanya mengandalkan kekuatan line up, Zephyer Project Vol. 4 juga berupaya menghadirkan pengalaman festival yang lebih modern dan imersif.

Pengunjung akan disuguhkan tata panggung megah, tata cahaya spektakuler, sistem audio berkualitas tinggi, visual interaktif, hingga berbagai area aktivitas yang memungkinkan interaksi langsung antara audiens, komunitas, dan sponsor.

Promotor berharap konsep tersebut mampu memberikan pengalaman berbeda dibandingkan konser musik pada umumnya.

“Kami ingin menghadirkan ruang yang aman, nyaman, dan berkesan bagi semua kalangan. Festival ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang pengalaman yang dapat dinikmati bersama,” ujar Lifani selaku promotor.

Target Menjadi Festival Musik Berkarakter Melalui penyelenggaraan Volume 4, Zephyer Project membawa visi yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selain menghadirkan hiburan berkualitas, festival ini juga ingin menjadi bagian dari pertumbuhan industri kreatif nasional melalui kolaborasi dengan komunitas, pelaku usaha, sponsor, serta berbagai elemen anak muda.

Dengan identitas yang semakin kuat, penyelenggara optimistis Zephyer Project dapat berkembang menjadi festival musik berkarakter yang tidak hanya dikenal di Bekasi, tetapi juga memiliki potensi untuk merambah berbagai kota lain di Indonesia.

Informasi Acara Zephyer Project Vol. 4 📅 17 Juli 2026 📍 Grand Kamala Lagoon, Kota Bekasi 🎤 Line Up: Denny CaknanNDX A.K.AAftershine 🎟 Tiket tersedia melalui platform Snaptix 📞 Informasi: 0812-9811-4683 0813-8888-1605 📱 Instagram: @zephyerproject

Dengan kombinasi musisi papan atas, konsep festival modern, dan semangat menghadirkan ruang ekspresi bagi generasi muda, Zephyer Project Vol. 4 berpotensi menjadi salah satu festival musik koplo paling meriah dan paling ditunggu di Bekasi sepanjang 2026.

(Kelana Peterson)

Slank Rilis Album Republik Fufufafa, Suarakan Isu Lingkungan dan Kritik Sosial

0

Jakarta – Grup musik legendaris Slank resmi merilis album studio ke-26 bertajuk Republik Fufufafa di Markas Slank, Potlot 14, Jakarta Selatan, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2026.

Album ini menjadi bukti konsistensi Slank dalam berkarya selama lebih dari empat dekade di industri musik Indonesia. Berisi 10 lagu baru, Republik Fufufafa mengangkat beragam tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari isu lingkungan, kritik sosial, cinta, hingga dinamika anak muda.

Sebagian besar lagu dalam album ini ditulis oleh Bimbim. Proses rekamannya berlangsung selama Ramadan 2025 di Flat 5 Studio milik Ridho Hafiedz dan dilanjutkan di Parah Studio, Potlot 14. Selama dua pekan, para personel menjalani sesi kreatif dan rekaman sejak pagi hingga menjelang berbuka puasa.

Menurut Slank, setiap album mereka selalu mengusung empat elemen utama, yakni cinta, alam, sosial, dan anak muda. Semangat tersebut kembali menjadi fondasi dalam Republik Fufufafa.

Dari sisi musikalitas, album ini menawarkan warna yang beragam. Pendengar akan menemukan sentuhan rock alternatif, rock n’ roll, hingga balada melankolis yang menjadi ciri khas perjalanan musik Slank.

Sebelum peluncuran resmi album, dua lagu berjudul Republik Fufufafa dan PPN 12% telah lebih dulu diperkenalkan kepada publik. Kedua lagu tersebut mencuri perhatian karena mengangkat isu sosial yang tengah ramai diperbincangkan dan sempat menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.

Bersamaan dengan perilisan album, Slank juga meluncurkan video musik Rusak Ancur. Lagu ciptaan Bimbim itu berisi kritik terhadap kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Sementara itu, Jangan Rakus, karya Kaka, mengajak masyarakat untuk hidup secukupnya dan tidak terjebak dalam budaya konsumtif maupun kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Tak hanya sarat kritik sosial, album ini juga menghadirkan sisi emosional para personelnya. Di Dekatmu menawarkan nuansa melankolis dengan lirik sederhana khas Slank, sedangkan My Rinduku menjadi lagu cinta yang lugas dan penuh kerinduan.

Lagu Papa Sid lahir dari rasa kehilangan mendalam Bimbim terhadap sosok ayah dan panutannya, Sidharta. Sementara itu, Bunga Rindu hadir dengan aransemen yang lebih segar, dan Buka Baju mempertahankan karakter slengean Slank dengan lirik yang terbuka untuk berbagai interpretasi. Album ini ditutup dengan Ku Tak Mungkin, lagu bertema kesetiaan yang dibalut nuansa romantis.

Secara digital, Republik Fufufafa mulai tersedia di berbagai platform streaming musik sejak 6 Juni 2026. Slank juga menyiapkan versi fisik dalam format kaset, CD, dan vinyl dengan desain sampul yang berbeda untuk setiap edisi.

Menariknya, seluruh foto yang digunakan dalam album fisik diabadikan menggunakan kamera analog oleh fotografer Heret Frasthio, memberikan sentuhan artistik yang khas dan bernilai koleksi.

Dengan perpaduan kritik sosial, kepedulian terhadap lingkungan, kisah personal yang menyentuh, serta eksplorasi musik yang beragam, Republik Fufufafa menegaskan bahwa Slank tetap produktif, relevan, dan mampu menyuarakan realitas zaman melalui karya-karyanya. RuL

Nasionalisme Jadi Benteng NKRI di Perbatasan, Akademisi Ingatkan Ancaman Tak Lagi Datang dari Senjata

0

Jakarta, Trenzindonesia.com | Di tengah derasnya arus globalisasi dan meningkatnya ancaman kejahatan lintas negara, penguatan nasionalisme di wilayah perbatasan dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia sekaligus Anggota Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Provinsi DKI Jakarta, Dr. Rasminto, menegaskan bahwa kawasan perbatasan memiliki posisi strategis yang tidak hanya berfungsi sebagai batas geografis negara, tetapi juga menjadi cerminan identitas dan ketahanan bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Penguatan Literasi Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan Badan Penghubung Provinsi Kepulauan Riau di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

“Daerah perbatasan tidak hanya berfungsi sebagai batas geografis suatu negara, melainkan juga menjadi beranda terdepan yang mencerminkan kekuatan identitas, persatuan, dan ketahanan bangsa,” ujar Rasminto.

Kepulauan Riau di Persimpangan Peluang dan Ancaman.

Menurut Rasminto, wilayah strategis seperti Kepulauan Riau memiliki keunggulan geografis yang memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, investasi, dan perdagangan internasional.

Namun di balik potensi tersebut, terdapat berbagai tantangan yang perlu diantisipasi secara serius.

Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara tetangga dan berada di jalur perdagangan internasional, Kepulauan Riau kerap menjadi kawasan yang rentan terhadap berbagai aktivitas ilegal lintas negara.

“Posisi tersebut memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, investasi, dan perdagangan, namun pada saat yang sama juga menghadirkan berbagai kerawanan yang perlu diantisipasi,” katanya.

Rasminto menyoroti sejumlah ancaman yang masih membayangi wilayah perbatasan, mulai dari peredaran narkotika, penyelundupan barang ilegal, perdagangan manusia, kejahatan siber, hingga berbagai bentuk kejahatan transnasional lainnya.

Ancaman Modern Tak Selalu Berbentuk Agresi Militer

Rasminto mengingatkan bahwa ancaman terhadap bangsa saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu ancaman identik dengan invasi atau agresi militer, kini tantangan justru datang melalui berbagai sektor yang lebih kompleks.

Menurutnya, ancaman dapat masuk melalui jalur ekonomi, sosial, budaya, teknologi informasi, hingga kejahatan lintas negara yang memanfaatkan kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi.

“Ancaman terhadap bangsa saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk agresi militer. Banyak ancaman yang masuk melalui jalur ekonomi, sosial, budaya, teknologi informasi, hingga kejahatan lintas negara,” ujarnya.

Karena itu, penguatan wawasan kebangsaan dinilai harus menjadi bagian penting dari sistem pertahanan nasional yang dibangun secara berkelanjutan.

Infrastruktur Penting, Tetapi Nasionalisme Adalah Penjaganya

Lebih lanjut, Rasminto menilai pembangunan wilayah perbatasan tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter dan memiliki kecintaan terhadap tanah air juga harus menjadi prioritas utama.

Menurutnya, kemajuan suatu daerah akan lebih kokoh apabila ditopang oleh masyarakat yang memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.

“Investasi dapat membangun kawasan, tetapi nasionalisme yang akan menjaganya. Infrastruktur dapat mempercepat pertumbuhan, tetapi semangat kebangsaan yang akan memastikan pembangunan tersebut tetap berada dalam koridor kepentingan nasional,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari kemampuan masyarakat menjaga identitas dan kepentingan bangsa di tengah dinamika global.

Generasi Muda Jadi Kunci Pertahanan Bangsa di Era Digital

Dalam kesempatan itu, Rasminto juga menyoroti pentingnya menanamkan wawasan kebangsaan kepada generasi muda, khususnya mereka yang tinggal di wilayah perbatasan.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat membawa berbagai pengaruh positif sekaligus risiko yang perlu diwaspadai. Oleh sebab itu, generasi muda harus dibekali kemampuan untuk menyaring informasi dan memahami nilai-nilai kebangsaan.

“Generasi muda di wilayah perbatasan perlu dibekali kemampuan dan penguatan wawasan kebangsaan untuk menyaring berbagai pengaruh negatif yang datang melalui arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat,” katanya.

Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan tidak mudah terpapar disinformasi, paham-paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan, maupun narasi yang berpotensi memecah persatuan nasional.

Nasionalisme Adalah Fondasi Kedaulatan Indonesia

Rasminto menegaskan bahwa nasionalisme bukan sekadar simbol atau slogan seremonial. Lebih dari itu, nasionalisme merupakan kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa untuk menjaga Indonesia, merawat keberagaman, serta memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata dari Sabang sampai Merauke.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan menjaga wilayah perbatasan tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan atau pemerintah semata, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.

“Ketika nasionalisme tumbuh kuat di hati masyarakat, maka perbatasan bukan lagi menjadi titik rawan, melainkan menjadi beranda terdepan yang memperkuat kedaulatan dan martabat Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.

Kaset 80an Retro Groove Tour 2026 Sukses Guncang Yogyakarta & Semarang, Bawa Ribuan Kenangan Manis Era 80-an Kembali Hidup

0

Suasana hangat penuh nostalgia menyelimuti Tip Tap Toe Cafe, Sleman, Yogyakarta, Jumat malam (5/6/2026), saat Kaset 80-an Retro Groove Tour 2026 sukses digelar dan menghadirkan pengalaman tak terlupakan bagi para pecinta musik lintas generasi.

Acara yang menjadi perayaan musik dan budaya populer era 1980-an ini menghadirkan sederet musisi legendaris Indonesia, di antaranya Sandro Tobing, Rita Effendy, Emile S. Praja, dan Ichwan Thoha. Kehadiran para penyanyi yang telah mewarnai industri musik Indonesia selama puluhan tahun itu langsung mengobati kerinduan para penggemar yang memenuhi lokasi acara sejak sore hari.

Sejak lagu pertama dibawakan, suasana nostalgia begitu terasa. Para penonton tampak larut dalam setiap alunan musik yang membangkitkan kenangan masa muda mereka. Tak sedikit yang ikut bernyanyi bersama, berdansa, hingga mengabadikan momen spesial tersebut melalui kamera ponsel.

Menariknya, banyak pengunjung yang hadir mengenakan busana khas era 80-an. Mulai dari jaket denim, celana high waist, hingga aksesori dan gaya rambut retro yang membuat suasana malam itu terasa seperti mesin waktu yang membawa seluruh pengunjung kembali ke masa keemasan musik dekade 1980-an.

Menghidupkan Kembali Romantisme Musik Legendaris

Mengusung konsep nostalgia yang hangat, akrab, sekaligus enerjik, Retro Groove Tour 2026 hadir dengan misi memperkenalkan kembali lagu-lagu legendaris yang pernah menjadi soundtrack kehidupan masyarakat Indonesia.

Tak hanya menyajikan lagu-lagu Indonesia yang populer pada masanya, acara ini juga menghadirkan berbagai hits internasional yang pernah berjaya di era 80-an. Perpaduan tersebut membuat suasana semakin hidup karena mampu menyatukan berbagai generasi dalam satu ruang yang sama.

Bagi sebagian penonton, acara ini menjadi kesempatan untuk mengenang masa muda mereka. Sementara bagi generasi muda, Retro Groove Tour menjadi ruang untuk mengenal lebih dekat karya-karya musik yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah industri hiburan Indonesia dan dunia.

Memberikan Ruang bagi Musisi Legendaris

Founder Kaset 80-an, Refida Herastuti, menjelaskan bahwa Retro Groove Tour 2026 tidak sekadar menjadi ajang hiburan, tetapi juga merupakan gerakan budaya untuk melestarikan karya-karya musik legendaris Indonesia.

“Retro Groove Tour 2026 dimulai dari Yogyakarta dan Semarang. Melalui acara ini kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih mencintai lagu-lagu legendaris. Kami juga ingin menghadirkan kembali musisi-musisi legendaris Indonesia dan memberikan ruang bagi mereka untuk terus berkarya serta memperkenalkan karya-karyanya kepada generasi baru,” ujar Refida Herastuti.

Menurutnya, keberadaan para musisi senior memiliki peran penting dalam perjalanan industri musik nasional. Oleh karena itu, karya-karya mereka perlu terus diapresiasi agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Kami ingin menjembatani generasi lama dan generasi muda melalui musik. Dengan begitu, lagu-lagu Indonesia maupun lagu-lagu Barat yang berjaya di era 80-an tetap dapat dinikmati dan dicintai oleh masyarakat saat ini,” tambahnya.

Menjadi Wadah Nostalgia dan Kebersamaan

Lebih dari sekadar konser musik, Retro Groove Tour 2026 juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengenang berbagai aspek kehidupan era 80-an. Tidak hanya musik, tetapi juga gaya hidup, fashion, budaya populer, hingga kenangan masa lalu yang melekat erat dalam memori banyak orang.

Atmosfer tersebut terlihat dari antusiasme para pengunjung yang saling berbagi cerita tentang pengalaman mereka di masa lalu. Banyak di antara mereka yang datang bersama keluarga, sahabat lama, bahkan pasangan yang pernah menikmati masa remaja di era tersebut.

Kehangatan dan kebersamaan inilah yang menjadikan acara berlangsung begitu spesial dan berbeda dari pertunjukan musik pada umumnya.

Mengusung Semangat Kemanusiaan

Khusus di Yogyakarta, penyelenggara juga mengangkat tema “Kaset80an for Humanity”. Melalui program ini, sebagian hasil kegiatan akan disalurkan kepada yayasan sosial setempat sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Langkah tersebut menjadi bukti bahwa musik tidak hanya mampu menghibur, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk berbagi dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dengan menggabungkan hiburan, nostalgia, pelestarian budaya, dan kegiatan sosial, Retro Groove Tour 2026 berhasil menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna bagi seluruh pihak yang terlibat.

Berlanjut ke Semarang

Setelah sukses membuka rangkaian tur di Yogyakarta, Retro Groove Tour 2026 melanjutkan perjalanannya ke Tectona Cafe, Semarang, pada Sabtu (6/6/2026).

Antusiasme masyarakat Kota Lumpia pun tak kalah besar. Kehadiran para musisi legendaris serta konsep nostalgia yang unik berhasil menarik perhatian para pecinta musik dari berbagai kalangan.

Kesuksesan penyelenggaraan di Yogyakarta dan Semarang menjadi bukti bahwa karya-karya musik era 80-an masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. Lagu-lagu yang lahir puluhan tahun lalu tetap mampu menghadirkan emosi, kenangan, dan kebersamaan yang sulit tergantikan.

Melalui Retro Groove Tour 2026, Kaset 80-an tidak hanya menghadirkan sebuah konser, tetapi juga membangun ruang pertemuan lintas generasi yang dipersatukan oleh musik, kenangan, dan kecintaan terhadap karya-karya legendaris yang tak lekang oleh waktu.

Royalti Memanas! Ratusan Musisi dan Pencipta Lagu Siap Kepung Kemenkum, Tuntut Hak Ekonomi Dikembalikan

0

JAKARTA — Konflik tata kelola royalti musik di Indonesia memasuki babak baru. Sekitar 400 pencipta lagu dan musisi dari berbagai genre dijadwalkan turun ke jalan pada Selasa, 9 Juni 2026, untuk menyuarakan tuntutan mereka terkait hak ekonomi yang dinilai semakin terancam.

Aksi yang mengusung tema “Gerakan Penyelamatan Royalti Pencipta Lagu dan Musisi Indonesia” itu akan dimulai di depan Kementerian Hukum dan berlanjut ke kantor Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Para peserta aksi berasal dari berbagai organisasi profesi dan komunitas musik, di antaranya Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI), Garda Publik Pencipta Lagu (Garputala), Asosiasi Bela Hak Cipta (ABHC), Aliansi Seniman Musik (ASIK), hingga Serikat Pemersatu Seniman Indonesia (SPSI).

Namun aksi ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Di balik spanduk dan poster yang akan dibawa, tersimpan keresahan mendalam para pelaku industri musik mengenai masa depan royalti yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama para pencipta lagu dan pemilik hak terkait.

Bagi mereka, royalti bukanlah hadiah, bantuan sosial, atau bentuk belas kasihan. Royalti adalah hak ekonomi yang lahir dari karya kreatif yang diputar, dinyanyikan, disiarkan, hingga dimanfaatkan secara komersial oleh berbagai pihak.

“Kami datang untuk memperjuangkan hak ekonomi pencipta lagu dan musisi,” menjadi pesan utama yang akan digaungkan dalam aksi tersebut.

Dipicu Perubahan Tata Kelola Royalti

Gelombang protes ini dipicu oleh perubahan tata kelola royalti yang mulai berlaku sejak 2025. Selama bertahun-tahun, proses penarikan, penghimpunan, pengolahan data, hingga distribusi royalti dilakukan oleh Lembaga Manajemen Kolektif (LMK). Namun kini, sebagian besar fungsi tersebut disebut telah beralih ke LMKN.

Perubahan tersebut dinilai memunculkan berbagai persoalan di lapangan. Mulai dari distribusi royalti yang dianggap tidak menentu, minimnya transparansi, hingga kesulitan para pencipta lagu dalam memperoleh informasi terkait penggunaan karya mereka.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran yang lebih besar. Para musisi menilai ketidakjelasan sistem pengelolaan royalti dapat menggerus kepercayaan pengguna musik terhadap mekanisme pembayaran royalti dan menciptakan ketidakpastian bagi masa depan industri musik nasional.

Sejumlah Tuntutan Disampaikan

Melalui aksi damai ini, para peserta mendesak Menteri Hukum untuk membatalkan Surat Edaran LMKN Nomor SE.06.LMKN.VIII-2025. Mereka juga meminta agar fungsi penarikan, penghimpunan, dan pendistribusian royalti dikembalikan kepada LMK sesuai amanat Undang-Undang Hak Cipta.

Selain itu, massa aksi menuntut agar seluruh dana royalti yang masih tersimpan segera disalurkan kepada para pemilik hak. Mereka juga meminta dilakukannya audit independen terhadap proses penghimpunan dan distribusi royalti, serta penyempurnaan regulasi agar selaras dengan ketentuan Undang-Undang Hak Cipta.

Bukan Menolak Modernisasi

Meski lantang menyuarakan tuntutan, para musisi menegaskan bahwa mereka tidak menolak modernisasi sistem pengelolaan royalti.

Yang mereka perjuangkan adalah transparansi, kepastian hukum, keadilan, dan perlindungan terhadap hak ekonomi para pencipta lagu serta musisi Indonesia.

Bagi mereka, persoalan ini bukan semata soal royalti yang belum dibayarkan hari ini. Lebih jauh, ini menyangkut keberlangsungan ekosistem musik nasional di masa depan.

Sebab ketika karya tidak lagi dihargai secara adil, yang terancam bukan hanya kesejahteraan penciptanya, tetapi juga pertumbuhan industri kreatif Indonesia secara keseluruhan.

Pada akhirnya, aksi ini membawa pesan yang lebih luas: bangsa yang ingin maju harus menghargai karya. Dan bangsa yang menghargai karya wajib memastikan para penciptanya memperoleh hak yang layak atas setiap nada, lirik, dan karya yang mereka lahirkan.

Endang Raes Ungkap Kisah di Balik Terciptanya Lagu Legendaris “Termiskin di Dunia”

0

Lagu dangdut “Termiskin di Dunia” yang dipopulerkan almarhum Hamdan ATT hingga kini masih dikenang sebagai salah satu lagu paling fenomenal pada akhir 1980-an. Di balik kesuksesan lagu tersebut, tersimpan kisah perjuangan sang pencipta, Endang Raes, yang saat itu benar-benar merasakan kerasnya hidup dalam kemiskinan.

Pria kelahiran Sukabumi, 3 Agustus 1967 itu mengungkapkan bahwa lagu “Termiskin di Dunia” lahir dari pengalaman pribadinya saat merantau di Jakarta. Sebelum menciptakan lagu tersebut, Endang sebenarnya sudah menghasilkan dua lagu. Namun, keduanya belum mampu menarik perhatian pasar.

“Lagu ‘Termiskin di Dunia’ itu lagu ketiga saya. Waktu itu saya masih belajar menciptakan lagu, belum terlalu mahir. Tapi kebetulan hasilnya bagus dan diterima masyarakat,” ujar Endang.

Inspirasi lagu itu muncul ketika dirinya memandangi gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Saat itu, ia hidup dalam keterbatasan dan bahkan belum memiliki tempat tinggal sendiri.

“Saya melihat gedung-gedung tinggi, lalu berkata dalam hati, jangankan punya gedung, gubuk saja saya tidak punya. Dari kata ‘gedung’ dan ‘gubuk’ itulah muncul ide lagu ‘Termiskin di Dunia’,” kenangnya.

Endang mengaku sempat berandai-andai menjadi pemilik gedung megah dan memiliki kehidupan yang serba berkecukupan. Namun, kesadaran akan kondisi dirinya yang masih menumpang hidup di Jakarta justru memunculkan ide kreatif. Ia kemudian mengambil gitar dan mulai merangkai lirik beserta notasi lagu yang kelak menjadi karya fenomenal tersebut.

Lagu itu diciptakan pada 1987 dan mulai meledak di pasaran setahun kemudian setelah dibawakan oleh Hamdan ATT di bawah naungan Gajah Mada Record.

“Kenapa yang membawakan Hamdan ATT? Itu keputusan label. Tapi memang saat itu Hamdan masih muda, suaranya segar dan sangat cocok dengan karakter lagunya,” tutur Endang.

Kesuksesan “Termiskin di Dunia” terbilang luar biasa. Penjualan kasetnya mencapai sekitar 1,5 juta kopi, angka yang sangat fantastis pada masanya. Popularitas lagu tersebut bahkan membuatnya diadaptasi ke versi pop sendu yang dibawakan penyanyi senior Emilia Contessa pada 1988.

Berkat lagu itu, Endang Raes menerima berbagai penghargaan, termasuk dari HDX Award dan Nagaswara. Ia juga tercatat sebagai anggota Wahana Musik Indonesia (WAMI) selama lebih dari satu dekade.

Meski sukses besar melalui “Termiskin di Dunia”, Endang tidak pernah berhenti berkarya. Hingga kini, ia telah menciptakan sekitar 447 lagu yang terdaftar di WAMI. Sejumlah karyanya juga sempat meramaikan industri musik dangdut, di antaranya “Berondong Tua”, “Melanggar Hukum”, “Bara Bere”, dan “Merege Hese” yang dipopulerkan penyanyi asal Bekasi, Siti Badriah.

Menurut Endang, lagu “Termiskin di Dunia” bukan sekadar lagu tentang kemiskinan, melainkan juga berisi pesan moral tentang kehidupan. Liriknya mengingatkan bahwa kebahagiaan dan cinta sejati tidak selalu diukur dari materi, sekaligus menjadi pengingat agar manusia tidak sombong dalam menjalani hidup.

“Lagu ini memang saya sisipi kisah pribadi saya yang saat itu merasa menjadi orang paling miskin. Alhamdulillah, lagu ini kemudian diterima masyarakat dan menjadi populer lewat suara Hamdan ATT. Kesuksesan lagu ini juga tidak lepas dari dukungan para pendengar,” ungkapnya.

Endang Raes yang juga pernah berguru kepada pencipta lagu “Tembok Derita”, Asmin Chaidir, berharap kisah di balik lahirnya “Termiskin di Dunia” dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja untuk terus berkarya meski berada dalam keterbatasan.

Sebab, dari pengalaman hidup yang paling sederhana sekalipun, sebuah karya besar bisa tercipta dan dikenang lintas generasi.

Q COFFEE Resmi Buka di Benhil, Sajikan Kopi Nusantara dan Minuman Rempah Berkelas

0

JAKARTA – Tren kedai kopi terus berkembang. Kini, masyarakat Jakarta memiliki pilihan baru dengan hadirnya Q COFFEE di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Mengusung konsep berbeda dari kebanyakan coffee shop, Q COFFEE tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga menghadirkan beragam minuman berbahan teh dan rempah-rempah yang diracik secara khusus.

Kedai yang berlokasi di Jalan Bendungan Hilir V No. 8, Jakarta Pusat, ini beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 22.00 WIB. Kehadirannya menawarkan pengalaman bersantai yang lebih lengkap bagi para pelanggan, baik untuk bekerja, berkumpul bersama teman, maupun menikmati waktu bersama keluarga.

Manajer Q COFFEE, Andre Agusta, mengatakan bahwa pihaknya ingin menghadirkan pilihan menu yang lebih beragam dibandingkan kedai kopi pada umumnya.

“Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah minuman berbahan teh dan rempah. Kami berharap menu ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung,” ujar Andre saat pembukaan Q COFFEE, Jumat (5/6/2026).

Menurut Andre, pengembangan menu masih terus dilakukan. Sejumlah varian minuman dan hidangan baru tengah dipersiapkan untuk melengkapi pilihan yang sudah tersedia saat ini.

Dari sisi konsep, sekitar 70 persen area Q COFFEE dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi pelanggan yang ingin menikmati makanan dan minuman di tempat (dine-in). Sementara 30 persen lainnya tetap melayani pelanggan yang memilih layanan bawa pulang (take away).

“Awalnya kami sempat mempertimbangkan untuk mempertahankan konsep layanan cepat yang lebih fokus pada take away. Namun setelah melalui berbagai pertimbangan, kami memutuskan menghadirkan suasana yang lebih nyaman bagi pelanggan yang ingin menikmati waktu di lokasi,” jelasnya.

Tak hanya mengandalkan menu yang beragam, Q COFFEE juga menghadirkan konsep pelayanan yang terinspirasi dari standar layanan hotel.

“Pengunjung tidak hanya menikmati kopi dan makanan, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang lebih premium dalam menikmati setiap sajian,” tambah Andre.

Di sektor kopi, Q COFFEE berupaya menghadirkan karakter rasa yang berbeda dengan menonjolkan kekayaan kopi daerah. Beberapa biji kopi andalan berasal dari lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, serta kopi khas Sumedang, Jawa Barat.

“Kami ingin memperkuat karakter kopi nusantara dengan menghadirkan cita rasa khas dari berbagai daerah,” ungkapnya.

Dengan mengandalkan kombinasi kopi lokal berkualitas, racikan rempah-rempah yang unik, serta konsep pelayanan yang nyaman dan premium, Q COFFEE optimistis dapat menjangkau berbagai kalangan, mulai dari generasi muda hingga pelanggan yang mencari tempat santai untuk bekerja, berdiskusi, maupun berkumpul bersama komunitas.

Jay Kondangin Rilis Single Terbaru 2026 “Sudah Ada Penggantiku”, Kisah Cinta yang Berakhir Pilu

0

Jakarta ,Trenzindonesia.com – Penyanyi Jay Kondangin kembali menyapa penikmat musik Tanah Air melalui single terbarunya di tahun 2026 yang berjudul “Sudah Ada Penggantiku”. Lagu ini menghadirkan kisah emosional tentang seseorang yang harus menerima kenyataan pahit ketika orang yang dicintainya telah menemukan pengganti.Ujar Jay dalam kepada wartawan Jumat (5/6/2026).

Dengan lirik yang menyentuh dan balutan aransemen musik yang mudah diterima pendengar, “Sudah Ada Penggantiku” menggambarkan perasaan kecewa, sedih, sekaligus ikhlas saat sebuah hubungan tidak lagi dapat dipertahankan. Tema yang dekat dengan kehidupan banyak orang menjadi kekuatan utama lagu ini.

Jay Kondangin mengaku single tersebut terinspirasi dari berbagai kisah nyata yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, rasa kehilangan dan patah hati merupakan pengalaman yang hampir pernah dirasakan setiap orang.

“Lagu ini bercerita tentang seseorang yang harus menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya telah bersama orang lain. Memang sedih, tapi itulah bagian dari perjalanan hidup,” ujar Jay Kondangin.

Melalui “Sudah Ada Penggantiku”, Jay mencoba menghadirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi teman bagi mereka yang sedang mengalami kekecewaan dalam percintaan. Nuansa melankolis yang kuat dipadukan dengan karakter vokal khas Jay membuat lagu ini terasa semakin emosional.

Single terbaru ini diharapkan dapat diterima oleh berbagai kalangan, khususnya para pencinta lagu-lagu bertema cinta dan patah hati. Kehadiran “Sudah Ada Penggantiku” juga menjadi bukti konsistensi Jay Kondangin dalam berkarya dan menghadirkan warna baru di industri musik Indonesia.

Sentuhan Emosi yang Dekat dengan Pendengar
Di tengah maraknya lagu bertema percintaan, “Sudah Ada Penggantiku” hadir dengan pesan sederhana namun mendalam. Lagu ini mengajak pendengar untuk memahami bahwa tidak semua kisah cinta berakhir bahagia, dan terkadang melepaskan adalah pilihan terbaik.

Judul lagu yang unik dan mudah diingat semakin memperkuat daya tariknya. Bahkan, banyak pendengar yang mungkin akan tersenyum getir saat mendengar pesan yang tersirat dalam lagu tersebut.

“Sudah Ada Penggantiku”, ah… sedih deh. Namun justru dari kesedihan itulah lahir sebuah karya musik yang mampu menyentuh hati banyak orang.

Selain aktif sebagai penyanyi, Jay juga dikenal memiliki aktivitas yang cukup padat sebagai MC dan host berbagai acara, mulai dari kegiatan komunitas, hiburan, hingga event korporasi. Kemampuannya berinteraksi dengan audiens membuat dirinya tetap eksis di berbagai panggung hiburan.

Single terbaru Jay Kondangin ini siap menjadi salah satu lagu galau yang mewarnai perjalanan musik Indonesia sepanjang tahun 2026. Dengan lirik yang relatable dan aransemen yang menyentuh, lagu ini berpotensi mendapat tempat tersendiri di hati para penikmat musik Tanah Air.

(Kelana peterson)