Jakarta, Trenzindonesia.com | Komunitas sosialita Jakarta Arisan Princess kembali mencuri perhatian lewat gelaran acara bertema Winter yang digelar meriah dan penuh gaya. Bertempat di Snowworld TransPark Bintaro, Tangerang, acara ini menghadirkan suasana musim dingin lengkap dengan permainan salju dan peragaan busana, menciptakan pengalaman unik yang jarang ditemui di tengah kota tropis.
Founder Arisan Princess, Liliana Chubby, menjelaskan bahwa acara tersebut berlangsung pada 19 Desember 2025 dan dihadiri ratusan anggota yang tampil penuh antusias. Sejak pukul 11.00 hingga 16.00 WIB, para peserta larut dalam rangkaian kegiatan yang menghibur sekaligus mempererat silaturahmi.
“Setiap bulan Arisan Princess digelar untuk mempertemukan para sosialita Jakarta. Anggota kami saat ini mencapai sekitar 500 orang, dan semuanya menikmati suasana kebersamaan dalam setiap rangkaian acara,” ujar Liliana Chubby.
Liliana menegaskan, Arisan Princess menjadi salah satu komunitas arisan terbesar di Jakarta. Konsep acara selalu dibuat tematik dan eksklusif, sehingga setiap pertemuan memiliki ciri khas tersendiri. Untuk edisi Winter kali ini, para anggota tak hanya menikmati sesi fashion di salju, tetapi juga berbagai permainan interaktif.
Keseruan semakin terasa dengan hadirnya games berhadiah, sawer atau pembagian uang tunai, hingga doorprize berupa mata uang dollar Amerika Serikat. Inilah yang membuat agenda arisan bulanan ini selalu dinantikan para anggotanya.
“Arisan Princess memang identik dengan doorprize dollar. Nominalnya bisa mencapai 200 hingga 300 US dollar setiap bulannya. Kami ingin semua anggota pulang dengan rasa bahagia,” tambah Liliana.
Komunitas ini dikenal sebagai wadah berkumpulnya para sosialita Jakarta, meski anggotanya juga datang dari daerah sekitar seperti Bogor dan Karawang. Tak hanya itu, sejumlah artis Tanah Air turut tercatat sebagai anggota, di antaranya Elly Sugigi, Irma Darmawangsa, dan Annisa Bahar, yang kerap memeriahkan acara.
Ke depan, Arisan Princess telah menyiapkan agenda lanjutan. Liliana mengungkapkan, acara arisan berikutnya pada Januari 2026 direncanakan akan digelar di Sentul, Bogor, dengan konsep yang tak kalah menarik.
“Yang paling utama bagi kami adalah silaturahmi dan rasa persaudaraan. Arisan ini bukan sekadar soal hadiah, tapi tempat berbagi kebahagiaan dan memperkuat kebersamaan,” pungkas Liliana Chubby.
Desainer sekaligus sosialita Migi Rihasalay sambut malam pergantian tahun 2025-2026 dengan menggelar perayaan sederhana bertema lilin sebagai simbol cahaya dan harapan.
Jakarta, Trenzindonesia.com | Di tengah suasana duka akibat bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, perancang busana sekaligus sosialita Migi Rihasalay memilih cara berbeda dalam menyambut Tahun Baru 2026. Bersama sang suami, Andrew James, Migi menggelar perayaan sederhana bertema lilin sebagai simbol cahaya dan harapan, tanpa hura-hura, sarat doa dan empati.
Perayaan pergantian tahun tersebut digelar secara bergiliran di dua lokasi bernuansa alam dan budaya, yakni Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, serta Kampung Joglo di Kabupaten Pandeglang, Banten. Migi dan Andrew hanya mengundang keluarga, kerabat, serta sahabat dekat dalam momen reflektif tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih, khususnya kepada suami saya Andrew James, keluarga, kerabat, dan teman-teman yang turut berpartisipasi menyukseskan perayaan tahun baru ini,” ujar Migi Rihasalay saat ditemui wartawan di Jakarta, Kamis (1/1/2026).
Perayaan Tahun Baru Tanpa Hura-hura
Menurut Migi, perayaan pelepasan 2025 dan penyambutan 2026 kali ini terasa berbeda dan lebih bermakna. Ia sengaja mengemas acara secara sederhana sebagai bentuk penghormatan terhadap duka bangsa akibat bencana banjir bandang di Sumatra, yang melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan daerah lainnya.
“Dalam perayaan ini kami lebih fokus pada pembacaan doa untuk saudara-saudara kita yang masih berjuang menghadapi musibah. Jadi tidak ada kesan foya-foya,” ungkap Migi, yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan.
Rangkaian acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, dilanjutkan doa bersama, serta menyalakan 1.000 lilin sebagai simbol solidaritas dan harapan. Hiburan pun dihadirkan secara sederhana, selaras dengan suasana keprihatinan.
Lilin sebagai Simbol Cahaya dan Kehidupan
Tema lilin dipilih bukan tanpa alasan. Bagi Migi, lilin memiliki makna mendalam yang merepresentasikan kedamaian, keikhlasan, cahaya, harapan, dan kehidupan.
“Simbol lilin ini kami harapkan bisa memotivasi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah agar tetap ikhlas dan memiliki harapan ke depan,” tutur Migi, didampingi Andrew James, arsitek asal Australia.
Sebagai perancang busana yang juga menekuni berbagai cabang seni, Migi dikenal kerap menghadirkan konsep perayaan yang sarat makna filosofis dan kepedulian sosial.
Karimunjawa dan Kampung Joglo, Tempat Penuh Makna
Pemilihan lokasi perayaan pun memiliki cerita tersendiri bagi pasangan ini. Karimunjawa merupakan daerah yang sering dikunjungi Migi dan Andrew untuk berburu kayu jati rumah joglo dari Jepara. Kayu-kayu tersebut kemudian diboyong ke Pantai Tanjung Lesung, Pandeglang, untuk membangun Kampung Joglo.
Suwondo, seorang nasabah unggulan asal Kopeng, Magelang, berhasil terapkan ULaMM Syariah
Jakarta, Trenzindonesia.com | Pembiayaan syariah tak sekadar menjadi solusi permodalan, tetapi juga mampu membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan. Hal inilah yang ditunjukkan melalui Program ULaMM Syariah PT Permodalan Nasional Madani (PNM), yang sukses memberdayakan usaha mikro sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro) merupakan layanan pembiayaan PNM yang telah diluncurkan sejak Agustus 2008. Berbeda dari pembiayaan konvensional, ULaMM tidak hanya menyediakan modal usaha, tetapi juga dilengkapi dengan pelatihan usaha, pendampingan, konsultasi bisnis, pengelolaan keuangan, hingga akses pasar yang lebih luas bagi para nasabah usaha mikro dan kecil.
Pembiayaan Syariah Jadi Andalan PNM
Seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan yang adil dan inklusif, ULaMM Syariah kini menjadi salah satu produk unggulan PNM. Penyaluran pembiayaannya dilakukan berdasarkan prinsip syariah, berlandaskan fatwa dan pernyataan kesesuaian dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).
Hingga Desember 2024, tercatat 73 persen dari total pembiayaan PNM disalurkan melalui skema akad syariah, baik melalui Program Mekaar Syariah maupun ULaMM Syariah. Capaian ini menegaskan komitmen PNM dalam menghadirkan layanan pembiayaan yang transparan, berkeadilan, dan berorientasi pada pemberdayaan UMKM, khususnya pelaku usaha ultra mikro, mikro, dan kecil.
Dalam praktiknya, transaksi ULaMM Syariah mengedepankan prinsip kebebasan berkontrak atas dasar kesepakatan bersama (tijaratan’an taradhin minkum) serta kewajiban memenuhi akad (aqd). Seluruh transaksi bebas dari unsur riba, maysir, dan gharar, serta menjunjung tinggi nilai etika dan akhlak dalam bermuamalah.
Akad Murabahah Beri Kepastian dan Transparansi
Sebagai bentuk kenyamanan bagi nasabah, ULaMM Syariah menerapkan akad murabahah, yakni pembiayaan berbasis jual beli dengan kejelasan harga perolehan barang dan margin keuntungan yang disepakati sejak awal. Seluruh transaksi dilakukan secara non-tunai dan didukung dengan perjanjian tertulis sebagai bukti sah akad pembiayaan.
Dengan semangat #PNMuntukUMKM dan #PNMPemberdayaanUMKM, skema ini dinilai mampu meningkatkan kepercayaan nasabah sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.
Kisah Sukses Nasabah: Bangun Ekosistem Usaha dan Ketahanan Pangan
Salah satu contoh sukses penerapan ULaMM Syariah PNM datang dari Suwondo, nasabah unggulan asal Kopeng, Magelang, Jawa Tengah. Melalui dukungan pembiayaan dan pendampingan PNM, Suwondo berhasil mengembangkan berbagai unit usaha, mulai dari mini market DD Mart, rumah pembibitan, hingga penanaman sayuran organik.
Tak hanya mengembangkan bisnisnya sendiri, Suwondo juga memberdayakan nasabah PNM Mekaar di sekitarnya sebagai petani sayur dan peternak ayam petelur. Hasil produksi telur dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus dipasarkan melalui DD Mart, menciptakan rantai usaha yang terintegrasi dan sirkular.
Model usaha ini dinilai mampu memperkuat ekonomi lokal sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan berbasis komunitas.
PNM Perkuat Peran dalam Ekonomi Kerakyatan
Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut menunjukkan peran ULaMM Syariah yang melampaui sekadar pembiayaan.
“Keberhasilan ini menunjukkan bagaimana ULaMM tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan. Kami berkomitmen untuk terus mendampingi nasabah dan memperluas layanan syariah agar dampaknya semakin luas bagi ekonomi kerakyatan di Indonesia,” ujar Dodot.
Sepanjang 2025, PNM tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga memberdayakan UMKM melalui PNM Mekaar dan Kampung Madani.
Jakarta, Trenzindonesia.com | Tantangan yang dihadapi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia tak berhenti pada persoalan permodalan. Di lapangan, keterbatasan pengelolaan usaha, pemasaran, hingga rendahnya literasi keuangan masih menjadi hambatan utama agar UMKM bisa tumbuh berkelanjutan. Menyadari kondisi tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sepanjang 2025 terus memperluas program pemberdayaan sebagai bagian integral dari penyaluran pembiayaan.
PNM menegaskan, pembiayaan saja tidak cukup tanpa diiringi penguatan kapasitas usaha. Karena itu, PNM hadir bukan hanya sebagai penyedia modal, tetapi juga sebagai pendamping yang membangun ketahanan ekonomi masyarakat, khususnya di segmen ultra mikro. Program-program yang dijalankan dirancang untuk mengombinasikan dukungan finansial dengan literasi, pelatihan, serta penguatan ekosistem usaha.
Salah satu program unggulan adalah PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) yang menyasar ibu rumah tangga dan perempuan prasejahtera, terutama di wilayah pedesaan dan daerah tertinggal. Melalui pendekatan berbasis kelompok, Mekaar tidak hanya menyalurkan pembiayaan ultra mikro, tetapi juga melakukan pendampingan rutin, pelatihan kewirausahaan, serta edukasi literasi keuangan dan disiplin usaha. Program ini mendorong perempuan berperan aktif dalam menopang ekonomi keluarga dan komunitas.
Dengan semangat #PNMuntukUMKM dan #PNMPemberdayaanUMKM, PNM juga mengembangkan Program Kampung Madani sebagai model pemberdayaan berbasis komunitas. Hingga 2025, Kampung Madani telah hadir di 20 titik di berbagai daerah dan memberikan manfaat kepada 4.603 warga, yang terdiri dari nasabah Mekaar, keluarga, dan masyarakat sekitar. Program ini bertujuan membangun ekosistem usaha lokal yang saling terhubung dan berkelanjutan.
Dalam implementasinya, Kampung Madani mengedepankan pendekatan klasterisasi usaha. Sepanjang 2025, PNM telah menyelenggarakan 539 kegiatan klasterisasi yang diikuti oleh lebih dari 10.000 nasabah. Melalui klaster, pelaku UMKM dikelompokkan berdasarkan jenis usaha agar dapat berkolaborasi, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas akses pasar secara kolektif.
PNM juga memperkuat fondasi usaha nasabah melalui peningkatan literasi. Tercatat, 66 kegiatan literasi keuangan dan literasi usaha telah dilaksanakan dan menjangkau lebih dari 38.000 nasabah. Edukasi ini membekali nasabah dengan pemahaman pengelolaan keuangan, perencanaan usaha, hingga pemanfaatan peluang pasar, termasuk pasar digital.
Dampak sosial dari program pemberdayaan ini mulai terlihat nyata di tingkat akar rumput. Banyak nasabah yang sebelumnya hanya bertahan secara subsisten kini memiliki usaha yang lebih stabil dan produktif. Riset BRI Research Institute (2024) menunjukkan ketahanan keuangan nasabah Mekaar meningkat signifikan, dari hanya mampu bertahan satu hingga dua minggu menjadi satu hingga dua bulan setelah mendapatkan dukungan pembiayaan, modal intelektual, dan modal sosial dari PNM.
Pemberdayaan perempuan juga memberi efek berganda bagi kesejahteraan keluarga. Peningkatan pendapatan usaha berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan dasar, pendidikan anak, hingga kesehatan keluarga. Di tingkat komunitas, pendekatan klaster dan literasi turut mendorong solidaritas sosial serta kemandirian ekonomi lokal.
“Melalui program pemberdayaan, PNM tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga mendampingi nasabah agar mampu mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan. Kami percaya penguatan kapasitas, literasi, dan ekosistem usaha akan menciptakan dampak sosial yang jauh lebih besar dalam jangka panjang,” ujar L. Dodot Patria Ary, Sekretaris Perusahaan PNM.
Pengalaman PNM sepanjang 2025 menegaskan bahwa pengembangan usaha ultra mikro membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Pembiayaan yang diiringi pemberdayaan terbukti mampu memperkuat ketahanan usaha, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dari lapisan terbawah. Melalui berbagai program tersebut, PNM menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis dalam membangun UMKM dan pengusaha ultra mikro yang tangguh dan berkelanjutan di Indonesia.
Tidak ada kata minder bagi Yuyun George dalam menapaki dunia musik sebagai pilihan hidupnya. Kepercayaan diri yang kuat membuatnya nyaris tak menemui hambatan berarti dalam menjalani profesi sebagai musisi.
“Sejak kecil saya sudah percaya diri menekuni dunia musik sebagai jalan hidup. Orang tua pun tinggal tut wuri handayani, mendorong dari belakang,” ujar Yuyun George saat menjadi narasumber dalam Diskusi Riang Gembira #Perempuan Hebat di Industri Musik dan Film Indonesia Jilid 3 Tahun 2025, yang digelar di Aula Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Radio Dalam, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Rasa percaya diri tersebut juga membuatnya tak pernah grogi, bahkan ketika harus tampil di hadapan tokoh-tokoh penting negara. Yuyun mengaku pernah tampil di depan Presiden Amerika Serikat George Bush, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga sejumlah pejabat negara lainnya.
“Mungkin karena rasa percaya diri yang tinggi, jadi tampil di mana pun saya nggak pernah grogi,” tuturnya mantap.
Tak heran, musisi cantik asal Jawa Timur ini telah tampil di 32 negara, menunjukkan kepiawaiannya memainkan saksofon dan flute di panggung internasional.
Ia pun berbagi tips kepada generasi muda yang ingin menekuni dunia musik. Menurutnya, kepercayaan diri menjadi modal utama sebelum mengasah kemampuan secara serius.
“Buat anak muda yang ingin terjun ke bidang musik, tanamkan rasa percaya diri dulu sebagai bekal. Setelah itu, bakat harus terus diasah secara total dan sungguh-sungguh. Insya Allah semuanya akan lancar,” katanya kepada mahasiswa UHAMKA yang antusias mengikuti diskusi tersebut.
Diskusi ini didukung oleh FISIP UHAMKA bersama Kementerian Kebudayaan RI, Mata Langit, KEMALA, Nina Nugroho, Nana Mardiana Production, Project 69, Divia Production, RAL, SAE, dan Proaktif Musik.
Yuyun juga bersyukur karena mendapat dukungan penuh dari keluarga dalam menjalani karier sebagai musisi.
“Suami dan anak-anak sangat mendukung karier saya. Nggak ada protes, malah saya dibuatkan studio musik di rumah,” pungkasnya.RuL
Pada gelaran Diskusi Riang Gembira #Perempuan Hebat di Industri Musik dan Film Jilid 3 2025 yang digelar di Aula Universitas Muhammadiyah Prof Hamka UHAMKA Jakarta berlangsung seru, dihadiri tidak kurang 15O peserta dari kalangan mahasiswa, komunitas ibu-ibu di Jabodetabek dan masyarakat umum.
Diskusi dibagi dua sesi, sesi pertama menghadirkan narasumber dari kalangan film seperti Dr. Yessy Gusman, Vinessa Ines dan Titin Setiawati Dosen UHAMKA dan komisioner Lembaga Sensor Film dipandu oleh Ratna Listy.
Meski sesi 2 berlangsung agak molor karena serunya acara pertama, namun antusias peserta tidak menurun. Semua itu karena peserta menunggu paparan narasumber dari pelaku industri musik seperti Yuyun George, Seksopon dan pemain flute kelas dunia dan Tellys Corliana Dekan FISIP UHAMKA. Diskusi sepi 2 dipandu oleh Nina Nugroho, desainer busana muslim kondang.
Diskusi dibuka dengan paparan Tellys Corliana, seorang akademisi yang telah lebih dari tiga dekade mengabdi di dunia pendidikan membuka diskusi dengan suara tenang, ia bercerita tentang perjalanan panjangnya sebagai dosen sekaligus ibu. “Saya jarang di rumah pada siang hari, tapi anak-anak melihat langsung bahwa perempuan bisa berperan lebih luas,” tuturnya. Dukungan suami dan anak-anak menjadi kekuatan yang membuatnya mampu bertahan hingga hari ini.
Baginya, bekerja di luar rumah bukanlah bentuk pengabaian terhadap keluarga. Justru sebaliknya, itu adalah cara memberi contoh. Anak-anaknya tumbuh dengan pemahaman bahwa perempuan tidak dibatasi ruang domestik semata, melainkan bisa hadir sebagai pribadi yang mandiri dan berkontribusi bagi masyarakat.
“Meski banyak diluar rumah, suami dan anak-anak mendukung penuh karir saja sebagai dosen dan dekan. Anak-anak malah mengaku mendapat inspirasi dari kegiatan saya diluar rumah,” ujar Tellys tenang
Musik, Cinta Pertama yang Tak Pernah Ditinggalkan
Cerita berlanjut ke sosok lain yang tak kalah inspiratif: Yuyun George seorang musisi perempuan yang telah jatuh cinta pada musik sejak usia belia. Sejak pertama kali memegang saksofon, ia tahu bahwa musik adalah bagian dari hidupnya. Puluhan tahun berlalu, panggung demi panggung telah ia lewat dari ruang kecil hingga forum internasional.
“Musik itu separuh jiwa saya,” katanya. Ia mengaku tak pernah sekalipun berniat berhenti, bahkan ketika usia tak lagi muda. Rahasianya sederhana: konsistensi dan keluarga yang selalu mendukung. Studio kecil di rumah sebagai bentuk dukungan keluarga untuk karirnya dan menjadi saksi bagaimana passion yang dirawat dengan cinta mampu bertahan melampaui waktu.” Papar Yuyun bangga.
Yuyun mengaku sebagai musisi yang selama ini didominasi laki-laki, ia sempat diragukan. Namun alih-alih menyerah, kritik dan tekanan justru ditempatkannya sebagai bahan bakar. “Kalau mau dihargai, dan meraih impian jadilah pemusik yang profesional,” ujarnya tegas.
Ibu, Sahabat, dan Penjaga Arah
Diskusi ini juga menyingkap sisi lain yang sering luput dibicarakan: peran ibu dalam membentuk karakter dan keberanian anak. Adalah Jane Callista, seorang penyanyi muda mengungkapkan bahwa ibunya bukan hanya orang tua, tetapi sahabat, pengingat, sekaligus penuntun. “Di depan, Mama memberi contoh. Di belakang, Mama menjaga,” katanya tegas.
Jane mengakui kalau karirnya bukan kemauan orang tua, lazimnya orang tua yang sering menginginkan anaknya menjadi sesuatu tanpa memikirkan bakat sang anak.
“Mamah saya nggak tahu, kalau saya bisa menyanyi, karena saya nggak pernah menunjukan secara langsung. Saya menyanyi di kamar atau diluar rumah, makanya orang tua nggak tahu kalau saya bisa bernyanyi,” ujar Jane Callista.
Tapi kata Jane, begitu mengetahui kalau putrinya memiliki bakat dibidang tarik suara, “Mamih mendukung penuh, hingga saya bisa berada disini. Karena berkat dukungan mamih, makasih mamih. I Love you mam,” kata Janne callista sambil tersenyum
Dukungan sejak kecil itulah yang membuatnya berani melangkah ke panggung dunia dan memandang bakat sebagai amanah. Musik, baginya, bukan sekadar prestasi, melainkan cara memberi makna dan manfaat bagi orang lain.
Era Digital: Ruang Baru, Tantangan Baru
Di tengah arus digitalisasi, para pembicara sepakat bahwa teknologi telah membuka pintu lebar bagi perempuan untuk tetap berkarya. Dari pendidikan hingga industri kreatif, ruang-ruang baru lahir melalui layar gawai.
Namun, ada catatan penting yang disampaikan: dunia digital juga menyimpan risiko, terutama bagi perempuan. Kekerasan dan tekanan di media sosial masih menjadi ancaman nyata. Karena itu, literasi digital dan kepekaan nurani menjadi bekal utama agar teknologi tetap menjadi alat, bukan jebakan.
Perempuan dan Warisan Keteladanan
Diskusi ini yang dukung Kementerian Kebudayaan RI, UHAMKA, FISIP UHAMKA, Le Lagoon, Humble Baker, Project 69, Nina Nugroho, Nana Mardiana Production, Mata Langit, KEMALA, SAE, RAL, Proaktif Musik dan Divia Production bukan sekadar ruang berbagi pengalaman, tetapi juga perenungan bersama. Tentang bagaimana seorang ibu, lewat pilihan hidupnya, mewariskan nilai kepada anak-anak. Tentang bagaimana perempuan, dengan segala perannya, mampu menciptakan dampak yang jauh melampaui dirinya sendiri.
Di akhir acara, satu pesan mengemuka: setiap perempuan memiliki talenta yang dititipkan Tuhan. Ketika talenta itu dijalani dengan kesungguhan dan dibagikan dengan niat baik, ia akan tumbuh menjadi inspirasi—bagi keluarga, bagi masyarakat, dan bagi generasi yang akan datang.
Program televisi otomotif Otolook yang tayang di Loka TV (26 UHF) pada Senin, 29 Desember 2025, meliput showroom Vespa matik second Vescooter Kemang, yang berlokasi di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan. Showroom ini dipilih sebagai salah satu konten menarik dunia otomotif roda dua.
Dipandu oleh Olivia sebagai host, tim Otolook mengupas tuntas showroom Vescooter dari A sampai Z, mulai dari konsep showroom, pelayanan penjualan, hingga edukasi seputar motor Vespa matik bekas.
Vescooter dikenal sebagai showroom Vespa matik second yang menawarkan beragam pilihan unit dengan harga mulai dari Rp20 jutaan hingga ratusan juta rupiah. Tak hanya soal pilihan unit, Vescooter juga menghadirkan pengalaman berbelanja yang nyaman, aman, dan terpercaya bagi para pecinta Vespa.
Vescooter Indonesia melayani berbagai kebutuhan pelanggan, mulai dari penjualan unit, pembelian unit, tukar tambah, kustomisasi, hingga servis. Showroom pusat Vescooter berada di Depok, dengan beberapa cabang lainnya seperti di Bekasi dan Kemang, Jakarta Selatan.
“Di Vescooter Kemang kami menyediakan berbagai pilihan Vespa matik dengan kondisi prima. Kami juga melayani pembelian secara cash maupun kredit,” ujar Rizky Ramadhan dari Vescooter saat diwawancarai tim Otolook.
Dalam sesi wawancara bersama Olivia, Rizky juga membahas berbagai topik menarik, mulai dari mitos dan fakta seputar motor Vespa, hingga tips perawatan Vespa matik agar tetap awet dan nyaman digunakan sehari-hari.
“Wah, terima kasih banyak Mas Rizky sudah menjelaskan semua pertanyaan dari Otolook seputar Vespa matik di Vescooter. Nah, kalau mau tahu selengkapnya, jangan lupa tonton terus Otolook di Loka TV, 26 UHF,” tutup Olivia.
Untuk informasi lebih lanjut, Vescooter dapat diikuti melalui media sosial: 📸 Instagram: @vescooterjkt 🎵 TikTok: @vescooterjkt
JAKARTA, FORWAN — Diskusi bertajuk “Perempuan Hebat di Dunia Film dan Musik” yang digelar dalam rangka menyambut Hari Ibu, 22 Desember 2025, berlangsung hangat dan reflektif di Auditorium Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Kebayoran Baru, Jakarta. Acara yang diselenggarakan oleh FORWAN, Forum Wartawan Hiburan ini menghadirkan tiga narasumber lintas generasi: artis film senior Yessy Gusman, artis film Gen-Z Vinessa Inez, serta akademisi dan Komisioner Lembaga Sensor Film (LSF) Titin Setiawati, S.I.P., M.I.Kom., dengan moderator Ratna Listy.
Diskusi dibuka dengan pembacaan puisi sebagai penanda bahwa seni dan refleksi emosional menjadi fondasi utama perbincangan. Tema perempuan, ibu, dan film kemudian mengalir dalam berbagai perspektif—dari pengalaman lapangan, dunia akademik, hingga tantangan generasi muda.
Yessy Gusman, ikon perfilman Indonesia era 1980–1990-an, menekankan bahwa dunia film tidak semata soal tampil di depan kamera. Menurutnya, industri film membuka ruang luas bagi profesi lain seperti penulis skenario, penata artistik, hingga kru produksi. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak meremehkan peran kecil, karena banyak aktor besar memulai karier sebagai figuran.
“Disiplin, santun, profesional, tepat waktu—itu harga mati di dunia film. Datang terlambat bisa merusak suasana dan membengkakkan biaya produksi,” ujar Jessy. Ia juga berulang kali menegaskan pesan yang menjadi benang merah diskusi: “perempuan jangan mematahkan sayapnya sendiri”, karena kemandirian dan masa depan keluarga sangat ditentukan oleh keberanian perempuan menjaga potensi dirinya.
Yessy juga berbagi perjalanan hidupnya yang tidak sepenuhnya berkutat di dunia film. Selain berakting, ia menempuh pendidikan hingga ke luar negeri, aktif di bidang pendidikan anak usia dini, pemberdayaan perempuan, dan mengajar. Baginya, pendidikan—formal maupun informal—adalah fondasi kemandirian perempuan.
Sementara itu, Vinessa Inez, aktris muda yang mewakili generasi Z, membagikan pengalamannya menghadapi realitas dunia kerja perfilman yang penuh tekanan. Ia menilai profesionalisme dan kesabaran menjadi kunci bertahan di lokasi syuting, termasuk saat harus bekerja dengan orang-orang yang tidak selalu sejalan secara personal.
Dalam diskusi, Vinessa juga memaparkan perannya dalam film Dalam Sujudku yang dijadwalkan tayang awal 2026. Film tersebut mengangkat isu pernikahan jarak jauh, perselingkuhan, dan refleksi keimanan. Tokoh Aisyah yang ia perankan digambarkan sebagai sosok perempuan ideal: sabar, berpendidikan, lembut, dan kuat—“seperti malaikat tak bersayap bagi keluarganya,” ujar Vinessa.
Ia menegaskan bahwa kesabaran tidak datang tiba-tiba, melainkan hasil latihan dan pengalaman hidup. Kepada mahasiswa, Vinessa berpesan agar tidak minder memulai dari peran kecil dan terus memberikan yang terbaik, karena setiap proses akan bermuara pada kesempatan yang lebih besar.
Dalam sesi tanya jawab, Vinessa juga menyinggung isu penting terkait pelecehan terhadap perempuan, baik di ruang digital maupun fisik. Ia mengungkapkan proyek film lain berjudul Yang Terluka yang mengangkat keberanian perempuan melawan kekerasan seksual, termasuk dalam relasi rumah tangga. “Tubuh kita adalah hak kita, dan sudah ada hukum yang melindungi itu,” tegasnya.
Pandangan struktural disampaikan oleh Titin Setiawati. Ia menjelaskan bahwa film adalah cermin masyarakat. Jika isu perselingkuhan, ketimpangan gender, atau kekerasan marak di film, itu menunjukkan realitas sosial yang sedang berlangsung. Menurutnya, posisi perempuan dalam film Indonesia memang mengalami kemajuan, meski belum sepenuhnya lepas dari objektifikasi.
“Dulu perempuan sering ditempatkan sebagai warga kelas dua atau sekadar pemanis. Sekarang sudah ada perubahan—lebih banyak sutradara dan penulis skenario perempuan, serta film yang perempuan-sentris,” kata Titin, seraya menyebut karya-karya seperti “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” sebagai contoh pergeseran narasi.
Ia menegaskan bahwa tidak ada definisi tunggal tentang “ibu ideal”. Setiap perempuan memiliki konteks dan versinya sendiri. Yang terpenting, menurutnya, adalah perempuan memiliki pegangan—pendidikan, keterampilan, dan kemandirian—agar mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Menutup diskusi, Titin mendorong mahasiswa untuk aktif membuka jejaring melalui komunitas sinematografi kampus, magang di rumah produksi, lembaga perfilman, atau institusi seperti LSF dan PFN. Relasi, menurutnya, sering kali lebih menentukan daripada sekadar nilai akademik.
Diskusi ini menegaskan satu pesan kuat menjelang Hari Ibu: perempuan bukan sekadar objek cerita, melainkan subjek yang berdaya—di layar, di rumah, dan di ruang publik. (Forwan)
Musik selalu punya cara sendiri untuk membawa manusia pulang ke masa lalu. Dalam alunan nada dan lirik, tersimpan memori, peristiwa, dan rasa yang tak lekang oleh waktu. Itulah yang terasa di CHRVS by The Factory, Pasaraya Blok M, saat komunitas Kaset80-an menggelar perayaan nostalgia musik era 1980-an.
Digelar pada Sabtu malam (27/12), Kaset80-an tak hadir sebagai konser megah, melainkan sebuah pertemuan hangat—seperti pesta rumah besar yang mempertemukan generasi, kenangan, dan lagu-lagu lama yang pernah menemani masa muda.
Nama-nama legendaris seperti Sandro Tobing, Emile S. Praja, hingga Ichwan Thoha mengisi malam dengan karakter musikal khas 80-an. Penampilan Sandro Tobing menjadi salah satu momen yang paling menyedot perhatian, dengan busana penuh gaya dan energi yang seolah tak tergerus waktu.
Bagi Refida Herastuti, pendiri Kaset80-an, acara ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah upaya menjaga warisan musik. “Tahun 80-an adalah masa keemasan musik Indonesia dan dunia. Kami ingin karya dan para musisinya tetap hidup,” ujarnya.
Menariknya, kaset pita—media yang menjadi ikon acara ini—kini kembali dilirik generasi muda. Lagu-lagu lama pun dihidupkan kembali dengan aransemen baru, membuktikan bahwa musik lintas zaman selalu menemukan pendengarnya. RuL
Setelah sukses dengan berbagai karya sebelumnya, penyanyi berbakat asal Losari Cirebon, Velline Ayu kembali menghadirkan karya terbaru yang menggetarkan hati. Kali ini, ia merilis sebuah single orisinal bertajuk “Lintang Ati”. Lagu ini tidak hanya memperlihatkan kemampuannya sebagai penyanyi, tetapi juga sebagai seorang pencipta lagu yang handal.
Berbeda dengan lagu populer lainnya dengan judul yang serupa, “Lintang Ati” versi Velline Ayu adalah hasil ciptaannya sendiri di bawah naungan RAL Entertainment. Lagu ini menceritakan tentang cinta yang tak sampai, namun tetap penuh dengan perasaan yang mendalam. Meski perpisahan harus terjadi, rindu tetap bersinar terang seperti bintang di langit malam yang digambarkan dengan indah melalui judul “Lintang Ati” atau bintang hati.
“Semoga lagu ini bisa mewakili hati mereka yang sedang ikhlas merelakan, tapi rindu tetap ada Dengarkan ‘Lintang Ati’ di semua platform musik digital mulai hari ini,” ungkap Velline Ayu. “
Lagu Tersedia di Semua Platform Musik Digital “Lintang Ati” kini sudah bisa dinikmati di seluruh platform streaming musik digital favorit Anda. Jangan lewatkan lagu yang akan menyentuh hati Anda ini! Dengarkan sekarang, dan biarkan “Lintang Ati” menjadi teman perjalanan emosional Anda. RuL
Kontak Media: RAL Entertainment Putra: +6285215661199 Email: ralentertaiment20@gmail.com