Home blog Halaman 2

Andrigo Hentak Panggung Milad Ke-61 Inhil, Ribuan Penonton Larut dalam Euforia

0

Tembilahan – Malam puncak perayaan Milad Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) ke-61 berlangsung meriah dan penuh energi. Penyanyi sekaligus pencipta lagu kebanggaan Riau, Andrigo, berhasil menghipnotis ribuan masyarakat yang memadati lokasi acara dengan penampilan spektakulernya.

Sejak menginjakkan kaki di atas panggung, Andrigo langsung disambut sorak-sorai penonton. Deretan lagu hits yang dibawakannya sukses membuat lautan manusia bernyanyi dan bergoyang bersama, menciptakan suasana yang begitu semarak dan penuh kebahagiaan.

Antusiasme masyarakat semakin memuncak saat Andrigo mengajak seluruh penonton bernyanyi bersama. Ribuan suara menyatu mengiringi setiap lagu yang dibawakan, menjadikan momen tersebut sebagai salah satu penampilan paling berkesan dalam rangkaian perayaan Milad Inhil tahun ini.

Di sela penampilannya, Andrigo menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya bisa hadir menghibur masyarakat Indragiri Hilir pada hari jadi ke-61 kabupaten tersebut.

“Terima kasih kepada Bapak Bupati Herman dan seluruh masyarakat Inhil yang telah memberikan energi luar biasa malam ini. Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari perayaan Milad Inhil ke-61,” ujar Andrigo disambut tepuk tangan meriah penonton.

Keindahan malam semakin terasa ketika ribuan masyarakat menyalakan lampu ponsel secara bersamaan sambil bernyanyi mengikuti alunan lagu. Pemandangan gemerlap cahaya yang membentang di tengah kerumunan menciptakan suasana spektakuler yang menghiasi puncak perayaan Milad Inhil.

Perayaan Milad Ke-61 Inhil tidak hanya menjadi ajang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum mempererat kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam semangat membangun daerah yang lebih maju, harmonis, dan berdaya saing.

Melalui penampilan yang energik, komunikatif, dan penuh kehangatan, Andrigo kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu musisi terbaik asal Riau yang mampu menghadirkan hiburan berkualitas sekaligus menyatukan masyarakat dalam suasana penuh kegembiraan.

Mengusung tema “Milad Ke-61 Inhil, Syukuri Anugerah, Bangkitkan Marwah”, perayaan tahun ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus semangat bersama untuk terus membawa Kabupaten Indragiri Hilir menuju masa depan yang lebih gemilang.

Dari Lampung untuk Dakwah Digital: MPL Summit 2026 Buktikan Media Pesantren Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata

0

Lampung, Trenzindonesia.com | Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, media pesantren kini tidak lagi hanya menjadi sarana dokumentasi kegiatan internal. Lebih dari itu, media pesantren telah menjelma menjadi garda terdepan dalam menyebarkan nilai-nilai dakwah yang moderat, edukatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Semangat itulah yang terasa kuat dalam penyelenggaraan MPL Summit 2026 yang digelar Media Pondok Lampung (MPL) pada 10–11 Juni 2026 di Pondok Pesantren Nurul Qodiri Pusat, Lempuyang Bandar, Kecamatan Way Pengubuan, Kabupaten Lampung Tengah.

Mengusung tema “Connected in Ukhuwah, Powerful in Dakwah”, kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Harlah ke-IV Media Pondok Lampung tersebut berhasil mempertemukan pengelola media pondok pesantren dari berbagai wilayah di Provinsi Lampung dalam satu forum kolaboratif yang sarat inspirasi.

Selama dua hari pelaksanaan, para peserta mengikuti berbagai agenda mulai dari pelatihan jurnalistik, pengembangan media digital, diskusi strategis, penguatan jaringan media pesantren, hingga berbagi pengalaman dalam mengelola dakwah di era digital.

Media pesantren dituntut adaptif menghadapi perubahan zaman

Perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pesantren. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Melalui berbagai sesi pelatihan yang menghadirkan narasumber berpengalaman, peserta memperoleh wawasan baru mengenai strategi pengelolaan media yang efektif, kreatif, dan mampu menjangkau audiens yang lebih luas.

MPL Summit 2026 pun menjadi ruang belajar bersama yang memperkuat kemampuan para pegiat media pesantren agar semakin siap menghadapi dinamika dunia digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi utama pesantren.

Pesan KH Imam Suhadi: Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu

Salah satu momen yang paling berkesan dalam kegiatan ini datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qodiri Pusat, KH Imam Suhadi.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan reflektif mengenai pentingnya menjaga semangat belajar sepanjang hayat. Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak ilmu yang telah dimiliki, melainkan oleh kesediaannya untuk terus belajar.

KH Imam Suhadi mengaku turut memperoleh banyak pelajaran dari para narasumber dan peserta yang hadir dalam forum tersebut.

“Pelatihan-pelatihan yang diisi oleh para narasumber luar biasa ini memberikan banyak ilmu. Saya sendiri ikut mendengarkan dan mendapatkan tambahan wawasan dari semangat para pemateri maupun peserta yang hadir,” ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa salah satu penyebab seseorang mengalami kemunduran adalah ketika merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimiliki.

Menurutnya, sikap merasa paling tahu dan enggan membuka diri terhadap pengetahuan baru justru menjadi penghambat perkembangan diri.

“Siapa pun bisa gagal ketika merasa sudah cukup dengan apa yang dimilikinya, merasa sudah pintar, merasa ilmunya sudah lengkap. Sikap seperti itu justru menjadi tanda kegagalan,” tuturnya.

Belajar hingga akhir hayat menjadi kunci kemajuan

Lebih lanjut, KH Imam Suhadi mengingatkan bahwa tradisi menuntut ilmu merupakan bagian penting dalam ajaran Islam yang harus terus dijaga oleh setiap muslim, termasuk para ulama, kiai, maupun tokoh masyarakat.

Baginya, proses belajar tidak mengenal batas usia maupun jabatan.

“Mencari ilmu itu berlangsung sejak dalam buaian hingga masuk ke liang lahad. Karena itu, kita harus terus belajar dan terus membuka diri terhadap ilmu-ilmu baru,” pesannya.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian peserta karena relevan dengan tantangan dunia saat ini yang terus berubah dan menuntut kemampuan beradaptasi yang tinggi.

Membangun masa depan dakwah melalui kolaborasi media pesantren

MPL Summit 2026 menjadi bukti nyata bahwa media pesantren terus berkembang menjadi kekuatan baru dalam ekosistem informasi dan dakwah di Indonesia.

Tidak hanya membangun kemampuan teknis para pengelolanya, kegiatan ini juga memperkuat jaringan antar-media pesantren sehingga mampu menghadirkan konten yang berkualitas, edukatif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Melalui semangat ukhuwah Islamiyah, kolaborasi, serta budaya belajar yang berkelanjutan, Media Pondok Lampung berharap lahir semakin banyak media pesantren yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Pada akhirnya, semangat yang terbangun selama MPL Summit 2026 menjadi pengingat bahwa keberhasilan dakwah di era digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan kekuatan media. Lebih dari itu, keberhasilan dakwah lahir dari kerendahan hati untuk terus belajar, berkembang, dan saling menginspirasi demi kemaslahatan bersama.

Roy Romly Siapkan Single Anthem Filantropi, Dedikasi untuk Para Pejuang Kemanusiaan

0

Jakarta – Konselor dan pegiat sosial H. Muchamad Romly, S.Sos.I., M.E.Sy., atau yang akrab disapa Roy Romly, tengah bersiap merilis single perdananya yang mengusung tema anthem filantropi. Lagu bernuansa motivasi tersebut didedikasikan bagi para filantropis dan pegiat kemanusiaan yang mengabdikan waktu, tenaga, serta keahliannya untuk membantu sesama.

Single ini dijadwalkan meluncur pada awal Juli 2026 dan akan tersedia di berbagai platform musik digital. Dalam proses penggarapannya, Roy menggandeng musisi dan produser Ayat Kindern sebagai music director.

“InsyaAllah awal Juli nanti single perdana saya akan dirilis di seluruh platform musik digital. Lagu ini merupakan anthem penyemangat bagi para filantropi. Untuk penggarapan musik, saya mempercayakannya kepada Ayat Kindern yang sudah berpengalaman dan dikenal sebagai hits maker di industri musik,” ujar Roy kepada Bois Famous Maker usai menunaikan khutbah Jumat di salah satu masjid di Jakarta Selatan.

Pria kelahiran Jakarta, 16 Mei 1986, ini mengungkapkan bahwa ide lagu tersebut lahir dari pengalamannya berkeliling Indonesia sebagai pembicara dalam bidang healing dan konseling. Dari berbagai pertemuan dan sesi konsultasi, ia menemukan banyak sosok filantropis yang aktif berkontribusi bagi masyarakat setelah memasuki masa purnatugas.

“Banyak dari mereka yang telah sukses dan mapan dalam profesinya. Setelah pensiun, mereka memilih mendedikasikan diri untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan. Selama ini mereka juga sering berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan saya. Lagu ini saya persembahkan untuk menguatkan langkah dan semangat mereka,” ungkap alumnus Program Studi Bimbingan Konseling Islam Universitas Al Azhar Indonesia dan Magister Ekonomi Syariah Universitas Islam Az-Zahra tersebut.

Perjalanan hidup Roy yang ditempa melalui pendidikan pesantren, pengalaman berorganisasi, hingga merintis usaha secara mandiri menjadi inspirasi dalam berkarya. Semasa kuliah, ia aktif memimpin berbagai organisasi kemahasiswaan, mulai dari Ketua Senat Fakultas, Ketua Ospek Universitas, Ketua BEM Universitas, hingga Ketua Alumni.

Selain berkiprah sebagai konselor, Roy juga aktif berdakwah sebagai khatib di berbagai masjid, narasumber program MNC Muslim, pengisi majelis taklim, serta praktisi ekonomi syariah. Ia juga mengelola usaha travel haji dan umrah serta yayasan sosial-keagamaan. Pada masa pandemi COVID-19, Roy turut merintis usaha kopi bernama Buya Coffee.

“Karier saya dimulai sebagai host penerbangan haji sejak tahun 2009. Alhamdulillah saya menguasai empat bahasa. Saya memahami bagaimana rasanya memulai dari nol dan menjadi pendatang baru di sebuah bidang, termasuk ketika memasuki industri musik. Karena itu, saya ingin terus belajar dan berkarya,” tuturnya.

Roy yang merupakan suami dari Ekaristi Pratiwi dan ayah dari tiga anak tersebut berharap karya perdananya dapat memberikan inspirasi sekaligus apresiasi kepada para pejuang kemanusiaan di Indonesia.

Sementara itu, pemerhati musik Indonesia, Bois Famous Maker, menilai langkah Roy sebagai sebuah terobosan yang unik dan segar.

“Belum banyak, bahkan bisa jadi belum ada, seorang konselor yang merilis lagu bertema anthem filantropi dengan sasaran pendengar dari kalangan usia purnatugas. Ini merupakan warna baru yang menarik bagi industri musik Indonesia,” ujarnya.

PNM dan KPPPA Hadir di Bajawa, Dorong Ketahanan Keluarga dan Kesehatan Mental Anak Lewat Pemberdayaan Perempuan

0

Jakarta, Trenzindonesia.com | Meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja mendorong berbagai pihak untuk memperkuat peran keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam proses tumbuh kembang anak. Menjawab tantangan tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia menghadirkan program pemberdayaan keluarga dan perempuan di Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada penguatan ekonomi keluarga, tetapi juga menempatkan kesehatan mental anak sebagai isu penting yang perlu mendapat perhatian bersama.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa sepanjang periode 2023 hingga 2025 tercatat 116 kasus pengakhiran hidup pada anak usia 10 hingga 18 tahun. Kasus terbanyak terjadi pada kelompok usia 13 hingga 17 tahun, sebuah fakta yang menjadi alarm bagi orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk semakin memperhatikan kondisi psikologis anak-anak dan remaja.

Di tengah masa transisi penting, seperti perpindahan dari jenjang SD ke SMP maupun SMP ke SMA, anak-anak membutuhkan dukungan emosional yang kuat. Kehadiran orang tua, pola asuh yang hangat, serta lingkungan yang aman dari perundungan menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental mereka.

Edukasi pengasuhan hingga layanan kesehatan gratis

Melalui kegiatan yang digelar di Bajawa, PNM dan KPPPA menghadirkan ruang edukasi bagi keluarga, khususnya para ibu, untuk memahami lebih dalam pentingnya kesehatan mental anak serta cara mendampingi mereka menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Program tersebut dikemas melalui berbagai kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, mulai dari edukasi pengasuhan anak, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga aktivitas belajar informal yang melibatkan anak-anak.

Dengan pendekatan yang lebih dekat kepada keluarga, manfaat program diharapkan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara orang tua dan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Perempuan berdaya, keluarga lebih kuat

Selain memberikan edukasi sosial, PNM juga mendorong peningkatan kemandirian ekonomi perempuan prasejahtera melalui pengembangan klaster usaha berbasis potensi lokal.

Di Kabupaten Ngada, komoditas buah pala dipilih sebagai salah satu sektor unggulan yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Melalui pendampingan usaha, akses pembiayaan, serta pelatihan kewirausahaan, perempuan setempat didorong untuk memperkuat kapasitas usaha ultra mikro yang mereka jalankan.

Langkah tersebut diyakini mampu menciptakan dampak berkelanjutan, tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat secara keseluruhan.

PNM: Ibu yang berdaya menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak

Direktur Utama PNM, Kindaris, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar peningkatan ekonomi keluarga.

Menurutnya, ketika seorang ibu memiliki akses terhadap pengetahuan, dukungan sosial, dan peluang usaha, maka ia akan memiliki kapasitas yang lebih baik dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

“PNM percaya, perempuan yang berdaya dapat membawa perubahan baik di rumah maupun lingkungan sekitarnya. Melalui kolaborasi ini, kami ingin mendukung para ibu agar semakin mandiri, sekaligus lebih memahami pentingnya pola asuh yang penuh perhatian. Kesehatan mental anak adalah tanggung jawab bersama, dan setiap anak berhak tumbuh dalam ruang yang aman, sehat, dan penuh empati,” ujar Kindaris.

Melanjutkan gerakan pemberdayaan yang berkelanjutan

Program di Bajawa merupakan kelanjutan dari inisiatif pemberdayaan yang telah dijalankan sebelumnya melalui kampanye #CariTauLangkahBaru. Melalui semangat #PNMuntukUMKM dan #PNMPemberdayaanUMKM, PNM terus memperluas dampak sosialnya dengan membina nasabah unggulan agar mampu berkembang lebih jauh dan menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi keluarga maupun komunitasnya.

Kolaborasi antara PNM dan KPPPA ini menjadi contoh bagaimana penguatan ekonomi perempuan dapat berjalan beriringan dengan upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi anak-anak. Sebab, keluarga yang kuat tidak hanya dibangun dari sisi finansial, tetapi juga dari kualitas pengasuhan, perhatian, dan kepedulian terhadap kesehatan mental generasi penerus bangsa.

Dari Pelatihan Manajemen Lembaga Kesejahteraan Sosial BBPPKS Bandung : “Mendedikasikan Diri Tanpa Upah Adalah Sebuah Kemewahan yang Tak Mudah Diwujudkan”

0

BEKASI – Menjadi relawan kemanusiaan bukan sekadar soal niat baik. Dibutuhkan waktu, tenaga, stabilitas finansial, serta kekuatan emosional untuk bisa terus hadir membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Bandung Kementerian Sosial RI, Iyan Kusmadiana, pada penutupan Pelatihan Manajemen Lembaga Kesejahteraan Sosial (MLKS) yang digelar di Kota Bekasi, Kamis (11/6/2026).

“Menjadi relawan membutuhkan perpaduan antara waktu luang, stabilitas finansial, dan energi emosional. Bagi sebagian orang yang sibuk bekerja untuk kepentingan pribadi, mendedikasikan waktu tanpa upah adalah sebuah kemewahan yang tak mudah diwujudkan,” ujar Iyan.

Menurutnya, menjadi relawan kemanusiaan memerlukan panggilan jiwa serta pengorbanan yang tidak semua orang siap atau mampu berikan.

“Dedikasi mereka yang turun langsung membantu sesama, baik saat bencana, krisis kesehatan, maupun menghadapi berbagai persoalan sosial, merupakan sesuatu yang sangat berharga dan patut diapresiasi,” katanya.

LKS Garda Terdepan Kesejahteraan Sosial

Iyan menegaskan, keberadaan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam menjembatani kesenjangan sosial di masyarakat.

LKS berperan membantu pemenuhan kebutuhan dasar serta melindungi hak-hak kelompok rentan seperti fakir miskin, penyandang disabilitas, dan lanjut usia yang terkadang belum sepenuhnya terjangkau oleh program pemerintah.

Saat ini terdapat ribuan lembaga sosial dan kemanusiaan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Namun jumlah tersebut dinilai masih sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 288 juta jiwa.

“Karena itu keberadaan dan penguatan LKS menjadi sangat penting dalam mendukung upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Pekerja Sosial Diproyeksikan Setara Pentingnya dengan Dokter dan Guru

Lebih lanjut, Iyan memprediksi profesi pekerja sosial akan semakin dibutuhkan di masa depan. Perannya dinilai sama pentingnya dengan profesi dokter maupun guru.

“Kalau dokter berperan menyembuhkan fisik dan guru mengembangkan intelektual, maka pekerja sosial berperan menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan sosial masyarakat,” katanya.

Menurutnya, meningkatnya tekanan hidup dan persoalan sosial di era modern akan membuat kebutuhan terhadap pekerja sosial semakin besar.

Di Indonesia, profesi pekerja sosial kini semakin diakui secara formal melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial. Profesi ini memiliki jenjang karier yang jelas, mulai dari pendamping program perlindungan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), pekerja sosial medis di rumah sakit, hingga jabatan fungsional di instansi pemerintah.

Mencetak LKS yang Profesional dan Akuntabel

Pelatihan Manajemen Lembaga Kesejahteraan Sosial (MLKS) diselenggarakan oleh BBPPKS Bandung Kementerian Sosial RI bekerja sama dengan Dinas Sosial Kota Bekasi. Kegiatan berlangsung selama empat hari, mulai 8 hingga 11 Juni 2026.

Sebanyak 35 peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat, pekerja sosial, dan pengelola lembaga sosial kemasyarakatan di Kota Bekasi mengikuti pelatihan tersebut.

Berbagai materi diberikan kepada peserta, di antaranya manajemen organisasi kesejahteraan sosial, manajemen kasus, manajemen mutu, pembangunan tim yang efektif, kemitraan organisasi pelayanan sosial, advokasi sosial, pemasaran sosial, supervisi pelayanan sosial, penggalangan dana, hingga pengelolaan keuangan lembaga.

Pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain DR. Endah Triati, MSW (Ahli Utama BBPPKS Bandung), Nandang Sofyan, M.Pd (Ahli Muda BBPPKS Bandung), serta Anggraeni N. Prastiwi, pekerja sosial sekaligus Ketua Yayasan Rumah Piatu Muslimin Jakarta.

DR. Endah Triati yang juga bertindak sebagai penanggung jawab program menjelaskan bahwa pelatihan MLKS bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola LKS agar mampu mengelola lembaga secara profesional, transparan, dan berkelanjutan.

“Kami ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap para pengelola lembaga agar mampu menjalankan organisasi secara lebih profesional, inovatif, dan terarah,” ujarnya.

Dinsos Kota Bekasi Dorong Penguatan Kapasitas LKS

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Bekasi, Robet TP Siagian, menyampaikan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan sosial melalui penguatan kapasitas kelembagaan LKS.

Menurutnya, LKS merupakan mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melindungi kelompok rentan.

“Melalui pelatihan ini kami ingin memastikan lembaga-lembaga sosial mampu memberikan dampak nyata dalam pelayanan kepada masyarakat,” kata Robet.

Ia menambahkan, pelatihan MLKS menjadi langkah awal untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia kesejahteraan sosial sekaligus memperkuat tata kelola lembaga agar semakin akuntabel.

Membangun Solidaritas, Memastikan Tidak Ada yang Berjuang Sendirian

Selain meningkatkan kompetensi teknis, para peserta berharap pelatihan ini juga mampu memperkuat solidaritas dan kolaborasi antarpekerja sosial dalam menghadapi berbagai persoalan kesejahteraan masyarakat.

Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito, yang didapuk sebagai Koordinator Peserta MLKS 2026, menegaskan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan misi kemanusiaan.

“Pelatihan ini bukan hanya memperkuat kapasitas SDM, tetapi juga mempererat sinergi dan membangun fondasi moral yang saling menguatkan. Kebersamaan ini menjadi ruang yang memastikan tidak ada yang berjuang sendirian,” ujarnya.

Rangkaian Pelatihan Manajemen Lembaga Kesejahteraan Sosial (MLKS) ditutup dengan kegiatan observasi lapangan ke Panti Asuhan Yayasan Al-Ikhlas Kayuringin, Kota Bekasi, sebagai bagian dari pembelajaran praktik pelayanan sosial di lapangan.

Senyum Anak-Anak Tambun Selatan Mengembang, 100 Nasi Boks Program Jumat Berkah Wartawan Ludes Dibagikan

0

Puluhan anak-anak di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, tak mampu menyembunyikan kebahagiaan saat menerima nasi boks dan air mineral dari Program Jumat Berkah Wartawan (PJBW) pekan ke-79, Jumat (12/6/2026). Senyum lebar dan wajah penuh antusias mewarnai kegiatan sosial yang berlangsung hangat dan penuh kebersamaan tersebut.

Sejak pagi hari, anak-anak bersama sejumlah warga telah berkumpul dan mengantre dengan tertib menunggu pembagian bantuan. Kehadiran tim relawan yang membawa paket makanan sederhana itu langsung menciptakan suasana penuh keceriaan di tengah masyarakat.

Tim PJBW yang dipimpin Agus Santosa selaku penanggung jawab program tiba di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB. Kegiatan tersebut turut didampingi tokoh masyarakat sekaligus wartawan senior INFOBEKASI.CO.ID, H. Saban Jr.

Tak lama setelah pembagian dimulai, puluhan anak langsung mendekati lokasi. Wajah-wajah ceria tampak menghiasi barisan penerima manfaat saat satu per satu menerima nasi boks lengkap dengan air mineral.

Antusiasme Anak-Anak Warnai Kegiatan Berbagi

Kebahagiaan anak-anak terlihat dari berbagai ekspresi spontan yang mereka tunjukkan. Beberapa di antaranya, seperti Anto, Badri, Ichsan, dan Tono yang masih duduk di bangku SD hingga SMP, tampak menikmati momen tersebut.

Salah satu komentar polos dari Tono bahkan mengundang tawa dan senyum para relawan.

“Wah, lebih enak dari program MBG, nih! Ada lauk ayam, sayur kacang, sambal, dan kerupuknya,” ujarnya dengan penuh semangat.

Sebanyak lebih dari 60 nasi boks dan dua dus air mineral yang dibagikan di Tambun Selatan habis dalam waktu sekitar 30 menit. Selain anak-anak, bantuan juga diterima oleh para ibu yang membawa anak serta sejumlah warga lanjut usia.

Menurut H. Saban Jr, informasi mengenai kegiatan berbagi tersebut telah disampaikan kepada warga sehari sebelumnya sehingga masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk hadir.

“Kami berharap ke depan jumlah nasi boks yang dibagikan bisa lebih banyak lagi agar semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya,” katanya.

Menyapa Warga dari Babelan Hingga Kota Bekasi

Sebelum tiba di Tambun Selatan, Tim PJBW terlebih dahulu menyambangi sejumlah titik di Kecamatan Babelan dan wilayah Kabupaten Bekasi. Paket nasi boks dibagikan kepada pedagang kecil, penjahit di pasar tradisional, hingga pengamen badut yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan harian.

Sekitar 20 paket nasi boks dan air mineral berhasil disalurkan kepada para penerima manfaat di lokasi tersebut.

Menjelang salat Jumat, perjalanan sosial berlanjut ke sejumlah ruas jalan di Kota Bekasi. Di sana, relawan kembali membagikan bantuan kepada pemulung, tukang becak, dan warga yang masuk kategori Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

Respons masyarakat sangat positif. Banyak penerima manfaat yang menyambut bantuan tersebut dengan rasa syukur dan ucapan terima kasih.

Roadshow Sosial Lima Jam, Hadirkan Kebahagiaan di Berbagai Sudut Kota

Usai salat Jumat, kegiatan berbagi masih terus berlanjut. Tim PJBW menyasar sejumlah karyawati dan petugas keamanan di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Bekasi sebelum menutup rangkaian kegiatan di Perumahan Taman Kebalen.

Dalam roadshow sosial yang berlangsung sekitar lima jam itu, sebanyak 100 nasi boks dan lima dus air mineral berhasil didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Agus Santosa mengatakan, konsep “jemput bola” menjadi ciri khas Program Jumat Berkah Wartawan. Para relawan tidak menunggu penerima datang, tetapi mendatangi langsung lokasi-lokasi yang dinilai membutuhkan bantuan.

“Program Jumat Berkah Wartawan selalu mengedepankan konsep jemput bola agar bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan. Hingga saat ini kegiatan telah menjangkau berbagai wilayah, mulai dari Cileungsi, Depok, Ciledug, Kranggan, Babelan, Tambun hingga Cikarang,” ujarnya.

Memasuki pekan ke-79, konsistensi Program Jumat Berkah Wartawan membuktikan bahwa aksi sosial sederhana dapat menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Bukan hanya membantu mengisi perut, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan, kepedulian, dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.

BPJS Ketenagakerjaan dan Kemendagri Kawal Percepatan UCJ 2026 di Sumut

0

MEDAN ,Trenzindonesia.com – BPJS Ketenagakerjaan bersama dengan Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri menyelenggarakan Asistensi dan Monitoring serta Evaluasi Pelaksanaan Program Percepatan Capaian Universal Coverage Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (UCJ) Tahun 2026 untuk Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Sumatera Utara di Grand Mercure Maha Cipta Medan Angkasa Hotel, Medan, berapa waktu lalu.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi capaian program jaminan sosial ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Utara terhadap target yang sudah direncanakan di Tahun 2026.

Kegiatan dilaksanakan secara hybrid yang dihadiri oleh Asisten Deputi Kepesertaan PMI dan Jasa Konstruksi BPJS Ketenagakerjaan, Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah IV, Wakil Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Kasubdit Ketenagakerjaan dan Transmigrasi beserta tim serta perwakilan dari Sekretariat Daerah, Bappeda, BPKAD dan Dinas Tenaga Kerja provinsi dan kabupaten/kota se-Provinsi Sumatera Utara.

Dalam rilis yang diterima redaksi, Jum’at (12/6/2026), Wakil Kepala Kanwil Sumbagut menyampaikan bahwa pada 2025 telah disalurkan atau dibayarkan manfaat senilai 3,4 triliun untuk 343.963 peserta (ahli waris) kepada pekerja di Provinsi Sumatera. Kemudian hingga 31 Mei 2026, telah disalurkan atau dibayarkan manfaat senilai 1,5 triliun pada 168.606 peserta (ahli waris). Pekerja yang sudah terlindungi, baik formal maupun informal sejumlah 2.315.214 pekerja atau baru mencapai 32.34%, masih terdapat 4.843.809 pekerja atau 67.66% yang belum terlindungi, yang mana sektor informal (bukan penerima upah) masih terdapat 3.510.108 pekerja atau 83,61% belum terlindungi.

Hal ini menunjukan Perlindungan Pekerja sektor informal di Sumut, khususnya Pekerja Rentan belum optimal, dan berpotensi penambahan masyarakat miskin ekstrem di Provinsi Sumatera Utara.

Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah IV Ditjen Bina Bangda Kemendagri, Paudah menegaskan bahwa program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan merupakan amanat konstitusi. “Nilai manfaat yang diterima dari Program Jamsostek diharapkan dapat mencegah masyarakat pekerja dan keluarganya jatuh menjadi keluarga miskin baru atau bahkan termasuk ke dalam kategori miskin ekstrem ketika mereka mengalami guncangan ekonomi akibat kecelakaan kerja ataupun krisis ekonomi,” jelas Paudah.

Paudah menambahkan manfaat perlindungan dari Program Jamsostek tersebut diharapkan dapat memberikan rasa aman kepada pekerja sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatkan motivasi maupun produktivitas kerja, mengingat risiko sosial ekonomi itu bisa terjadi kapan saja, di mana saja dan terhadap siapa saja.Data BPJS Ketenagakerjaan per 28 Mei 2026 mengungkap capaian UCJ Provinsi Sumatera Utara baru 32,15% dari target pada 2026 sebesar 49,25%.

Kota Sibolga menjadi daerah dengan capaian UCJ tertinggi di Provinsi Sumatera Utara sebesar 67,48%. Kemudian Kabupaten Mandailing Natal dengan capaian UCJ terendah yaitu sebesar 15,36% dan Kabupaten Nias Barat menjadi satu-satunya daerah yang mencapai target UCJ di Provinsi Sumatera Utara.Pada kegiatan tersebut, Paudah secara simbolis menyerahkan kepada ahli waris tenaga kerja berupa Jaminan Kematian sebesar 238 juta rupiah dan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan pembayaran klaim seluruh program BPJS Ketenagakerjaan di Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2025 hingga Mei 2026 kepada Kepala Bidang Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumatera Utara dengan nilai total sebesar 1,5 triliun.

Melalui kegiatan ini, Paudah berharap dapat mendorong percepatan capaian UCJ di Tahun 2026 guna mendukung suksesnya Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan serta pengalokasian anggaran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan sehingga seluruh tenaga kerja khususnya pekerja rentan dapat terlindungi.

(Kelana peterson)

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko

0

Singgih Januratmoko Dukung Aturan Tegas dan Blokir Konten LGBT di Media Sosial


Jakarta , Trenzindonesia.com – Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, memberikan respons positif dan dukungan penuh terhadap desakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang meminta pemerintah dan DPR segera merumuskan regulasi tegas untuk menjerat pelaku dan pengkampanye Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Indonesia.

Menurut Singgih, praktek mengampanyekan prilaku homoseksual atau LGBT dapat dijerat hukuman pidana jika perbuatan tersebut melibatkan unsur pencabulan, kekerasan, korban di bawah umur, dilakukan di depan umum, atau dipublikasikan sebagai pornografi. Pasal KUHP yang baru (Pasal 414 dan 416) sangat jelas mengatur hukuman mengenai LGBT.

“Namun kami juga mendukung langkah MUI mengenai usulan UU untuk menjerat pelaku dan pengkampanye LGBT, karena sejalan dengan komitmen Komisi VIII DPR RI dalam menjaga moral bangsa dan melindungi masyarakat, dari nilai-nilai yang bertentangan dengan norma agama serta Pancasila,” tegas Singgih.

Menurutnya, Komisi VIII DPR RI sangat mengapresiasi dan mendukung penuh sikap tegas dari MUI. Indonesia adalah negara yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, “Oleh karena itu, segala bentuk perilaku maupun kampanye yang merusak tatanan moral dan agama, seperti LGBT, memang harus disikapi dengan regulasi yang kuat dan berkepastian hukum,” ujar Singgih dalam keterangan tertulisnya.

Menanggapi fenomena pelaku dan pengkampanye LGBT yang kini semakin berani menunjukkan eksistensinya secara terbuka di media sosial, Singgih menyatakan keprihatinan yang mendalam. Ia menilai fenomena ini sebagai ancaman serius bagi masa depan generasi muda, “Media sosial saat ini menjadi ruang yang sangat mudah diakses oleh anak-anak dan remaja. Jika konten kampanye LGBT dibiarkan bebas, hal ini berpotensi menormalisasi perilaku menyimpang tersebut,” paparnya.

Komisi VIII mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) serta aparat penegak hukum untuk bersikap lebih proaktif dan agresif dalam memblokir akun-akun maupun konten yang bermuatan kampanye LGBT, “Media sosial tidak boleh menjadi panggung untuk mempromosikan gaya hidup yang menyimpang dari kodrat dan konstitusi kita. Kita tidak bisa tinggal diam melihat generasi muda terpapar infiltrasi budaya yang merusak ini setiap hari,” tegas Singgih.

Komisi VIII mengimbau para orang tua, lembaga pendidikan, dan tokoh agama untuk memperkuat benteng moral anak-anak melalui penanaman nilai-nilai agama yang kuat sejak dini. Keluarga adalah filter utama. Sementara itu, terkait aspek legislasi, Komisi VIII siap membuka ruang diskusi mendalam bersama fraksi-fraksi lain di DPR dan pemerintah untuk mengkaji penguatan regulasi—baik melalui sinkronisasi KUHP baru maupun undang-undang sektoral lainnya—agar terdapat sanksi hukum yang jelas dan memberikan efek jera bagi para pengkampanye LGBT.

“Kami ingin memastikan bahwa ruang publik kita, baik fisik maupun digital, tetap aman, sehat, dan beradab. Komisi VIII akan terus mengawal aspirasi umat dan para ulama demi menjaga martabat serta moralitas bangsa Indonesia,” pungkas Singgih.

(Kelana peterson)

Langkah Besar STIT Darul ‘Ulum Lampung! Asesmen Lapangan Jadi Gerbang Menuju Kampus Islam Unggul 2040

0

Lampung, Trenzindonesia.com | Upaya mewujudkan perguruan tinggi Islam yang unggul dan berdaya saing nasional semakin nyata. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Darul ‘Ulum Lampung resmi menjalani Visitasi Asesmen Lapangan Pendirian Perguruan Tinggi oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia, sebagai tahapan krusial dalam proses verifikasi pendirian institusi pendidikan tinggi baru.

Asesmen Lapangan Jadi Penentu Kelayakan Institusi

Kegiatan visitasi ini menjadi bagian penting dalam menilai kesiapan STIT Darul ‘Ulum Lampung dari berbagai aspek, mulai dari kelembagaan, sumber daya manusia, kurikulum, sarana prasarana, tata kelola, hingga sistem penjaminan mutu.

Tim asesor yang hadir dalam kegiatan ini adalah Prof. Dr. H. Yusuf Baihaqi, Lc., M.A. dan Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag. Keduanya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan institusi dalam memenuhi standar pendirian perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agama RI.

Selain itu, turut hadir jajaran dari Diktis Kemenag RI, yaitu Dr. Asroi, M.Pd, Dr. Ahmad Mahfud Arsyad, M.Ag, dan Dinata Firmansyah yang memberikan pendampingan sekaligus penguatan terhadap proses asesmen.

Dukungan Pesantren dan Yayasan Jadi Energi Besar

Kegiatan ini menjadi momen yang telah lama dinantikan oleh keluarga besar Pondok Pesantren Darul Ulum, yang berada di bawah naungan Yayasan Raden Fatah Lampung Tengah.

Ketua yayasan, Gus Khozinatul Asror, menyampaikan bahwa kehadiran perguruan tinggi ini merupakan jawaban atas kebutuhan ratusan hingga ribuan santri yang selama ini harus melanjutkan pendidikan ke luar daerah.

Dengan jumlah santri mencapai sekitar 2.000 orang, keberadaan STIT Darul ‘Ulum Lampung diharapkan menjadi solusi strategis agar akses pendidikan tinggi Islam semakin dekat, mudah, dan terjangkau.

Visi Besar Menuju Kampus Islam Aswaja Unggul 2040

STIT Darul ‘Ulum Lampung tidak hanya fokus pada pendirian institusi, tetapi juga membawa visi jangka panjang yang terukur, yakni:

“Menjadi perguruan tinggi ilmu tarbiyah berwawasan keislaman Ahlus Sunnah wal-Jamaah (Aswaja) yang unggul dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, serta diakui secara nasional pada tahun 2040.”

Visi ini menegaskan komitmen kampus untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam Ahlus Sunnah wal-Jamaah (Aswaja) dengan sistem pendidikan modern yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Lima Misi Strategis Pengembangan Kampus

Untuk mencapai visi tersebut, STIT Darul ‘Ulum Lampung menetapkan lima misi utama:

  1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi Islam yang unggul
  2. Mengembangkan penelitian yang inovatif dan relevan
  3. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat
  4. Meningkatkan tata kelola dan kualitas sumber daya manusia
  5. Mengembangkan jejaring kerja sama strategis

Kelima misi ini menjadi fondasi dalam membangun kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.

Asesmen Bukan Sekadar Evaluasi, Tapi Penguatan Mutu

Pelaksanaan asesmen lapangan tidak hanya menjadi proses penilaian administratif, tetapi juga sarana mendapatkan masukan konstruktif dari tim asesor.

Berbagai catatan dan rekomendasi yang diberikan diharapkan mampu memperkuat sistem tata kelola, memperbaiki aspek yang masih perlu penyempurnaan, serta meningkatkan standar mutu institusi secara keseluruhan.

Optimisme Menuju Perguruan Tinggi Islam Unggul

Dengan dukungan penuh dari yayasan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta seluruh pemangku kepentingan, STIT Darul ‘Ulum Lampung menyatakan optimisme tinggi untuk memperoleh hasil terbaik dalam proses pendirian ini.

Kehadiran kampus ini diharapkan mampu melahirkan generasi pendidik, akademisi, peneliti, dan pemimpin umat yang berintegritas, berwawasan moderat, serta kompeten di bidangnya.

Visitasi asesmen lapangan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan STIT Darul ‘Ulum Lampung menuju perguruan tinggi Islam unggul. Lebih dari sekadar tahapan formal, proses ini mencerminkan keseriusan lembaga dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi Islam di masa depan, sekaligus menatap target besar menuju pengakuan nasional pada tahun 2040.

Dari Irma Darmawangsa hingga Duo Anggrek, Begini Kisah di Balik Lagu Fenomenal “Sir Gobang Gosir” Karya Endang Raes

0

Nama lagu “Sir Gobang Gosir” tentu sudah tidak asing lagi di telinga pencinta musik dangdut Indonesia. Dengan lirik yang unik, ringan, dan mudah diingat, lagu ini pernah menjadi salah satu lagu yang kerap dinyanyikan di berbagai panggung hiburan, dari acara hajatan hingga pertunjukan musik dangdut di berbagai daerah.

Di balik kepopuleran lagu tersebut, ada sosok penciptanya, Endang Raes, yang ternyata memiliki cerita menarik mengenai proses lahirnya lagu “Sir Gobang Gosir”. Banyak orang mengira frasa “Sir Gobang Gosir” memiliki arti khusus. Namun menurut Endang Raes, kalimat tersebut sebenarnya bukanlah ungkapan yang memiliki makna harfiah baku dalam bahasa Indonesia.

Lagu ini justru berawal dari sebuah pantun sederhana yang tercetus secara spontan saat dirinya berada di lokasi syuting video klip. Tanpa disangka, pantun tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah lagu dangdut yang sukses menarik perhatian masyarakat.

“Lagu ini yang pertama mempopulerkan adalah Irma Darmawangsa. Kemudian banyak penyanyi yang membawakannya di berbagai panggung. Singkat cerita, waktu itu saya sedang berada di lokasi shooting video klip. Lalu saya membuat sebuah pantun dan ternyata pantun itu sangat menarik untuk dijadikan lagu,” ujar Endang Raes melalui akun Instagram pribadinya.

Pantun yang dimaksud berbunyi:
“Sir Gobang Gosir, gula-gula Jawa, sir boleh naksir kalau abang suka.”
Dari pantun itulah Endang mulai merangkai lirik demi lirik hingga menjadi lagu utuh yang menceritakan seorang gadis yang berharap mendapatkan perhatian dan cinta dari seorang pemuda.

Lagu tersebut dibuka dengan lirik yang cukup unik dan romantis: “Namaku Melati yang terlahir dari dewa-dewi, alamatku Jalan Asmara yang menuju kolam-kolam cinta.” Menurut Endang, lirik tersebut sengaja dibuat ringan, jenaka, dan mudah diingat sehingga dapat diterima oleh berbagai kalangan pendengar.

Dipopulerkan Irma Darmawangsa pada 2012
Lagu “Sir Gobang Gosir” pertama kali dirilis dan dipopulerkan oleh pedangdut Irma Darmawangsa pada tahun 2012. Saat itu proses produksinya dilakukan oleh Endang Raes bersama Joel Bahar dari Global Management Artis.

Kehadiran lagu tersebut langsung mendapat sambutan positif dari masyarakat. Lirik yang sederhana dipadukan dengan irama dangdut yang enerjik membuat lagu ini cepat dikenal luas dan sering diputar di berbagai acara hiburan.
Popularitas lagu ini bahkan terus berlanjut setelah banyak penyanyi dangdut lain ikut membawakannya di berbagai panggung musik daerah maupun nasional.

Kembali Dirilis Bersama Duo Anggrek
Kesuksesan “Sir Gobang Gosir” tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 2013, lagu tersebut kembali dirilis oleh grup dangdut Duo Anggrek yang saat itu diperkuat oleh Devay dan Mozzanie.

Seiring perjalanan waktu, formasi Duo Anggrek mengalami perubahan. Kini grup tersebut dikenal dengan personel Devay dan Putri. Meski demikian, lagu “Sir Gobang Gosir” tetap menjadi salah satu karya yang ikut mewarnai perjalanan musik mereka.Dalam perkembangannya, terdapat pula lirik yang mengandung pesan moral kepada masyarakat, salah satunya berbunyi:

“Belilah yang asli, jangan beli bajakan.” Menurut Endang Raes, lirik tersebut sengaja dimasukkan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat agar menghargai karya para seniman dan tidak membeli produk bajakan, baik kaset, CD, maupun bentuk karya lainnya.

“Pesan moralnya sederhana, jangan membeli barang bajakan. Sama seperti cinta, pilihlah yang asli,” ungkap Endang sambil bercanda.

Sederet Lagu Hits Karya Endang Raes
Selain “Sir Gobang Gosir”, Endang Raes juga dikenal sebagai pencipta sejumlah lagu dangdut yang cukup populer di masyarakat. Salah satunya adalah single E-Masbuloh yang sempat ramai diperbincangkan karena mengangkat bahasa gaul yang sedang tren pada masanya.

Judul “E-Masbuloh” merupakan singkatan dari kalimat “Masalah Buat Loh?”, sebuah ungkapan yang kala itu sering digunakan anak muda dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial.

Tak hanya itu, Endang juga menjadi sosok di balik sejumlah lagu hits Duo Anggrek, di antaranya “Pacar Salah Sambung”, “Dari Hongkong”,”Kampret Belang” dan “Gara Gara Dia”. Lagu-lagu tersebut dikenal memiliki ciri khas berupa lirik yang ringan, dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta mudah diterima oleh penikmat musik dangdut di berbagai daerah.

Menunggu Kisah di Balik Karya-Karya Lainnya
Perjalanan kreatif Endang Raes membuktikan bahwa sebuah karya besar bisa lahir dari inspirasi yang sangat sederhana, bahkan hanya dari sebuah pantun spontan di lokasi syuting. Dari “Sir Gobang Gosir” hingga berbagai lagu populer lainnya, Endang berhasil menghadirkan warna tersendiri dalam industri musik dangdut Indonesia.

Kini, para penggemar tentu menantikan cerita-cerita menarik lainnya di balik proses penciptaan karya-karya Endang Raes yang selama ini telah menghibur masyarakat. Sebab, di balik lirik yang terdengar sederhana, sering kali tersimpan kisah unik yang menjadi inspirasi lahirnya sebuah lagu yang dikenang sepanjang masa.RuL