Trenz Edutainment || Masih terekam dalam cheap memori, ketika pertama kali beberapa teman wartawan menggagas sebuah rumah pertemuan atau ruang silaturahmi dalam bentuk forum untuk mereka saling berbagi, saling asah, asih, dan asuh sesama rekan seprofesi yang berkutat di dunia hiburan tanah air. Gagasan ini muncul dari sebuah mimpi sederhana, manakala secara kasat mata melihat dan merasakan profesi wartawan yang selalu berada dilapangan penuh dengan rintangan serta resiko atas keselamatan dirinya.
Bukan sekedar itu, wartawan yang tidak mengenal kata pensiun tapi juga tidak semuanya punya dana pensiun. Kurang mendapat proteksi atas kesehatan dan masa depan dirinya serta keluarganya. Walau tidak semuanya, namun banyak contoh bisa kita saksikan rekam jejak menutup perjalanannya kadang terserang sesak nafas dan tersengal-sengal menyiasati hidup untuk tetap berdiri dalam ketidak-pastian. Wartawan memang kelihatannya gagah dengan sang ‘pena’ senjata pamungkasnya, tapi ringkih tatkala berada dalam kesendirian.
Didasari potret realita tersebut , para kreatornya kala itu dengan tekad kuat dan ketulusan membuat sebuah forum sebagai rumah singgah para wartawan yang bermafaat untuk semuanya. Mereka memiliki pemikran yang sama, layaknya berbatang-batang lidi jika disatukan dalam sebuah ikatan akan kuat. Intensitas pertemuan pun dilakukan dari satu ke tempat lainnya, merancang dan mencari bentuk fondasi organisasi profesi yang ideal. Dan, akhirnya bendera Forum Wartawan Hiburan (Forwan) Indonesia dikibarkan pada hari Senin (21/4/2014) di Score! Cilandak Town Square – Jakarta Selatan.
Forwan Indonesia memiliki visi untuk bersama-sama menciptakan profesi kewartawanan, khususnya yang mangkal di dunia hiburan, membentuk identitas kemandirian yang kuat namun tetap dihargai oleh para mitra kerjanya. Begitu pun, misinya bukan sekedar ajang berkumpul tapi juga menjadi medium pengembangan ilmu serta mensejahterakan para anggotanya. Menjalankan roda organisasi, apalagi profesi, tidak selalu bersanding lurus dan mulus dengan harapan. Berbagai dinamika maupun kendala untuk tetap berdiri tegak, selalu menjadi warna sebuah organisasi. Begitu pun yang dialami Fowan Indonesia ditahun-tahun awal usaha melayani, memajukan dan melindungi profesi para anggotanya.
Menangani organisasi memang butuh seni tersendiri. Kalau di analogikan seperti big-band atau orkestra, seorang konduktor harus paham betul karakter masing-masing pemain dan juga instrumentnya. Menjaga setiap nada yang keluar kapan bersama-sama atau sendiri, mengatur tempo untuk tetap konstan kapan cepat maupun lambat, dan tentunya mengatur ritme untuk tetap harmoni. Jangankan Forwan Indonesia yang masih seumur jagung kala itu, sekelas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang memiliki riwayat panjang pun mengalami hal yang sama. Kita bisa lihat dan juga rasakan di PWI DKI Jakarta, khususnya Sie Film, Musik dan Hiburan seperti ada dan tiada alias mati suri.
Seiring perjalanan waktu, restrukturisasi kepenguruasan baru Forwan Indonesia pun dibentuk. Menampilkan wajah baru dengan energi baru yang siap membawa perubahan Forwan Indonesia menuju masa depan lebih baik. Dengan penuh semangat, segudang agenda disiapkan untuk dijalankan, walau ada saja yang tidak sesuai harapan. Tapi, itulah sebuah organisasi yang kadang tidak selalu bisa menyenangkan banyak orang. Untuk itu, butuh kesabaran, tekad kuat dan kerja cerdas para pemangku kepentingan. Walau harus berjalan tertatih-tatih, Forwan Indonesia harus terus menunjukan komitmennya dan mampu bertahan untuk tetap berkibar.
Kehadiran Forwan Indonesia tidak terasa sudah berusia lebih dari 3 tahun. Kalau seperti ‘balita’, sedang dalam tahap bermain-main dengan kemampuannya. Satu sisi terlihat sudah bisa mandiri, namun di sisi lain tetap butuh perhatian, arahan dan cinta. Tapi, itulah proses pendewasaan menuju lebih baik untuk bisa berdiri tegak. Di usianya yang terus merambat, Forwan Indonesia mencatat perjalanannya lewat beberapa kegiatan mulai dari sosial movement seperti memberikan santunan bagi anggota yang membutuhkan, dialog interaktif dan lainnya, atau yang baru saja usai digelar yakni “Semiloka Forwan Indonesia” dengan segudang materi di Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Gelaran “Semiloka Forwan Indonesia” selama tiga hari, sedikitnya menghadirkan 11 narasumber dalam sejumlah bahasan yang terkait berbagai persoalan, baik Film Nasional, Televisi Di Era Digital, Rancangan Undang Undang Penyiaran, Cover Version Dunia Musik Indonesia, di bahas dan didiskusikan. Sesuai kata Semiloka, yakni penggabungan metode seminar dan lokakarya, dimana orang berkumpul untuk memecahkan masalah tertentu dan mencari solusinya. Sayangnya, cakupan bahasan yang cukup menarik ini tidak dibarengi dengan kesiapan narasumber dalam materi datanya. Hanya ada beberapa yang bicara lewat data, selebihnya melempar isu sesuai tema.
Tanpa mengurangi apresiasi yang tinggi atas kinerja dan semangat rekan-rekan semuanya. Sekedar sebuah catatan ringan akhir tahun, saya coba tuliskan semata-mata sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan, karena saya pernah turut menjadi bagian kelahiran Forwan Indonesia . Ada satu ucapan menarik yang ditulis di grup whattapp Forwan Indonesia oleh Naratama, TV Program Director/Producer Voice Of America (VOA) – Indonesia Service yang bermukim di Washington DC, USA. Sebuah mimpi seorang sahabat dan juga kita semua, melihat Forwan Indonesia menjadi sebuah organisasi yang solid, mandiri, dan profesional.
Bukan cuma itu, kehadiran Forwan Indonesia mampu menjadi barometer arus informasi seni budaya dan hiburan di Indonesia yang aktual serta faktual. Forwan Indonesia menjadi inspirasi bagi hadirnya jurnalisme hiburan yang berkualitas, penuh inovasi dan dihormati oleh pemilik media, industri hiburan, para selebritis dan publik pencinta dunia hiburan. Mimpi-mimpi Kang Nara ini cukup menggelitik, terutama Forwan Indonesia beserta anggotanya mampu menjadi inspirator sekaligus trigger yang membawa perubahan dan mengembalikan marwah wartawan sebagai mitra yang sejajar, khusus bagi para pelaku dunia hiburan untuk saling menghormati.
Media dengan berbagai ragam bentuk dan karakteristiknya, telah menjelma menjadi mitra yang turut mendukung kiprah para pelaku dan produk turunan dunia hiburan. Peran media sangat strategis dalam menyebarluaskan informasi kepada publik, membentuk opini, membangun citra atau menaikan pamor, sekaligus kontrol sosial. Dan, suatu saat tidak tertutup kemungkinan Forwan Indonesia mampu berbicara setingkat LA Press Club atau Hollywood Foreign Press Association. Forwan Indonesia juga dapat membuat ajang-ajang besar seperti pemberian penghargaan film, televisi atau musik yang independen, tanpa terpengaruh kepentingan konglomerasi dibalik mainstream media.
Adagium ‘tak kenal maka tak sayang’, bukan hanya berlaku di dunia iklan yang sedang menjajakan produknya, tapi di rimba organisasi pun sama. Kuncinya; pertama adalah mengayomi, melindungi, dan menghargai buah pemikiran dan kinerja sekecil apapun anggota sebagai aset. Menumbuhkan kembangkan rasa memiliki, adalah salah satu tugas untuk menjalin kedekatan. Sudah jarang dan menyegarkan ketika wartawan hadir lebih dari sekedar enigma, didasari dengan tekad yang kuat, ketulusan dalam membuat suatu karya dan mimpi yang sederhana dalam cita bersama. Seringkali, anggota seperti ini, menyuguhkan hasrat untuk berpikir diluar dari pemikiran yang sudah ada sebelumnya, dan terbarukan.
Dalam hitungan menit dan detik, kita akan menuju tahun yang baru. Perjalanan waktu itu bukan tontonan, justru pembelajaran. Setiap pergantian tahun, Anda dan saya mungkin selalu memiliki resolusi yang positif. Tapi resolusi tanpa tindakan adalah sia-sia, mimpi tanpa perbuatan juga akan menjadi omong kosong. Berganti hari, berganti waktu, yang harusnya tetap adalah orisinalitas dan kesederhanaan. Menjadi lebih baik itu pasti, tapi menjadi manusia yang “telanjang” dan apa adanya, tanpa kepalsuan, jauh lebih penting ketimbang resolusi muluk tentang hedonis Anda.
Satu hal yang bisa jadi noktah pemikiran kita: jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitar Anda dengan penuh kesadaran. Mari kita “telanjang” dengan ke-ada-an, bukan pura-pura “berpakaian” dengan kepalsuan. Selamat mendekati titik akhir. Selamat berkenalan [lagi] dengan diri sendiri, setelah itu melebur dalam kebersamaan untuk membentangkan layar dan kibarkan bendera Forwan Indonesia mengarungi jagad hiburan yang membentangkan luas. (Edo/TrenzIndonesia) | Foto. Dok. Forwan Indonesia
