HomeNewsEdutainmentSha Ine Febriyanti Pentaskan Reinkarnasi Gayatri di Galeri Indonesia Kaya

Sha Ine Febriyanti Pentaskan Reinkarnasi Gayatri di Galeri Indonesia Kaya

Published on

Trenz Edutainment | Rangkaian sajian seni akhir pekan di bulan Oktober turut mewarnai perayaan Hutke-4 Galeri Indonesia Kaya yang jatuh pada 10 Oktober ini.

Pada Minggu (8/10) di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, tersaji pertunjukan berlakon ‘Gayatri: Reinkarnasi’ yang mempersembahkan aksi penuh penghayatan dari Sha Ine Febriyanti.

Panggung menampilkan meja kerja dimana Sha Ine Febriyanti merekam video dirinya sendiri yang sedang bercerita tentang ‘Gayatri’. Kemudian dari jauh bunyi gendering bertalu mewarnai kegelisahan. Dia menjadi ‘Gayatri’ muda, berjalan cepat dalam tempo wanita Jawa untuk memenuhi panggilan sang Ayah: ‘Kertanagara’. Sesampainya, ia berjalan membungkuk dan bersimpuh menghampiri ayahnya.

Pementasan ini mengisahkan seorang penari perempuan yang sangat mengagumi sosok ‘Gayatri Rajapatni’, salah satu istri Raden Wijaya, raja pertama Majapahit yang mengundurkan diri dari kehidupan duniawi dengan menjadi seorang pendeta Buddha. Ia meyakini bahwa Bhiksuni itu tidak pernah sepenuhnya mati. Konsep ‘kelahiran kembali’ dalam Agama Buddha, Punabbhava, membuatnya tertarik untuk menelusuri kesejarahan perempuan yang baginya memiliki pengaruh besar pada kemaharajaan Majapahit. Ia percaya siklus reinkarnasi selalu berkaitan dengan masa kehidupan sebelumnya.

Narasi dari cita-cita Gayatri yang kuat tentang persatuan Nusantara membuatnya berhadapan pada bayang-bayang sejarah itu sendiri; cita-cita Kertanegara, Raden Wijaya, Jayanagara, Palapa, Adhityawarman, Bubat dan keruntuhan Majapahit. Perempuan penari itu mencari ‘Gayatri’ melalui logika karma, dan berusaha mempersembahkan sebentuk tarian Moksha untuknya.

“Pementasan kali ini berkisah tentang Gayatri, seorang perempuan yang welas asih dan mendambakan persatuan negeri melebihi apapun. Untuk mengangkat tema sejarah keatas panggung memang hal yang rumit, apalagi kalau rentang waktu sejarah itu sudah demikian jauh dengan zaman ini. Saya berusaha menggumuli baying baying peristiwa dari sosok yang hidup 8 abad lalu melalui lontar-lontar kuno dan candi-candi yang semakin hari semakin tak terawat,” ujar Sha Ine Febriyanti.

Selama sekitar 60 menit, para penikmat seni mendengarkan kisah ‘Gayatri’ yang disutradari oleh Yustiansyah Lesmana dan piñata gerak Elly D Luthan. ‘Gayatri’ sebenarnya memiliki hak atas tahta Majapahit, namun lebih memilih meninggalkan kehidupan duniawi.

“Bagi saya Gayatri adalah sosok perempuan luar biasa yang memiliki cita-cita mempersatukan negeri dalam damai, seperti cermin Indonesia saat ini. Penampilan Sha Ine Febriyanti sebagai Gayatri berhasil menghipnotis para penikmat seni di Auditorium Galeri Indonesia Kaya. Semoga pementasan ini memberikan pengetahuan lebih dalam mengenai sosok ibu para raja Majapahit ini,” ujar Renitasari Adrian, Program Director BaktiBudayaDjarum Foundation.

Sha Ine Febriyanti merupakan seorang pekerja seni, aktris teater, film dan sutradara Indonesia. Mengawali karir sebagai model pada 1992. Pada 1999 mulai merambah dunia seni peran dan akrab dengan dunia teater saat mendapat kepercayaan memerankan ‘Miss Julie’, tahun 1999 dan 2013, ‘Opera Primadona’ tahun 2000, ‘Gandamayu’, tahun 2012. Pada tahun 2013 – 2014 berkolaborasi dengan David Bobbee sutradara asal Prancis dalam ‘Warm’ dan ‘Drop’. Pada tahun 2014 – 2015 menggarap kisah ‘Cut Nyak Dien’ kedalam teater monolog yang dipentaskan di beberapa kota termasuk Banda Aceh. Terakhir pada Juni 2017, ikut berpartisipasi mewakili Indonesia dalam Festival Teater Komedi di Gori, Georgia Russia, berperan dalam repertoar ‘Bald Soprano’.

Di bidang film, menggarap film pendek ‘KITA VS KORUPSI’ sebagai media penyuluhan anti korupsi, dan menyutradarai ‘Tuhan Pada Jam 10 Malam’. Peraih beasiswa Asian Film Academy (2012) di Busan, Korea Selatan dan nominasi pemeran wanita terbaik Festival Film Indonesia 2016, Aktris terbaik IMA 2016, Aktris terpuji FFB 2016 ini, bersama beberapa kawan volunteer, sejak tahun 2012 mendirikan RUMAH ILMU sebagai wadah kreatif bagi anak – anak di sekitar rumah untuk berbagi, belajar, dan bermain bersama mengenal seni dan budaya seperti tari, musik, teater, film, gambar, silat, dan lain – lain. Rumah Ilmu terbuka untuk siapa saja yang memiliki energi yang sama untuk berbagi ilmu.(pr/Fjr) | Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya

 

 

 

Latest articles

Saat Jurnalis Menyisih Waktu di Bekasi, Berbagi dengan Santri Penghafal Al-Quran

BEKASI,Trenzindonesia.com - Di tengah rutinitas memburu berita, sekelompok jurnalis yang tergabung dalam Program Jumat...

PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) berkolaborasi dalam program Mba Maya (Membina dan Memberdaya),untuk Ekonomi Syariah

Jakarta,Trenzindonesia.com – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) berkolaborasi dalam...

Kasus Mobil Fidusia di Pandeglang, Polda Banten Sebut Ada Dugaan Perubahan Identitas Kendaraan

Banten,Trenzindonesia.com - Terkait dugaan keterlibatan anggota Polri berpangkat Brigadir dalam penanganan kendaraan yang menjadi...

Andrigo “Pacar Selingan” Dipastikan Hadir Meriahkan Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 di Riau

Riau — Semarak perayaan budaya Melayu di Provinsi Riau dipastikan akan semakin meriah. Artis...

More like this

Pushan Geopolitik Al Azhar: Peradilan Militer yang “Keras” Jadi Pilar Disiplin Prajurit

Jakarta,Trenzindonesia.com - Peneliti Pusat Kajian Pertahanan dan Geopolitik Universitas Al Azhar Indonesia, Heri Herdiawanto,...

Dari Villa Bersejarah ke Kampus Impian: Cara Villa Merah Cetak Talenta Seni Muda

Jakarta,Trenzindomesia.com - Di sebuah bangunan bersejarah peninggalan tahun 1922 karya arsitek Belanda RLA Schoemaker,...

Lewat Seminar IPPRISIA, Menciptakan Kepribadian Profesional di Berbagai Profesi

Jakarta-Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Persona Pengembangan Kepribadian Indonesia (IPPRISIA) sukses menggelar seminar pengembangan kepribadian...