Trenz Indonesia
News & Entertainment

Lewat Program Nina Nugroho Solution. Ali Charisma: Kita Punya Kekuatan Wastra Khas Indonesia

Nina Nugroho Solution adalah acara yang ditayangkan melalui akun media sosial IG @ninanugrohostore setiap Sabtu sore, mulai pukul 16.00 – 17.00 wib. Acara ini merupakan bentuk kepedulian Nina Nugroho untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi wanita dengan multiperan.

389

Jakarta, Trenz LifeStyle I Bila ingin memenangkan persaingan di pasar global, maka industri fashion Indonesia harus menggunakan keunggulan atau kekuatan yang dimiliki. Terkait hal tersebut, National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) periode 2015 – 2023, Ali Charisma mengutarakan, kekuatan Indonesia ada pada busana muslim dan wastra khas Indonesia.

‘’Selain pasarnya yang sangat besar, hampir 300 juta warganya, pun pelaku industrinya juga bisa dibilang terbanyak di dunia, bahkan bila dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah sekalipun,’’ ungkap Ali Charisma dalam acara bincang program Nina Nugroho Solution lewat Instagram Live @ninanugrohostore yang dipandu Nina Nugroho, desainer #busanakerjamuslimah, pada episode ke 73, Sabtu (20/2) sore lalu.

Dalam episode dengan bahasan ‘Muslim Fashion di Event Nasional’, pria kelahiran Tulungagung, Jawa Timur tahun 1970 yang menceburkan diri ke dunia fesyen pada tahun 1998, Ali menceritakan, karena pelaku industri busana konvensional sudah ada di setiap negara di seluruh dunia, maka persaingan sudah sangat ketat. Bila hendak bersaing di pasar global dengan mengusung busana konvensional, maka respon yang didapat tidak akan cukup baik.

‘’Kecuali kalau produk kita memang betul-betul bagus, mungkin baru akan mendapat respon yang baik, karena memang di setiap negeri sudah ada,’’ tutur Ali Charisma yang mukin di Bali ini.

Sejatinya, ia yang pernah didapuk menjadi Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) 2015, juga President Director Indonesian Fashion Week tahun 2012 sampai 2015 ini, Ali mengungkapkan, bila ingin memenangkan persaingan di dunia, maka harus menggunakan kekuatan yang tidak dimiliki negara lain, yaitu busana muslim dan kekayaan wastra Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan wastra dengan ribuan jenis kain yang bisa dikembangkan dan ditawarkan ke dunia.

Karenanya Ali pun mencontohkan, brand terkemuka dunia, Christian Dior yang menggunakan kain tenun Endek Bali dalam produksi busananya sebagai bagian dari koleksi  musim semi dan musim panas 2021 ini. Hal tersebut terungkap melansir dari Reuter, desainer pakaian Dior, Maria Grazia Chiuri,  tatkala peragaan busana Paris Fashion Week 2020, 29 September 2020, di Jardin de Tuileries, Paris.

Dalam kesempatan itu, Ali mendorong desainer dan brand busana muslim Indonesia untuk maju ke tingkat internasional. Busana muslim dan wastra Indonesia akan menjadi pembeda desainer Indonesia dengan desainer dari negara lain, sehingga produknya akan lebih mudah terangkat ke tingkat global.

‘’PR nya adalah di kualitas yang harus sesuai dengan standar internasional. Produk-produk busana muslim juga bisa dipasarkan di negara-negara di Eropa dan Amerika. Kita tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan mereka, apakah busana kerja, main, pesta atau street wear. Kita yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan mereka, bukan mereka yang kita paksakan menggunakan gaya kita,’’ ungkap Ali Charisma yang telah melakoni ekspor karya busana sejak tahun 2004, sebut saja ke negara-negara Italia, Prancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Belanda, Yunani, Amerika serikat, Australia, Kuwait, China, dan Arab Saudi.

Beberapa hal yang harus dipikirkan, Ali, misalnya adalah kebutuhan akan jenis bahan tertentu, warna dan tentu saja kualitas yang prima.

‘’Alangkah baiknya kalau busana muslim dengan sentuhan kain tradisional itu bisa dipasarkan lebih jauh, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di pasar internasional. Itu kesempatan yang luar biasa. Tapi kita harus bisa lebih terbuka, bisa menerima budaya luar yang kemudian kita sesuaikan dengan budaya kita,’’ papar empunya IG @officialalicharisma ini.

Mencintai Produk Lokal
Dalam perbincangan dengan Nina Nugroho, yang mendesain busana Muslimah untuk professional tersebut, Ali tak lupa menyampaikan rencana penyelenggaraan MUFFEST (Muslim Fashion Festival) mulai 11 Maret hingga pertengahan Mei 2021 mendatang.

‘’Kalau melihat kondisi riil karena pandemi Covid-19  memang sebaiknya berhenti dulu, tetapi panitia tahun ini berusaha bersikap seoptimis mungkin, industri busana muslim harus terus berjalan. Kami berharap MUFFEST akan memberikan pengaruh positif tidak hanya terhadap pelaku industri tetapi juga konsumen busana muslim Indonesia,’’ tutur Ali yang baru saja menggelar virtual fashion show dengan bertitel “Sustainability & Charity Event” pada 26-28 Februari 2021.

MUFFEST tahun ini juga jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya digelar di Jakarta. Tahun ini akan digelar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.

‘’Target kita ingin recovering fashion brand dari pandemic covid-19. Dengan event ini diharap menjadi pemicu semangat dan kemauan orang untuk mencintai produk lokal, karena sebenarnya masyarakat masih belanja melalui online. Nah disinilah letak kelemahan Sebagian besar brand busana muslim tanah air. Mereka belum terbiasa berjualan secara online,’’ ungkap Ali.

Melalui event MUFFEST, IFC berharap masyarakat akan makin mencintai produk lokal. Sementara para pelaku industri juga mulai membiasakan diri dengan berjualan secara online. Dengan begitu, pasar yang sejak pandemi bergeser ke online ini juga dapat dinikmati oleh local brand, sebab sementara ini pasar online masih didominasi oleh brand luar yang sudah siap memasarkan produksnya secara online.

Leave A Reply

Your email address will not be published.