Trenz Indonesia
News & Entertainment

Bagaimana Keadaan Seni Di Masa Pandemi Covid-19?

Zahra Aurelia Alvitri / Mahasiswi LPSR

69

Jakarta, Trenz Corner | Indonesia tengah menghadapi pandemi covid-19 yang tengah berlangsung dari bulan Maret 2020 hingga hari ini.

Pandemi Merusak Berbagai Sektor

Pandemi ini membuat banyak sektor menjadi terpuruk. Sektor kesenian adalah salah satu sektor yang turut terdampak oleh pandemi. Tidak terhitung jumlahnya acara yang berkaitan dengan kesenian seperti konser, teater, pagelaran, hingga pameran kesenian dibatalkan. Tak hanya itu, pemutaran film di bioskop pun turut terkena imbasnya. Akibatnya, banyak karya film yang terpaksa melakukan penundaan perilisan karena dapat dipastikan akan mengalami kerugian besar dikarenakan larangan pembukaan bioskop hampir di seluruh wilayah di Indonesia.

Hema Putri Kusuma Wardani

Hal ini tentunya menyebabkan banyak dari seniman mengalami kerugian yang besar karena menggantungkan hidup di dunia seni. Salah seorang penggiat seni, Hema Putri Kusuma Wardani, mengungkapkan kekecewaannya terhadap ketidakpastian kondisi saat ini. “Perbedaannya sebelum pandemi dan ketika pandemi sangat signifikan. Biasanya saya kuliah tatap muka menjadi kuliah online, biasanya ada pelatihan seni tari secara tatap muka sekarang sangat sedikit pelatihan, sekalinya ada itupun melalui daring. Biasanya saya sudah menerima beberapa job atau py selama sebulan sedangkan selama pandemi tidak ada satupun job atau py”, Ucap Hema.

Pendapat dari Penggiat Seni

Hal yang serupa juga dituturkan oleh penggiat seni yang berprofesi sebagai penari. “Sebagai penari saya sangat merasakan betul dampak dari covid ini, banyak sekali beberapa event berkesenian yang di cancel untuk mencegah penularan covid. Apalagi orang pertama yg terpapar covid di Indonesia ini adalah seniman juga, jadi orang-orang banyak yang memandang seniman buruk”, ucap salah seorang seniman seni tari bernama Laras.

Upaya Seniman Merespon Kondisi Pandemi

Meskipun begitu, pandemi tidak boleh membuat para seniman buntu ide dan kreatifitas. Para penggiat seni mulai mengeluarkan berbagai inovasi agar sektor seni tidak mati di masa pandemi. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah menggelar pertunjukkan secara daring yang disiarkan melalui televisi dan live streaming. “Walaupun pandemi kami gabisa berkumpul, tapi kami tetap bisa berkarya dari rumah masing-masing. Kami juga sering membuat acara pertunjukan virtual”, ucap Laras. Namun, pertunjukkan tersebut tentunya hanya melibatkan sebagian kecil pihak, sehingga memunculkan masalah baru, bagaimana dengan kru pertunjukkan yang harus tetap berada di satu tempat? Dan bagaimana dengan nasib para pekerja seni seperti kru panggung, penata cahaya, dan preparator pameran yang sulit memindahkan pekerjaannya ke internet akibat kewajiban menjaga jarak sosial?

Kebijakan Pemerintah terhadap Sektor Seni

Merespon hal tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah mengeluarkan protokol pada 2 Juli 2020 mengenai pencegahan dan pengendalian Covid-19 di bidang kebudayaan dan ekonomi kreatif. Protokol setebal 49 halaman ini berisi sejumlah aturan komprehensif mengenai penyelenggaraan layanan museum, taman budaya, sanggar, bioskop, cagar budaya, pertunjukan seni hingga produksi audiovisual. Melalui protokol tersebut, seluruh elemen pendukung pada pertunjukan seni dapat bekerja untuk mendukung pertunjukan, sehingga sektor seni dapat bangkit kembali di masa pandemi.

Bentuk Kebijakan dari Negara Lain

Kebijakan pemerintah untuk mendukung bangkitnya sektor seni juga dilakukan oleh pemerintah negara lain. Dilansir dari koalisiseni.or.id, Pemerintah dan swasta di Amerika Serikat bahu-membahu mendukung seniman dan organisasi seni mengatasi seretnya pemasukan akibat COVID-19. Pemerintah Negara Bagian Seattle menyiapkan dana sebesar US$1,1 juta, terdiri dari US$100 ribu sebagai bantuan langsung untuk seniman dan pekerja seni yang kehilangan pendapatan, serta US$1 juta bagi keberlangsungan organisasi seni selama krisis. Pemerintah Boston bakal memberikan dana bantuan bagi seniman yang kehilangan pendapatan sebesar US$500-1.000 bagi setiap pemohon. The Recording Academy, penyelenggara Grammy Awards, mengumpulkan US$2 juta untuk membantu musisi terdampak. Netflix mengalokasikan US$100 juta untuk membantu pekerja seni serta US$15 juta untuk lembaga nirlaba penyalur dana bantuan bagi aktor dan kru film di negara tersebut.

Tak hanya itu, di negara tetangga, pemerintah Singapura menyiapkan Sin$1,6 juta untuk dua program bantuan bagi kegiatan seniman dan organisasi seni. Program pertama mendanai peningkatan kapasitas bagi seniman dan organisasi seni. Dikelola oleh National Arts Council, program ini menyalurkan hingga Sin$600 untuk seniman individual, Sin$3.000 bagi organisasi seni kecil dan menengah, serta Sin$10.000 kepada organisasi seni besar. Program kedua adalah subsidi 30 persen untuk biaya sewa ruang pertunjukan dan ruang pameran yang dimiliki Pemerintah Singapura, seperti The Esplanade, National Gallery Singapore, The Arts House, serta Victoria Theatre and Concert Hall.

Harapan Seniman

Kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah negara-negara tetangga dapat menjadi acuan bagi pemerintah Indonesia untuk lebih mendukung sektor seni di masa pandemi ini. Sinergi antara pemerintah dan para seniman diharapkan mampu mengangkat perekonomian negara melalui sektor seni. Sebagai salah satu dari sekian banyak seniman yang terdampak oleh pandemi, Hema berharap semoga cepat selesai pandemi ini, semakin menurun angka positif dan angka kematian akibat covid agar cepat terlaksananya kegiatan kegiatan normal seperti berkesenian. Dan berharap masyarakat semakin sadar akan bahaya covid dengan mengikuti protokol kesehatan. (Zahra Aurelia Alvitri / Mahasiswi LPSR) | Foto: Google.co.id

Leave A Reply

Your email address will not be published.