Trenz Indonesia
News & Entertainment

Saat ke Borobudur, Aku Kehilangan Candi, Kudapati Orkestra Semesta Janji

Endro Ist

301

Kembang kencur kacaryan hagung cinatur

Sedhet kang sarira, gandhes ing wiraga

Kewes yeng ngandika, hangengayut jiwa

 

Jakarta, Trenz Corner |Lamat-lamat terdengar di earphone Hape-ku,  alunan tembang “Ketawang Puspowarno ” syair pujaan Raja Surokarto Mangkunegara IV yang kehilangan Istri tercinta Raden Ayu Semi, lalu diaransemen Ki Tjokrokrowarsito, direkam  pakar musik dunia asal AS, Prof. Robert E. Brown, kini di Gianyar, Bali. Saat dia  memimpin misi Voyager, bumi menyapa angkasa, tembang cinta sejati ini direkam dalam cakram padat dari logam Emas murni, diposisikan sebagai lagu pertama didepan karya Bethoven dan empu musik dunia lain, lalu dikirim.ke angkasa luas,  mencari kehidupan lain semacam di bumi.

Tembang ‘Ketawang Puspawarna’ yang berarti Warna warni ke angkasa itu akhirnya benar -benar mengorbit keluar angkasa. Menyapa kehidupan lain ke semesta lain.

Luar biasa nenek moyang kita.

Dibawah bayang-bayang bayang Candi Borobudur, ada dua spanduk besar,  bertuliskan, “Wonderful Indonesia, Sound of Borobudur”, “Borobudur pusat musik dunia !”, wow pasti ada event besar dunia sebentar lagi di sini pikirku. Sungguh kesempatan untuk mendapat foto bagus, menjelang senja, batinku.

Saat memasuki pelataran Candi Borobudur yang megah. Aku tidak masuk dari gerbang depan. Justru dari gerbang belakang yang sepi.

Entah kenapa, aku selalu diarahkan masuk wilayah yang aura gaibnya kuat, justru lewat pintu belakang. Entah itu oleh juru kunci, penduduk setempat, maupun GPS –Global Positioning System– aplikasi Maps,  seperti saat ini.

Merinding juga, bulu-bulu kudukku, agak berbeda rasanya suasana di Candi besar ini. Aku masih duduk ngopi gayo dari termos, di jok motor Kawasaki EN 400 cc kesayanganku.  Motor dua knalpot yang posturnya Mirip Harley Davidson klasik. Dari jauh lengkap dengan perberkalan tenda, alat masak di dua tas terpal hitam, yang tersampir d kiri kanan jok belakang.

Aku parkir motor dibawah pohon gayam besar tua. Saat itu suasana amat sepi, tak ada penduduk, atau hewan sama sekali. Tidak juga kambing, bahkan seekor ayam pun. Sungguh sore yang nikmat. Ransel kusandang semua di bahu. Juga perlengkapan kamera kusandang di tas khusus yang aman.

Suasana fikiran jadi segar, setelah dua tiga teguk yang menenangkan jiwa. Aku mulai melangkah maju.  Pada tiga langkah pertama, mataku melihat ada dua batu kuno yang berbentuk lingga dan yoni mini. Simbol alat kelamin lelaki dan perempuan sepertinya, yang tergeletak. Kecil saja, tergeletak, terpisah.

Karena sudah jadi hobiku, mengoleksi batu unik dari tiap tempat berkarisma yang kukunjungi. Saat itu, aku merasa seperti menemukan permata, harta karun berharga. Kedua batu kecil, sebesar cobek itu. Kusatukan, bertumpuk. Lalu tasku, kuturunkan sebentar, dan kedua barang langka yang pasti berharga itu,  kumasukkan dalam tas.

Padahal hal ini termasuk tabu, mengambil barang keramat. Bisa jadi ada kesialan, kemalangan, atau bahkan kutukan dari benda masa lalu. Seharusnya aku peka dan bisa menghindari hal konyol. Tabu yang tak perlu kulanggar begini.

Aku lupa, dilanda euphoria, sebagai biker pengelana keliling Jawa sendiri, juga lantaran terburu -buru bermaksud mengejar matahari terbenam di atas stupa candi utama. Saat aku berjalan bergegas, saat itulah pelan-pelan kusadari ada sasmita pratanda yang berbeda dari perjalananku kali ini. Semestinya kau lebih waspada.

Bila tadi situasi sekitat candi teramat sepi. Mendadak sekitar jadi ramai dan hingar bingar. Banyak orang orang mengenakan ikat kepala putih baju celana putih dari bahan berbulu dililitkan, banyak yang telanjang dada, telanjang kaki, kaki dan tangan mereka kuat-kuat. Bahkan kaum perempuan hanya mengenakan kain jarit putih atau hitam berbulu saja. Banyak yang berrkebaya, tapi yang muda – muda bertelanjang dada. Spontan aku tercekat dengan pemandangan indah tak terduga yang mengundang syahwat pendatang musafir sepertiku.

Sungguh dalam hidup, aku belum pernah melihat pemandangan seindah, sealami ini. Perempuan-perempuan berambut panjang terurai sampai pinggang. Ada yang sampai menyentuh dengkul bahkan. Tidak ada yang berambut pendek, semuanya elok, dihiasi bunga kamboja di telinga,  stay titik beras di pusat kening. Kulitnya hitam manis, dan kuning langsat . Sebagai lajang di usia kulminasi, dahaga syahwati,  melihat parade payudara bebas menggantung,  lalu lalang di depan mata, tanpa malu. Bahkan beberapa dari gadis manis itu menyungging senyum, melempar lirikan penuh arti. Semis Teresa seperti peluru menghujam.

Ah, bisa jadi aku akan ketemu jodoh dengan. Payudara dan rambut panjang terindah disini, harapku tulus.

Mereka sibuk hilir mudik menuju rumahnya, sambil membawa jun, keramik jambangan besar tempat air yang diikat ke punggung dengan kain selendang. Air itu buat persediaan Di rumah rupanya.

Sebagian orang – orang itu tergesa. Menuju rumah. Sementara yang sudah rapi, mandi, segera bergegas menuju tengah arena. Disitu ada pusat pelataran besar yang luas.  Ada tempat yang ditinggikan beberapa pertapa bersila melingkar menghadap pusat lingkaran. Bajunya hitam dan putih dengan ikat kepala yang ditalikan dengan gaya yang sudah amat jarang kulihat. Cara. Mengikat rambut dan kepala amat berbeda dengan jaman kini.

Semakin sore, semakin banyak orang yang berkumpul, di pusat persembahan ada altar agung tinggi, dikelilingi orang -orang berpakaian emas yang semuanya memegang alat musik, segala macam alat musik aneh yang dipukul, ditiup, ditiup dan memakao mebran, ada puluhan orang yang siaga mengalunkan nada. Dari ketinggian pojok alun – alun orkestra itu, pelan -pelan ingin ku abadikan kejadian menakjubkan menjelang senja yang belum pernah kulihat dimanapun.

Dari balik intip kamera DSLR Canon andalanku, terlihat komposisi ritual yang kolosal dan luar biasa. Mulai dari perbukitan tinggi berbatu ini orange berbaju emas, Putih lalu hitam mengelilingi bukit berundak-undak. Puas aku mengabadikannya dari berbagai sudut yang elok. Mulai Ada hal yang terasa aneh. Candi Borobudur yang megah dan besar dengan banyak stupa tak nampak dalam intipan kamera tele juga penglihatan mata telanjang ku.  Ada apa ini ?.

Belum hilang rasa penasaran akan perginya bangunan besar itu, dari pandangan mataku terdengar tambur dipukul dengan penuh semangat perbawa. Mungkin bukan sekedar satu atau duabelasan tambur dipukul berirama dengan penuh irama ketukan yang memukau. Penuh rentak rampak semangat.

Lalu beberapa orang dengan tinggi badan nyaris tiga meter,  mamgangkat tandu emas, menggotong seorang Resi Agung ke pusat arena. Dari lorong gua batu seberang lapangan.  Seketika segala alat musik, ditiup, dipukul dan digaungkan resonansi nadanya. Mendadak aku terhenyak dan larut dalam alunan orkestra Penuh semangat namun menenangkan jiwa.  Semua kepala menunduk hening cipta. Hanya aku yang menengadahkan kepala. Penasaran dengan segala apa yang terjadi. Semua ini terasa tak masuk akal, tapi memesona,  magis dan menenangkan pikiran.

Kembang duren sinawang sinambi leren

Dalongop kang warna sumeh semunira

Luwes pamicara hangengut driya

 

Lamat tembang ‘Ketawang Puspawarna’ dari earphone. Hapeku, masih terdengar, kini tembang masa lalu

Rombongan raksasa telanjang dada datang dalam dentum perkusi yang rancak membawa tandu kebesaran dan membawa berbagai senjata, diiringi rombongan manusia kate. Manusia kerdil yang cuma setinggi pinggang tapi mukanya seram seram.

Pasukan manusia kecil ini juga membawa seruling dari gading gajah, hewan raksasa dan tulang ikan hiu, paus. Paripurnalah sajian upacara ini, ketika rombongan agung, membawa tandu emas sambil berkeliling memutar agung.

Upacara menyambut senja. Menyembah matahari sungguh elok. Melampui imajinasi, di keremangan senja, puluhan ribu manusia dengan patuhnya, melakukan ritual. Persembahan agung pada Matahari, pada ruh leluhur, penguasa alam dengan tulus dan mendalam. Konfigurasi manusia yang mengular teratur dari bawah bukit sana sampai puncak bukit besar ini,  ditambah alunan orkestrasi. Puluhan alat musik yang dipandu oleh seorang “konduktor ” ayu, perempuan berambut panjang. Tanpa penutup payudara. silhuet tubuhnya nampak eksotis mengguncang hatiku.

Saat matahari makin memerah. Tandu emas yang digotong para raksasa setia sampai ditengah altar pusat persembahan. Seseorang berwibawa dengan baju keemasan dan ikat kepala emas turun dengan anggunnya. Lalu bende ditabuh tiga kali.  Saat itu juga perempuan pemimpin orkestra memberi tanda berhenti dengan selendang ajaib ala pesulap sihirnya yang bisa kaku layaknya tongkat dan lemas seketika. rupanya perempuan itu cukup sakti, bisa menyalurkan tenaga secara demikian.

Namun, sesakti-saktinya perempuan itu, dia tetap menghaturkan sembah takzim kepada sang guru besar kapitayan jawi-nya Resi Sangkakala. Saat perempuan ayu itu bersila dan menghaturkan sembah. Segenap pemusik pun meletakkan alat musiknya lalu menyembah serempak. Demikian juga rakyat yang berbaju putih dan hitam, semua kompak menghaturkan sembah. Luar biasa kompaknya, hanya  aku yang tak melakukan ritual sembah. Justru memotret tanpa henti, ke segala sudut yang menarik. Peristiwa seperti ini sungguh langka dan belum pernah terjadi dalam hidupku. Bersyukur aku mengalami penglihatan istimewa seperti ini.

Tapi aku kehilangan Borobudur target foto sekali. Dimana stupa-stupa agung itu?.

Belum selesai aku merenung. Sang Resi Sangkakala mengangkat kedua belah tangannya, seperti memohon sesuatu kepada langit. Dari pinggangnya diambil mahkota mestika,  metal berkilau-kilauan. Warna perak, berbentuk seperti pistol suar kapal diambil oleh tangan kirinya yang sigap. Lalu diacungkan ke langit. Saat itu sisa cahaya matahari egera mengumpul, berpusat di pistolnya. Ada cahaya kebiru-biruan yang menyilaukan mata mengitari pistol lalu menyelubungi badannya, jadi kebiruan.

Surodiro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti !,” teriak sang Resi membaca mantera suci. Lalu, Blaaar!.

Cahaya menyilaukan menebar, bergerak seperti gelombang enerji yang ditunggu semua orang disitu. Semua yang terkena. Sambaran cahaya biru berteriak, bersyukur, kegirangan setelah terkena setrum cahaya. Kaum raksasa dan kerdil menari liar seperti tak beraturan tapi rapi dalam komposisi gerak yang rancak bertenaga.

Musik kembali ditabuh, orkestra indah super kolosal dipimpin oleh konduktor ayu dengan tongkat selendang penuh tenaga dalam .

Aku juga terkena dampak aliran enerji yang menyilaukan,  seperti kena kejut ribuan voltase, sampai kamera yang kupegang terlepas begitu Saja. Untung tali kameranya membelit di leherku, kamera aman, walau tubuhku melayang jatuh.

Kalaulah ajal, menjemputku disini, Aku iklas sudah melihat hal spektakuler,  mendengar musik terindah, mengisi ruang jiwa dan waktuku… (Endro Ist)

NB: Tulisan ini jua pernah dimuat di Kompasiana.com oleh Gurujiwa

Leave A Reply

Your email address will not be published.