Grand Launching Buku “Grand Syekh Al-Azhar dan Perdamaian Dunia”
Jakarta, Trenzindonesia.com | Universitas Darunnajah resmi meluncurkan buku berjudul “Grand Syekh Al-Azhar dan Perdamaian Dunia”, sebuah karya yang menggali keteladanan dan pemikiran Prof. Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Al-Tayyeb, sosok ulama besar yang dikenal sebagai simbol Islam moderat dan jembatan perdamaian dunia.
Acara Grand Launching dan Bedah Buku ini digelar secara daring melalui Zoom pada Sabtu (24/10) dan diikuti oleh lebih dari 40 peserta dari kalangan akademisi, dosen, peneliti, hingga jurnalis dari berbagai universitas di Indonesia.
Buku ini menjadi kontribusi penting bagi dunia pendidikan dan kebudayaan Islam karena menyoroti peran Grand Syekh Al-Azhar sebagai tokoh global yang konsisten menegakkan nilai wasathiyyah — Islam yang adil, moderat, dan membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.
Teladan Kesederhanaan dan Keilmuan Grand Syekh
Rektor Universitas Darunnajah, Dr. Muh. Hasan Darojat, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penerbitan buku ini.
“Buku ini menghadirkan sosok ulama yang mampu memadukan keilmuan, spiritualitas, dan komitmen kemanusiaan. Ini menjadi kontribusi penting bagi pendidikan Islam,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, Dr. Fakhrudin dari Universitas Tazkia Bogor menilai Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyeb sebagai ulama berilmu tinggi yang tetap hidup sederhana.
“Jabatannya setingkat perdana menteri, tapi beliau tetap wara’, tawadhu, dan jauh dari gaya hidup hedonis. Keteladanan seperti ini mulai langka,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Mohamad Ramdon Dasuki, dosen Universitas Pamulang sekaligus pendiri Yayasan Hikmah Peradaban Institute, menekankan bahwa Grand Syekh Al-Azhar merepresentasikan keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas, dua aspek yang menjadi ciri khas tradisi keilmuan Al-Azhar.
Menegakkan Islam Wasathiyyah dan Melawan Ekstremisme
Dosen Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), Dr. Hj. Debibik Nabilatul Fauziah, menyoroti garis keturunan Grand Syekh yang masih bersambung kepada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA.
“Beliau menolak ekstremisme dan selalu menegakkan ajaran wasathiyyah, Islam yang pertengahan dan adil. Sudah seharusnya kita meneladani beliau dengan memahami Islam dari sumber yang sahih,” ujarnya.
Sikap moderat Grand Syekh Al-Tayyeb disebut menjadi penyejuk di tengah dunia Islam yang kerap diwarnai polarisasi dan kekerasan atas nama agama.
Tokoh Global Penjaga Narasi Islam Damai
Dari perspektif media dan komunikasi, Inggar Saputra dari Universitas Terbuka menilai Grand Syekh Al-Azhar sebagai figur penting dalam menjaga narasi Islam rahmatan lil ‘alamin di tengah era digital yang penuh disinformasi.
“Beliau konsisten menolak politisasi agama dan terus mempromosikan dialog antariman sebagai solusi bagi krisis kemanusiaan global,” katanya.
Senada, Rana Setiawan, jurnalis Kantor Berita MINA dan Wasekjen Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI), menilai buku ini hadir pada waktu yang sangat relevan.
“Ketika dunia sedang diuji oleh polarisasi ekstrem dan konflik identitas, suara ulama seperti Syekh Al-Tayyeb menjadi penting untuk menegakkan keadilan dengan akhlak,” ujarnya.
Diplomasi Lintas Iman dan Simbol Rahmatan Lil ‘Alamin
Sementara itu, Mamdukh Budiman, dosen Universitas Muhammadiyah Semarang dan Universiti Muhammadiyah Malaysia, menyebut Grand Syekh sebagai simbol Islam beradab dan inklusif.
“Melalui diplomasi keagamaan dan inisiatif lintas iman, beliau menunjukkan wajah Islam rahmatan lil ‘alamin — membawa rahmat bagi seluruh umat tanpa memandang ras dan agama,” ungkapnya.
Dr. Ahmadi Rojali, yang pernah bertemu langsung Grand Syekh Al-Azhar di Luxor, turut berbagi kesan mendalam atas ketawadhuan dan keluasan pandangan beliau.
Langkah Lanjutan: Diplomasi Buku ke Mesir
Menariknya, dalam diskusi tersebut muncul gagasan untuk melakukan roadshow dan diplomasi buku ke Mesir, termasuk penerjemahan buku ke dalam bahasa Arab serta penandatanganan MoU antar kampus Indonesia–Mesir.
Rencana ini juga akan disertai dengan pentas seni budaya Indonesia di Kairo, bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Mesir. Selain itu, ada pula ide kolaborasi riset sosial-politik bersama FISIP Universitas Bung Karno dan kampus di Hadramaut, Yaman.
“Buku ini bisa menjadi jembatan akademik dan diplomasi budaya antara Indonesia dan dunia Islam,” jelas Dr. Yanuardi Syukur, moderator acara sekaligus peneliti antropologi agama.
Islam Moderat untuk Dunia yang Damai
Secara umum, para narasumber sepakat bahwa pesan perdamaian, moderasi, dan kemanusiaan universal yang diajarkan Grand Syekh Al-Azhar tetap relevan bagi dunia modern.
Acara yang digelar atas kolaborasi Universitas Darunnajah, UDN Press, Perpustakaan Darunnajah, Asosiasi Penulis Darunnajah, dan Rumah Produktif Indonesia ini menegaskan bahwa Islam sejatinya hadir untuk membangun peradaban, bukan perpecahan.
