Trenz Indonesia
News & Entertainment

14 Komunitas Seni Akan Tampil Di Panggung Ruang Kreatif GALERI INDONESIA KAYA

Program RUANG KREATIF SENI PERTUNJUKAN INDONESIA 2019 Terima 452 Proposal

532
Garin Nugroho

Jakarta, Trenz Edutainment | Akhirnya, sebanyak 14 komunitas seni terpilih dalam program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia yang digagas oleh Garin Workshop dan didukung oleh Galeri Indonesia Kaya dan berkesempatan untuk menampilkan karya seni dalam Panggung Ruang Kreatif yang akan diselenggarakan di Galeri Indonesia Kaya di setiap akhir pekan pada bulan Maret 2020.

14 komunitas seni ini terpilih dari 452 proposal yang masuk, dan telah melewati serangkaian program mulai dari roadshow Bincang Kreatif Seni Pertunjukan, seleksi Proposal Art Project Development, Pitching Forum, dan Workshop yang telah diselenggarakan sejak bulan Agustus lalu.

Trishi-Setiayu

Dalam workshop yang dilaksanakan pada tanggal 6 – 10 November 2019 yang lalu, Garin Nugroho turut menggandeng para pembicara yang ahli di bidangnya masing-masing seperti Irvan Suryanto – White Space Brand & Design Matter, Iswadi Pratama – Teater Satu Lampung, Sari Madjid – Teater Koma, Eko Supriyanto, Erwin Parengkuan – Talk Inc, Trishi Setiayu – Image Dynamics PR, Hanie Nadia – Esplanade, dan Nola BE3, yang membagi ilmu dan pengalaman menangani proyek seni kolaboratif ini.

“Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, semakin besar jumlah proposal yang kami terima dari seluruh provinsi hingga pelosok wilayah Indonesia. 14 komunitas seni yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karyanya di Galeri Indonesia Kaya pada bulan Maret – April 2020. Dalam proses produksinya, mereka akan didampingi oleh para mentor yang sudah berpengalaman untuk berdiskusi ataupun membuka wawasan teknis, dan cara mengomunikasikan karya yang akan ditampilkan sehingga dapat dinikmati masyarakat luas,” ujar Garin Nugroho, pimpinan Garin Workshop.


Workshop-Manajemen-Produksi-Seni-Pertunjukan

Program yang telah berjalan selama 4 tahun ini telah banyak menumbuhkan bibit-bibit baru seniman muda dan membuka jalan komunitas seni untuk semakin dikenal masyarakat baik di dalam maupun luar negeri. Tidak hanya di Galeri Indonesia Kaya, para alumni program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan kini seringkali pentas di berbagai pertunjukan seni, seperti Kita Poleng, Gaya Gayo, Otniel Dance Company, Rubah di Selatan, Bumi Bajra, Flying Balloons Puppet, Kalanari Theater Movement, Fat Velvet , Studio Batu, dan Balaan Tumaan Ensemble

“Program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia yang konsisten diselenggarakan sejak tahun 2016, senantiasa menghasilkan seniman muda dan komunitas seni dengan ide, gagasan, karya seni yang bagus dan menginspirasi. Tidak hanya itu, melalui rangkaian program ini pun para peserta diberi wawasan agar mengetahui proses awal produksi hingga akhirnya sebuah karya dapat ditampilkan di atas panggung. Diharapkan program ini senantiasa dapat menjadi wadah bagi seniman-seniman muda, guna menumbuhkan dan menunjukkan berbagai kreativitas yang dimiliki di bidang seni pertunjukan yang nantinya turut mendukung industri seni kreatif di Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

 

Workshop-Manajemen-Produksi-Seni-Pertunjukan

Berikut adalah 14 kelompok seni terpilih program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia:

  1. Bellacoustic Indonesia – Palangka Raya dengan judul karya “Seha: A Rise of Nature

Bellacoustic adalah band etnic yang berkarya di bidang musik etnik dan dipadukan dengan unsur modern. Seha: A Rise of Nature akan menyuarakan tentang kegelisahan masyarakat dan alam Kalimantan melalui lantunan musik etnik dan rap, serta visualisasi gerak dan multimedia.

  1. Creator Muda Makassar – Makassar dengan judul karya “Opera Merah Putih

Beranggotakan seniman muda dengan berbagai keahlian di bidang kreatif dan seni budaya, komunitas ini mencoba memadukan syair sinrilik dengan mini orchestra music dengan pertunjukan live painting agar memberikan sentuhan visualisasi narasi.

  1. Dionisius Wahyu Anggara Aji – Semarang dengan judul karya “Awak

Karya tari Awak ini berisi tentang interpretasi bentuk dan karakter. Imajinasi keruangan tubuh dalam proses pencapaian keaktualan tubuh. Awak merupakan karya yang disajikan dalam bentuk karya tari yang tidak memuat cerita tertentu namun berpegangan pada alur dramatik tubuh.

  1. Gabriela Fernandez Project – Yogyakarta dengan judul karya “Semesta Leah: Menuju Timur

Semesta Leah: Menuju Timur merupakan buah tulisan dari Gabriela Fernandez dalam album buku keduanya (dalam seri “Semesta Leah”). Sebuah karya seni musik yang berkolaborasi dengan teater, tari, performing arts dan videografi serta hasil pengamatan dan eksplorasi dari perjalanan mengenali diri serta ‘rumah’ kampung halaman yang tak pernah ditinggalinya.

  1. Kacak Kicak Puppet Theater – Badung, Bali dengan judul karya “ I Wayan Brayut Melayangan

Kelompok Kacak Kicak Puppet Theater adalah kelompok kecil yang berkonsentrasi pada seni pertunjukan teater boneka, di Bali. Kelompok ini menggali cerita-cerita rakyat, mitos, legenda, atau isu kearifan lokal untuk kemudian dialih wahanakan ke bentuk pementasan.

  1. Komunitas Seni Atmantara – Klaten dengan judul karya “Tlutur

Karya ini merupakan kolaborasi antara seni teater, pertunjukan wayang kulit ,dan alunan musik gamelan yang notabene bernafaskan tradisi menjadi sebuah pertunjukan kontemporer yang ringan dan tidak meninggalkan esensi pertunjukan aslinya.

  1. Komunitas Seni Samar – Kudus dengan judul karya “Rananggana

Dengan anggota yang datang dari latar belakang yang beragam mulai dari mahasiswa, petani, pedagang, security, tukang jahit, dan buruh, komunitas ini secara rutin berproses kreatif, dan menampilkan karyanya di berbagai tempat di Kudus dan kota besar lainnya menjadi media apreasiasi, dari trotoar jalanan, tempat orang punya hajat hingga gedung DPR.

  1. Lugep Dance Company (LDC) – Bantul, D.I Yogyakarta dengan judul karya “Sigegh

Sigegh merupakan kata lain dari Siger. Dalam karya ini, LDC ingin membahas lebih jauh dan lebih dalam lagi bahwa ternyata di daerah tertentu Siger yang biasa dikenakan oleh perempuan, dapat digunakan oleh laki-laki dalam upacara tertentu.

  1. Semut Production – Klungkung, Bali dengan judul karya “Rta

Karya ini mengangkat fenomena hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitar yang dikemas dalam bentuk karya tari kontemporer, dengan kolaborasi antara tari dengan olah vokal dan permainan tradisional anak.

  1. Teater Candu – Bandung dengan judul karya “Jaipong

Kelompok ini membuat inovasi yang masih jarang digarap oleh seniman di Indonesia. Sajian drama tari dengan wardrobe full LED oleh para pemain dan aksi gerak tubuh robotik dari penari jaipong dan bertransformasi menjadi superhero yang jenaka.

  1. Teater Gedor! – Bandung dengan judul karya “Orkes Rama & Sinta”

Orkes Rama & Sinta akan memberikan nuansa pertunjukan dimana akan membuat para penikmat seni terlarut sebuah teater yang diiringi orkes dangdut seperti sebuah pementasan broadway lokal Indonesia.

  1. Teater Siklus Medan – Medan dengan judul karya “Rumah Seribu Lubang

Kelompok teater di Kota Medan seakan tak pernah mati untuk berproses menghasilkan karya yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Teater Siklus Medan tak mau redup berproses untuk menghasilkan karya yang mengangkat isu sosial yang dekat dengan masyarakat seperti kekerasan pada perempuan dan anak, dan lainnya.

  1. Wangsa – Solo dengan judul “Opera-si Plastik

Wangsa adalah komunitas multidisiplin beranggotakan beberapa seniman yang berdomisili di Solo, yang menaruh minat pada tema budaya dan lingkungan. Kerja kreatif dalam tim menghasilkan ide sebuah pertunjukan seni musik dan tutur “Wayang Sampah” dengan upaya membangkitkan kesadaran masyarakat untuk meminimalisir produksi sampah serta bijak dalam mengelola sampah.

  1. Wayang Sunar – Karangasem, Bali dengan judul karya “Sunar Rahwana

Kelompok ini ingin membangun wacana wayang dan arti pentingnya seni wayang dalam proses kehidupan. Melalui karya Sunar Rahwana, kelompok ini mengajak penikmat seni untuk memahami asas hukum sebab akibat, bahwa semua yang terjadi (baik/buruk) memiliki sebab yang dikemas dalam bentuk Teater Pakeliran (instrumental). (PR / Bakti Budaya Djarum Foundation)

Leave A Reply

Your email address will not be published.