HomeNewsEdutainmentSara & Fei, Stadhuis Schandaal

Sara & Fei, Stadhuis Schandaal

Published on

Trenz Film | Sara & Fei, Stadhuis Schandaal, yang merupakan lilm drama percintaan bernuansa kekinian dengan mengangkat latar belakang sejarah yang pernah terjadi di zaman pemerintahan Hindia Belanda saat berkuasa di Batavia, akan tayang serentak di bioskop tanah air mulai 26 Juli 2018.

Film produksi Xela Pictures, besutan sutradara Adisurya Abdy ini dibintangi oleh Amanda Rigby, Tara Adia, Tio Duarte, Rensy Millano, Anwar Fuady, George Mustafa Taka, Roweina Umboh, Septian Dwi Cahyo, Iwan Burnani, Haniv Hawakin, Voland Volt, Mikey Lie, Julian Kunto, Aby Zabit El Zufri, Lady Salsabyla, Ricky Cuaca, Stephanie Ady, Iqbal Alif, Andhika Ariesta dan Yurike Cindy.

Film “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal”  berkisah tentang Fei, mahasiswi yang sedang menyelesaikan tugas kuliahnya dengan melakukan riset di kota tua Batavia. Di kota tua, tepatnya di Museum Sejarah Jakarta atau dikenal juga Museum Fatahillah, sebuah bangunan bersejarah yang dulunya dikenal sebagai Stadhuis atau gedung Balaikota,  Fei didatangi sosok misterius yang mengenakan gaun, gadis cantik blasteran Belanda – Jepang bernama Sara. Sampai suatu ketika, Sara menjalin komunikasi dengan Fei dan membawanya menembus lorong waktu menuju abad 17, masa dimana Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (JP Coen) memerintah di Batavia.

Saat itu, akibat skandal asmara yang panas antara Saartje Specx atau biasa dikenal dengan Sara Spech putri seorang pejabat tinggi VOC yang yang dititipkan kepada JP Coen, dengan prajurit muda penjaga balaikota Batavia Pieter J Cortenhoeff  terbongkar. Yang membuat berang, skandal itu terjadi di rumah tempat tinggal JP Coen sendiri yakni di Stadhuis. Tak hanya itu, JP Coen merupakan orang yang tegas, terlebih disaat itu norma dan ajaran agama masih dipegang kuat. Hubungan beda ras dan beda strata terlebih tanpa ikatan perkawinan merupakan hal yang tabu dan tak bisa ditolerir. Skandal asmara diluar ikatan perkawinan dianggap sebagai hubungan terlarang sebagaimana perselingkuhan dan akan diganjar hukuman mati. Akibatnya, pada 19 Juni 1629, masyarakat Batavia harus menyaksikan sebuah pemandangan yang menegangkan, yakni eksekusi mati serdadu muda yang tak lain pengawal JP Coen yakni Pieter.

Sedangkan nasib Sara yang masih usia belasan tahun dan telah menyimpan benih Pieter, setelah dihukum cambuk, akhirnya diasingkan dan tidak diketahui lagi nasibnya.

Sara yang tak lain adalah nenek buyut dari Fei mencoba menjelaskan bahwa hubungannya dengan Pieter di masa lalu bukanlah hubungan terlarang, melainkan adalah cinta murni seutuhnya. Sara memilih Fei untuk menjelaskan bahwa skandal asmara yang membuat Pieter di hukum gantung adalah akibat fitnah dari seorang perwira VOC atasan dari Pieter, bernama Hans yang cemburu melihat kedekatan Sara dengan Pieter.

Sementara itu, Fei (Amanda Rigby) memutuskan hubungan cintanya dengan Chico karena tak tahan akan sikap kekasihnya yang ingin menguasai serta mengatur Fei. Mencoba lepas dari kejaran Chico yang tak mau diputusin, Fei memilih ikut menemani Wisnu, ayahnya yang seorang pengusaha pergi ke negeri China untuk menemui partner bisnisnya, seorang pengusaha sukses keturunan Indonesia bernama Daniel Wong, guna memaksimalkan perkebunan sawit mereka di Indonesia. Di Shanghai, kebersamaan Fei dengan Daniel Wong semakin membuatnya lebih akrab.

Kembali ke Indonesia, Fei semakin terganggu dengan upaya Chico yang tetap ingin mempertahankan hubungan cintanya. Fei tetap ingin putus, terlebih perangai buruk Chiko yang misterius mulai tampak. Ditambah dengan kehadiran Daniel Wong ke Indonesia, membawa Fei pada konflik yang berkepanjangan dengan Chico.

Fei yang terus menelusuri sejarah akan Sara dan Pieter, percaya bahwa itu adalah kejadian nyata di masa lalu di Batavia.

Sara ingin menyampaikan kepada dunia bahwa dengan melalui Fei, maka sejarah masa lalu terungkap agar bisa membuat arwah Pieter menjadi tenang dan kembali bisa menjadi kekasih abadi di alamnya.

 Bagaimana akhir dari konflik antara Fei dan Chico serta hubungan antara Fei dengan Daniel Wong?

Apa yang akhirnya membuat Fei memutuskan untuk menunda tugas kampusnya dan memilih untuk menerbitkan novel tentang Sara dan Pieter?

Saksikan drama thriller dan misteri film berlatar sejarah Batavia tempo dulu yang juga penting ditonton oleh kaum milenial guna mengetahui sebuah peristiwa yang konon pernah terjadi di zaman colonial, yakni tentang gedung yang penuh dengan skandal dalam film “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal” yang tayang serentak di bioskop tanah air mulai 26 Juli 2018. (Fjr/Trenz Indonesia) | Foto Dudut SP & Google.co.id

 

 

Latest articles

Erick Dharma, Dari Karawang ke Layar Nasional: Perjalanan Multitalenta yang Tak Pernah Padam

Jakarta, Trenzindonesia.com | Tidak semua perjalanan di dunia hiburan dimulai dari kemewahan. Bagi Erick...

Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati melakukan kunjungan ke hotel tempat menginap jamaah haji tahun 2026 asal Lombok dan Mataram di Kota Mekkah

Jeddah,Trenzindoensia.com - Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati melakukan kunjungan ke hotel tempat menginap...

Saat Dunia Menjadikan Anggrek Mesin Devisa, Indonesia Masih Jalan di Tempat

Surabaya, Trenzindonesia.com - Di tengah gemerlap industri anggrek dunia yang terus tumbuh menjadi sumber...

Film Nobody Loves Kay: Kisah Perjuangan Atlet Esports yang Ditentang Keluarga hingga Bertarung di Panggung Dunia

Dunia esports kembali diangkat ke layar lebar lewat film Nobody Loves Kay, sebuah drama...

More like this

Film Nobody Loves Kay: Kisah Perjuangan Atlet Esports yang Ditentang Keluarga hingga Bertarung di Panggung Dunia

Dunia esports kembali diangkat ke layar lebar lewat film Nobody Loves Kay, sebuah drama...

Valdi Mulya Bangun Karier dari Videoklip hingga Film Layar Lebar

BEKASI, Tresnzindonesia.com - Valdi Mulya perlahan membangun namanya di industri hiburan Tanah Air melalui berbagai bidang,...

Pushan Geopolitik Al Azhar: Peradilan Militer yang “Keras” Jadi Pilar Disiplin Prajurit

Jakarta,Trenzindonesia.com - Peneliti Pusat Kajian Pertahanan dan Geopolitik Universitas Al Azhar Indonesia, Heri Herdiawanto,...