Bala merupakan pertunjukan yang menampilkan sebuah tarian yang berawal dari filosofi tari Kedidi, dimana masyarakat Bangka terinspirasi dari kelincahan burung Kedidi bergerak diatas ranting pohon yang melompat dan selalu mengepakan sayap, serta kepalanya menggeleng ataupun bergetar. Karya ini merupakan transformasi tubuh Kedidi ke atas pipa-pipa tambang sebagai wujud keadaan lingkungan, masyarakat,dan timah Bangka saat ini.
Trenz Edutainment | 10 kelompok seni terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia berkesempatan menghadirkan pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya di akhir pekan di bulan Maret 2018.
Dengan tema Panggung Ruang Kreatif, para kelompok seni ini akan menampilkan karya-karya seni yang dimana dalam proses persiapannya telah didampingi oleh para mentor berpengalaman seperti,Garin Nugroho, Subarkah Hadisarjana, Iswadi Pratama, Rama Soeprapto, dan Nano Riantiarno.
Adalah Kelompok seni Ali Dance Company,yang mempersembahkan pertunjukan berjudul ‘Bala’ : Restoration Of Behaviour di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Sabtu (24/3).
“Pada hari ini, Ali Dance Company mengangkat kebudayaan masyarakat di Bangka yang sangat erat dengan norma-norma kehidupan pada adat istiadatnya. Melalui penampilannya di Galeri Indonesia Kaya, Ali Dance Company ingin mengajak kita untuk memaknai norma-norma dan adat istiadat kebudayaan masing-masing daerah yang ada di Indonesia. Bala, menjadi salah satu cara untuk mengenalkan penikmat seni tentang tradisi dan kekayaan budaya Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director, Bakti Budaya Djarum Foundation.
Selama hampir satu jam, tiga penari menampilkan tarian yang terinspirasi dari filosofi tari tradisi Bangka, yaitu tari Kedidi. Ketiga penari ini menari dan bergerak selayaknya burung Kedidi yang lincah bergerak di atas ranting pohon, melompat, mengepak-ngepakkan sayapnya, ataupun menggeleng-gelengkan kepalanya. Penampilan tarian ini pun diperindah dengan iringan musik Dambus yang dimainkan oleh Sunarya Ley.
“Karya ini merupakan transformasi tubuh Burung Kedidi ke atas pipa tambang sebagai wujud keadaan lingkungan, masyarakat, dan timah Bangka saat ini. Dalam persiapannya, selain mendapatkan pembekalan dari para mentor, kami juga melakukan riset ke Belinyu, Bangka Belitung, dimana kami melihat bahwa sebuah tradisi tidak lagi selaras dengan keadaan perkembangan kebudayaan masyarakat dan alam sekitar. Kami sangat berterima kasih kepada Bakti Budaya Djarum Foundation, Garin Workshop, penonton yang hadir dan tentunya para penari yang berperan dengan maksimal untuk terwujudnya karya ini,” ujar Irfan Setiawan selaku koreografer dari pertunjukan Bala
Didirikan pada tahun 2016 oleh Irfan Setiawan, Ali Dance Company merupakan sebuah ruang untuk berproses kreatif yang memiliki tujuan untuk turut serta mengembangkan seni pertunjukan khususnya di bidang seni tari di Indonesia. Karya-karya yang dihasilkan merupakan sebuah proses “kebebasan” dalam penelusuran unsur tradisi serta respon dari gejala fenomena yang sedang terjadi.
Kata ALI sendiri diambil dari nama sang ayah yang memiliki arti pemimpin, kedudukan yang tinggi, jiwa yang mendidik. Sebagai salah satu dari 10 kelompok seni terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia, Ali Dance Company telah melahirkan beberapa karya diantaranya: Bala’, Encang Encot, Dystopia, Melo Sang, 1 dari 10, Kenanga, Dance Film; Diantara Abu Abu, Fokus Gak Fokus, Unknown, Paradox, dan Level+. (PR/TrenzIndonesia) | Foto: Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation
