Trenz Indonesia
News & Entertainment

Ageng Kiwi : Demokrasi Harusnya Mengedepankan Rakyat Sebagai Sumber Mata Air Kedaulatan

39

Jakarta, Trenz Edutainment | Pada saat individu dipenuhi oleh rasa ’narima’ (menerima kenyataan), kemudian selalu bersyukur dan terima kasih, maka tubuh akan menjadi rileks. “Hal ini memberi keseimbangan emosi dan ketenangan pikiran,” kata Ageng Kiwi, kepada wartawan, di acara ‘Santunan Anak Yatim dan Manusia Lanjut Usia — Menyambut Bulan Suci Ramadan’, di Desa Jeruk Legi, Cilacap, Jawa Tengah, Jum’at (03/05/2019).

Usai Pileg dan Pilpres 2019, banyak pihak yang menanyakan tentang hasil pemilihan atas pencalonannya sebagai Caleg DPR-RI Dapil 8 Cilacap, Banyumas, nomor urut 8 dari Partai Nasional Demokrat (NasDem).

Meski pemilu telah berakhir, hasil penghitungan suara untuk Calon Presiden (Capres) dan juga Calon Anggota Legislatif (Caleg) belum keluar. Tentu saja hal ini bisa membuat hati deg-degan, bukan tak mungkin mempengaruhi kejiwaan seseorang.

Menurut Ageng, penghitungan suara di dapilnya belum terekapitulasi seluruhnya. “Kita tunggu hasilnya melalui keputusan resmi dari KPU. Apapun hasilnya saya akan menerima dengan lapang dada dan bersyukur. Rencana Allah SWT jauh lebih dahsyat ketimbang rencana manusia,” kata seniman serba bisa bernama asli Ageng Wahono Kiwi ini.

Setelah melewati masa kampanye, Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang melelahkan, Ageng ingin kembali kepada rutinitasnya sebagai seniman.

Menurut Ageng, menjadi anggota dewan itu bukan pekerjaan, melainkan pengabdian. “Jauh dari keinginan untuk berkuasa. Apalagi hanya ingin memanfaatkan fasilitas Negara,” ujar seniman yang pernah menjabat Ketua LKK (Lembaga Kebudayaan dan Kesenian) KOSGORO ini.

Justru jauh sebelum masuk ke dunia politik, Ageng sudah banyak melakukan berbagai upaya pengabdian, serta aktif di berbagai kegiatan sosial. Antara lain membangun semangat kaum muda lewat kegiatan social-entrepreneurship melalui lembaga sosial yang dipimpinnya.

Ageng Kiwi memiliki berbagai kantong komunitas, antara lain; Komunitas Amal Sedekah Ikhlas Hati (KASIH), Rumah Singgah Bunda Lenny, Sanggar Humaniora, dan AK Production.

“Sudah menjadi komitmen pribadi. Saya akan terus menyelenggarakan kegiatan sosial kemasyarakatan; seperti memberi bantuan bagi warga miskin, anak yatim, pendidikan keterampilan dan kewirausahaan, pendidikan kebangsaan, dan ajang kreasi lainnya,” ujar pencipta lagu, ’Badut-Badut Kota’ ini.

Di acara ‘Santunan Anak Yatim dan Manusia Lanjut Usia’ dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1440 H / 2019 M, Ageng menyantuni sekitar 100 orang lanjut usia dan anak yatim, para warga Desa Jeruk Legi dan sekitarnya. Kegiatan sosial seperti ini sudah dilakukan Ageng Kiwi sejak tahun 2012.

Menjelang bulan suci Ramadan tahun ini, Ageng juga menggelar acara sosial serupa di tempat lain. Antara lain di Jakarta, Karawang, Bekasi, dan sekitarnya. “Kami dari KASIH rutin menyelenggarakan acara santunan anak yatim dan para jompo setiap menjelang bulan suci Ramadan. Tujuannya selain berbagi, kami ingin bersilaturahmi dan meminta maaf agar kita kembali suci sebelum menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan,” ungkap Ageng.

Ageng mengaku sepanjang pelaksanaan kampanye hingga Pileg dan Pilpres 2019, banyak mendapat pelajaran berharga, khususnya terkait ilmu kemasyarakatan dan dunia politik praktis. Ageng banyak melakukan komunikasi politik, baik ke elit politik, birokrat, pejabat Pemeritahan Pusat dan Daerah, serta masyarakat luas, khususnya kalangan grassroots (masyarakat akar rumput).

Sebagai bangsa, ungkap Ageng, kita patut bangga. Kita telah menikmati nyaris semua kelengkapan demokrasi yang bisa dirasakan manusia modern. Kita menikmati kebebasan pers, kebebasan berorganisasi, pemilu yang kompetitif dan langsung.

Tapi sayangnya, kata Ageng, masih ada sejumlah pihak yang mencederai demokrasi dengan melakukan berbagai praktik kurang terpuji. “Demokrasi harusnya mengedepankan rakyat sebagai sumber mata air kedaulatan. Tempat dari mana sumber kekuasaan formil dan efektif oleh para pemimpin itu berasal. Tapi harus diakui bahwa fakta di lapangan, sebagian dari kita masih merasakan dan mengalami adanya kecurangan dan ketidak adilan,” kritik Ageng.

Ageng mengajak agar masyarakat ikut melakukan fungsi kontrol secara terbuka ikut mengawasi politik wakil rakyat. “Berpolitik secara positif mengedepankan kepentingan rakyat. Membangun masa depan. Menjamin kehidupan yang lebih higenis di setiap pelosok negeri melalui berbagai pembangunan,” harap Ageng.

Leave A Reply

Your email address will not be published.