Trenz Indonesia
News & Entertainment

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Hadirkan Sederet Aktivitas Menarik

Tak Melulu Lihat Maleo

139

Gorontalo, Sulawesi, Trenz  Corner | Meski burung Maleo menjadi daya tarik utama sekaligus primadona Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, namun sebenarnya di kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai Taman Nasional pada 18 November 1992 ini, pengunjung tak cuma hanya melihat burung endemik Sulawesi yang berjuluk si Penelur Jumbo itu.

Untuk menetaskan telurnya, memerlukan panas bumi dengan durasi penetasan 60-80 hari. Induk Maleo menanam telurnya di  tanah pada kedalaman 30-50 Cm.

“Maleo yang menetas butuh waktu sampai 2 hari untuk keluar dari permukaan tanah,” jelas Supriyanto, Kepala Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Uniknya lagi, setelah menetas, anakan Maleo sudah mandiri. “Karena anak Maleo tidak tau siapa induknya jadi harus mampu survive dalam berbagai kondisi dan cuaca. harus mampu mencari makan sendiri dan mampu bertahan dari serangan predator,” ungkapnya.

Baca Juga :

Penutupan Sementara Sederet Taman Nasional Ternyata Berdampak Positif

Supriyanto membenarkan kalau di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang semula bernama Taman Nasional Dumoga Bone, yang merupakan penggabungan hutan Suaka Margasatwa Dumoga (93.500 hektar), Cagar Alam Bulawan (75.200 hektar), dan Suaka Margasatwa Bone (110.000 hektar) ini, pengunjung terbilang mudah melihat Maleo.

Pengunjung yang datang ke Taman Nasional yang namanya diambil dari nama Nani Wartabone, Pahlawan Nasional Indonesia asal Gorontalo ini dapat melihat habitat Maleo di Hungayono dan di Sanctuary Maleo Tambun.

Sekurangnya ada 4 kegiatan wisata alam minat khusus dalam melihat Maleo yang bermuatan ramah lingkungan atau wisata ekologi, yakni mengamati Maleo di lokasi peneluran atau habitat alaminya, mencari dan mengumpulkan telur Maleo, memindahkan dan menanam telur Maleo di Hatchery, dan me-release atau melepasliarkan anakan Maleo.

“Ada sejumlah sarpras atau sarana dan prasarana di lokasi Sanctuary Maleo seperti gerbang, tugu, kandang habituasi, hatchery, pusat informasi, jalur pengamatan, shelter, gubuk pengintaian, dan menara pengintaian,” tambahnya.

Di Sactuary Tambun yang merupakan lokasi peneluran, tempatnya berdampingan dengan  lokasi pengamatan burung.

Selain melihat Maleo, masih ada sederet aktivitas wisata minat khusus lainnya yang bisa #sobathijau dan #sobatkonservasi lakukan selama berkunjung ke Taman Nasional ini.

Misalnya, mengamati Anoa dan Babi Hutan. Taman Nasional ini memiliki 36 jenis mamalia. Lalu, mengamati Tarsius di Hungayono.

Selanjutnya, mengamati burung di Hungayono, Tambun, Toraut, dan Muara Pusian. “Burungnya saja ada 206 jenis.

Selain Maleo, ada Srigunting Jambul Rambut, Betet Kelapa Punggung Biru, Julang Sulawesi, Punai Penganten, Elang Bondol, Celepuk Sulawesi Cangak Merah, dan Merpati Hitam Sulawesi,” bebernya.

Disamping itu juga 40 jenis reptilia, 13 jenis aktivis, 200 jenis kupu-kupu, 1.395 jenis kepik, 128 jenis laba-laba, 16 jenis capung, 19 jenis belalang, 25 jenis ikan air tawar.

Sementara floranya ada 331 jenis vegetasi hutan antara lain pohon palem, talas, dan pandan; 58 jenis anggrek; 12 jenis jamur; dan 124 jenis tumbuhan berkhasiat obat.

Air Terjun Mengkang

Tak ketinggalan ke sejumlah air terjun, antara lain Air Terjun Mengkang, Tumpah, Bolonsio, Lombongo, dan Air Terjun Bumbung.

“Air Terjun Bumbung paling tinggi dan letaknya paling jauh, dibutuhkan 3 hari perjalanan untuk sampai ke sana,” ungkap Supriyanto.

Sobat Hijau dan Konservasi juga bisa ke sumber air panas yang berada di pinggir Sungai Bolango, Hungayono.

“Airnya panas atau hangat, biasanya wisman mandi berendam, tempatnya agak di pinggir terus ada seperti kubangan alami,” terangnya.

Berikutnya ke goa batu yang berstalaktit, masih di Hungayono. Serta menikmati panorama alam (landscape view) di Bukit Peapata.

Travel Tips

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone berada di Sulawesi Utara (Sulut) dan Gorontalo.

Kalau yang di Sulut, bisa diakses dari Bandara Manado ke Kotamobagu jalan darat sekitar 4 jam dilanjutkan ke Sactuary Tambun atau Muara Pusian sekitar 1 – 1,5 jam, langsung di Kantor Resort. Dari situ ke lokasi pengamatan Maleo sekitar 200 meter.

Kalau yang di Gorontalo, dari Bandara ke lokasi Desa Tulabolo, Kabupaten Bone Bolango sekitar 1,5 – 2 jam.

“Di sini ada 5 homestay, tarifnya Rp 200.000 per malam sudah termasuk sarapan pagi,’ ujarnya.

Selanjutnya dari desa bisa jalan kaki menuju gerbang pintu masuk sekitar 1,5 Km langsung bisa pengamatan jenis-jenis burung.

Alternatif lain dari desa naik ojek ke pos sekitar 30 menit, di lanjutkan jalan kaki sambil pengamatan jarak sekitar 2 km sampai di Sactuary Hungayono.

Harga tiket masuk Taman Nasional Bogani Nani Wartabone sudah ditentukan sesuai klasifikasi, sebesar Rp 5.000 per wisnus pada hari biasa dan Rp 7.500 per wisnus untuk hari libur. Sedangkan untuk wisman Rp 150.000 hari biasa dan Rp 175.000 untuk hari libur dan ditambah pengamatan hidupan liar Rp 10.000 baik hari biasa maupun hari libur.

Menurut Supriyanto, sampai saat ini Taman Nasional  Bogani Nani Wartabone masih ditutup sementara untuk kunjungan wisata sejak tanggal 25 Maret 2020.

“Kapan dibukanya, disesuaikan dengan kebijakan Pemda setempat dan juga arahan dari pusat,” jelasnya.

Kalau pada masa new normal sudah diperbolehkan di buka, pihaknya akan ikuti protokol kesehatan untuk masuk kawasan konservasi ini.

Jumlah pengunjung akan disesuaikan dengan kapasitas menara pengamatan dan dengan tetap menjaga jarak.

“Kapasitas menara pengamatan yang semula 4 orang menjadi 2 orang. Tapi kalau pengamatan burung bisa maksimal 10 setiap site atau di air terjun masih bisa lebih banyak lagi sekitar 20 orang,” pungkas Supriyanto.

Sebagai informasi tambahan, dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day (WED) yang diperingati setiap 5 Juni, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH); Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) serta Lawalata IPB telah menyelenggarakan acara berjudul: “Maleo the Heart of Wallacea” di Zoom Meeting, Jumat (5/6/2020) yang dimulai pada pukul 13.00 WIB.

Selain Supriyanto, diskusi virtual tersebut juga menghadirkan 2 pembicara lagi yakni Dosen KSHE IPB Abdul Haris Mustari dan Ketua Ekspedisi Sayap Bonawa, Lawalata IPB Andre Harahap.

Acara yang dimoderatori oleh Adinda Egreina Putri dari Lawalata IPB itu juga menampilkan 3 narsum yakni Jihad dari Biodiversity Mainstreaming Officer, Hanom Bashari dari EPASS FCU Bogani Nani Wartabone, dan Herman Teguh dari Protected Area Specialist WCS Indonesia Program Sulawesi.

Sesuai judul IPB Webinar tersebut, Supriyanto memaparkan keistimewaan Maleo, si unik yang cantik, nan endemik, simbol hati dari Bumi Sulawesi dan sekaligus sang primadona Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Nah, kalau Anda berencana berwisata minat khusus maupun ecotourism ke Taman Nasional Bogani Nani Wartabone pada era new normal setelah dibuka kembali, ada baiknya Anda membaca artikel trenzindonesia ini terlebih dahulu dan atau mengikuti IPB Webinar tersebut sebagai bekal awal perjalanan Anda.  (Fjr/adji kurniawan-TravelPlus Indonesia) | Foto: Istimewa + Google.co.id

Leave A Reply

Your email address will not be published.