Trenz Indonesia
News & Entertainment

Teater Ruang Hening Sajikan Si Kancil Tobat

Kombinasi Wayang dan Teater di Panggung Ruang Kreatif

69

Jakarta, Trenz Tourism | Bakti Budaya Djarum Foundation yang mempersembahkan beragam pertunjukan bertemakan ‘Panggung Ruang Kreatif dari 14 Kelompok Seni Terpilih Program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia’ di akhir pekan ini menyajikan pertunjukan wayang dongeng lakon bertajuk “Si Kancil Tobat”, yang dipersembahkan oleh kelompok seni terpilih asal Semarang yaitu Teater Ruang Hening, di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu, (13/4).

“Kisah dongeng Si Kancil sudah terkenal dari generasi ke generasi masyarakat Indonesia. Sebagai kelompok yang bergerak di dunia seni teater, kami ingin menyajikan dongeng Si Kancil dengan beberapa adegan teatrikal, serta mengkolaborasikan antara garap teater dengan garap wayang. Bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation dan Garin Nugroho merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa, dimana kami berkesempatan untuk memperdalam kemampuan kami oleh mentor, Subarkah Hadisarjana. Kami akan terus menciptakan karya tontonan baru, dengan harapan kesenian teater Indonesia akan terus dicintai. Semoga sajian kami sore hari ini dapat diterima di hati para penikmat seni,” ujar Sutrisno, sutradara dari Teater Ruang Hening.

“Si Kancil Tobat” bercerita tentang bagaimana perilaku saling hasut dan adu domba dapat merusak keharmonisan dan persatuan bangsa. Seperti yang dilakukan si Kancil kepada teman-temannya, menciptakan suasana kacau balau dalam hutan. Dalam pertunjukan berdurasi kurang lebih satu setengah jam ini, para seniman mengkolaborasikan antara teater dan rel pakem Wayang Purwa yang meliputi: Jejeran, Kedhatonan, Paseban, Bedholan, dan Jejer Sabrang.

Dialog yang dilakukan dalam pertunjukan ini menggabungkan antara video mapping, sebuah teknik yang menggunakan pencahayaan dan proyeksi sehingga dapat menciptakan ilusi optik pada objek-objek, serta video art,  jenis seni yang bergantung pada gambar bergerak dan terdiri dari video atau audio data. Kombinasi menggunakan beragam instrumen yang mampu membentuk satu kesatuan harmoni pewayangan.

“Hari ini, Teater Ruang Hening berkesempatan untuk tampil ke hadapan para penikmat seni dengan sebuah pertunjukan yang unik dan lucu. Kelompok yang sering menampilkan karyanya di berbagai daerah ini, kerap mengkombinasikan suasana alam, musik, dan juga teater fabel (fiksi atau khayalan) dalam setiap pertunjukannya. Saya harap, setelah mengikuti program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia, kelompok Teater Ruang Hening dapat terus mengembangkan dan menciptakan  karya-karya baru yang bermanfaat dan tentunya menghibur,” ujar Subarkah Hadisarjana selaku mentor dari Teater Ruang Hening.

Teater Ruang Hening berdiri pada tanggal 17 September 2015, di Muncul, Banyubiru, Kab. Semarang, Jawa Tengah. Kelompok ini didirikan dari buah pemikiran Prawoto Susilo (Owod), Aziz, Ari, dan Arsa. ‘Ruang’ merepresentasikan sebagai tempat tak terbatas, sementara ‘Hening’ adalah kesunyian, menggambarkan rumah di Muncul yang jauh dari peradaban sehingga mereka bisa bereksplorasi sepuasnya, berteriak-teriak ketika latihan teater, bermusik dan lain-lain untuk memecahkan kesunyian.

Teater Ruang Hening bergerak dalam seni teater, dan kearifan budaya lokal terutama ‘Jawa dengan bahasa Jawa’. Kebanyakan pementasan mereka menggunakan naskah bahasa Jawa. Adapun pentas yang dipentaskan sepanjang 2015 hingga 2018 adalah ‘Mijil’, ‘Asmaradhana’, ‘Kinanti’ dan ‘Megatruh’Teater Ruang Hening pentas di dalam kota terutama Kabupaten Semarang, Salatiga dan sekitarnya, keliling kampung dan juga pentas keliling kota seperti Bojonegoro, Pekalongan, Wonogiri, Yogyakarta, Ambarawa dan kota-kota lainnya. Pentas yang mereka bawakan menggunakan konsep ‘Gerilya Budaya’.

“Pertunjukan wayang biasanya identik dengan kisah-kisah klasik yang melegenda. Hari ini kelompok Teater Ruang Hening menghibur penikmat seni dengan sebuah pertunjukan wayang yang sedikit berbeda dari biasanya, kelompok asal Semarang ini menampilkan pertunjukan wayang dari dongeng Si Kancil yang cocok untuk dinikmati oleh generasi muda. Senang rasanya melihat banyak generasi muda yang antusias dan terhibur setelah menyaksikan sebuah pertunjukan wayang. Kami harap dengan menyaksikan pertunjukan ini, semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk melestarikan kebudayaan Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

14 Kelompok Seni Terpilih Program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia’ adalah komunitas seni yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karyanya di Galeri Indonesia Kaya pada bulan Maret hingga April 2019.

Setelah melalui rangkaian roadshow Bincang Kreatif Seni Pertunjukan di Pekanbaru, Solo, Makassar, dan Bali, kemudian tahap selanjutnya berlangsung pengumpulan Art Project Development Proposal. Dari 413 proposal yang diterima, sebanyak 30 komunitas seni berkesempatan untuk mengikuti workshop seni pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta dengan diwakili oleh para Pimpinan Produksi.

Melalui rangkaian program dan adanya proses seleksi terbaik melalui mekanisme pitching forum di hadapan para juri profesional, kemudian terpilihlah 14 komunitas tersebut.

Dalam proses persiapan pertunjukan, 14 kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan didampingi oleh para mentor yang ahli dalam bidangnya seperti, Garin Nugroho, Eko Supriyanto, Ratna Riantiarno, Rama Soeprapto, Djaduk Feriyanto, Tinton Prianggoro, Iswadi Pratama, Ruth Marini, Subarkah Hadisarjana, Hartati, dan Butet Kartaredjasa. (PR/Fjr) | Foto: Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation

Leave A Reply

Your email address will not be published.